Thursday, August 20, 2015

Resensi – HER SUNNY SIDE “Masa Lalu, mungkin adalah Masa Depanmu kemudian"



Penulis : Koshigaya Osamu
Penerjemah : Faira Ammadea
Penerbit : Haru
Genre : Romance, Legenda
Kategori : Adult, Terjemahan, Fantasy
Terbit : Maret 2013
Tebal : 224 hlm
ISBN : 978 – 602 – 7742 – 12 – 3
Harga : Rp. 59.000

Ini entah kebetulan, atau memang sudah takdir. Dari berbagai kemungkinan bertemu seseorang dalam sebuah proyek pekerjaan, Okuda Kosuke malah bertemu teman semasa SMP-nya, Watarai Mao.
“Yang ingin kukatakan adalah aku merasa semuanya bagaikan takdir, termasuk pekerjaanku di Lara Aurore. Tentu saja pertemuanku dengan Kosuke 13 tahun yang lalu adalah peristiwa yang paling ditakdirkan untukku. Apakah kau sendiri juga menganggap bertemu denganku adalah takdir?” – Mao – 120

Kosuke yang bekerja di perusahaan jasa periklanan Railad Japan Co.,Ltd, tiba-tiba kembali disapa gadis yang dulu terkenal ‘anak paling bodoh di sekolahnya’ dan suka di-bully teman-temannya. Sekarang, gadis itu tampak cantik dan juga memperlihatkan bahwa dia bukan lagi gadis bodoh seperti dulu.
Mao sudah berubah. Itu juga berkat Kosuke. Saat di SMP dulu, Kosuke sering mengajarinya pelajaran yang tidak dia kuasai dengan amat sabar. Dia juga menjadi teman satu-satunya Mao. Jadi, karena Kosuke, Mao berusaha keras untuk belajar dan akhirnya di masa SMA dan Kuliah, Mao lebih bisa diandalkan, dan kemudian dia diterima di perusahan Lingerie Lara Aurore
Dari kerjasama kedua perusahaan mereka, Mao dan Kosuke mulai dekat, dan akhirnya berpacaran. Sayang sekali, kedua orang tua Mao tidak menyetujuhi hubungan mereka. Dan menggunakan masa lalu Mao sebagai alasan.
Mao hilang ingatan, begitu kata kedua orang tuanya. Dia mengidap Retrograde amnesia. Karena itu, orang tua Mao tidak ingin Kosuke repot akan masalah itu. Dan juga, Mao bukan anak kandung orang tuanya. Tapi, Kosuke tidak ambil pusing.
“Tidak bisa dibayangkan bagaimana dia bisa sampai kehilangan ingatan. Tetapi hal itu tidak membuat saya takut atau sampai mengubah perasaan. Seperti yang Bapak katakan, bagi saya Mao adalah Mao.” – Kosuke – hlm. 66

Pernikahan mereka berjalan dengan cukup baik. Meskipun ada beberapa masalah yang timbul tenggelam. Namun, Kosuke merasa ada sesuatu yang aneh dengan istrinya. Dia seperti sedang mengidap sebuah penyakit. Tapi, saat di bawa ke dokter, tak ada yang aneh dengan tubuh Mao. Lalu, Mao juga senang sekali mengatakan sesuatu seperti dia akan tiba-tiba pergi.
Sebenarnya ada apa dengan Mao? Kemunculannya dulu saat ditemukan orang tuanya dan akhirnya diadopsi juga cukup aneh. Siapa Mao sebenarnya? Apa yang dia sembunyikan sejak dulu?
“Aku tidak mengira kalau Kosuke begitu menyayangiku. Sungguh bahagia bisa bersamamu. Mungkin Kosuke akan marah, tapi aku sudah puas. Maaf, memang ini keterlaluan, tapi sebenarnya aku ingin bisa melakukan banyak hal bersama lebih lama lagi.” – Mao – hlm. 193

Her Sunny Side, pada awalnya novel ini tampak seperti novel romance pada umumnya, bertemu, jatuh cinta, cinta mulai diuji, dan seterusnya. Kamu akan menemukan hal yang berbeda saat memasuki setengah dari novel ini. Ada sesuatu yang tidak beres dengan sosok Mao, sesuatu yang membuat ending-nya sangat tidak bisa ditebak, dan jauh dari pikiranku.
Meskipun di atas aku menyebutkan sebuah penyakit - Retrograde amnesia – tapi, novel ini tak ada hubungannya sama hal-hal berbau penyakit berbahaya yang membuat tokohnya mati di akhir cerita. Pokoknya, sosok Mao benar-benar bikin orang bertanya-tanya, dan tercengang saat ketemu jawabannya.
Mao sendiri digambarkan sebagai gadis ceria entah saat masih SMP maupun setelah bertemu kembali dengan Kosuke. Dia bukan tipe gadis yang gampang menyerah, dan punya tekat sangat kuat. Namun, Mao ini lumayan parah plin-plannya. Tapi, kalau masalah cinta, berbeda. Mao tak pernah berubah pikiran saat mencintai Kosuke. Dia punya tekat sangat kuat untuk bertemu kembali dengan Kosuke.
Kalau ada seorang pria yang sampai dikejar seperti Mao mengejar Kosuke bertahun-tahun, mungkin pria itu akan besar kepala dan merasa terlalu dicintai. Untung, Kosuke bukan pria seperti itu saat akhirnya dia tahu seperti apa Mao mengejarnya. Ada nggak ya, orang seperti Mao yang mengejar cinta pertamanya seperti itu?
“Aku sangat menyukai Kosuke, makanya aku ingin selalu bersamamu. Tapi kelihatannya orang normal tidak akan sampai berbuat sejauh ini ya?” – Mao – hlm. 139

Di novel ini, aku jadi sedikit percaya tentang cinta pertama yang tak pernah mati. Yap, Kosuke adalah cinta pertama Mao, begitu juga sebaliknya.
Hubungan Mao dan Kosuke cukup manis, namun tidak dibuat sangat-sangat-sangat manis. Ada bagian-bagian yang bikin ngiri, dan jadi pengin cepat-cepat menikah (ini salah satu hal positif dari novel ini, lho).
Kosuke pada dasarnya memang bukan orang yang romantis. Dia kadang terasa kayak pria dengan minim ekspresi. Tapi, karena novel ini diceritakan dari sudut pandang Kosuke, jadi nggak mengganggu dan nggak bikin alur ceritanya jadi datar.
Meskipun, jujur di bagian awal novel ini, aku merasa jenuh. Yah, kenapa jadi standart banget begini? Yah, kenapa nggak ada gebrakan yang bikin semangat baca? Tunggu, itu hanya aku rasakan sekitar setengah buku (banyak juga, sih). Setelah itu, setelah mereka menikah, ceritanya jadi lebih enak.
Aku juga kurang nyaman sama Line Spacing-nya. Kalau lebih diperlebar, akan lebih enak untuk dibaca lama-lama. Untuk ukuran font dan jenisnya sudah mantap. Hanya tinggal itu.
Ngomongin ending lagi, aku kasih 4,7 dari 5 bintang khusus untuk ending-nya.
Kalau keseluruhan cerita, aku kasih 2,3 dari 5 bintang.

2 comments:

  1. Waktu sampai ending, rasanya aku pengin ngelempar buku ini jauh-jauh. Keseeel karena jauh dari perkiraan, nggak kebayang sama sekali. Tapi, yaaa, aku suka buku ini. Filmnya juga manis.

    ReplyDelete
  2. Hahaha... aku malah seneng kalu jauh dari perkiraan. Lebih surprise aja gitu

    ReplyDelete

 

Jejak Langkahku Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos