Sunday, April 24, 2016

[Review] DEAR NATHAN Karya Erisca Febriani



Penerbit : Best Media
Genre : Roman, Fiksi
Kategori : Young Adult, Family Drama, Persahabatan, Wattpad
Terbit : Maret 2016 (Cetakan Pertama)
Tebal : 528 halaman
ISBN : 978 – 602 – 6940 – 14 – 8
Harga : Rp. 99.000

Seperti apa hidup kita ke depan, nggak akan pernah ada yang tahu bentuknya. Seperti hidup Salma yang berubah drastis saat dia pindah ke SMA Garuda. Teman-temannya tak sealim saat di sekolah lamanya. Beberapa dari mereka tercipta sebagai tukang rusuh dan senang berantem, termasuk Nathan, cowok yang menyelamatkan Salma dari hukuman karena datang telat.
“Di SMA kalau nggak ada murid sejenis Nathan mah nggak seru, belum berasa putih abu-abunya. Kalau semua anak di sekolah ini kalem, pasti nggak bakal rame.” – Rahma – hlm. 79

Nathan, dia tak mengira akhirnya bisa sangat jatuh cinta pada Salma, anak baru yang tampak ingin menangis saat telat datang ke sekolah. Kalau bagi Nathan, terlambat adalah hal biasa baginya, ternyata jauh berbeda jika situasi itu dihadapi oleh cewek manis yang membuatnya berubah jadi cowok yang penuh perasaan.
“Meskipun saya tampangnya berandalan. Tapi saya amat menghargai perempuan. Perempuan itu kayak kaca, kalau retak ya bakalan retak seumur hidup dan nggak bakal bisa balik kayak semula. Gimana pun caranya.” – Nathan – hlm. 95

Nathan baru tahu, jatuh cinta pada cewek lugu yang belum pernah pacaran jadi hal yang cukup menguras tenaganya. Awalnya, dia begitu menikmati pengejaran cintanya. Tapi, apakah Nathan selamanya akan menikmatinya jika Salma terus menerus bersikap cuek padanya?
“Dan seandainya pemilik hati kamu adalah saya, ke mana pun kamu pergi, hati itu pasti akan balik kepemilik sejati dan Tuhan punya seribu satu cara untuk mendekatkan kita lagi. Tapi kalau bukan milik saya? Tuhan juga punya banyak cara untuk nemuin kamu dengan yang lain.” – Nathan – hal. 486

Tidak hanya cinta yang memperumit hidup Nathan. Ada masalah lebih besar yang sejak lama dihadapinya, masalah keluarga yang sangat berat, hingga Nathan merasa begitu berat menanggungnya. Kehilangan orang yang sangat disayangi, merasa ditinggalkan oleh ayahnya, dan masih banyak lagi masalah dalam otak Nathan.
“Nath, dunia ini udah penuh dengan kesedihan dan air mata. Seandainya lo nggak hanya fokus pada luka lo sendiri, ada banyak hal indah yang selama ini lo lewatin.” – Seli – hlm. 473

Dear Nathan, kisah masa putih abu-abu yang sweet. Sangat sweet sampai kamu akan merasa kangen menjadi anak SMA lagi. Jadi remaja memang bagian hidup yang tak terlupakan. Masa-masa dimana kita mencari jati diri, begitu ingin bebas lepas, dan baru mengenal tentang cinta.
Meskipun tema yang diusung memang sering kita jumpai, tapi karakter Nathan-lah yang jadi bagian paling apik di novel ini. Penulis berhasil menciptakan tokoh yang membuai pembaca. Bagaimana dia bersikap, tingkahnya, kejahilannya, dan terutama bagaimana cara Nathan saat bersama Salma – semua sangat menarik.
Nathan ini memang bad boy, tapi bukan playboy. Rasanya, jadi mulai berpikir, nggak semua bad boy adalah playboy. Dan, anak-anak nakal seperti Nathan harusnya bukan dimusuhi atau malah dilabeli ‘nakal’, karena selalu ada alasan yang membuat mereka tercipta sebagai anak nakal. Banyak yang salah dalam mengatasi anak-anak seperti ini. Makanya, anak nakal dimarahi bukannya membaik, tapi malah menjadi.
Karakter Salma yang terasa lugu, manis, pintar, dan punya jiwa yang halus, memang tampak kontras dengan Nathan. Namun, karena kontras itulah jadi terasa semakin menarik. Aku suka cara Salma bersikap di depan Nathan. Keluguannya mengatasi cinta yang pertama kali menyambangi hatinya, membuat Salma jadi semakin manis dan pantas jadi sasaran kejaran Nathan.
Intinya, kalau masalah karakter, penulis berhasil membuat karakter-karakter yang kuat. Tidak hanya pada tokoh utamanya, untuk tokoh pendukung yang jumlahnya bejibun, penulis mampu memberi mereka ciri khas satu persatu khas anak SMA.
Jalan cerita yang diciptakan juga terasa masuk akal. Konfliknya mampu dikisahkan dengan apik, dan penyelesaiannya cukup membuatku puas.
Banyak ilmu yang bisa diambil dari novel ini. Tentang pengorbanan, tentang kasih sayang, persahabatan, bahkan tentang arti memaafkan dan mau menerima kenyataan.
Yang jadi kelemahan di novel ini adalah cara penulis membuat narasi. Beberapa terasa berlebihan. Kadang, pemilihan diksinya terasa tidak pas. Narasi juga terlalu berputar-putar. Dan, banyak sekali typo dan penggunakan kata yang tidak baku. Jadi bertanya-tanya, ini novel ada editornya nggak ya? Kalau baca sih ada, tapi kenapa terasa nggak diedit ya?
Novel ini memang bermula dari Wattpad. Aku kenal novel ini juga dari Wattpad. Ada beberapa yang berubah di edisi cetaknya ini. Seperti beberapa nama teman Salma. Lalu cara bicara Nathan ke Salma yang menggunakan ‘saya-kamu’. Rasanya, malah nggak pas. Aku yang mengenal novel ini lewat Wattpad jadi merasa janggal. Dan, cara bicara Nathan yang menggunakan ‘saya-kamu’ malah terkesan nggak Nathan banget. Oke, penulis sudah menjelaskan kenapa dia pakai ‘saya-kamu’, tapi tetap rasanya nggak pas. Kalau ‘aku-kamu’ mungkin masih oke.
Sebenarnya, kalau beberapa hal di atas lebih diperhatikan saat proses editing, pasti novel ini aku kasih lima bintang di goodreads. Tapi, karena kesalahan yang teramat banyak hingga cukup mengganggu, 3,2 dari 5 bintang cukup. Yang jelas, aku selalu meleleh sama Nathan kalau lagi sama Salma.
Satu lagi, menanggapi beberapa pendapat yang mengatakan novel ini plagiat dari novel Jingga dan Senja karya Esti Kinasih, aku merasa nggak setuju. Novel ini sangat berbeda dari Jingga dan Senja. Nathan halus banget kalau sama Salma. Ari udah kayak preman kalau sama Tari. Nathan deketin Salma memang karena cinta banget. Kalau Ari karena nama mereka yang hampir mirip. Dan meskipun keduanya sama-sama kembar, tapi konfliknya jauh berbeda banget.
Jadi, janganlah asal nge-judge karya seseorang sebagai plagiat. Lihat dalamnya, baca baik-baik, dan telaah bagian mana yang kamu anggap plagiat? Kalau tema, nggak masalah-lah, banyak, kok novel yang punya tema sama, tapi tetep aja cara berceritanya sudah berbeda.

65 comments:

  1. Hai, aku suka sama resensimu. Tapi aku cuma mau meluruskan 2 paragrafmu paling bawah soal plagiarism novel Dear Nathan. Sebelumnya aku mau ngasih tau kalo aku pembaca Wattpad dimana novel ini awalnya ada di sana. Aku termasuk yg baca awal2 Dear Nathan waktu ceritanya masih nangkring di Wattpad. Dulu banyak banget yg bilang kalo novel itu mirip sama Jingga dan Senja. Banyak yg ngomongin soal novel itu dimana pun. Sampe pada suatu ketika, Erisca baca status temenku di FB yg ngomongin soal plagiarism ceritanya. Kebetulan aku jg komen di status temenku itu. Nah si Erisca ini nggak terima, padahal jelas banyak kalimat, storyline, karakterisasi, dll buatan kak Esti Kinasih di novel Jingga dan Senja series yg diambil si Erisca & dimasukkin ke novel Dear Nathan. Itu kenapa banyak Jingga dan Senja lovers yg nggak suka. Setelah Erisca tau soal status itu, di Wattpad dia bilang kalo dia emang 'terinspirasi' sama Jingga dan Senja. Ya oke terinspirasi. Tapi kenapa harus banyak yg mirip sama Jinggan dan Senja? Trus kemudian si Erisca bilang kalo cerita Dear Nathan tuh real love story-nya dia. Nah di sini aku mulai bingung. Ini yg bener yg mana? Terinspirasi apa real story? Kok nggak konsisten gitu ngomongnya? Dan setelah itu, Dear Nathan jd omongan banyak orang. Jujur aja ya, aku nggak setuju kalo novel ini dibilang best seller. Secara dari isi aja bisa dibilang klise, biasa banget, gampang ditebak. Bahkan banyak typo-nya. Aku jadi sering tanya sama diri sendiri, ini novel best seller karna kualitas apa sensasi? Dan jawaban yg paling tepat adalah karena sensasi. FYI aja, aku dikasih tau sama temenku kalo Erisca ini orangnya nggak suka dikritik. Dia nggak mau nerima kritikan. Yg ngeritik dia, akun sosmed-nya pada diblok. Aku jadi mikir, Erisca ini penulis apaan kok nggak mau nerima kritikan? Setelah diselidik2 ternyata dia masih ABG yg baru aja masuk kuliah. Yah pantes sih kalo masih labil gitu.
    Well, itu aja sih yg mau aku sampein. Tadinya aku mau beli jg. Tp pas liat komen, kritikan, & review orang2 soal novel itu & tentunya soal penulisnya sendiri, aku jadi males beli. Udah illfeel duluan. & aku pikir ntar malah cuma buang2 duit.
    Thanks & salam kenal... :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, berarti veris cetak dan versi wattpad udah beda jauh ya? aku juga sempat baca via wattpad, sih, tapi cuma 3 bab aja :D Udah keburu dihapus soalnya.

      Repot juga ya kalo penulis g mau di kritik. Hahahaha... padahal, kritik itu ilmu.

      Oke, sip, makasih udah baca ya... :D

      Delete
    2. Nggak beda2 amat. Storyline, karakterisasi tokoh, gaya bahasa & penulisan, & beberapa kalimat yg ada di Jingga & Senja series dimasukkin sama Erisca di novel Dear Nathan. Storyline awal2nya itu byk kemiripan sama Jingga & Senja, karakterisasi tokoh Nathan itu jg 'terinspirasi' dari sosok Ari (Erisca pernah bilang sendiri), gaya bahasa & penulisannya Erisca itu Kak Esti banget. Banyak diksi2 yg dipake Erisca di novel Dear Nathan. Kak Esti jg banyak pake diksi di JDS series. Niatnya Erisca sih biar kayak Kak Esti, tapi jatohnya maksa. Banyak diksi yg salah pengaplikasiannya & nggak relevan satu dg yg lain.
      Dear Nathan ini salah satu contoh novel yg sebenernya udah bisa dikatakan plagiat. Itu kata dosen sastraku yg aku paksa buat baca Dear Nathan & JDS series buat liat perbandingannya. Dosenku itu nggak baca sampe selesai. Males katanya. Tp garis besarnya dia tau. Dia bahkan heran, novel bermasalah kayak gitu kok bisa diterbitin? Penerbit major lagi. Bahkan banyak typo-nya. Berasa baca cerita tanpa proses editing. Akhirnya novel Dear Nathan yg aku pinjem dari temenku teronggok mengenaskan di meja ruangannya. Aku disuruh ngambil & dipulangin ke yg punya. Tp justru novel JDS seriesku yg pinjem lama sama dosenku. Katanya mau dihayati bacanya. Hahahaha...
      Yah, menurutku wajar sih kalo banyak yg nggak suka bahkan benci sama Dear Nathan. Secara dosen sastraku yg kebetulan jg penulis buku itu aja males bacanya. Apalagi mereka yg suka bgt sama JDS series.

      Lah si Erisca mah labil orangnya. Makanya banyak yg ilfeel & nggak suka sama dia. Parahlah penulis kek gitu. Dikritik nggak mau. Sekalinya dikritik malah diblock akun sosmed yg ngasih kritikan.

      Dulu sebenernya aku jg pengen ngasih kritikan soal plagiarism cerita Dear Nathan ke dia. Tapi males ngadepin anak labil kek dia. Dikasih tau yg bener malah membela diri. How pathetic... -_-

      Delete
    3. Ternyata...oh ternyata...
      Kita doakan saja, deh, dia bisa segera dewasa :D

      Delete
    4. @newjasmine : wkwkwk.... iya aku pas baca ya ngerasa banget ini kok niru Senja & Jingga banget ya ...tapi sayangnya ceritanya emg klise banget . gaya penulisannya jg biasa aja . Dia ga mampu buat pembaca u/ penasaran n ngebaca terus .. aku aja bacanya hampir 1 bulan padahal novel yang lain paling 3-4jam kelar .. kmrn maksain baca mpe akhir sempe pake cara 'scan' bukan baca lagi .. wkwkkw ... diliat sepintas n balik halaman . afterall .. saya bisa bilang kecewa .. kecewa keluar duit sia2 .. harusnya beli novel lain .. huff....

      Delete
    5. Ya udah sih, kalo emang nggak suka nggak usah nge-judge penulisnya. Toh belum tentu juga kalian bisa kayak dia yang bisa nulis dan nerbitin bukunya sendiri. Lagian mau kalian berkoar, menilai dia plagiat apa segala macem, tetep aja kenyataannya nggak bakal berubah. Dear Nathan sekarang udah jadi Mega Best Seller novel di pasaran, udah masuk industri perfilm-an, banyak kok yang suka.

      Lagian kalo emang terinspirasi dari suatu cerita emangnya salah?

      Gini ya, lo pasti punya penulis, penyanyi atau apapun yang lo favorite-in dan lo ngerasa pengen banget suatu saat kayak dia. Pasti lo akan kebawa sama cara dia nulis atau nyanyi, sehingga tulisan lo itu (ex; penggunaan diksi dll) bakalan mirip.

      Hampir semua orang kayak gitu, kok. wajar.

      Kak Erisca juga gitu. Dia suka sama cerita-ceritanya Esti Kinasih dan dia terinspirasi. BUKAN COPAS. Bisa bedain nggak?

      Lagian keseluruhan cerita DN sama JDS beda banget kali. Kalo kalian mempermasalahkan beberapa pemilihan diksi, kayaknya itu bukan masalah deh. Nggak ada yang bisa ngelarang orang buat milih kata ini/itu.

      Jadi bukan penulisnya yang nggak dewasa, tapi kalian semua yang menyikapinya dengan nge-judge karya orang.

      Mending bikin buku sendiri daripada buang-buang tenaga.

      Delete
    6. Saya gak ngerti sih sampai sebagaimana plagiarisme dalam novel (dalam musik adalah 8 bar). Tapi motivator MT aja saat ini sedang ramai dipertanyakan kata2 bijaknya hanya karena memakai quote dari motivator luar negeri tanpa menyertakan siapa pembuat quotenya dan hanya menyematkan nama saja (silahkan cek ig, cukup banyak yang mengupload gambar seperti itu).

      Persoalan plagiarisme bukan hanya sekedar jangan baca (atau beli) atau 'lu coba aja bikin sendiri'. Tapi menyangkut HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual, buat yang gak tahu). Sama seperti kalian bikin skripsi sampai keluar keringat darah, tahu-tahu dua-tiga tahun kemudian skripsi kalian dipakai orang lain. (Skripsi aja bisa ditolak kalau ketahuan nyontek).

      Lebih jauh lagi, soal plagiarisme ini juga melukai jati diri sang penulis sendiri. Tidak ada seorangpun yang mau tenar karena satu novel lalu mati (JK Rowling aja sampai ganti nama untuk menghilangkan beban ini saat membuat Chuckoo's calling). Sekarang jika tenar dari hasil contekan, bisakah mengulang kesuksesan novel dengan ide dan kemampuan sendiri tanpa contek mencontek? Bisakah? Sayangnya biasanya tidak. Ini hanya akan membuat penulis yang melakukan plagiarisme mati atau mengulang tragedi plagiarisme yang sama. Membunuh kreatifitas sendiri dan menjadi benalu bagi karya orang lain. Sangat disayangkan, bukan?

      Delete
    7. hehe ikutan ya... jadi seru kalo banyak yang ngasih opini kayak gini. Dear Nathan ini bagus kok! pendalaman karakternya bikin pembaca tuh kayak apaya.... nge Feels? dapet aja gitu. Emang sih menurut Aku untuk jalan ceritanya gampang ditebak dan kesannya membosankan. Malah pasitu saya loncat-loncatin pas baca SWKSkWKSkW. tapi karakternya itu, loh! klise tapi ketagihan:( gimana ya bilangnya, duh. buat aku, buku nya Erisca ini pendalaman karakternya bisaaa banget lah.

      Kalo tentang Plagiatisme-nya Jingga&Senja No Comment, lah... soalnya aku sendiri gak bisa bedain, terinspirasi sama menjiplak? saya masih bingung aja gitu sama hak masing-masing. kayak misalnya apatuh, pemilihan diksi dan lain-lain. saya setuju banget sama Nur Amaliah!!!gak bisa disalahin aja gitu, soalnya sifatnya kan cantik dan ganteng, relatif gitu hehe.

      Tapi agak tersinggung deh pas dibilang dibilang jangan ngritik kalo gabisa nulis:( saya juga gabisa nulis tapi saya suka baca... makanya saya juga baca referensi dan opini orang-orang biar dapat pengalaman juga... jadi ngasih kritik (walaupun terkesan agak kasar) itu hukumnya wajib kalo menurut aku. gak ada kritik gak maju-maju lah:(

      Delete
    8. Kalian yang ngejudge udah pasti bisa nulis ya?πŸ˜‚
      Coba kalian tulis di wattpad aja, ada yang baca gak kira kira? Kalian, lawan 20 juta pembaca novel erisca febriani, yakin bisa? Hehe.

      Delete
  2. Wah serius? Iya sih aku penasaran banget sama Dear Nathan ini. Tapi aku itu bener bener penggemarnya mbak esti apalagi JDSnya itu. Aku niat mau ke gramed nih cari Dear Nathan. Tapi setelah liat komen komen aku sedikit kehasut nih untuk gak jadi beli hehe. Tapi sebelumnya aku baca review orang orang juga kaget kok awalnya mirip sama JDS banget. Aku mulai curiga dan telusuri lg dan ternyata banyak komen yang kurang baik juga untuk novel ini. Duh mana katanya Dear Nathan ini mau dibuat film kan? Aku aja yg dulu pernah liat ada audisi untuk cari ari dan tari buat film JDS sampe skrng belum tau ada filmnya pa ngga. Dan sampe sekarang aku masih nunggu JDS ketiga belum ada ada dari jaman aku smp sekarang udah kuliah lagi. Duh maaf ya jadi curhat. Habis aku cuma kecewa aja JDS yg ketiga aja belum ada kenapa Dear Nathan ini udah mau dibikin film gt. Hehe salam kenal semuanya ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal juga.
      Aku juga suka sama series JDS. Sempat sebel juga karena di PHP g terbit2 yang seri ketiga.

      Kalo aku, baca Dear Nathan karena emang cukup tertarik dengan 3 bab pertama di wattpad. Trus baca cetaknya. Ya kayak begitu sih komentarku. Cukup positif.

      Kalau penasaran sih enaknya baca aja. Hasilnya nanti silahkan tentukan sendiri.

      Delete
    2. Kalian tuh ya enggak ngehargain Erisca banget sih.Kalian hanya bisa mengritik.Biarkan orang berimajinasi.Jika kalian tidak menghargai Erisca,apa kalian bisa buat novel yang lbh bagus dari erisca? Enggak kan?!

      Delete
    3. Bagus hasil nyontek, apa bagusnya. Apa orang tua kalian bangga saat tahu kalian dapat nilai 100 dari hasil mencontek? Silakan tanyakan diri sendiri

      Delete
    4. Apa ortu kamu juga bangga, liat kamu ngejudge tapi ga bisa mengembangkan karya?

      Delete
    5. Mengembangkan karya orang lain gitu yak

      Delete
  3. kalo aku pas pertama baca dear nathan malah ngerasa mirip sama novel will you marry me karya fatma sudiastuty, apalagi karakternya sama namanya salma dan nathan juga. salma yg polos mungil manis blm pernah pacaran ketemu nathan yg anak nakal tapi jadi baik saat ketemu salma. malah lebih suka baca novel will you marry me lebih ngefeel kalo buat aku.

    ReplyDelete
  4. kalo aku pas pertama baca dear nathan malah ngerasa mirip sama novel will you marry me karya fatma sudiastuty, apalagi karakternya sama namanya salma dan nathan juga. salma yg polos mungil manis blm pernah pacaran ketemu nathan yg anak nakal tapi jadi baik saat ketemu salma. malah lebih suka baca novel will you marry me lebih ngefeel kalo buat aku.

    ReplyDelete
  5. awalnya tau Dear Nathan dari temenku, yang kebetulan temennya temenku itu punya novel Dear Nathan. baca Dear Nathan cuma karena suka sama warna covernya yang ungu unyu plus label "dibaca 9,5 juta pembaca wattpad."
    saya penasaran, kayak apa sih buku yang readersnya hampir 10 juta, apa sih menariknya. saya juga tau jds series tapi saya baca Dear Nathan duluan, jadi waktu itu nggak terlalu mengkritisi karakter Nathan.
    pas pertama baca, kesannya oh, okelah. novel Dear Nathan itu "kita banget" maksudnya siswa seragam putih abu-abu. tapi semakin baca, jadi semakin mikir
    ini novel sebenernya di edit nggak sih? kok ala kadarnya banget. ebi berantakan, tanda baca apalagi, typo bertebaran, banyak ungkapan asing yang harusnya di italic tapi enggak diitalic. gemes sendiri bacanya.
    dua minggu kemudian saya baca jds series, barulah saat itu saya mikir "kok kayak nathan ya?"
    "ari kok nathan banget si?"
    pas saya tanya temen saya, jds itu terbitan taun berapa dan saya ngeh kalo nathan-daniel itu duplikatnya ata-ari
    gerem sih waktu tau itu.
    apalagi saya sempet kepikiran buat ngasi kritikan ke authornya tapi dilaran sama temen saya karena yah itu, ntar bukannya ditanggapi tapi akun saya malah diblok.
    haha lucu ya? ada author macem gini tapi ya biarinlah sifat orang.
    setelah tau itu saya jadi kepikiran gini, "untung nggak beli dear nathan, cuma minjem doang. coba kalo beli, sia-sialah duit 99k melayang."
    sebenernya anggapan novel ini best-seller karena sensasi kayaknya ada benernya juga menurut saya

    ReplyDelete
  6. Hei, salam kenal :D
    Saya baru tau cerita ini dari wattpad beberapa hari yg lalu, dan saya agak kecewa karena ternyata di wattpad hanya tersisa 3 bab awal yg belom dihapus. Dan itu cukup bikin saya frustasi dan pengen cepet2 beli novelnya karena penasaran sama ceritanya. Sejauh ini, saya tertarik sama cerita ini karena saya suka gaya penyampaian yg dipakek oleh pengarangnya. Sampai akhirnya beberapa menit yg lalu saya googling soal cerita dear nathan ini yg katanya udah diterbitin jadi novel. Jujur saya kaget banget setelah membaca komen2 terkait novel ini. Apalagi soal plagiasinya. Bisa dibilang saya ini adalah salah satu penggemar trilogi JDS punya mbak Esti Kinasih itu, dan sudah lama saya nungguin trilogi terakhir yg sampek sekarang belom ada kepastian kapan terbitnya. Mulai saya kelas 10 sampek sekarang hampir semester 5 belom juga ada kabar huhuuuu. Balik lagi soal Dear Nathan nih. Setelah saya tau gosip ini, saya mutusin buat tetap akan beli novel ini karena saya sudah terlanjur tertarik dan penasaran sama ceritanya. Dan satu lagi, saya gak punya hak buat ngejudge karya orang khususnya Dear Nathan ini yg sudah bikin saya gak sabar buat baca kelanjutan ceritanya. Semangat yaa buat Erisca ^^

    ReplyDelete
  7. hei salam kenal ^^
    hampir saja duit seratus rebu saya melayang. saya termasuk yang tergila-gila sama wattpad, rasanya ga baca wattpad sehari berasa ada yang kurang. untuk Dear Nathan saya mengikuti dari awal, ya penulisnya bilang mau dterbitkan ceritanya bakalan di stop. saya suka sama karakter Nathan. walaupun ketika membaca langsung terbayang Ari sih, dan untuk karakter Salma beda sama Tari. sejauh yang saya baca sih rasanya cerita ini menjadi pengganti dan mengobati luka karena series JDS yang tak kunjung terbit.. memang banyak kesamaan, gaya penulisan pun sama. awalnya saya acuh biasa saja. tetapi ketika saya ingin mengoleksinya kebiasaa saya cari review novel terlebih dahulu. jujur sangat kecewa karena isu plagiat. menurut saya yang membuat dear nathan menjadi best seller karena isu plagiat itu sendiri, apalagi disandingkan dengan esti kinasih yang notabene adalah penulis yang sudah terkenal. yaah jadinya semakin di bicarakan karena keburukan sesuatu hal akan makin booming. makin banyak di bicarakan makin bikin masyarakat penasaran. kita tinggal di Indonesia. dan kita mengenal bangsa kita dengan baik. buat Erisca kalo ga mau di kritik ya diem aja, ga usah di block juga. semoga kedepan ada karya Erisca yang beneran di ilhami dari pikiran sendiri dan diterbitkan oleh Penerbit bergengsi. *_*

    ReplyDelete
  8. kalo belum tau yang sebenarnya mohon jangan men judge.
    kalo yang kalian katakan itu benar adanya berarti kalian telah gibah, kalo ternyata itu salah berarti kalian telah memfitnah.
    memang kalian tau apa tentang mbak erisca febriani?

    ReplyDelete
    Replies
    1. kritik bukan berarti men-judge. Apa salahnya seseorang menerima kritikan?

      Delete
    2. Aduh lucu sekali,baru kali ini mengkritik dibilang ghibah. Kita menilai apa yang terlihat di depan kita. Dan dgn mengkritik bukannya kita membantu yang dikritik untuk belajar agar menjadi lebih baik? Pikiran Anda sempit benar.

      Delete
  9. Waktu gue baru pertama kali baca dear nathan itu yaa berasa kek ff wkwk. Cuman entah kenapa gue kurang suka aja gituu, kebetulan usia gue sama si Salma dan Nathan itu kan sama, gue ngerasa aneh aja gitu klo ada cinta sedalam itu. Apalagi pas adegan diboncengin, kalo gue mah udah kena libas wkwk. Tapiii emg sih bagus cuman ceritanya mudah ditebak dan gue bingung juga kenapa novel kek gini bisa best seller gitu. Secara nih novel Risa Sarasvati aja kalo gak salah ada yang belum best seller terusbmau dijadiin film pula katanya.-.

    ReplyDelete
  10. hai salam kenal. berawal posisi novel ini yang selalu didepan pintu pas saya masuk kegramedia membuat saya jadi pingin beli ini novel. gila novel dengan tulisan dibaca berjuta juta orang gitu + harganya yang hampir sama kayak novel terjemahan fovorit aku. siapa coba yang ngak tertarik. tapi setelah melihat komen2 disini + curhat booktuber yang bilang butuh semangat, dan waktu buat baca novel itu. membuatku ngak jadi beli.
    so... saya hanya ingin mengatakan. thanks buat infonya.setidaknya uang yang hampir 100rb itu masih aman ^^

    ReplyDelete
  11. Kemarin saya dapet saran dari temen buat baca dear nathan, buka wattpad lahbdan baru baca sampe si cowok nolongin ceweknya aja saya langsung mikir kok mirip jingga dan senja ya. Padahal itu baca bab 1 baru 4-5 halaman doang.
    Saya penyuka novel-novel mbak esti dari jaman SD yg fairish sampe skrg lulus kuliah nungguin seri Jingga dan senja yg terakhir pasti tau gaya cerita mbak esti.
    Saya cuma mau bilang kalo dear nathan itu bukan hanya ceritanya saja yg membuat saya berfikir kalo itu Jingga dan senja banget tp gaya ceritanya juga yang mbak esti banget.

    ReplyDelete
  12. Hargai dong usaha orang tidak perlu saling melempar ini itu ga bagus mbak menghina karya orng lain,ok lah kalau di bagian novel nya ada yang sama tapi kan mbak erisca tidak mengcop novel nya mbak esti,ayolah coba kalian yng ada diposisi mbak erisca emng nya kalian mau di hina seperti itu tidak kan dari pada bekoar2 ngak jelas,lebih baik kita diam dari pada menghina seperti itu bikin nambah dosa

    ReplyDelete
  13. Kalau gue sih gak peduli mau cerita itu plagiat atau engga yang penting gue baca ceritanya hahaha.

    ReplyDelete
  14. WOOOOHHH BENERAN RAME TERNYATA!! JUALAN JAGUNG KAYAKNYA BAKAL LARIS NIH, WKWKWKWK *abaikan capslock*

    ReplyDelete
  15. dan sesungguhnya gue agak kecewa juga sama dear nathan. novelnya bener bener ga sesuai sama ekspetasi. okelah, emang ceritanya ringan karna anak muda banget. tapi cara pemilihan kata katanya ada yang bikin ga srek saat kita baca. belum lagi typonya ada dimana mana. dan jatuhnya novel itu ga di edit sama sekali. selanjutnya, untuk halaman setebal itu dan harga segitu endingnya bener bener ga memuaskan. feelnya ga dapet dan klimaksnya juga ga dapet. itu yang bener bener bikin kecewa

    ReplyDelete
  16. BIsmillah , novel nya bagus skli, terus kembangkan kreativitas2 mu yg ada yah , tetap semangat untuk meraih mimpimu , jangan menyerah ceritanya bagus , sampai2 saya suka dengan pemeran nathan ......
    I like it

    ReplyDelete
  17. gw udah baca dear nathan dan gw suka. ceritanya memang diangkat dari kisah atau problem anak muda jaman sekarang makannya terkesan ringan. erisca juga udah berusaha membuat seapik mungkin agar semua kalangan dapat membaca dear nathan tanpa dibuat buat dan semua author punya caranya masing masing dalam membuat karangan. coba aja saat kita menyukai karya orang lain, kita suka dengan karya dia, pasti gaya bahasanya ada yang mengikuti dengan gaya bahasa penulis favorit kita dan itu alamiah dan juga tercampur dengan imajinasi kita sendiri.
    dan juga soal katanya cerita dear nathan gak diedit. hey stiap penulis punya caranya sendri, punya warnanya sendiri dalam mendeskripsikan cerita mereka. setiap cerita kalau selalu harus sesuai baku, dipaksakan terkesan sempurna kan jadi gak sedap dibaca. jadi, erisca menempatkan kata dengan apa yang harus dituliskan.

    ReplyDelete
  18. yg cuma bisa ngejudge belum tentu bisa lebih baik dari erisca. ngaca dulu lah sebelum ngomong wkwkwk
    gw sih suka2 aja baca dear nathan. novel terbarunya erisca juga bagus. best seller lagi. kalo emang dia dr awal copas/plagiat cerita orang gak mungkin juga dia bisa nulis novel lg sebagus "Serendipity". kalian mau ngejudge lagi gak? beli gih sana novel serendipity wkwkwkwk.

    ReplyDelete
  19. Ini para pembela dgn mudahnya bilang 'hargai dong, emang kalian bisa bikinnya? Kalo bisa lebih bagus, baru boleh ngomong gitu.' Kritikus film apa harus produser atau sutradara film? Argumen yang benar-benar lemah. Kritikan itu berfungsi sebagai tongkat penuntun, bukan batu yang menggelinding dan menjatuhkan kita ke jurang depresi, walaupun mungkin pada awalnya menimpa kita yang sedang berjalan sebagai ranting yang jatuh dari pohon. Dan kalo dikritik malah ngambek, berarti ada sesuatu yg salah dgn karyanya, dong?

    ReplyDelete
  20. Telat nggak sih aku nimbrung? Hehe. Aku kuliah Sastra Indonesia, dan disini aku juga melihat bukan hanya satu karya saja yg sebenarnya dipakai oleh menulis sebagai bahan inspirasinya. Kita sebut saja sebagai inspirasi. Mungkin ia bukan orang yg mudah di kritik. Tapi yang perlu kalian tahu, penulis tak benar-benar menulis dari dalam pikirannya sendiri. Karya itu datang dari apa yang ia bac sebelumnya. Kata dosen saya nih, "Apa yang kalian baca, itulah yang kalian tulis." Chairil Anwar aja pernah disangka plagiat kok. Tapi dia mengakui jika ia memang membaca karya itu sebelumnya. Terima kasih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. *penulis
      *baca
      Jadi typo sendiri wkqk

      Delete
    2. Hai, salam kenal Dila. Aku sependapat sama kamu karena kita berkecimpung di dunia yang hampir sama. dalam dunia sastra memang plagiasi itu abu-abu. banyak karya yang konsepnya sama seperti karya yang lahir sebelumnya. sama seperti yang kamu katakan, karya sastra itu tidak bisa lahir murni dari pikiran penulis sendiri. sebelumnya penulis pasti sudah membaca banyak buku dan literatur. nah, hal itulah yang membuat karya satu dengan yang lain seperti ada kemiripan, tapi bukan plagiarisme. karya sastra dianggap plagiat jika nama tokoh, latar, konsep, dan semua unsur pembangunnya sama persis. sedangkan dear nathan dan jingga dan senja jelas memiliki perbedaan. kalau kalian ingin lebih mengetahui tentang dunia sastra silakan baca literatur tentang intertekstual dalam sastra. intertekstual akan menjelaskan scr detail mengapa 2 karya yang mirip bisa terbit. ada juga yang namanya hipogram dan transformasi. hipogram itu karya sastra yang memancing timbulnya karya sastra selanjutnya dengan konsep yang sama. kemudian transformasi adalah hasil dari hipogram itu tadi. sekian penjelasan saya, semoga membantu teman-teman dalam menanggapi kasus dear nathan ini. intinya jangan kita menjudgement orang lain, karena saya yakin erisca pun tidak pernah berniat menyontek karya mbak esti. semua itu normal dalam dunia sastra.

      Delete
  21. Kenapa nathannya make bahasa "saya-kamu" min?

    ReplyDelete
  22. telat banget taunya, hehe udah keburu beli hehe tapi gapapa.
    makasih banget buat blog nya mba dian ini ngasih informasi yang berguna banget terutama berbagai komentarnya yang bikin aku jadi punya ilmu lebih untuk menulis, tentang plagiat , inspirasi dll. aku juga baru baca JDS emang itu karakter Ari kayak Nathan banget, oke kebalik Nathan kayak Ari banget segi bahasa juga gitu , agak pro kontra jg sih apa lagi bulan depan udah di filmin, sayangnya JDS gak ikut di filmin.

    ReplyDelete
  23. aku baca pertama di wattpad pas baru baru di post,belom heboh lah. baru baca part 1-2 lah kok sama kaya jingga dan senja. awalannya aja juga mirip. udh deh ga lanjut baca. di film in pula tayang maret thn ini. JDS aja gak ada filmnya pdhal lebih seru.

    ReplyDelete
  24. gimana sih caranya agar ide cerita yang kita buat ngga buntu di tengah jalan? saat ini aku udah bikin cerita tapi ide selanjutnya aku ngga tau apa-apa (buntu)

    ReplyDelete
  25. Awalnya gue gatau cerita dn ini sampe temen gue maksa buat beli novelnya karna dia bilang bagus dan gue belum sempet baca di wattpad. Dan sebelum gue beli, gue denger kabar angin bahwa katanya dn mirip dengan jds. Disitu gue belum pernah baca jds tapi gue suka sama ka esti karna gue baca karyanya yg "Dia tanpa aku" tapi belum sempet baca karyanya yg lain. Karna denger kabar kaya gitu gue memutuskan untuk baca dn lebih dahulu. Jujur aja awalnya gue tertarik pas part 1 tapi lama lama menurut gue ceritanya b aja. Dan ga lama gue memutuskan haca cerita jds series. Dan gue langsung mikir, oh ternyata bener ceritanya hampir sama malah menurut gue bukan hanya cerita tapi gaya bahsanya juga hampir sama. dan gue mikir "okelah hampir sama, karna penulisnya sendiri bilang inspirasinya dari jds" gue tau dia inspirasi dari jds dari temen gue yg rekomen cerita dn. Dan ga lama temen gue cerita bahwa dia rada kecewa sama dn. Karna awalnya dia bilang inspirasi eh pas mau di filmin dia bilang itu kisah dia sendiri, terus kalo di luar meet n great atau talkshow gitu erisca sombong sempet gamau di ajak foto gitu. Temen gue yg tadinya suka banget sama dn langsung down ternyata penulisnya kaya gitu.. hehehe

    Tapi gue suka karya erisca yg serendipity. Disitu feelnya dpt banget dan ceritanya bener bener anak sma banget terus banyak pesan pesannya juga ! Hehe

    ReplyDelete
  26. Hai kak salam kenal ya hehe barusan baca review ini jadi gemes pengen komentar. Setuju sama reviewnya kakak hehe :) cuma aku emang dari awal baca dear nathan di wattpad jaman kelas 11 awal dan sekarang aku udah kelas 12 an jadi yaa udah 1 tahunan lebih. Dan emang sih awal-awal baca wattpad ngerasa ini cerita bagus banget kayak apa ya jalan ceritanya bikin nagih dan emang sih cerita dengan latar cowok bad boy tuh udah biasa banget kan dan sukanya sama cewek polos. Saya penggemar korea dan dari smp suka baca fanfiction dan fanfiction sering lah ambil cerita tentang cowok badboy naksir cewek polos.
    Waktu saya baca wattpadnya ngga lama intinya akhirnya penulisnya nerbitin dan jelas cerita di wattpad ngga bakal dilanjutin kan. Terus lama udah ngga baca itu karna kecewa aja gitu udah dikit lagi kan ending tapi eh stop disitu. Sedih kadang baca wattpad yang viewnya udah jutaan pasti ujung-ujungnya diterbitin, kalo baca wattpad english tuh rata-rata sama mereka bener-bener di selesaiin gitu kan jadi puas.
    Terus lebaran taun kemaren saudaraku punya novelnya akhirnya baca lagi kan dan ternyata ceritanya tuh persis parah untung nggak beli waktu itu. 100 ribu buat novel udah dapet terjemahan gitu kan tebel dan pasti ceritanya bagus.
    Dan waktu baca itu ternyata jarak dari terakhir baca di wattpad sama di novel sampek ending tuh cuma beberapa puluh halaman aja. Jadi yah intinya endingnya mengecewakan sih pas baca endingnya di novel semacam gini doang? Udahan? Wasting time deh. Tapi yaah bagus sih overall jalan ceritanya. Heheh makasiih kak

    ReplyDelete
  27. ketika yang lain suka sama dear nathan, gue b aja dan bahkan ga tertarik baru baca 1 part :(

    ReplyDelete
  28. Terserah ya .. dia emang mau plagiat atau apa.. tapi kok waktu mau difilmin gak jadi bilang ni novel terinspirasi dari mbak Esti Kinasih.. setidaknya tau terima kasih lah

    ReplyDelete
  29. Terserah ya .. dia emang mau plagiat atau apa.. tapi kok waktu mau difilmin gak jadi bilang ni novel terinspirasi dari mbak Esti Kinasih.. setidaknya tau terima kasih lah

    ReplyDelete
  30. Buat info...saya sendiri gatau ini bener atau gak... mungkin bisa jadi sedikit pertimbangan buat kalian...fans dn juga pasti udah tau..sebenernya sear nathan ini terinspirasi dari kisah percintaan erisca. Jadi tokoh salma dan nathan itu REAL. Tentang yang mirip jds, saya rasa itu kebetulan. Bukannya sudah biasa yaa? Kalo 1 cerita dengan cerita lain itu ada beberapa yang mirip. Jadi tolong kebijakannya dalam berkata. Kalau kalian memang mau ngejuege, silahkan buktikan dengan karya kalian. Paling juga kisahnya ttg gitu gitu aja kan? Hehe makasi

    ReplyDelete
  31. Yah, labil...
    Ya itu karena memang kamu nggak pernah baca JDS jadi belain DN-nya setengah mati. Coba kalau JDS terbit setelah DN, pasti mulutmu juga ngvak berhenti ngehina karyanya mbak Esti.

    Kami (JDS lovers) nggak asal nuduh. Bukti ada dan nampak jelas. Apa yang masih kalian buat pegangan? Penjelasannya Erisca yang bilang bahwa itu kisah pribadinya. Yah namanya bocah labil ya percaya aja langsung tanpa curiga sedikit pun kalau dulu Erisca pernah bilang kalau dia TERINSPIRASI, eh tapi jatohnya plagiat. Wkwkwkwk...

    Sebelim koar-koar mending belajar dulu, PLAGIARISM itu apa. Yah nak?

    Daaan... untuk masalah omonganmu yang sama sekali pecundang itu, suruh ngaca lah, bikin karya tandingan lah... dohh...
    Lo pikir pengamat yang tukang ngritik itu juga udah hebat banget? Bener-bener pengecut kamu nak.

    Kalimat, "Jangan judge kalau nggak bisa bikin karya sebagus dia." Sebenarnya kalimat yang digunakan untuk melindungi diri.

    Saya nggak menghina Erisca penulis yang buruk karena memang sebelumnya dia sudah menulis dan bagus juga. Tapi di DN, dohh... kampret banget!! Apa udah buntet banget ya pikirannya sampai ngejiplak. Jatuhin harga sendiri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang kriteria/tolak ukur plagiarism untuk karya sastra itu apa aja ya kak?

      Delete
    2. Memang kriteria/tolak ukur plagiarism untuk karya sastra itu apa aja ya kak?

      Delete
  32. Waaahh.... jadi rame ya persoalannya. Aku emang gak baca DN dan baru kepo setelah banyak orang yang bilang DN mirip JDS. Jujur aja aku JDS lovers, dan gara" novel itu, sekarang standar aku mau beli novel jadi rada tinggi. Setelah seri terakhirnya terbit, sampe sekarang aku aja belum beli novel baru lagi. Iya, sampe segitunya pengaruh JDS Series buat aku. Dan tentang DN, waktu search dan nemu sedikit ternyata emang mirip banget. Aku aja baru baca dikit terus gak dilanjutin lagi. Secara sekilas emang gaya bahasanya ringan, mudah diikuti dan dipahami, beda sama JDS Series yang kadang 1 paragraf aja bisa dibaca berulang kali biar bisa ngerti.

    Dan Soal ngejudge orang harus punya karya sendiri yang "lebih" bagus dari itu, kataku itu gak banget dah. Seorang komentator bola gak harus jadi pemain bola sekelas Ronaldo dulu kan? Dan sebenernya persoalan ini bisa cepet selesai kalo penulis yang bersangkutan, si Erisca ini angkat bicara. Dilihat dari plin plannya dia ngasih statement, orang awam juga bisa menilai kalo karyanya itu memang bermasalah. Dan dia juga gak seharusnya semena-mena mem-block akun orang yang memberi kritikan. Kalo gak mau dikritik ya gak usah berkarya, orang biasa aja juga gak lepas dari sebuah kritikan, apalagi kalo seorang penulis besar kek dia yang karyanya bahakan udah dibaca sampe lebih dari 10 juta orang. Semakin tinggi pohon semakin keras juga anginnya.

    Terus tentang terinspirasi, kalo itu sih wajar, tapi kalo itu sampe berpengaruh ke hasilnya yang jatuhnya malah mirip banget ya janganlah, seolah dia gak punya style sendiri aja. Aku dulu juga terinspirasi dari JDS juga dalam hal penulisan diksinya, tapi aku gak langsung nyomot juga kan. Aku juga pengen bisa nulis pake diksi seindah itu, caranya ya dengan terus belajar, dan hasilnya cukup memuaskan. Itu kan yang namanya terisnpirasi. Dan plagiat gak harus Copas. Sama sekalimat aja bisa dihitung plagiarism, apalagi kalo konsep cerita??

    Aku mantan penulis lepas, jadi aku boleh dong kalo ngasih kritikan begini? hehehhe.. Kan udah pernah berkarya, walau gak sebooming DN.Tetep aja kan aku udah pernah buat berkarya. Dan harusnya dia inget sama kata" ini.

    --Apa yang diucakpan musuh, itulah sebuah kebenaran yang terjadi pada diri kita. Karena musuh selalu melihat apa yang kita lakukan--

    Sekian, terima kasih. Maaf, dan salam kenal. :)

    ReplyDelete
  33. Kenapa novel egk jelas yg dibuat filmnya?? Kenapa bukan jingga dan senja aja yg dibuat filmnya???

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jgn suka ngejudge karya orang. belum tentu karya kita juga bagus.

      Delete
  34. Sudah lama dengar tentang hebohnya novel Dear Nathan ini. Sempat gak paham kenapa novel ini jadi pro-kontra, lalu jadi penasaran karena dianggap mirip dengan Jingga dan Senja. Aku sudah baca Jingga dan Senja tapi belum baca novel ini. Sempat pengen banget ikutan PO pas awal novel ini terbit tapi gak jadi karena ujug-ujug ada info mau ada filmnya, jadi sekarang mau nunggu download filmnya aja baru mau kasih komentar benar gak sih novel ini emang mirip sama Jingga dan Senja.

    ReplyDelete
  35. buat yang bilang jangan nge-judge penulisnya Dear Nathan, saya rasa setiap manusia pasti butuh feedback dari orang lain. nah feedback buat Erisca adalah apa yang teman-teman tuliskan di kolom komentar. Feedback bisa membangun kita menjadi pribadi yang lebih baik, dalam kasus ini Erisca bisa menjadi penulis novel yang lebih baik lagi. apakah Erisca mau atau tidak menerima feedback tersebut, itu urusan dia pribadi.

    ReplyDelete
  36. Belum sempat baca versi wattpadnya, tapi udah baca versi novelnya dan filmnya. Dan yah, mungkin aku memang enggak ditakdirkan untuk menonton film yang ada bukunya. Aku cuma boleh baca atau nonton, tidak keduanya. Soalnya pasti ekspetasinya enggak sesuai.
    Jujur, aku baper waktu baca novelnya. Terlebih yang bagian kehidupan Nathan sama ayahnya. Tapi ketika nonton filmnya, aku sama sekali enggak merasa baper untuk adegan apapun. Ini kesalahan di otakku atau gimana lebih tepatnya?

    ReplyDelete
  37. Saya sempat membaca versi wattpadnya, yang membedakan antara wattpad dengan novelnya adalah penggunaan kata saya kamu oleh nathan dan menurut saya itu sangat berpengaruh kepada karakter si nathan. Aneh saja, berasa hilang ke-berandalan nathan.

    Yang ingin membaca ebooknya. Silahkan kunjungi: http://www.indoebook99.xyz/2017/07/dear-nathan.html

    ReplyDelete
  38. Kak Esty bukan novelis biasa, dia salah satu yang bisa menggambarkan karakter cowok Nakal dengan 2 sisi berbeda, contohnya Ari di JDS sama Bima di Cewek dan Still. Jauh banget sebelum karakter Nathan terkenal, karena pembaca JDS termasuk saya terlanjur akrab sama karakter "cowok nakal tapi punya 2 sisi berbeda" khas Ari dan Bima, otomatis saat Nathan yang punya karakter menyerupai "Ari" muncul dan booming saya langsung mengenali ciri karakter ari ini. Karena itu untuk pembaca setia JDS pastinya langsung menghubungkan nathan sama ari, karena arinya duluan ��
    Masalah plagiat atau bukan, gak terlallu ngerti juga. It's like Nathan bayangannya ari tapi dalam porsi dan konflik yang beda.

    ReplyDelete
  39. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  40. Sumpah gua pengen nangis baca komen2 disini. Bukan karena kak Erisca plagiat kak Esti atau bukan. Tapi karena gua mikir susah ya jadi penulis. Ternyata nulis bukan cuma soal best seller. Aish ngomong apaan sih gua. Yang jelas setelah baca komen2 disini gua ngerasa jalan gua masih panjang dan gua bener bener perlu belajar banyak hal. Jujur gua ga tau sih gimana bedain terinspirasi sama plagiat. Tapi kalo menurut gua mungkin dear nathan cuma terinspirasi sama JDS. Dan menurut gua, cerita dear nathan itu udah bagus bgt (kalo ga banyak typonya). Gua ga nyangka aja kalo banyak yg ga suka. Ternyata tulisan sebagus itu masih banyak yg ga suka, gimana sama tulisan gua πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    ReplyDelete
  41. Saya udah baca tanggapan orang-orang diatas, ada yang pro dan ada juga yang kontra tetapi saya jadi pihak menengah saja atau netral :), Menurut saya pendapat diatas tanggapan positif dan negatif harus digabung, jadi buat yang pro terhadap erisca kritik itu emang diperlukan tetapi jangan berlebihan coba kalau kamu punya novel lalu orang orang hanya memberi pendapat positif saja, kan gak enak tuh, kritik itu emang perlu buat orang tersebut agar berkembang menjadi orang yang lebih baik lagi, kalo gak ada kritikkan sama sekali pasti orang tersebut takkan berkembang, nah untuk yang kontra terhadap erisca kamu cukup memberi kritik saja jangan berlebihan apalagi sampai membenci penulisnya, karena menurut saya menulis novel itu sangat sulit kamu juga pasti belum bisa kan? dan juga coba jika kamu jadi penulis kamu gak mau kan tulisan kamu dianggap plagiat. gak selamanya tanggapan positif itu selalu benar karena tanggapan negatif juga perlu dilakukan. didunia ini semua hal pasti mempunyai kelebihan dan kekurangan(tidak ada yang sempurna) mau itu novel, buku, bumi, orang atau yang lain, coba sebutkan hal yang sempurna didunia ini? gak ada kan. itu saja komentar dari saya yang kayak pidato, hehe jangan berantem lah :D

    ReplyDelete
  42. prasyarat sewa motor di yogyakarta

    untuk kriteria dalam menyewa motor kami tidak serumit yang lain, cukup 3 kriteria yang kami wajibkan yakni :
    kerjakan pesanan persewaan minimum 1 minggu lebih dahulu hari H
    waktu hari H tiba, hubungi sekali lagi CS kami untuk lakukan pengiriman armada atau datang ke tempat kami untuk ambil armada
    lebih dahulu serah terima armada, anda di wajibkan memerlihatkan 2 jati diri yang berlainan (SIM, serta KTP atau jati diri yang lain)
    yakin masalah transportasi ayng irit serta ekonomis cuma denagn kami sewa motor di jogja, tetapi apabila anda memerlukan armada yang cukup untuk transportasi keluarga silahkan hubungi sewa mobil murah di jogja malioboro

    ReplyDelete

 

Jejak Langkahku Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos