Showing posts with label Resensi. Show all posts
Showing posts with label Resensi. Show all posts

Saturday, February 10, 2018

[Review] Yang Ternoda – Susan Arisanti




Penebit : Divapress
Genre : Romance, Fiksi
Kategori : Yong Adult, Islam
Terbit : 2017
Tebal : 376 halaman
ISBN : 978-602-391-408-1
Harga : Rp.  75.000

Tujuan sebuah pernikahan adalah untuk hidup bersama dengan tujuan kebaikan. Namun, jika sejak awal tujuan pernikahan ini sudah salah, apakah Asha harus tetap setia pada pernikahannya?
Asha, gadis berjilbab yang taat pada agamanya, menerima pinangan seorang pria yang dipilihkan keluarganya. Usianya baru delapan belas tahun. Namun, dia yakin akan jalan yang dia pilih – menikah adalah jalan terbaik untuk ridho Allah.
Sayang sekali, baru saja dia sah menjadi istri dari Harun, suaminya sudah menghianatinya. Dia harus menjadi tumbal untuk keserakahan suaminya.
Asha benar-benar terpuruk, saat dia mendapati dirinya terbangun di sisi pria lain yang bukan suaminya. Asha semakin hancur saat pria yang sudah menidurinya itu menuduh Asha menjabaknya.
Menjebaknya? Yang benar saja! Tidak ada sedikitpun hal licik yang melintas di otak Asha, demi Allah dia bersedia bersumpah.
Situasi semakin merunyam saat Asha tahu siapa pria yang sudah mengambil kesuciannya. Mandala, putra Presiden negara ini. Seorang prajurit TNI AD yang sedang melakukan misi rahasia.
Sikap Mandala yang terus menuduh Asha, membuat Asha mau tak mau membencinya. Namun, saat Mandala mengetahui situasi yang sebenarnya terjadi, hatinya mulai luluh. Sikapnya membaik. Bahkan, Asha mulai merubah keimanan Mandala.
Gadis itu baru saja singgah di hidupnya, namun dia berhasil menjungkir balikkan hidup Mandala. Tidak hanya hidupnya, namun juga hatinya.
Mandala tahu gadis itu bersuami. Dan, inilah yang membuat dia tak bisa membiarkan hatinya liar. Begitu juga Asha, dia tahu memiliki rasa cinta pada lelaki bukan suaminya adalah dosa.
Entah bagaimana akhirnya, Asha tahu Allah akan memilihkan jalan terbaik untuknya.

Yang Ternoda, buku yang aku pilih karena baca sinopsisnya.
Jujur, “Tentara Satuan Khusus TNI AD” kalimat ini yang menyeretku untuk meng-keep buku jualanku sendiri, padahal bukunya tinggal satu. Erg... inilah nggak enaknya penjual buku yang hobi baca buku.
Kemarin abis baca Dilanika, tokohnya – si  Dilan – punya latar belakang pekerjaan sebagai Polisi di bagian kriminal. Dan aku jatuh cinta pada sosoknya. Aku berharap, aku bisa menemukan hal serupa di novel ini.
Bagian pertamanya cukup menarik, dimana tiba-tiba Asha terbangun disisi pria yang bukan suaminya. Wah, langsung menantang ini. Namun, saat aku mencoba mengidentifikasi beberapa hal di awal, ada beberapa yang janggal.
Pertama, Mandala seorang tentara yang terbiasa dengan misi rahasia. Anehnya, kenapa dia mudah sekali masuk dalam perangkap musuh? Ya nggak apa-apa sih. Cuma aku berharapnya ada trik yang lebih jitu hingga terasa masuk akal kalau Mandala masuk dalam jebakan itu.
Kedua, Mandala anak seorang Presiden. 80% orang Indonesia, bahkan luar negeri pasti mengenalnya. Jika Mandala melakukan penyamaran untuk misi rahasia, secara logika Mandala pasti ketahuan. Ya memang ketahuan, sih. Dan, menurutku Mandala bodoh sekali. Masak tentara terlatih bisa sebegitu cerobohnya.
Akan lebih masuk akal, jika Mandala hanyalah seorang yang mengawasi dan memerintahkan. Dia yang menunjuk target dan merencanakan misi. Untuk operasi rahasia, harusnya dia punya orang-orang khusus. Jika musuh ingin menjebaknya, pastinya pakai cara yang lebih sesuai.
Di halaman 52, “Ya tentu saja, dengan jabatan ayahnya dia bisa merayu sedikit Kementerian Dalam Negeri tepatnya Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil.”
Maaf, mungkin aku juga sok tahu. Cuma dari beberapa cerita dengan latar belakang yang sama dengan novel ini – untuk orang-orangvtertentu seperti Mandala, dia tidak perlu merayu untuk mendapatkan info mengenai status kependudukan seseorang. Meski tidak benar-benar bebas mengakses data tersebut, namun mereka bisa kok mendapatkannya. Atau untuk TNI berbeda ya sama kepolisian bagian kriminal?
Di sinopsisnya, benar-benar membuat aku penasaran seperti apa jalan cerita novel ini, bagaimana karakter tokoh-tokohnya, dan apakah penulis berhasil membangun koflik-konfliknya.
Karakter tokohnya tidak stabil. Mandala sebenarnya ingin diceritakan sebagai tokoh yang keras, namun mempesona. Asha, gadis lemah taat pada agamanya. Namun, aku kurang bisa menangkap karakter itu dalam cerita.
Kehidupan Asha pun terlalu ruet. Aku harus perlahan-lahan memahaminya, menyambungkan satu persatu.
Nama-nama di dalam novel ini juga beberapa kali menjebakku. Dia perempuan atau laki-laki sih? Seperti Athaya, nama anak temanku Athaya juga dan dia perempuan. Jadi, pas menemui nama ini aku pikir dia perempuan, ternyata laki-laki. Juga nama Mufti, laki-laki apa perempuan hayo?
Aku belum menemukan kenapa harus Asha yang menjadi tumbal untuk menjebak Mandala. Apakah karena latar belakang Asha yang sebenarnya? Namun saat tahu latar belakang Asha, sepertinya malah menjadi jalan keluar untuk Mandala, bukan malah semakin menjatuhkannya.
Untuk orang yang baru bertemu, meski mereka saudara, rasanya kedekatan Asha dan Athaya terlalu akrab. Aku juga kurang mendapatkan sikap shock selayaknya orang yang baru mengetahui latar belakang hidupnya yang sebenarnya. Dan harus di catatat, latar belakang hidup Asha yang sebenarnya itu spektakuler. Kalau respon Asha seperti itu, rasanya kurang pas saja.
Dalam novel ini, penulis tidak hanya bicara tentang cinta, intrik politik, namun juga agama. Ada beberapa kaidah agama tentang pernikahan dan Agama Islam sendiri yang diselipkan penulis. Ini yang jadi poin plus nya. Nggak semua penulis bisa menyisipkan ajaran agama di dalam cerita mereka.
Rating 1,5 dari 5 bintang.



Sunday, November 27, 2016

[Review] THE PERFECT HUSBAND – Indah Riyana



Penerbit : Romancious
Genre : Romance, Fiksi
Kategori : Adult, Pernikahan, Wattpad, Perjodohan
Tebit : 2016
Tebal : 576 hlm
ISBN : 978 – 602 – 6922 – 31 – 1
Harga : Rp. 95.000
“Jangan pernah membenci seseorang sampai sebegitu bencinya, Sayang. Kita tidak tahu, entah besok perasaan itu akan langsung berubah jadi cinta.” – Mbak Dita – hlm. 97

Kadang, seseorang terlalu sulit mencintai, meskipun yang dihadapannya adalah orang yang mencintainya dan pantas dia balas cintanya.
Itulah yang terjadi pada Ayla. Dia dijodohkan dengan seorang pria sempurna yang begitu sulit untuk dia cintai meskipun pria itu begitu mencintainya, begitu memujanya, begitu sabar menerima semua kekurangannya.
“Jangan sepelekan murkanya orang sabar dan kecewanya orang yang sudah menjaga, menyayangi, dan mencintai kita dengan tulus. Karena perasaan orang yang sudah kecewa, akan sulit diobati.” – Vanila – hlm. 259

Arsen, baginya wasiat dari sang ayah yang meminta dia menikahi Ayla adalah sebuah petunjuk bahwa Arsen harus memperjuangkan cintanya. Dia harus menikahi Ayla meskipun gadis ini terang-terangan menolaknya, bahkan melakukan segala cara agar Arsen meninggalkannya.
Menikahi gadis keras kepala seperti Ayla seperti menjalani ujian kesabaran bagi Arsen. Sebaik apapun Arsen memperlakukan Ayla, tetap saja Arsen buruk di matanya.
Sekarang, bagaimana ujung hubungan mereka ada di tangan Arsen sebagai seorang suami. Apakah dia sanggup tetap sabar menghadapi semua tingkah istrinya? Atau, dia menuruti keinginan Ayla, mengakhiri biduk rumah tangga mereka?
“Aylaku sayang, sudah berapa banyak dosa yang aku tanggung karena sikapmu ini. Kamu tahu, Sayang? Mencintaimu itu bagaikan terbang mengendarai pesawat. Memiliki tanggung jawab besar dengan tingkat resiko yang sangat tinggi.” – Arsen – hlm. 291

The Perfect Husband, bercerita tentang dua tokoh yang memiliki karakter sangat bertolak belakang. Yang satu begitu sempurna, dan yang satu lagi begitu penuh kekurangan.
Karakter Ayla benar-benar persis cewek setengah iblis. Sejak ketemu Ayla, aku nggak menemukan satupun hal bagus di diri cewek ini. Ayla nggak dewasa, keras kepala, pembangkang, nggak tahu cara bersyukur, bertindak seenaknya sendiri, nggak punya sopan santun, entah apa lagi jejeran hal nggak berguna yang melekat di dirinya.
Kalau Arsen, dia kebalikan dari Ayla. Arsen ini setengah malaikat. Cowok macam begini khayal kalau sampai ada di dunia ini. Kalaupun ada, 1 juta trilyun banding 1, nggak usah dicari, susah nemunya.
Pokoknya, aku benar-benar nggak rela si Ayla memperlakukan Arsen sedemikian rupa. Ini cewek punya hati nggak, sih? Arsen yang sabar, pemaaf, menerima dia apa adanya, kok lama anget bikin Ayla sadar kalau dia adalah cewek paling beruntung di muka bumi ini karena menjadi istri seorang Arsen. Kalau aku dapat yang begini, sujud syukur deh.
Sejak awal membaca novel ini, Ayla memang sudah berhasil membuat aku gedek-gedek. Makin ke belakang, makin parah gedek-gedeknya. Tapi, dari karakter Ayla yang seperti itu, aku jadi melihat diriku sendiri, seberapa dekat karakterku dengan Ayla, dan seberapa dekat karakterku dengan Arsen.
 Banyak hal yang aku pelajari dari novel ini, mulai dari pentingnya rasa bersyukur, rasa kehilangan, tentang keiklasan dan kesabaran. Sebenarnya, masih banyak hal positif yang aku temukan, termasuk tentang Islam.
Penulis juga menyisipkan pesan keagaaan di dalamnya, mulai dari manfaat istiqarah, tahajud, dan berhijab. Bahkan, penulis menceritakan sekelumit cara beribadah seorang pilot saat menjalankan tugasnya.
Novel ini sangat menarik. Meskipun, di awal aku tidak yakin karena karakter Ayla yang super menyebalkan. Namun, makin ke belakang, aku sangat menikmatinya, bahkan sering kali hatiku begitu tersentuh sampai bercucuran air mata. Beneran, aku nangis baca novel ini. Apalagi pas hampir selesai. Dan, makin tak bisa membendung air mata saat epilog.
Alur novel ini cukup cepat. Konfliknya mengaduk perasaan. Cara berceritanya pun enak. Meskipun, aku menemukan beberapa hal yang kurang dicermati. Seperti, saat Ayla depresi aku tidak menemukan kehadiran Erza – kakak Ayla, dan Mbak Dita – istrinya. Mereka seperti terlupakan. Konflik depresi Ayla rasanya sedikit menjenuhkan. Untung, penulis tidak membuatnya semakin panjang.
Lupakan semua kesalahan itu, karena apa yang aku nikmati di novel ini membuat aku tak memperdulikannya lagi. Namun, novel ini membuatku lama mengalami baper – istilah kerennya. Benar-benar baper parah dalam jangka waktu hampir 37 jam. Aku harus menyadarkan diriku sendiri, Arsen cuma tokoh fiksi, jangan mencari Arsen di dunia nyata.
Tidak hanya Arsen yang membuatku kagum, namun juga Vanila – adik Arsen. Gadis ini bisa begitu mudah memaafkan Ayla saat mengetahui Ayla hamil. Dia bahkan tulus mengunjungi Ayla dan ikut memperhatikan keadaannya saat Arsen nggak ada.
Sosok lain yang hadir menyemarakan novel ini adalah dua sahabat baik Ayla : Viana dan Dilan. Viana jadi sahabat yang tak segan memarahi Ayla saat otak Ayla mulai tak stabil. Sedangkan Dilan – duh, Dilan ini merusak image cowok bernama Dilan. Tahu kan maksudku? Dilan-nya Pidi Baiq yang keren dan mempesona, dirusak olah Dilan gemulai ala Indah Riyana.
Selain belajar tentang kehidupan, novel ini juga mengajarkan tentang bagaimana seharusnya hubungan suami istri, tentang makna jodoh, bahkan tentang apa sebenarnya cinta. Lagi-lagi, kata yang keluar dari mulut Arsen benar-benar menyentuh hatiku. Rasanya, semua kata-kata dia ini mau aku tulis semua di sini, biar semuanya jadi baper berjamaah.
“Banyak orang yang bilang kalau seseorang yang baik akan mendapatkan jodoh yang baik pula. Tapi semua orang tidak sadar jika Tuhan mempertemukan seseorang yang baik dengan pasangan yang buruk, karena Tuhan ingin semua umat-Nya dapat kembali ke jalan yang benar.” – Ayla – hlm. 519

“Dari awal aku menikahimu, aku sudah siap menanggung segala resikonya. Aku akan menghargai satu kelebihanmu dan menerima seribu kekuranganmu. Aku nggak pernah menyesal telah mencintaimu. Jika kamu memang jodohku, aku selalu minta kepada Tuhan untuk menjatuhkan hatiku sejatuh-jatuhnya kepada kamu.” – Arsen – hlm. 566

“Ay, kamu tahu apa arti cinta itu? Bagiku, cinta itu adalah... menghalalkan kamu.” – Arsen – hlm. 472

Sebenarnya, aku sudah bilang mau kasih nilai sempurna. Cuma, nyatanya ada beberapa hal yang mengurangi nilai. Jadi, aku rasa 4,5 dari 5 bintang cukup, ya.
Terima kasih banyak Mbak Indah Riyana atas ilmu, dan pengalaman hidup yang kau sisipkan dalam kisah Arsen dan Ayla. Kalau ketemu Arsen salam ya, mbak. Bilang, suruh cariin satu cowok kayak dia buat aku.




Sunday, November 6, 2016

[Review] ANGEL IN THE RAIN – Windry Ramadhina



Penerbit : Gagasmedia
Genre : Romance, Fiksi
Kategori : Adult, Fantasy
Terbit : 2016
Tebal : viii + 460 hlm
ISBN : 978 – 979 – 780 – 870 – 9
Harga : Rp. 95.000

 Ayu, seorang penulis novel yang melarikan diri ke London, berpura-pura ke sana untuk berburu novel-novel cetakan pertama. Padahal, dia ingin menghindar dari rasa patah hati.
“Manusia memercayai apa yang ingin mereka percayai. Seringnya, mereka hanya membohongi diri sendiri.” – Ayu – hlm. 368

Goldilocks – sang malaikat yang hadir saat hujan, mempertemukan Ayu pada Pemuda lucu bernama Gilang di toko buku Dickens and More. Ayu mencari Wuthering Height cetakan pertama. Sedangkan Gilang, dia sekedar mencari peta karena dia merasa tersesat di London.
“Sungguh? Ceritaku absurd, aku tahu. Tapi apa kau sama sekali tidak percaya bahwa – mungkin saja – malaikat yang turun bersama hujan dan keajaiban cinta yang dia ciptakan benar-benar ada?” – Gilang.
“Malaikat yang turun bersama hujan, keajaiban cinta, hal-hal semacam itu tidak ada. Itu ilusi. Sesuatu yang kita ciptakan untuk mengaburkan kenyataan.” – Ayu – hlm. 184

Pertemuan pertama mereka memang bukan pertemuan yang manis. Namun, pertemuan itu tidak terlupakan bagi mereka berdua. Karena saat itu, mereka yang sama-sama menyukai buku–saling membicarakan buku obsesi mereka, Ayu dengan Wuthering Height karya Emily Bronte dan Gilang dengan Burmese Days karya George Orwell.
Hujan bersama Goldilocks mempertemukan mereka lagi, begitu seterusnya sampai mereka kembali pulang dengan luka masing-masing ke Jakarta.  Saat itu, Gilang juga patah hati. Dia menyadari, cinta pada sahabatnya tidak terbalas.
Kehadiran Ayu membawa obat sendiri baginya. Begitu juga pada Ayu, Gilang menjadi pengalih rasa pedihnya terhadap Em dan Luh yang akan menikah. Harapan muncul untuk mereka berdua. Namun, kembalinya Ning, membuat Ayu seperti mengalami de javu.
“Dia bilang, kau selalu mencintai dengan sungguh-sungguh. Tapi.., kalau dulu kau sungguh-sungguh mencintai Ning, bagaimana mungkin sekarang kau sungguh-sungguh mencintaiku?” – Ayu – hlm. 367

Dia tak percaya dengan Gilang. Dia takut, apa yang dia alami dulu dengan Em,  akan terulang lagi. Ayu tak ingin patah hati kedua kali. Jadi, dia mendorong Gilang pergi. Ayu tak tahu, itu sebuah kesalahan.
Setiap kesalahan, bisa dibayar bukan? Asalkan kita mau berusaha. Jadi, mampukah Ayu membayar kesalahannya untuk kembali bersama Gilang? Goldilocks punya banyak cara untuk menyelesaikan kisah yang dia mulai. Tinggal kamu percaya atau tidak pada keajaiban.
“Goldilocks, setiap orang punya keajaiban cintanya sendiri, katamu? Kurasa, aku telah menemukannya. Tidak. Aku yakin telah menemukannya. Namun, dia menolak percaya. Lebih tepatnya, dia menolak percaya kepadaku.” – Gilang – hlm. 385

Angel in the Rain, aku bisa katakan, ini novel sekuel dari London : Angel yang merupakan salah satu seri Setiap Tempat Punya Cerita (STPC). Tapi, penulis menyebutnya sebagai novel penyelesaian atau jawaban dari dua novel sebelumnya,  London : Angel dan Walking After You.
Jika di Novel London : Angel berkisah tentang Gilang yang mengejar cinta sahabatnya – Ning – sampai ke London. Lalu, dia bertemu gadis gila buku – Ayu, juga Goldilocks, malaikat yang hadir ketika hujan. Nah, di novel ini lah kisah Ayu dan Gilang berlanjut. Dan, Goldilocks yang menjadi penceritanya.
Dia tahu segalanya tentang Ayu dan Gilang. Dia seperti pengatur setiap pertemuan, bahkan hujan yang turunpun ada pada skenario yang dia buat. Payung merah miliknya, yang dibawa pulang ke Jakarta oleh Gilang pun jadi bagian dalam cerita ini.
Dulu, di London : Angel, aku sedikit ingat tentang tokoh Ayu. Beberapa kali dia bertemu dengan Gilang. Yang aku tahu saat itu, Ayu ke London untuk berburu buku cetakan pertama. Ternyata, saat membaca buku Angel in The Rain, aku tahu ada hal lain yang membuat Ayu pergi. Bukan pergi lebih tepatnya, tapi Ayu melarikan diri.
Konflik antara Ayu, kakaknya – Luh, dan Em, ini yang membuat Ayu pergi. Dia tidak tahan melihat kakaknya bersama Em. Ayu mencintai Em. Tapi, Em memilih Luh.
Sebenarnya, tidak sesederhana ini jalan cerita mereka bertiga. Ada sesuatu yang membuat Em meninggalkan Ayu, dan bersama Luh. Luh juga tahu, Ayu mencintai Em, tapi menurutnya, tak akan ada masalah apapun jika dia bersama Em.
Untuk konflik mereka, sebenarnya aku kurang suka jenis konflik seperti ini. Selain terasa sangat biasa dan rumit, juga sedikit canggung meskipun nanti konflik sudah dianggap selesai.
Bagusnya, penulis mampu menyelesaikan konflik ini dengan cara yang baik. Akhirnya, memang kecanggungan yang aku khawatirkan tidak terjadi. Walaupun, aku merasa cara baikannya Ayu dan Luh sedikit terlalu dipaksakan.
Ayu ini tipe cewek jutek, apalagi dengan orang yang belum terlalu dikenalnya. Dia rapuh, dan sulit melupakan masa lalu. Ayu sensitif dan posesif. Banyak hal yang dia takuti. Padahal, apa yang terjadi padanya adalah akibat dia yang terlalu takut.
Gilang, aku lebih menyukai dia di novel ini dari pada saat dia di London : Angel. Gilang lebih hidup, lebih berwarna. Goldilocks menyebut Gilang sebagai Pemuda Lucu, ya, Gilang cukup lucu.
Ada kalanya, Gilang bisa jadi bahan tertawaan teman-temannya. Kebiasaan Gilang menamai teman-teman, atau orang-orang yang pernah dia temui dengan nama tokoh di dalam buku, jadi bagian yang menarik di novel ini.
Gilang itu lugu, menurutku. Dia cukup tertutup, mellow, dan sensitif. Tapi, Gilang cowok setia kawan, dan menyenangkan. Walaupun begitu, di awal pertemuannya dengan Ayu, dia harus menerima perlakuan Ayu yang super jutek. Namun, Gilang tetap bersikap menyenangkan. Dia memanggil Ayu dengan sebutan Bronte, karena obsesi Ayu yang ingin menemukan cetakan pertama Novel Wuthering Heights karya Emily Bronte.
Saat pulang ke Jakarta, Gilang benar-benar patah hati karena Ning mencintai orang lain. Gilang tipe cowok yang benar-benar amburadul saat patah hati. Perlu waktu yang agak lama untuk sembuh. Atau, dia perlu sesuatu yang bisa menyembuhkannya.
Ayu adalah hal yang membuat Gilang sadar, dia mencintai Ayu, dan perasaannya pada Ning itu berbeda dari perasaannya dengan Ayu.
Saat buku ini menceritakan perasaan cemburu Ayu pada Ning, tiba-tiba aku teringat pacar sahabatku. Apakah itu yang dia rasakan saat melihat kami – jangan tanya kami itu siapa saja, yang jelas kami itu tiga orang, bukan dua – berkumpul bersama? Sebenarnya, tak ada apapun di antara kami, sama seperti Ning dan Gilang.
Mungkin, wajar kalau Ayu cemburu, karena dia tahu Gilang pernah mencintai Ning. Nah, pada bagian inilah hal yang berbeda, sejak awal kami hanya sahabat, dan selamanya seperti itu. Jadi, mohon jangan cemburu, ya, mbak. *Duh, malah klarifikasi, masuk masalah pribadi pula*
Tapi, aku benar-benar teringat pacar sahabatku itu, saat Ayu dan Ning bertemu di The Fed. Maka, saat itu aku langsung memahami perasaan  pacar sahabatku. Cuma, aku juga nggak bisa gimana-gimana, karena memang aku nggak bisa berbuat apapun. Sudahlah, itu masalah dia dan pacaranya. Biar diselesaikan sendiri.
Saat ada book fair, penulis menyisipkan sedikit cerita tentang dua penerbit besar yang berbeda fokus buku yang diterbitkannya, yaitu penerbit yang menerbitkan novel fiksi populer tempat Ayu bernaung, dan penerbit yang lebih fokus pada satra, tempat Gilang bekerja sebagai editor. Saat itu, di dalam benakku muncul dua nama penerbit yang tidak bisa aku sebut namanya.
Di novel ini, kebetulan adalah hal yang wajar. Hujan yang turun saat Ayu bertemu Gilang pun hal yang biasa. Gilang yang tiba-tiba bertemu dengan Ayu pun tak perlu dianggap aneh. Ingat, di novel ini kamu harus percaya pada keajaiban. Goldilocks, dia benar-benar sutradara yang hebat untuk menciptakan situasi romantis, atau situasi magis yang manis.
Dan, di ending-pun, Goldilocks seperti sudah menyiapkan segala kebetulan yang membawa Ayu bertemu Gilang.
Rating 2,8 dari 5 bintang.
Ah, aku teringat sindiran Gilang pada Ayu :
“Ayo, Bronte. Jangan malas. Pekerjaan dan obsesi kita pada buku sudah cukup merusak bumi. Dosaku, sih, tidak seberapa. Sastra tidak laku. Tapi, bukumu? Kau menggunduli hutan. Jadi, paling tidak, kau bisa berjalan kaki. Mengurangi polusi.” – Gilang – hlm. 168

Wah, aku juga tersindir, karena aku salah satu orang yang pekerjaan dan obsesinya juga pada buku. Dan, sampai sekarang aku lebih suka buku cetak dari pada ebook. Maafkan aku bumi.
 
 

Jejak Langkahku Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos