Saturday, February 10, 2018

[Review] Yang Ternoda – Susan Arisanti




Penebit : Divapress
Genre : Romance, Fiksi
Kategori : Yong Adult, Islam
Terbit : 2017
Tebal : 376 halaman
ISBN : 978-602-391-408-1
Harga : Rp.  75.000

Tujuan sebuah pernikahan adalah untuk hidup bersama dengan tujuan kebaikan. Namun, jika sejak awal tujuan pernikahan ini sudah salah, apakah Asha harus tetap setia pada pernikahannya?
Asha, gadis berjilbab yang taat pada agamanya, menerima pinangan seorang pria yang dipilihkan keluarganya. Usianya baru delapan belas tahun. Namun, dia yakin akan jalan yang dia pilih – menikah adalah jalan terbaik untuk ridho Allah.
Sayang sekali, baru saja dia sah menjadi istri dari Harun, suaminya sudah menghianatinya. Dia harus menjadi tumbal untuk keserakahan suaminya.
Asha benar-benar terpuruk, saat dia mendapati dirinya terbangun di sisi pria lain yang bukan suaminya. Asha semakin hancur saat pria yang sudah menidurinya itu menuduh Asha menjabaknya.
Menjebaknya? Yang benar saja! Tidak ada sedikitpun hal licik yang melintas di otak Asha, demi Allah dia bersedia bersumpah.
Situasi semakin merunyam saat Asha tahu siapa pria yang sudah mengambil kesuciannya. Mandala, putra Presiden negara ini. Seorang prajurit TNI AD yang sedang melakukan misi rahasia.
Sikap Mandala yang terus menuduh Asha, membuat Asha mau tak mau membencinya. Namun, saat Mandala mengetahui situasi yang sebenarnya terjadi, hatinya mulai luluh. Sikapnya membaik. Bahkan, Asha mulai merubah keimanan Mandala.
Gadis itu baru saja singgah di hidupnya, namun dia berhasil menjungkir balikkan hidup Mandala. Tidak hanya hidupnya, namun juga hatinya.
Mandala tahu gadis itu bersuami. Dan, inilah yang membuat dia tak bisa membiarkan hatinya liar. Begitu juga Asha, dia tahu memiliki rasa cinta pada lelaki bukan suaminya adalah dosa.
Entah bagaimana akhirnya, Asha tahu Allah akan memilihkan jalan terbaik untuknya.

Yang Ternoda, buku yang aku pilih karena baca sinopsisnya.
Jujur, “Tentara Satuan Khusus TNI AD” kalimat ini yang menyeretku untuk meng-keep buku jualanku sendiri, padahal bukunya tinggal satu. Erg... inilah nggak enaknya penjual buku yang hobi baca buku.
Kemarin abis baca Dilanika, tokohnya – si  Dilan – punya latar belakang pekerjaan sebagai Polisi di bagian kriminal. Dan aku jatuh cinta pada sosoknya. Aku berharap, aku bisa menemukan hal serupa di novel ini.
Bagian pertamanya cukup menarik, dimana tiba-tiba Asha terbangun disisi pria yang bukan suaminya. Wah, langsung menantang ini. Namun, saat aku mencoba mengidentifikasi beberapa hal di awal, ada beberapa yang janggal.
Pertama, Mandala seorang tentara yang terbiasa dengan misi rahasia. Anehnya, kenapa dia mudah sekali masuk dalam perangkap musuh? Ya nggak apa-apa sih. Cuma aku berharapnya ada trik yang lebih jitu hingga terasa masuk akal kalau Mandala masuk dalam jebakan itu.
Kedua, Mandala anak seorang Presiden. 80% orang Indonesia, bahkan luar negeri pasti mengenalnya. Jika Mandala melakukan penyamaran untuk misi rahasia, secara logika Mandala pasti ketahuan. Ya memang ketahuan, sih. Dan, menurutku Mandala bodoh sekali. Masak tentara terlatih bisa sebegitu cerobohnya.
Akan lebih masuk akal, jika Mandala hanyalah seorang yang mengawasi dan memerintahkan. Dia yang menunjuk target dan merencanakan misi. Untuk operasi rahasia, harusnya dia punya orang-orang khusus. Jika musuh ingin menjebaknya, pastinya pakai cara yang lebih sesuai.
Di halaman 52, “Ya tentu saja, dengan jabatan ayahnya dia bisa merayu sedikit Kementerian Dalam Negeri tepatnya Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil.”
Maaf, mungkin aku juga sok tahu. Cuma dari beberapa cerita dengan latar belakang yang sama dengan novel ini – untuk orang-orangvtertentu seperti Mandala, dia tidak perlu merayu untuk mendapatkan info mengenai status kependudukan seseorang. Meski tidak benar-benar bebas mengakses data tersebut, namun mereka bisa kok mendapatkannya. Atau untuk TNI berbeda ya sama kepolisian bagian kriminal?
Di sinopsisnya, benar-benar membuat aku penasaran seperti apa jalan cerita novel ini, bagaimana karakter tokoh-tokohnya, dan apakah penulis berhasil membangun koflik-konfliknya.
Karakter tokohnya tidak stabil. Mandala sebenarnya ingin diceritakan sebagai tokoh yang keras, namun mempesona. Asha, gadis lemah taat pada agamanya. Namun, aku kurang bisa menangkap karakter itu dalam cerita.
Kehidupan Asha pun terlalu ruet. Aku harus perlahan-lahan memahaminya, menyambungkan satu persatu.
Nama-nama di dalam novel ini juga beberapa kali menjebakku. Dia perempuan atau laki-laki sih? Seperti Athaya, nama anak temanku Athaya juga dan dia perempuan. Jadi, pas menemui nama ini aku pikir dia perempuan, ternyata laki-laki. Juga nama Mufti, laki-laki apa perempuan hayo?
Aku belum menemukan kenapa harus Asha yang menjadi tumbal untuk menjebak Mandala. Apakah karena latar belakang Asha yang sebenarnya? Namun saat tahu latar belakang Asha, sepertinya malah menjadi jalan keluar untuk Mandala, bukan malah semakin menjatuhkannya.
Untuk orang yang baru bertemu, meski mereka saudara, rasanya kedekatan Asha dan Athaya terlalu akrab. Aku juga kurang mendapatkan sikap shock selayaknya orang yang baru mengetahui latar belakang hidupnya yang sebenarnya. Dan harus di catatat, latar belakang hidup Asha yang sebenarnya itu spektakuler. Kalau respon Asha seperti itu, rasanya kurang pas saja.
Dalam novel ini, penulis tidak hanya bicara tentang cinta, intrik politik, namun juga agama. Ada beberapa kaidah agama tentang pernikahan dan Agama Islam sendiri yang diselipkan penulis. Ini yang jadi poin plus nya. Nggak semua penulis bisa menyisipkan ajaran agama di dalam cerita mereka.
Rating 1,5 dari 5 bintang.



Friday, April 28, 2017

[Pengumuman GA] BIAR RAMAIN Hadiah Happy Little Soul dan Freya



Akhirnya bisa diumumin juga.
Maaf, lama.
PO Happy Little Soul benar-benar menguras tenaga, pikiran, bahkan juga emosi. Yap, emosi.
Ratusan pembeli memiliki karakter berbeda. Ada yang super baik, pengertian, dan bisa menerima penjelasan. Ada juga – ini sangat super sedikit – yang emosian, dan bikin admin-nya Booklaza sakit hati. Sudahlah, resiko jualan online memang begitu. *menghela napas, rada nyesek karena masih terngiang jelas bagaimana rasanya disakiti. Hikz*
Duh, malah curhat. Abaikan...
Dari sepuluh peserta, sudah terpilih 2 pemenang dengan nilai tertinggi.
Semua jawaban peserta beneran di cek satu-satu, lho. Jadi, nilai setiap peserta benar-benar objektif dari sudut pandang saya... hehehehe....
Dan, ini dia pemenangnya.
Terbaik pertama dengan nilai 35  
DAYU LEDYS
Alasannya : semua tugas dilaksanakan dengan baik. Share GA-nya niat banget. Saya paling suka sama iklan Booklaza. Duh, saya nggak bisa bikin begituan.
Cek aja MV (Apalah saya nggak ngerti istilahnya) disini
Selamat, kamu berhasil mendapatkan BUKU HAPPY LITTLE SOUL



Terbaik kedua dengan nilai 33
SERLI EVIDIASARI
Alasannya : semua tugas sudah dilaksanakan dengan baik sesuai syarat. Dan, poster iklannya lengkap menampilkan info tentang Booklaza.
Selamat, kamu berhasil mendapatkan novel Freya

Buat yang lain, terima kasih banyak sudah ikutan Giveaway Biar Ramai. Jangan patah semangat, kapan-kapan kita bikin seru-seruan lagi, ya.
Pememang silahkan hubungi email dian.sagit4@gmail.com untuk klaim hadiah.

.

Saturday, April 8, 2017

[Giveaway] BIAR RAMAI Hadiah Happy Little Soul dan Freya




Blog sepi senyap...
Astaga, banyak sarang laba-laba, debu, daun-daun kering berserakan... Ada yang mau bantuin saya bersihin ini? Ntar saya kasih hadiah menarik.
Biar kamu semangat, saya kasih tahu dulu hadiahnya :
1.     Buku Happy Little Soul – Retno Hening

Jadi inget kisah lucu saat buka PO buku ini. Ada aja cerita dibalik mereka order buku Happy Little Soul. Mulai dari minta diusahakan 1 aja  karena buat istrinya yang nyidam, trus ada cowok yang beli buku ini buat nembak cewek, sampai beli buat ceweknya entah buat ngrayu atau apa. Ada juga yang nyari ini buat lomba, dan buat belajar jadi ibu yang baik untuk anaknya.
Padahal hari pertama PO aja udah sold. Untung ada yang cancel. Jadi, bisa dikasih buat yang nyidam buku ini.
Dari buka PO aja saya udah dapat banyak sekali cerita, apalagi kalau ikutan baca. Makanya, dari super banyak buku di tempat saya, buku ini saya pilih jadi hadiah utamanya.
2.      Freya – Sanaz Nadya

Kenapa buku ini untuk pememang kedua. Karena pas buka PO kemarin, ramai juga yang pesan novel ini.

Nah, sekarang saya kasih tugas buat yang ikutan kerjabakti. Silahkan laksanakan tugas-tugas di bawah ini dengan baik, ya. Karena setiap tugas yang kalian laksanakan punya nilai. Makin banyak dan rapi pekerjaannya, makin besar nilainya.

Tugasnya adalah
1.       Follow Blog ini via Google Friends Connect (GFC) [Nilai 5]
 2.      Follow Blog http//booklazashop.blogspot.com ini via Google Friends Connect (GFC) [Nilai 5]
3.      Share #GABukunyaDian ini via sosmed apapun. Bisa Instagram, Twitter atau FB.
Contoh kalimat :
Mau buku gratis? Cek link ini >> cc @/abcd (medsos temen kamu) @/defg, @/hijk #GABukunyaDian
4.      Pilih 2 postingan blog ini, dan kasih komentar. Beneran komentar, ya... jangan cuma bilang halo. [Nilai 6-8]
5.      Bantu Promo Booklaza, yuk. Caranya bikin 1 iklan yang ngajak temen-temen kamu buat belanja buku di Booklaza. Makin kreatif, makin bagus nilainya. Boleh bikin lebih dari 1 iklan, yang paling bagus yang akan dinilai.
Info : Sosmed Booklaza >> Instagram/FB/Twitter @Booklaza
[Nilai 5-9]

Setelah melaksanakan tugas, silahkan laporan di kolom komentar di bawah ini dengan format:
Nama :
Akun FB/Twitter/IG (1 saja) :
Stor Tugas :
1.      Nama Follow GFC :
2.      Nama Follow GFC :
3.      Link Share :
4.      Link postingan yang kamu komentari :
5.      Link iklan kamu :

Semoga hadiah di atas bikin kamu semangat buat bantuin saya bikin dua blog ini kinclong lagi. Biar tambah semangat, saya info juga, “Ongkir akan saya tanggung 100% khusus pengiriman dalam negeri.”
Giveaway ini dimulai hari ini, 09 April – 22 April 2017.
Terima kasih. Ditunggu partisipasinya.


Sunday, February 26, 2017

[Review] JINGGA UNTUK MATAHARI – Esti Kinasih



Penerbit : Gramedia
Genre : Romance, Fiksi
Kategori : Teenlit, Family Drama, Series
Terbit : 2017
Tebal : 448 hlm
ISBN : 978 – 602 – 03 – 3723 – 4
Harga : Rp. 98.000
Setelah bertahun-tahu Ari mencoba mencari keberadaan ibu dan saudara kembarnya. Akhirnya, pencarian itu selesai juga. Sekarang, mereka ada begitu dekat dengannya. Keinginan agar keluarga Ari bisa kembali utuh lagi, tampak sudah di depan mata.
Sayangnya, ternyata selama ini Ari tak tahu apa-apa tentang keadaan keluarganya. Bahkan, apa alasan ibu dan saudara kembarannya tak lagi bersama, dia juga tak tahu menahu.
“...bahwa dalam setiap kebahagiaan sering kali tidak sepenuhnya seperti yang terlihat, dan dalam kesedihan juga sering kali tidak sepenuhnya hanya tentang itu.” – hlm. 123

Ata – saudara kembar Ari – awalnya dia bisa bersikap baik pada Ari. Namun, dendam yang terus berkobar di dadanya tak mampu membuat Ata menyembunyikan kebenciannya pada Ari dan ayahnya.
Kemarahan Ata memuncak saat bertemu sang ayah. Setiap detail luka masa lalu, Ata ceritakan pada Ari. Ari hancur, tentu saja. Apalagi saat Ari tahu, Ata membencinya dan tidak mempercayainya.
 Ini emang kejam, tapi ini realitas. Jadi lo harus terima.” – Raka – hlm. 333
Ata mulai melancarkan penyerangannya. Sebuah taktik yang membuat Ari goyah. Ata benar-benar ingin membalas dendam untuk setiap luka yang dia rasakan selama sembilan tahun itu.

Jingga untuk Matahari – JUM, novel yang sangat ditunggu pembaca Esti Kinasih, khususnya para Pembaca Seri Jingga dan Senja. Sekitar enam tahun lamanya, akhirnya seri ketiga Jingga dan Senja ini lahir juga.
JUM benar-benar fenomenal. Peluncurannya pun super fenomenal. Apalagi Pre Ordernya, aiihh... spektakuler banget. Dalam 1 hari, sold. Dari kehebohannya itu, aku sangat berharap penantian panjang bisa dibayar tuntas, lunas, melegakan. Namun, kenyataan novel ini bakal lahir adiknya lagi, bikin aku menghela napas. Ternyata, Esti Kinasih masih pengin menguji pembacanya.
Aku baca novel seri pertama dan keduanya sudah super lama, saat aku belum kenal blog. Jadi, nggak usah di cari reviewnya, nggak ada. Pada saat itu, saat aku baca seri pertama dan kedua, usia masih belasan. Jadi, ceritanya beneran bikin baper, apalagi sikap Ari ke Tari yang super preman, tapi kadang bisa sweet banget.
Nah, saat ketemu novel seri ketiganya... erg... boleh jujur? Biarkan aku jujur, ya? Mohon aku jangan ditimpuk pake apapun, mohon jangan merasa aku ingin menjatuhkan novel ini, dsb. Ini asli isi hatiku yang terdalam. Terpakasa, dari awal aku harus bilang, aku kecewa dengan novel ini.
Pertama, gaya bahasa penulis nggak seenak dulu, nggak semantap saat aku baca novel Dia Tanpa Aku, Jingga dan Senja, juga Jingga dalam Elegi. Rasanya, terlalu belibet. Bikin pembaca harus mikir maksud penulis.
Kedua, tentang reaksi berlebihan anak-anak yang satu sekolah sama Ata.
Sejak Ata di Malang, reaksi cewek-cewek di sekitar Ata itu super nggak banget. Ata itu anak ABG yang ganteng, aku tahu itu. Cuma, seganteng-gantengnya cowok, kayaknya nggak sedramatis itu deh efeknya.
Kecuali, Ata itu anak SMA yang tiba-tiba jadi artis gara-gara challenge pencarian bakat. Lalu, dia balik ke sekolah lagi. Silahkan deh bikin reaksi kayak begitu.
Yang makin nggak banget itu, saat Ata masuk ke sekolah Ari. Reaksi mereka super heboh, dan itu nggak rasional. Masak, sampai bikin kegaduhan super ngeganggu? Kalau sekedar deketin nggak masalah, lah. Dan, yang berani begitu, juga nggak anak satu sekolah gitu. Paling berapa cewek aja, biar kelihatan normal.
Oke, mungkin karena Ata itu 99% mirip Ari, dan Ari adalah pentolan sekolah. Cuma, mari kita pikirkan, seberapa aneh sih kita ngelihat anak kembar? Udah biasa, kan? Paling cuma, wah ada anak kembar! Udah. Nggak sampai sebegitu excited-nya sampai bikin aku...erg... Ata itu masih manusia...woooeee..bukan dewa yang jatuh ke bumi, bukan anggota Suju juga, jadi...please...reaksinya nggak usah kayak apaan aja.
Kalau mau penasaran, nah...itu normal. Nanya-nanyain Tari tentang Ari-Ata itu juga juga biasa. Tapi, kalau udah mulai lebay, aku angkat tangan ke kamera deh.
Konflik keluarga Ari-Ata udah kayak benang kusut yang sulit banget diurai. Teka-tekinya di setiap bagian memang bikin penasaran, tapi makin ke belakang malah bikin bosen. Aku kangen tulisan Mbak Esti yang enak, ringan, meski ceritanya punya konflik berat. 
Selain itu, reaksi shock Tari juga terlalu banget. Setelah mendengar cerita Ari yang sangat menyedihkan, Tari langsung lemas. Oke, sekali lagi aku katakan, cerita Ari menyedihkan, cuma kayaknya nggak sampai bikin Tari mau pingsan gitu. Bolehlah nangis, dan itu memang reaksi yang harus terjadi mengingat seperti apa karakter Tari.
Di halaman 286, aku merasa sangat terganggu sama cara Ari memanggil supir taksi dengan sebutan ‘oom’. Kayaknya lebih enak kalau manggilnya pakai ‘pak’ aja deh. Biasanya aku sih begitu. Nggak tahu kalo orang Jakarta gimana. Apakah sama seperti cara Ari atau cara aku yang bukan orang Jakarta?
Trus mobil Everest yang dulu sering dipake Ari buat nyamar sebagai Ata di depan Tari itu, sebenarnya punyanya Ari atau Raka, sih? Seingat aku kok punyanya Ari, ya. Tapi, di novel ketiga ini kok punyanya Raka. Atau aku aja yang lupa saking lamanya novel kedua aku baca.
Yang seru dari novel seri ini adalah interaksi Ari-Tari. Sayang banget, cuma dikit sekali. Nah, mulai dari adegan Ari curhat ke Tari tentang semua masalahnya, cerita mulai asyik. Bisa jadi, karena konfliknya udah mulai pindah fokus. Nggak lagi ngubek-ubek masalah keluarga Ari-Ata. Si Tari nggak sekedar hadir sebagai tempelan seperti di awal, dia mulai punya fungsi. Dan kisahnya mulai seru.
Sayangnya, pas seru-serunya, malah udah sampai ending. Pinter banget deh, Mbak Esti ngegantungin pembacanya.
Satu sanjungan lagi buat penulisnya, tebakan aku meleset, penulis nggak bikin konflik cinta segitiga antara Tari, Ari dan Ata. Lega.
Meski udah merasakan keseruan meski seiprit, aku tetap ngasih novel ini bintang 1 dari 5 bintang. Moga-moga seri berikutnya bisa membuat aku puas.


 

Jejak Langkahku Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos