Showing posts with label Cerpen dan Flash Fiction. Show all posts
Showing posts with label Cerpen dan Flash Fiction. Show all posts

Wednesday, September 16, 2015

Cerpen - MAAF DI UJUNG HATI



Tulisan ini dikutsertakan
Dalam Tantangan menulis
Untuk Alumni Kampus Fiksi
Bertema ‘IBU’
“Jangan hanya ngomong, Waw! Kamu nggak tahu apa yang aku rasakan! Kamu nggak tahu, bagaimana sakitnya hatiku saat Ibu pergi, Waw! Kamu cuma pintar ngomong!” Nisa tertunduk, menahan air mata yang hampir terjatuh. Dia berusaha mengatur nafasnya setelah separuh tenaga dia keluarkan untuk berteriak marah pada kekasihnya.
Nisa menatap Wawan lekat, “Aku capek, setiap hari kamu hanya menceramahi aku ‘jangan jadi anak durhaka’.” Suaranya tak sekencang tadi. “Bukan aku yang durhaka, Waw. Tapi, Ibu!” Memang hanya lirih, tapi kata ibu tampak diucapkan begitu tegas, penuh amarah, dan rasa sakit.
“Ibu pergi meninggalkan aku dan Ayah. Meninggalkan Fakhri yang masih teramat butuh kasih sayang. Ibu nggak peduli itu! Hanya beralasan cinta, Ibu pergi untuk laki-laki lain.” Akhirnya, air mata itu jatuh.
Nisa menarik tasnya dari atas meja, bersiap meninggalkan Wawan yang masih terlalu kaget akan kemarahan kekasihnya.
“Aku pergi dulu, Waw.”
Nisa hampir melangkah saat tangan Wawan meraih tangannya. “Aku minta maaf, Nis. Bukan maksud aku menyebut kamu durhaka. Ini karena – “
“ – karena kamu sayang aku, kan?” potong Nisa. Dia mengangguk, “Tapi, aku capek kamu selalu membujuk aku untuk bertemu Ibu. Aku nggak mau jadi anak yang lebih durhaka lagi, Waw. Aku takut, aku akan meledak kayak boom atom kalau sekarang aku ketemu Ibu. Untuk saat ini, aku belum bisa.”
“Sampai kapan?”
“Sampai amarahku dan rasa sakit hatiku berkurang.” Nisa menghela napas. “Aku masih berusaha untuk meredakan itu semua, Waw.”
Wawan mengangguk, “Oke, aku akan bilang itu ke Tante Deasy.” Wawan menatap Nisa penuh rasa bersalah. “Kamu jangan marah sama aku, ya, Nis? Aku nggak mau semua ini jadi perusak hubungan kita.”
Nisa tak menjawab, tapi dia masih membiarkan tangannya digenggam Wawan. Dan, meskipun rasa kesalnya masih tersisa, Nisa tak menolak saat Wawan mengajaknya pulang bersama.
Mereka melangkah tanpa menghiraukan tatapan orang-orang di kantin kampus – yang tampak sangat tertarik dengan konflik mereka.
Apakah hal semacam itu selalu menarik untuk dinikmati? Padahal, ini bukan drama, maupun sinetron yang penuh intrik. Ini tentang hidup Nisa, bukan skenario hidup yang dibuat-buat.
----D----

Jika ada pertanya, ‘siapa orang yang paling dibenci Nisa?’. Maka, kalau dia boleh jujur, dia akan menjawab, Nisa membenci Ibunya. Meskipun dia sangat tahu, Ibu adalah orang yang melahirkannya. Haram hukumnya membenci ibu, seperti apapun dia memperlakukan kita.
Tapi, siapa yang tak benci ditinggalkan begitu saja. Siapa yang tak jadi marah saat melihat Ayahnya yang begitu baik, yang tak pernah mengeluh meskipun jiwa dan raganya sangat lelah menanggung beban hidup – dihianati habis-habisan, diberikan tanggungan hidup dua anak yang perlu diurus, dan mengalami patah hati tak terkira? Siapa? Orang yang mau melihat itu, pasti tak akan menyalahkan Nisa.
Ya Tuhan, kenapa keluarga kecil yang dulu tampak baik-baik saja, akhirnya hancur? Kenapa Ibu yang Nisa tahu wanita baik-baik, bisa berubah setega itu meninggalkannya?
Cinta. Alasan apa itu? Meskipun Ibu tak bersama laki-laki yang dicintainya, Ibu masih punya Nisa, punya Fakhri, dan juga Ayah yang akan memberinya cinta yang tak akan habis. Tapi, kenapa Ibu hanya peduli pada cintanya pada laki-laki itu?
Nisa menghela napas. Dia terpejam setelah sadar sudah terlalu dalam membiarkan lamunan merasuki dirinya. “Astagfirullah…” Nisa sadar, tak seharusnya pikiran itu melintas lagi di benaknya. Kalau dia terus-terusan membiarkan ingatan itu merajainya, dia tak akan pernah bisa menghapus rasa bencinya pada Ibu. Lalu, kapan dia bisa siap bertemu Ibu?
“Jangan ngelamun mulu!”
Nisa mengangkat wajahnya, melihat Reni yang sudah duduk di kursi persis di sampingnya.
“Bentar lagi kuliah mulai. Kalau kamu kayak begitu, yang ada semua materi mental!” lanjutnya.
Nisa tersenyum, “Lagi butek banget otakku.”
“Karena berantem sama Wawan?” Senyum jahil tersungging di bibir Reni. Dia tahu kabar pertengkaran hebat Wawan dan Nisa di kantin kampus tadi pagi. Lagian salah mereka sendiri, bertengkar nggak pilih-pilih tempat. Sekarang, jadi bahan gosip, deh.
“Banyak yang tahu, ya?” Nisa meringis ngeri. Melihat Reni mengangguk, kepala Nisa jadi pening. “Duh, gara-gara ke bawa emosi. Salah Waw, sih, ngomongin bahan sesensitif itu di tempat umum.”
“Emang bahas apa?” Reni mencondongkan tubuhnya, mendekat ke arah Nisa ala biang gosip.
“Rahasia!”
“Yee… kamu pikir aku nggak tahu? Ibu kamu, kan?”
Kepala Nisa langsung memutar ke arah Reni. “Mereka juga tahu?” tanyanya agak histeris.
Lagi-lagi Reni mengangguk.
“Oh, Tuhan!” Separuh nyawa Nisa seperti melayang pergi.
“Slow, Nis. Mungkin, itu tanda kamu harus belajar lebih sabar. Atau, tanda kamu harus mau bertemu Ibumu.” Reni berusaha mengatur kalimat yang keluar dari bibirnya. Dia tak ingin menyakiti Nisa. Tapi, dia tak bisa membiarkan sahabatnya terus-terusan membenci ibunya.
“Begitu?”
Reni mengangguk, meskipun Nisa tak memperhatikannya.
---D---

Ini sudah terlalu malam, tapi Ayah Nisa belum juga pulang. Ke mana? Semoga beliau baik-baik saja.
Nisa yang duduk di beranda, menengok ke dalam rumah untuk melihat letak jarum jam. Jam 22.45 menit. Nisa menghela napas. Pandangannya terus tertuju ke ujung gang, berdoa Ayahnya segera pulang.
Akhirnya, deru motor terdengar juga. Nisa bangun dari duduknya, dan mendekat ke ujung teras. Ya, itu memang Ayahnya. Tapi tunggu, ada satu lagi motor yang ikut masuk ke pekarangan rumah Nisa. Siapa, mereka? Nisa mencoba memperhatikan dua orang yang sibuk melepas helmnya.
Ibu! Teriak Nisa dalam hati. Wajahnya yang terkejut, berangsur-angsur berubah jadi marah. Mau apa ibu kemari? Dengan laki-laki itu pula?
“Nis,” Ayah Nisa mencoba menenangkan putrinya. Beliau tahu gejolak apa yang begemuruh di dada Nisa. “Dengarkan Ayah, ya?”
Nisa masih menatap dua orang yang sekarang mematung di halaman rumahnya. Mereka tampak ragu untuk melangkah mendekati Nisa.
“Tadi, Ibu sama Om Ersa menemui Ayah. Mereka ingin bertemu kamu untuk menjelaskan masalahnya.”
“Nggak, Yah!” kata Nisa ketus. “Aku nggak mau bicara apapun sama mereka!” mata Nisa belum beralih. Begitu tajamnya tatapan itu, membuat Ibu menunduk dan menangis dalam diam.
Nisa nggak peduli, mau Ibu menangis atau meraung-raung sekalipun, Nisa tetap nggak mau bicara apapun pada Ibunya.
“Jangan begitu, Nis. Kamu belum tahu apapun. Kalau kalian sudah bicara, Ayah yakin, kamu akan mengerti.”
“Penghianat tetap saja penghianat! Mau seperti apapun, Ibu tetap saja penghianat!” Suara Nisa sampai di telingan Ibu, membuat wanita umur 35 tahun itu semakin deras mengucurkan air mata.
Om Erza mendekat, “Nis, ini salah Om, bukan salah ibu kamu.”
“Kalian berdua sama-sama salah. Buat apa belain orang yang sama-sama salah?!” Suara Nisa meninggi.
“Nis, jangan pakai emosi. Tenang, ya?” Ayah mengusap kedua lengan Nisa.
Perlahan, Ibu ikut mendekat, meski hanya dua langkah.
Jari-jemari Nisa terkepal erat. Dia berusaha menahan amarahnya yang semakin memuncak.
“Nisa, Ibu sayang Nisa dan Fahkri. Ibu tahu, Ibu egois. Tapi, Ibu sayang kalian. Ibu pergi karena Ibu nggak ingin terus menyakiti Ayah kamu.”
Nisa terdiam, dia tak berminat untuk menyela segala alibi yang dituturkan Ibunya.
“Ibu menikah dengan Ayahmu karena Ibu tak bisa menolak permintaan Nenek kamu. Sejak dulu, sejak Ibu masih sekolah, Nenek sudah menjodohkan Ibu dengan Ayahmu. Ibu berusaha untuk menolak. Tapi, Nenek yang sifatnya tak bisa dibantah tetap memaksa Ibu untuk menikah dengan Ayahmu.
Ibu menghela napas, lalu melanjutkannya. “Dua puluh tahun Ibu berusaha untuk tetap bersama Ayahmu. Ayahmu sejak awal tahu Ibu mencintai Om Erza. Saat Ibu bicara pada Ayahmu, kalau Ibu bertemu lagi dengan Om Erza yang ternyata masih mencintai Ibu, sampai-sampai Om Erza tak pernah menikah – Ayah mengizinkan Ibu untuk pergi. Dengan syarat, kalian tetap bersamanya.”
“Dan, Ibu pergi!”
Satu kalimat Nisa langsung membungkam Ibu.
“Nis, kalau kamu sudah dewasa, kamu akan paham situasi ini. Apa Nisa tega melihat Ayah tetap bersama wanita yang tak mencintai Ayah?” Ayah Nisa tersenyum. Dia memang sudah ikhlas akan kepergian istrinya untuk laki-laki lain.
“Tapi, Ayah mencintai Ibu, kan?” Mata Nisa berubah sendu saat menatap Ayahnya.
Ayah mengangguk, “Tapi, Ayah memilih tidak bersama Ibu yang tidak bisa memberi Ayah cinta, Nis. Ayah punya kamu dan Fakhri yang jelas-jelas cinta sama Ayah. Itu cukup, Nis. Sudah sangat cukup.”
Nisa tak ingin menangis. Tapi, kata-kata Ayahnya terlalu mencengkram hatinya.
“Ikhlasin Ibu untuk Om Erza, Nis. Walaupun Ibu sudah tak bersama Ayah, Ibu tetap akan ada buat kamu dan Fakhri. Ibu tetap akan sayang sama kamu dan Fakhri, sampai kapanpun, Nis.” Ayah memeluk putri tersayangnya.
Tangis Nisa pecah. Dia sadar, dia memang harus memaafkan Ibunya. Dia harus belajar ikhlas seperti Ayahnya.
“Maafkan Ibu, Nis. Ibu janji, Ibu akan berusaha jadi Ibu yang baik buat kamu dan Fakhri.” Ibu Nisa menyentuh lengan Nisa. Tapi, Nisa memilih tetap berada di pelukan ayahnya.
“Nis, maafkan Ibu, Nis!” Ibu terduduk di bawah kaki Nisa. “Ibu tahu, Ibu jahat! Tapi, Maafkan Ibu, Nis!”
Tangis Nisa makin kencang.
“Maafkan Ibumu, Nis!” Ayah berbisik pelan. “Buat apa membenci? Membenci tak akan bisa memperbaiki keadaan. Yang ada, masalah tak akan pernah selesai.”
Nisa mengangguk dalam pelukan Ayahnya. Ayah tersenyum, “Katakan pada Ibumu, kalau kamu sudah memaafkannya, Nis.”
Perlahan, Nisa melepas pelukan Ayahnya. Dia menatap Ibunya yang masih terduduk di bawah. Wajahnya tertunduk, sedu-sedannya terdengar begitu menyayat hati.
Nisa ikut duduk di depan Ibunya. “Aku maafin, Ibu.”
Ibu Nisa mengangkat wajahnya, menatap putrinya yang selama hampir setengah tahun tak ingin menemuinya. Tangan Ibu terbuka, mengharap pelukan Nisa.
Dengan ragu Nisa mendekat, dan masuk dalam pelukan Ibunya.
“Terima kasih, Nisa. Terima kasih.” Ibu Nisa mencium kepala Nisa. Senyum tersungging di bibir wanita itu. Dadanya terasa mengembang karena bebannya perlahan terangkat.
Mata Ibu terarah ke mantan suaminya, “Terima kasih Mas Reza. Aku tahu, kamu adalah laki-laki yang baik. Sudah sekian dalam aku menyakitimu, tapi kamu masih mau menolongku untuk meminta maaf pada Nisa.”
Ayah Nisa tersenyum, dia mengangguk.
Om Erza mendekat. Dia mengelus pelan bahu istrinya. Hatinya ikut lega, rasa bersalahnya  sedikit berkurang meskipun tak hilang, mungkin malah tak akan pernah hilang.
Dalam pelukan Ibunya, Nisa mulai mengingat masa-masa kecilnya. Pelukan itu masih sama hangatnya, belaian tangan Ibu masih sangat membuainya. Beliau masih Ibunya yang dulu, meski tak sepenuhnya sama seperti waktu itu.
Kenapa waktu selalu merubah segala hal? Untungnya, waktu tidak membawa kasih sayang Ibu untuk anaknya pergi, bagaimana pun kondisinya.
---D---
NB : Cerpen ini terinspirasi dari sekelumit kisah hidup seorang artis dan kedua anaknya. Yang suka lihat gosip pasti tahu siapa yang aku maksud. Dan, nama tokoh-tokohnya diambil dari nama anak-anak Alumni Kampus Fiksi. Maaf, menggunakan nama kalian, sekedar untuk memacu semangat menulis.

Sunday, March 8, 2015

[CERPEN] WHY ANGEL?



Diikutkan Dalam Lomba
Cerpen ‘Angels of Morning
Star Club’
“Kau percaya malaikat?”
Senyum itu, aku masih mengingatnya sampai sekarang. Senyum saat dia menanyakan pertanyaan – yang awalnya aku pikir hanya pertanyaan bodoh.
Dia masih menatapku, penasaran.
“Kakak, katakan sesuatu. Kau percaya malaikat?”
Kubuang tatapanku ke arah lain, menghindari wajah penasarannya. Namun, dari lirikanku, aku tahu dia benar-benar menunggu jawaban. Sampai-sampai, saking tak sabarnya, Angle mengigit bibir bawahnya.
“KAK!!!” sentaknya kesal karena senyum yang tadi aku sembunyikan akhirnya menyembul keluar. “JAWABLAH!” Suaranya masih meninggi. “Kau hanya perlu menjawab, kenapa sulit sekali, sih?”
“Memang ada apa dengan malaikat?” Aku malah ganti bertanya padanya.
Bahu Angle merosot, “Entahlah!” suaranya terdengar sendu. “Aku…” Dia tampak berpikir. “Aku merasa ada sayap yang perlahan tumbuh di punggungku.”
Keningku berkerut. “Kau kebanyakan nonton film.”
Helaan napasku tak membuatnya mengangkat wajah. Dia masih menunduk, kakinya sibuk menendang kerikil-kerikil kecil di tepi sungai.
“Aku serius.” Dia menghela napas, lebih keras dari helaan napasku. “Aku benar-benar merasakannya. Kadang, aku merasa ada sesuatu seperti bulu yang begitu lembut saat aku berdiri sendirian dan memejamkan mata.”
Kutatap sungguh-sungguh wajah adikku, adik yang tiba-tiba muncul di hidupku entah sejak kapan. Yang aku tahu, dia tidak benar-benar adikku. Tapi, karena terlalu kecil dan karena kata-kata ibuku  bahwa dia adikku, aku mempercayainya.  
Aku tahu betul bagaimana ekspresinya saat dia mulai tak serius. Dan saat itu Angle tidak sedang bercanda. “Saat sayap itu memelukku, aku merasakan kedamaian yang begitu mempesona. Seperti, sedang dipeluk malaikat.”
“Oh, ya?” tanyaku datar tampak tak tertarik.
“E’hem…”
Kami terdiam cukup lama.
“Apakah aku ini malaikat?”
“Ya?” Aku tersentak dengan pertanyaannya. “Kau malaikat?” Aku tertawa ringan. “Berarti aku juga malaikat karena kita bersaudara.” Tawaku belum lenyap. “Tapi, aku tidak merasakan apapun di punggungku.”
Lagi-lagi Angle menghela napas dengan cukup keras. Dan, dia tak lagi membahasnya. Dia malah berjalan pulang dan tak menghiraukanku.
Aku menatap punggungnya. Samar-samar bayangan sayap putih membentang di sana. Kusipitkan mataku, bayangan sayap itu semakin jelas. Namun, saat aku berkedip, sayap itu sudah lenyap.
Ini aneh, tapi aku tetap tak mempercayai mataku. Aku pikir, saat itu aku sedang berhalusinasi karena cerita Angle.
Namun, saat ini aku percaya. Sayap itu benar-benar tumbuh di punggung Angle dan dia sudah membawa pergi adikku.
Suatu pagi, aku menemukan banyak bulu putih bertebaran di tempat tidur Angle. Aku memungutnya satu, merasakan kelembutannya dan mencium aroma Angle di bulu itu.
“Apakah ini bulu dari sayap Angle?” tiba-tiba saja aku mengingat bayangan sayap itu.
“ANGLE!” Aku berteriak kencang. Aku panik. Aku merasakan kekosongan yang amat dalam di hatiku. Rasa kehilangan tiba-tiba mencengkramku kuat. “ANGLE!!!” Aku berlari ke beranda kamarnya. Dan, aku baru sadar, pintu beranda kamar Angle sudah terbuka sejak tadi. “ANGLE!!!” Aku berteriak makin kencang. Tapi, tak ada sahutan yang kudengar.
Dia benar-benar pergi.
“Kakak!”
Kuangkat wajahku. Di depan, hanya berjarak kurang dari seratus meter, malaikat bersayap putih itu berjalan sambil menyunggingkan senyumnya.
“Kakak, kau sudah lama menungguku?” Senyumnya makin lebar. “Aku merindukanmu. Maaf, aku lama tak menjengukmu.” Wajah cerianya berangsur menghilang.
“Kau ini…” Entah kenapa aku begitu sulit meneruskan kata-kataku.
Perlahan aku merasakan pelukannya. Kupejamkan mataku, dan aku tahu, sayapnya ikut memeluk kami. Yah, aku merasakan sayap itu begitu mendamaikanku.
“I miss you, Kak!” bisiknya.
“Angle.” Tanpa sadar, aku menyebut namanya.
“Aku tak bisa lagi menemuimu. Mereka sudah tahu kalau aku masih mencuri waktu untuk bersamamu.” Dia melepas dekapannya. Sayap itu sudah tak lagi melebar. Dia tampak anggun menghias punggung Angle, adikku – ah, bukan, dia bukan lagi adikku, tapi kekasihku.
Status itu berubah saat dia kembali menemuiku tiga bulan yang lalu. Dialah yang merubahnya saat pernyataan cinta itu pertama kali meluncur dari bibirnya.
“Mereka bilang, aku bisa membunuhmu perlahan jika aku terus berada di dekatmu.” Air matanya menetes. “Aku tak ingin membunuhmu, Kak.” Dia terisak.
Aku tersenyum. Kugenggam tangannya. “Aku akan mati bahagia kalau memang itu yang harus terjadi.”
Angle mengingit bibir bawahnya. Dia menggeleng, “Kau tampak kurus, Kak. Mereka benar – .” Dia terpejam. “ – aku...aku akan pergi, Kak. Aku ingin kau hidup dan bahagia.”
“Kau tahu, aku akan bahagia jika bersamamu.” Kutarik dia mendekat dan memeluknya lagi. Dia menurut dan menundukkan tubuhnya karena aku yang tak lagi kuat berdiri dari kursi roda ini. “Manusia pasti mati, Angle. Dan, aku rela mati sekarang juga untukmu.”
Kurasakan air matanya membasahi bahuku. “Tidak, Kak.” Dia melepas pelukannya dan berjalan mundur. “Aku harus pergi.” Aku tahu, senyum itu senyum yang sangat dipaksakannya. “Aku ingin kau bahagia. Berjanjilah, kau akan bahagia.”
“Kau tahu, aku tak akan bahagia tanpamu.”
Sayapnya mulai melebar. “Selamat tinggal, Kak!”
Dan, dia lagi-lagi pergi. Ya, dia benar-benar pergi dan tak kembali.
Angle, kau memberiku kehidupan, tapi kaulah yang membuat hatiku mati. Kau pikir aku bahagia? Tidak! Aku tidak pernah bahagia.  
Kau dengar aku?
***

Monday, November 17, 2014

Cerpen - I NEVER THOUGHT



Tulisan ini diikutsertakan
Karya @NinnaKrisna
Em, aku bertemu cinta pertamaku setiap pagi dari ujung ke ujung jendela kelasku saat masih SMA. Istimewanya, aku jatuh cinta sebelum aku melihat wajahnya, tak tahu namanya, bahkan aku tak tahu apapun tentang dia. Hanya satu yang aku tahu, sinar matanya.
***
“Sean, menurutmu cinta pertama itu seperti apa?”
Aku tersenyum menanggapi pertanyaan Gina. Tapi, aku tak langsung menjawabnya. Kuteruskan acara meneguk kopi sampai aku puas, barulah kutatap mata teman-temanku yang menunggu jawabanku.
“Cinta pertama?” Kugigit bibir bawahku. Bola mataku berputar, mengikuti otakku yang mencoba mencari jawaban. “Cinta yang nggak bisa dilupakan, maybe.” Aku tersenyum.
“Meskipun cinta itu tidak terbalaskan?” Sherin menanggapi.
Aku mengangguk.
“Meskipun dia udah nyakitin kamu?” Gina tampak semakin tertarik dengan topik ini.
Kurebahkan punggung pegalku karena terus bekerja seharian–di sandaran sofa yang nyaman. Lalu, aku mengangguk lagi. “Meskipun sekarang kita udah nggak cinta lagi sama dia. Tapi, kita tetap mengingat kalau kita pernah benar-benar mencintai seseorang untuk pertama kali, itu namanya cinta pertama.”
Mereka berdua tampak mengangguk.
“Kenapa?” tanyaku kemudian.
Sherin tersenyum, aku jadi sedikit curiga. “Kamu masih ingat Daniel?”
Keningku berkerut mendengar nama itu.
“Dia cinta pertama kamu, kan, Sean?” lanjutnya.
Kuangkat bahuku. “Iya. Ingat!” Suaraku terdengar sedikit kesal.
Gina mengetuk-ketukan jari telunjuknya ke bibir, “Jadi ingat dulu kamu sering datang pagi-pagi sekedar mantengin jendela kelas.” Gina terkikir sendiri. “Meskipun penasaran itu mata siapa, kamu tak pernah berani untuk mencari tahu siapa pemiliknya. Payah!”
Aku tersenyum lebar. Iya, aku juga ingat saat itu. Kebiasaan nggak jelasku setiap pagi. Sekedar untuk bertemu sepasang mata yang membuatku jatuh cinta.
“Tapi, syukurlah, Tuhan memberikan jalan agar kalian akhirnya bertemu.” Sherin ikut tertawa. Dia sedang sibuk menyulut sebatang rokok setelah berhasil menyelesaikan tawanya.
“Daniel, cinta pertama yang membuatku langsung patah hati.” Senyumku semakin melebar. Dan, bayangan mata Daniel langsung berkelebat membangunkan kenanganku.
***

“Sean, kan?”
Seorang cowok berdiri persis di depanku, menghadangku yang bersiap menyusul Sherin dan Gina yang lebih dulu ke perpustakaan.
Aku mengangguk. Keningku berkerut karena merasa aneh ada seorang cowok yang tak kutahu namanya, hanya sekedar tahu dia anak kelas sebelah–tiba-tiba tersenyum seperti itu dan bertanya namaku. “Kenapa?”
“Aku Jun, Arjuna. Anak IPA 1.” Jawabnya.
“Oh…?” Wajahku tambah bingung.
“Em, boleh pinjam buku Biologi, nggak?”
Aku menghela napas, dan hanya mengangguk sambil kembali ke kelas, mengambil buku Biologi untuknya. Dan, segera kuserahkan pada Jun agar aku segera bisa pergi darinya.
“Terima kasih,” pamitnya sambil mengacungkan buku yang dipinjamkannya.
Tapi, saat bel sudah berbunyi, dan sebentar lagi pelajaran Biologi dimulai, bukuku belum juga dikembalikan. Menyebalkan! Akhirnya, aku putuskan untuk mengambilnya saja.
Aku celingukan di depan pintu kelasnya, mencari sosok Jun di antara anak-anak kelas XII IPA 1.
“Hai!”
Suara itu langsung membuatku memutar tubuh. Ternyata Jun tepat ada di belakangku.
“Mau ambil ini?” Dia mengacungkan bukuku.
“Iya.”
“Maaf ya belum sempat dikembalikan.”
Kuterima buku itu dan sekedar mengangguk saja. “Aku balik ke kelas.” Pamitku.
Dan saat mataku mengarah ke samping Jun, aku menangkap sinar mata yang sangat kukenali. Mata itu juga menatapku lekat. Tak mau kalah untuk melepaskan bayanganku sedetik saja. Yah, aku menemukan pemilik mata itu, sang cinta pertamaku.
***

“Daniel Pratama. Anak XII IPA 2. Temannya Jun.” Kuhela napasku berat. “Jantungku mau copot saat mataku bertemu matanya langsung nggak terhalang kaca jendela seperti itu.” Pandanganku menatap kosong meskipun ceritaku terus mengalir lancar.
“Daniel Pratama itu bukannya pacar Patricia Adinda si Ketua OSIS yang baru aja kepilih itu, kan, Gin?” Sherin bertanya pada Gina yang langsung mengangguk. “Sial bener, sih kamu. Dapet cinta pertama telat banget. Pacar orang pula.” Sherin menggeleng lemah dan menatapku iba.
“Jangan macam-macam, Sean. Iklasin aja. Ingat karma!”
“Tenang aja, aku waras kali, Gin. Aku nggak bakal ngerebut pacar orang!” Mataku menjauhi tatapan dua temanku. Aku lebih menikmati pemandangan anak-anak yang hilir mudik untuk pulang.
Sedangkan kami, kami masih duduk di depan kelas sambil mengobrol. Dan, sialnya aku menangkap bayangan Daniel yang sedang berjalan berdua dengan si ketua OSIS yang cantik, yang nggak ada apa-apanya sama aku.
“Yah, malah muncul!” keluh Gina. “Bikin orang patah hati aja!”
Tak ada tanggapan yang keluar dari mulutku. Dan, tak ada lanjutan komentar dari kedua temanku. Kami sama-sama diam dan memandang satu arah, ke arah Daniel dan Dinda.
Cewek itu tampak asik bercelotek, sedangkan Daniel hanya diam mendengarkan.
“Kalian nggak pulang?”
Suara Jun membuat kami langsung berubah fokus.
“Bentar lagi,” jawab Gina kesal.
“Sean mau aku antar pulang?” tanya Jun.
Kedua temanku langsung menatap Jun tajam. Membuat cowok ini tersenyum kecut.
“Eh, iya Sean. Aku nggak bisa nganterin kamu. Aku harus ketemu Bima.” Gina tersenyum, merasa bersalah.
“Dan aku…” Sherin menggaruk kepalanya yang sebenarnya pasti nggak gatal. “Aku nggak bawa motor. Aku tadi nebeng adik kelas. Ini aku nunggu sms dia kalau dia udah siap pulang.”
Aku mengangguk paham. “Aku bisa naik bus.”
“Aku anterin aja.” Jun masih keukeuh.
Mereka berdua menyenggol lenganku, memberi kode untuk mengiyakan.
“Nggak ngrepotin?” tanyaku pada Jun.
“Nggaklah. Kan, rumah kita searah. Masak kamu nggak tahu kalau aku sering lewat depan rumahmu?”
Aku hanya tersenyum.
Sebenarnya, aku memang bukan tipe orang yang mau memperhatikan orang-orang yang tak di kenal. Jadi, jangan heran meskipun tiap hari kamu muncul di depan ujung hidungku, kalau kamu nggak aku kenal, aku nggak akan peduli sama kamu.
“Gimana?” Jun masih menunggu jawabanku.
“Kalau nggak ngerepotin, boleh deh.” Aku ingat, hari ini panas banget dan perutku sudah lapar. Kalau harus nunggu bus dan berdesak-desakan, rasanya benar-benar menyiksa. Jadi, kenapa tidak.
Sayangnya, bukannya langsung pulang, si Jun malah ngajakin makan dulu. Fine-fine aja, sih. Lumayan malah, bisa dapat makan gratis. Tapi, itu kalau nggak ada si Daniel dan si Dinda.
Erg, kenapa aku sekarang sensi melihat pasangan ini, sih? Dulu kalau melihat mereka dari jauh aku nggak ada masalah. Apa sekarang aku sedang cemburu?
“Din, kenalin ini Sean.” Jun memperkenalkan kami meskipun aku belum duduk di kursi kayu panjang tepat di depan Daniel yang menunggu baksonya datang.
“Dinda.” Dia mengulurkan tangannya padaku.
“Sean,” balasku.
Aku duduk dan bakso kami datang.
Dinda terus saja bercerita tentang apapun–aku nggak terlalu tertarik, jadi nggak memperhatikan–meskipun dia sibuk makan. Daniel tampak sekedar mendengakan. Sedangkan Jun, dia sesekali tertawa dan menanggapi cerita Dinda.
“Iya, kan sayang?”
Kuangkat wajahku saat mendengar sapaan mesra itu. Mataku langsung terasa pedas seperti kemasukan kuah bakso saat melihat tangan Dinda meremas lengan Daniel.
Daniel hanya mengangguk. Aku sedikit sangsi Daniel tahu apa yang sedang dia ‘iya’kan.
Pulangnya, saat berboncengan dengan Jun, aku mengbrol dengannya.
“Daniel itu, kenapa kelihatannya cuek banget sama Dinda, ya?”
Tawa Jun membuat keningku berkerut. “Kelihatan, ya?”
“Kelihatan gimana?”
“Kelihatan kalau Daniel itu nggak cinta sama Dinda.” Tawanya meluncur lagi.
“Lho?”
“Dinda itu anaknya temannya mama Daniel. Mereka sejak kecil sudah dijodohkan.”
Perutku mulas mendengar kata ‘dijodohkan’
“Jadi, bisa dibilang hubungan mereka berawal karena paksaan. Dinda sih nggak keberatan. Tapi, Daniel sebenarnya keberatan. Tapi, dasar Daniel itu tipe nggak mau ribet dan nggak mau bertengkar sama mamanya, akhirnya dia jalani saja hubungan itu. Meskipun, dia nggak janji juga bakalan nerusin hubungan ini sampai ke pernikahan.”
Tanpa sadar aku menghela napas lega. Apakah aku masih punya harapan?
***

“Harapan?” Lagi-lagi aku tertawa. “Harapan semu!” jawabku sinis. “Aku nggak penah mau berharap lagi, Gin, setelah itu. Setelah Daniel mematahkan harapanku.” Kuteguk lagi kopiku sampai tandas. Lalu, tanganku terangkat, memanggil pelayan untuk dibawakan segelas kopi lagi, kopi ketigaku.
“Dia berkata, dia juga mencintaiku. Tapi, dia lebih memilih Jun dari pada aku.” Senyumku terasa getir. “Dia bilang, akan lebih baik jika kita tidak bersama. Dia juga bilang, cinta tak harus memiliki.” Tawaku mengalir begitu saja. Tapi, tatapan mata dua teman di depanku persis sama seperti saat melihatku menangis tersedu karena patah hati, saat itu. “Cinta tak harus memiliki sebenarnya cuma kata-kata menghibur untuk mereka yang patah hati.”
***

“Ya, aku mencintaimu.” Daniel mengucapkannya sangat tegas. Membuat jantungku berdetak dengan kencang. “Tapi, Jun juga mencintaimu. Membuatku tak bisa bersamamu.”
Dan seketika, jantungku berhenti berdetak, lalu terasa nyeri.
“Ini bukan masalah Dinda. Tapi, ini masalah persahabatan. Jadi, maafkan aku, Sean. Aku nggak bisa meneruskan hubungan sembunyi-sembunyi ini. Aku capek.” Dia menghela napas, dan terpejam, memutus tatapan kita yang semakin menyakitkan.
“Sebentar lagi ujian. Aku memutuskan mengambil Hukum di UI. Dan aku dengar, kamu akan ke Yogya. Ya, kan?”
Aku sama sekali tak meresponnya.
“Jun memutuskan mengambil Teknik di UGM, kampus yang sama seperti yang kamu tuju.” Dia melihatku lagi. “Dia benar-benar mencintaimu. Aku harap kamu bisa bersamanya.”
“Aku nggak akan pernah bersamanya, Dan. Aku bukan kamu yang bisa memaksakan diri sendiri untuk menerima seseorang yang tidak kamu cintai dalam hidupmu.” Jawabku ketus. “Kalau aku nggak bisa bersamamu, nggak ada masalah. Aku akan terima itu. Karena sejak awal aku sudah tahu, kedatanganku sudah terlalu terlambat.”
“Cinta nggak harus memiliki, Sean.”
“Cinta nggak harus memiliki.” Aku tersenyum masam. “Itu hanya kata-kata penghiburmu, kan? Jangan bodohi aku, Dan!”
“Iya, mungkin.” Dia menghela napas. “Aku harap, kenyataan aku mencintaimu juga, sudah cukup untukmu.” Dia beranjak. “Aku harus pergi. Dinda menungguku.”
Daniel tak menunggu jawabanku. Dia langsung naik motornya dan berlalu.
***

“Tapi, sekarang kamu bahagia, kan bersama Jun?” Sherin menyulut rokok ketiganya. “Buktinya, kalian udah punya dua anak. Aku aja masih dalam proses.” Sherin menjentikkan abu rokoknya ke dalam asbak.
“Kalau mau berhasil, berhenti ngerokok, deh, Rin!” Gina mensedekap dan menatap Sherin serius.
“Rokok itu udah jadi separuh jiwaku, Gin. Susah!”
“Eh, ngomong-ngomong kamu sering dong ketemu Daniel?” Fokus Gina sudah kembali padaku.
 “Jarang kok. Daniel nggak pernah mau ke rumah kami. Kita ketemu kalau aku nemenin Jun pas ada acara.” Kuangkat bahuku acuh.
“Jangan-jangan dia masih cinta kamu, Sean. Sampai dia belum nikah-nikah juga.” Tebak Sherin.
“Bodo’ amat! Yang jelas, aku udah nggak punya perasaan apapun sama dia.”
“Kamu beneran sudah jatuh cinta sama Jun?” bisik Gina.
Aku mengangguk ringan. “Mencintai orang yang mencintai kita itu lebih mudah. Serius!”
Dua temanku memandangku takjub. Lalu mengangguk, menyetujui.
Cinta pertama biasanya memang bukan cinta yang terakhir. Dia hanya kebetulan hadir untuk yang pertama. Tapi, belum tentu cinta yang paling kuat.
Cinta pertamaku memang Daniel. Tapi, cinta sejatiku ternyata Jun, Arjuna Ardianto. Dan, aku akhirnya menemukan akhir pencarian pada seseorang yang dulu aku kira tak bisa kucintai.[]
 

Jejak Langkahku Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos