Wednesday, September 16, 2015

Cerpen - MAAF DI UJUNG HATI



Tulisan ini dikutsertakan
Dalam Tantangan menulis
Untuk Alumni Kampus Fiksi
Bertema ‘IBU’
“Jangan hanya ngomong, Waw! Kamu nggak tahu apa yang aku rasakan! Kamu nggak tahu, bagaimana sakitnya hatiku saat Ibu pergi, Waw! Kamu cuma pintar ngomong!” Nisa tertunduk, menahan air mata yang hampir terjatuh. Dia berusaha mengatur nafasnya setelah separuh tenaga dia keluarkan untuk berteriak marah pada kekasihnya.
Nisa menatap Wawan lekat, “Aku capek, setiap hari kamu hanya menceramahi aku ‘jangan jadi anak durhaka’.” Suaranya tak sekencang tadi. “Bukan aku yang durhaka, Waw. Tapi, Ibu!” Memang hanya lirih, tapi kata ibu tampak diucapkan begitu tegas, penuh amarah, dan rasa sakit.
“Ibu pergi meninggalkan aku dan Ayah. Meninggalkan Fakhri yang masih teramat butuh kasih sayang. Ibu nggak peduli itu! Hanya beralasan cinta, Ibu pergi untuk laki-laki lain.” Akhirnya, air mata itu jatuh.
Nisa menarik tasnya dari atas meja, bersiap meninggalkan Wawan yang masih terlalu kaget akan kemarahan kekasihnya.
“Aku pergi dulu, Waw.”
Nisa hampir melangkah saat tangan Wawan meraih tangannya. “Aku minta maaf, Nis. Bukan maksud aku menyebut kamu durhaka. Ini karena – “
“ – karena kamu sayang aku, kan?” potong Nisa. Dia mengangguk, “Tapi, aku capek kamu selalu membujuk aku untuk bertemu Ibu. Aku nggak mau jadi anak yang lebih durhaka lagi, Waw. Aku takut, aku akan meledak kayak boom atom kalau sekarang aku ketemu Ibu. Untuk saat ini, aku belum bisa.”
“Sampai kapan?”
“Sampai amarahku dan rasa sakit hatiku berkurang.” Nisa menghela napas. “Aku masih berusaha untuk meredakan itu semua, Waw.”
Wawan mengangguk, “Oke, aku akan bilang itu ke Tante Deasy.” Wawan menatap Nisa penuh rasa bersalah. “Kamu jangan marah sama aku, ya, Nis? Aku nggak mau semua ini jadi perusak hubungan kita.”
Nisa tak menjawab, tapi dia masih membiarkan tangannya digenggam Wawan. Dan, meskipun rasa kesalnya masih tersisa, Nisa tak menolak saat Wawan mengajaknya pulang bersama.
Mereka melangkah tanpa menghiraukan tatapan orang-orang di kantin kampus – yang tampak sangat tertarik dengan konflik mereka.
Apakah hal semacam itu selalu menarik untuk dinikmati? Padahal, ini bukan drama, maupun sinetron yang penuh intrik. Ini tentang hidup Nisa, bukan skenario hidup yang dibuat-buat.
----D----

Jika ada pertanya, ‘siapa orang yang paling dibenci Nisa?’. Maka, kalau dia boleh jujur, dia akan menjawab, Nisa membenci Ibunya. Meskipun dia sangat tahu, Ibu adalah orang yang melahirkannya. Haram hukumnya membenci ibu, seperti apapun dia memperlakukan kita.
Tapi, siapa yang tak benci ditinggalkan begitu saja. Siapa yang tak jadi marah saat melihat Ayahnya yang begitu baik, yang tak pernah mengeluh meskipun jiwa dan raganya sangat lelah menanggung beban hidup – dihianati habis-habisan, diberikan tanggungan hidup dua anak yang perlu diurus, dan mengalami patah hati tak terkira? Siapa? Orang yang mau melihat itu, pasti tak akan menyalahkan Nisa.
Ya Tuhan, kenapa keluarga kecil yang dulu tampak baik-baik saja, akhirnya hancur? Kenapa Ibu yang Nisa tahu wanita baik-baik, bisa berubah setega itu meninggalkannya?
Cinta. Alasan apa itu? Meskipun Ibu tak bersama laki-laki yang dicintainya, Ibu masih punya Nisa, punya Fakhri, dan juga Ayah yang akan memberinya cinta yang tak akan habis. Tapi, kenapa Ibu hanya peduli pada cintanya pada laki-laki itu?
Nisa menghela napas. Dia terpejam setelah sadar sudah terlalu dalam membiarkan lamunan merasuki dirinya. “Astagfirullah…” Nisa sadar, tak seharusnya pikiran itu melintas lagi di benaknya. Kalau dia terus-terusan membiarkan ingatan itu merajainya, dia tak akan pernah bisa menghapus rasa bencinya pada Ibu. Lalu, kapan dia bisa siap bertemu Ibu?
“Jangan ngelamun mulu!”
Nisa mengangkat wajahnya, melihat Reni yang sudah duduk di kursi persis di sampingnya.
“Bentar lagi kuliah mulai. Kalau kamu kayak begitu, yang ada semua materi mental!” lanjutnya.
Nisa tersenyum, “Lagi butek banget otakku.”
“Karena berantem sama Wawan?” Senyum jahil tersungging di bibir Reni. Dia tahu kabar pertengkaran hebat Wawan dan Nisa di kantin kampus tadi pagi. Lagian salah mereka sendiri, bertengkar nggak pilih-pilih tempat. Sekarang, jadi bahan gosip, deh.
“Banyak yang tahu, ya?” Nisa meringis ngeri. Melihat Reni mengangguk, kepala Nisa jadi pening. “Duh, gara-gara ke bawa emosi. Salah Waw, sih, ngomongin bahan sesensitif itu di tempat umum.”
“Emang bahas apa?” Reni mencondongkan tubuhnya, mendekat ke arah Nisa ala biang gosip.
“Rahasia!”
“Yee… kamu pikir aku nggak tahu? Ibu kamu, kan?”
Kepala Nisa langsung memutar ke arah Reni. “Mereka juga tahu?” tanyanya agak histeris.
Lagi-lagi Reni mengangguk.
“Oh, Tuhan!” Separuh nyawa Nisa seperti melayang pergi.
Slow, Nis. Mungkin, itu tanda kamu harus belajar lebih sabar. Atau, tanda kamu harus mau bertemu Ibumu.” Reni berusaha mengatur kalimat yang keluar dari bibirnya. Dia tak ingin menyakiti Nisa. Tapi, dia tak bisa membiarkan sahabatnya terus-terusan membenci ibunya.
“Begitu?”
Reni mengangguk, meskipun Nisa tak memperhatikannya.
---D---

Ini sudah terlalu malam, tapi Ayah Nisa belum juga pulang. Ke mana? Semoga beliau baik-baik saja.
Nisa yang duduk di beranda, menengok ke dalam rumah untuk melihat letak jarum jam. Jam 22.45 menit. Nisa menghela napas. Pandangannya terus tertuju ke ujung gang, berdoa Ayahnya segera pulang.
Akhirnya, deru motor terdengar juga. Nisa bangun dari duduknya, dan mendekat ke ujung teras. Ya, itu memang Ayahnya. Tapi tunggu, ada satu lagi motor yang ikut masuk ke pekarangan rumah Nisa. Siapa, mereka? Nisa mencoba memperhatikan dua orang yang sibuk melepas helmnya.
Ibu! Teriak Nisa dalam hati. Wajahnya yang terkejut, berangsur-angsur berubah jadi marah. Mau apa ibu kemari? Dengan laki-laki itu pula?
“Nis,” Ayah Nisa mencoba menenangkan putrinya. Beliau tahu gejolak apa yang begemuruh di dada Nisa. “Dengarkan Ayah, ya?”
Nisa masih menatap dua orang yang sekarang mematung di halaman rumahnya. Mereka tampak ragu untuk melangkah mendekati Nisa.
“Tadi, Ibu sama Om Ersa menemui Ayah. Mereka ingin bertemu kamu untuk menjelaskan masalahnya.”
“Nggak, Yah!” kata Nisa ketus. “Aku nggak mau bicara apapun sama mereka!” mata Nisa belum beralih. Begitu tajamnya tatapan itu, membuat Ibu menunduk dan menangis dalam diam.
Nisa nggak peduli, mau Ibu menangis atau meraung-raung sekalipun, Nisa tetap nggak mau bicara apapun pada Ibunya.
“Jangan begitu, Nis. Kamu belum tahu apapun. Kalau kalian sudah bicara, Ayah yakin, kamu akan mengerti.”
“Penghianat tetap saja penghianat! Mau seperti apapun, Ibu tetap saja penghianat!” Suara Nisa sampai di telingan Ibu, membuat wanita umur 35 tahun itu semakin deras mengucurkan air mata.
Om Erza mendekat, “Nis, ini salah Om, bukan salah ibu kamu.”
“Kalian berdua sama-sama salah. Buat apa belain orang yang sama-sama salah?!” Suara Nisa meninggi.
“Nis, jangan pakai emosi. Tenang, ya?” Ayah mengusap kedua lengan Nisa.
Perlahan, Ibu ikut mendekat, meski hanya dua langkah.
Jari-jemari Nisa terkepal erat. Dia berusaha menahan amarahnya yang semakin memuncak.
“Nisa, Ibu sayang Nisa dan Fahkri. Ibu tahu, Ibu egois. Tapi, Ibu sayang kalian. Ibu pergi karena Ibu nggak ingin terus menyakiti Ayah kamu.”
Nisa terdiam, dia tak berminat untuk menyela segala alibi yang dituturkan Ibunya.
“Ibu menikah dengan Ayahmu karena Ibu tak bisa menolak permintaan Nenek kamu. Sejak dulu, sejak Ibu masih sekolah, Nenek sudah menjodohkan Ibu dengan Ayahmu. Ibu berusaha untuk menolak. Tapi, Nenek yang sifatnya tak bisa dibantah tetap memaksa Ibu untuk menikah dengan Ayahmu.
Ibu menghela napas, lalu melanjutkannya. “Dua puluh tahun Ibu berusaha untuk tetap bersama Ayahmu. Ayahmu sejak awal tahu Ibu mencintai Om Erza. Saat Ibu bicara pada Ayahmu, kalau Ibu bertemu lagi dengan Om Erza yang ternyata masih mencintai Ibu, sampai-sampai Om Erza tak pernah menikah – Ayah mengizinkan Ibu untuk pergi. Dengan syarat, kalian tetap bersamanya.”
“Dan, Ibu pergi!”
Satu kalimat Nisa langsung membungkam Ibu.
“Nis, kalau kamu sudah dewasa, kamu akan paham situasi ini. Apa Nisa tega melihat Ayah tetap bersama wanita yang tak mencintai Ayah?” Ayah Nisa tersenyum. Dia memang sudah ikhlas akan kepergian istrinya untuk laki-laki lain.
“Tapi, Ayah mencintai Ibu, kan?” Mata Nisa berubah sendu saat menatap Ayahnya.
Ayah mengangguk, “Tapi, Ayah memilih tidak bersama Ibu yang tidak bisa memberi Ayah cinta, Nis. Ayah punya kamu dan Fakhri yang jelas-jelas cinta sama Ayah. Itu cukup, Nis. Sudah sangat cukup.”
Nisa tak ingin menangis. Tapi, kata-kata Ayahnya terlalu mencengkram hatinya.
“Ikhlasin Ibu untuk Om Erza, Nis. Walaupun Ibu sudah tak bersama Ayah, Ibu tetap akan ada buat kamu dan Fakhri. Ibu tetap akan sayang sama kamu dan Fakhri, sampai kapanpun, Nis.” Ayah memeluk putri tersayangnya.
Tangis Nisa pecah. Dia sadar, dia memang harus memaafkan Ibunya. Dia harus belajar ikhlas seperti Ayahnya.
“Maafkan Ibu, Nis. Ibu janji, Ibu akan berusaha jadi Ibu yang baik buat kamu dan Fakhri.” Ibu Nisa menyentuh lengan Nisa. Tapi, Nisa memilih tetap berada di pelukan ayahnya.
“Nis, maafkan Ibu, Nis!” Ibu terduduk di bawah kaki Nisa. “Ibu tahu, Ibu jahat! Tapi, Maafkan Ibu, Nis!”
Tangis Nisa makin kencang.
“Maafkan Ibumu, Nis!” Ayah berbisik pelan. “Buat apa membenci? Membenci tak akan bisa memperbaiki keadaan. Yang ada, masalah tak akan pernah selesai.”
Nisa mengangguk dalam pelukan Ayahnya. Ayah tersenyum, “Katakan pada Ibumu, kalau kamu sudah memaafkannya, Nis.”
Perlahan, Nisa melepas pelukan Ayahnya. Dia menatap Ibunya yang masih terduduk di bawah. Wajahnya tertunduk, sedu-sedannya terdengar begitu menyayat hati.
Nisa ikut duduk di depan Ibunya. “Aku maafin, Ibu.”
Ibu Nisa mengangkat wajahnya, menatap putrinya yang selama hampir setengah tahun tak ingin menemuinya. Tangan Ibu terbuka, mengharap pelukan Nisa.
Dengan ragu Nisa mendekat, dan masuk dalam pelukan Ibunya.
“Terima kasih, Nisa. Terima kasih.” Ibu Nisa mencium kepala Nisa. Senyum tersungging di bibir wanita itu. Dadanya terasa mengembang karena bebannya perlahan terangkat.
Mata Ibu terarah ke mantan suaminya, “Terima kasih Mas Reza. Aku tahu, kamu adalah laki-laki yang baik. Sudah sekian dalam aku menyakitimu, tapi kamu masih mau menolongku untuk meminta maaf pada Nisa.”
Ayah Nisa tersenyum, dia mengangguk.
Om Erza mendekat. Dia mengelus pelan bahu istrinya. Hatinya ikut lega, rasa bersalahnya  sedikit berkurang meskipun tak hilang, mungkin malah tak akan pernah hilang.
Dalam pelukan Ibunya, Nisa mulai mengingat masa-masa kecilnya. Pelukan itu masih sama hangatnya, belaian tangan Ibu masih sangat membuainya. Beliau masih Ibunya yang dulu, meski tak sepenuhnya sama seperti waktu itu.
Kenapa waktu selalu merubah segala hal? Untungnya, waktu tidak membawa kasih sayang Ibu untuk anaknya pergi, bagaimana pun kondisinya.
---D---
NB : Cerpen ini terinspirasi dari sekelumit kisah hidup seorang artis dan kedua anaknya. Yang suka lihat gosip pasti tahu siapa yang aku maksud. Dan, nama tokoh-tokohnya diambil dari nama anak-anak Alumni Kampus Fiksi. Maaf, menggunakan nama kalian, sekedar untuk memacu semangat menulis.

2 comments:

  1. kesan pas baca: mbak Di, gimana caranya bisa menghayati ceritamu kalau aku kedistrak sama nama tokohnya? :(

    ReplyDelete
  2. Ahahahha... anggap aja mereka orang lain mbak

    ReplyDelete

 

Jejak Langkahku Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos