Sunday, November 6, 2016

[Review] ANGEL IN THE RAIN – Windry Ramadhina



Penerbit : Gagasmedia
Genre : Romance, Fiksi
Kategori : Adult, Fantasy
Terbit : 2016
Tebal : viii + 460 hlm
ISBN : 978 – 979 – 780 – 870 – 9
Harga : Rp. 95.000

 Ayu, seorang penulis novel yang melarikan diri ke London, berpura-pura ke sana untuk berburu novel-novel cetakan pertama. Padahal, dia ingin menghindar dari rasa patah hati.
“Manusia memercayai apa yang ingin mereka percayai. Seringnya, mereka hanya membohongi diri sendiri.” – Ayu – hlm. 368

Goldilocks – sang malaikat yang hadir saat hujan, mempertemukan Ayu pada Pemuda lucu bernama Gilang di toko buku Dickens and More. Ayu mencari Wuthering Height cetakan pertama. Sedangkan Gilang, dia sekedar mencari peta karena dia merasa tersesat di London.
“Sungguh? Ceritaku absurd, aku tahu. Tapi apa kau sama sekali tidak percaya bahwa – mungkin saja – malaikat yang turun bersama hujan dan keajaiban cinta yang dia ciptakan benar-benar ada?” – Gilang.
“Malaikat yang turun bersama hujan, keajaiban cinta, hal-hal semacam itu tidak ada. Itu ilusi. Sesuatu yang kita ciptakan untuk mengaburkan kenyataan.” – Ayu – hlm. 184

Pertemuan pertama mereka memang bukan pertemuan yang manis. Namun, pertemuan itu tidak terlupakan bagi mereka berdua. Karena saat itu, mereka yang sama-sama menyukai buku–saling membicarakan buku obsesi mereka, Ayu dengan Wuthering Height karya Emily Bronte dan Gilang dengan Burmese Days karya George Orwell.
Hujan bersama Goldilocks mempertemukan mereka lagi, begitu seterusnya sampai mereka kembali pulang dengan luka masing-masing ke Jakarta.  Saat itu, Gilang juga patah hati. Dia menyadari, cinta pada sahabatnya tidak terbalas.
Kehadiran Ayu membawa obat sendiri baginya. Begitu juga pada Ayu, Gilang menjadi pengalih rasa pedihnya terhadap Em dan Luh yang akan menikah. Harapan muncul untuk mereka berdua. Namun, kembalinya Ning, membuat Ayu seperti mengalami de javu.
“Dia bilang, kau selalu mencintai dengan sungguh-sungguh. Tapi.., kalau dulu kau sungguh-sungguh mencintai Ning, bagaimana mungkin sekarang kau sungguh-sungguh mencintaiku?” – Ayu – hlm. 367

Dia tak percaya dengan Gilang. Dia takut, apa yang dia alami dulu dengan Em,  akan terulang lagi. Ayu tak ingin patah hati kedua kali. Jadi, dia mendorong Gilang pergi. Ayu tak tahu, itu sebuah kesalahan.
Setiap kesalahan, bisa dibayar bukan? Asalkan kita mau berusaha. Jadi, mampukah Ayu membayar kesalahannya untuk kembali bersama Gilang? Goldilocks punya banyak cara untuk menyelesaikan kisah yang dia mulai. Tinggal kamu percaya atau tidak pada keajaiban.
“Goldilocks, setiap orang punya keajaiban cintanya sendiri, katamu? Kurasa, aku telah menemukannya. Tidak. Aku yakin telah menemukannya. Namun, dia menolak percaya. Lebih tepatnya, dia menolak percaya kepadaku.” – Gilang – hlm. 385

Angel in the Rain, aku bisa katakan, ini novel sekuel dari London : Angel yang merupakan salah satu seri Setiap Tempat Punya Cerita (STPC). Tapi, penulis menyebutnya sebagai novel penyelesaian atau jawaban dari dua novel sebelumnya,  London : Angel dan Walking After You.
Jika di Novel London : Angel berkisah tentang Gilang yang mengejar cinta sahabatnya – Ning – sampai ke London. Lalu, dia bertemu gadis gila buku – Ayu, juga Goldilocks, malaikat yang hadir ketika hujan. Nah, di novel ini lah kisah Ayu dan Gilang berlanjut. Dan, Goldilocks yang menjadi penceritanya.
Dia tahu segalanya tentang Ayu dan Gilang. Dia seperti pengatur setiap pertemuan, bahkan hujan yang turunpun ada pada skenario yang dia buat. Payung merah miliknya, yang dibawa pulang ke Jakarta oleh Gilang pun jadi bagian dalam cerita ini.
Dulu, di London : Angel, aku sedikit ingat tentang tokoh Ayu. Beberapa kali dia bertemu dengan Gilang. Yang aku tahu saat itu, Ayu ke London untuk berburu buku cetakan pertama. Ternyata, saat membaca buku Angel in The Rain, aku tahu ada hal lain yang membuat Ayu pergi. Bukan pergi lebih tepatnya, tapi Ayu melarikan diri.
Konflik antara Ayu, kakaknya – Luh, dan Em, ini yang membuat Ayu pergi. Dia tidak tahan melihat kakaknya bersama Em. Ayu mencintai Em. Tapi, Em memilih Luh.
Sebenarnya, tidak sesederhana ini jalan cerita mereka bertiga. Ada sesuatu yang membuat Em meninggalkan Ayu, dan bersama Luh. Luh juga tahu, Ayu mencintai Em, tapi menurutnya, tak akan ada masalah apapun jika dia bersama Em.
Untuk konflik mereka, sebenarnya aku kurang suka jenis konflik seperti ini. Selain terasa sangat biasa dan rumit, juga sedikit canggung meskipun nanti konflik sudah dianggap selesai.
Bagusnya, penulis mampu menyelesaikan konflik ini dengan cara yang baik. Akhirnya, memang kecanggungan yang aku khawatirkan tidak terjadi. Walaupun, aku merasa cara baikannya Ayu dan Luh sedikit terlalu dipaksakan.
Ayu ini tipe cewek jutek, apalagi dengan orang yang belum terlalu dikenalnya. Dia rapuh, dan sulit melupakan masa lalu. Ayu sensitif dan posesif. Banyak hal yang dia takuti. Padahal, apa yang terjadi padanya adalah akibat dia yang terlalu takut.
Gilang, aku lebih menyukai dia di novel ini dari pada saat dia di London : Angel. Gilang lebih hidup, lebih berwarna. Goldilocks menyebut Gilang sebagai Pemuda Lucu, ya, Gilang cukup lucu.
Ada kalanya, Gilang bisa jadi bahan tertawaan teman-temannya. Kebiasaan Gilang menamai teman-teman, atau orang-orang yang pernah dia temui dengan nama tokoh di dalam buku, jadi bagian yang menarik di novel ini.
Gilang itu lugu, menurutku. Dia cukup tertutup, mellow, dan sensitif. Tapi, Gilang cowok setia kawan, dan menyenangkan. Walaupun begitu, di awal pertemuannya dengan Ayu, dia harus menerima perlakuan Ayu yang super jutek. Namun, Gilang tetap bersikap menyenangkan. Dia memanggil Ayu dengan sebutan Bronte, karena obsesi Ayu yang ingin menemukan cetakan pertama Novel Wuthering Heights karya Emily Bronte.
Saat pulang ke Jakarta, Gilang benar-benar patah hati karena Ning mencintai orang lain. Gilang tipe cowok yang benar-benar amburadul saat patah hati. Perlu waktu yang agak lama untuk sembuh. Atau, dia perlu sesuatu yang bisa menyembuhkannya.
Ayu adalah hal yang membuat Gilang sadar, dia mencintai Ayu, dan perasaannya pada Ning itu berbeda dari perasaannya dengan Ayu.
Saat buku ini menceritakan perasaan cemburu Ayu pada Ning, tiba-tiba aku teringat pacar sahabatku. Apakah itu yang dia rasakan saat melihat kami – jangan tanya kami itu siapa saja, yang jelas kami itu tiga orang, bukan dua – berkumpul bersama? Sebenarnya, tak ada apapun di antara kami, sama seperti Ning dan Gilang.
Mungkin, wajar kalau Ayu cemburu, karena dia tahu Gilang pernah mencintai Ning. Nah, pada bagian inilah hal yang berbeda, sejak awal kami hanya sahabat, dan selamanya seperti itu. Jadi, mohon jangan cemburu, ya, mbak. *Duh, malah klarifikasi, masuk masalah pribadi pula*
Tapi, aku benar-benar teringat pacar sahabatku itu, saat Ayu dan Ning bertemu di The Fed. Maka, saat itu aku langsung memahami perasaan  pacar sahabatku. Cuma, aku juga nggak bisa gimana-gimana, karena memang aku nggak bisa berbuat apapun. Sudahlah, itu masalah dia dan pacaranya. Biar diselesaikan sendiri.
Saat ada book fair, penulis menyisipkan sedikit cerita tentang dua penerbit besar yang berbeda fokus buku yang diterbitkannya, yaitu penerbit yang menerbitkan novel fiksi populer tempat Ayu bernaung, dan penerbit yang lebih fokus pada satra, tempat Gilang bekerja sebagai editor. Saat itu, di dalam benakku muncul dua nama penerbit yang tidak bisa aku sebut namanya.
Di novel ini, kebetulan adalah hal yang wajar. Hujan yang turun saat Ayu bertemu Gilang pun hal yang biasa. Gilang yang tiba-tiba bertemu dengan Ayu pun tak perlu dianggap aneh. Ingat, di novel ini kamu harus percaya pada keajaiban. Goldilocks, dia benar-benar sutradara yang hebat untuk menciptakan situasi romantis, atau situasi magis yang manis.
Dan, di ending-pun, Goldilocks seperti sudah menyiapkan segala kebetulan yang membawa Ayu bertemu Gilang.
Rating 2,8 dari 5 bintang.
Ah, aku teringat sindiran Gilang pada Ayu :
“Ayo, Bronte. Jangan malas. Pekerjaan dan obsesi kita pada buku sudah cukup merusak bumi. Dosaku, sih, tidak seberapa. Sastra tidak laku. Tapi, bukumu? Kau menggunduli hutan. Jadi, paling tidak, kau bisa berjalan kaki. Mengurangi polusi.” – Gilang – hlm. 168

Wah, aku juga tersindir, karena aku salah satu orang yang pekerjaan dan obsesinya juga pada buku. Dan, sampai sekarang aku lebih suka buku cetak dari pada ebook. Maafkan aku bumi.
 

4 comments:

  1. Jadi buku yang sempat ramai di twitter ini hanya diganjar 2,8 saja. Wah, kenapa ya romance sekarang terasa sudah sangat biasa. Tidak ada greget yang bikin menghangat.Tapi saya baru tahu mengenai malaikat Goldilock ini. Apakah diceritakan lebih detail mengenai malaikat ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Goldilocks malah nggak banyak muncul. Dia hadir sebagai pencerita, namun tidak mencritakan dirinya sendiri, karena tetap saja novel ini menggunakan POV 3. Kesannya, dia kayak menggantikan penulis untuk bercerita :D

      Delete
  2. Aku pernah baca novelnya kak Windry yg Walking After You, London dan Orange.. Ada tokoh dari novel London yg muncul di Walking after You.. Aku suka cerita dan gaya bahasanya kak Windry.. Tp, Klo karyanya yg Angel in the Rain belum pernah baca.. Jadi pengen cepet-cepet baca cz justru penasaran kok ratingnya cuma 2.8 ya heheh😁
    Klo gak salah inget, Goldilocks juga muncul di novelnya yg lain..

    ReplyDelete
  3. Eh, kok aku malah makin penasaran ya karena ratingnya 2.8 saja ,
    Aku sebelumnya sudah baca London : Angel (membelinya karena koleksi STPC) , dan baru tau kalau ada sejenis sekuelnya .. Buku ini tetep masuk wishlist-ku , ya buat melengkapi si London : Angel ..

    ReplyDelete

 

Jejak Langkahku Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos