Showing posts with label Erisca Febriani. Show all posts
Showing posts with label Erisca Febriani. Show all posts

Saturday, November 19, 2016

[Early Review] SERENDIPITY – Erisca Febriani




Penerbit : Inari
Genre : Fiksi, Romance
Kategori : Young Adult, Family Drama, Mellow, Wattpad
Terbit : November 2016
Tebal : 424 halaman
ISBN : 978-602-74322-9-1
Harga : Rp. 89.000


Tuhan selalu tahu bagaimana cara membuat hidup lebih bermakna. Dan, Tuhan paling pandai membuat kejutan di setiap lembar kehidupan.
“Kadang, memang selucu itu, mereka yang dulu bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mengobrol tentang apa pun, kini bahkan tidak tahu bagaimana caranya mengucapkan ‘hai’ atau ‘selamat pagi’.”– hlm. 15

Rani, dia tak pernah menyangka jika orang yang dia cintai tiba-tiba berubah menjadi orang yang dia benci. Arkan, laki-laki ini dulu begitu memujanya. Namun, waktu membawa dia pergi. Memujanya? Tidak! Sekarang Arkan membuat hidup Rani seperti di neraka.
Rani bisa mengerti jika Arkan membencinya. Namun, apa perlu Arkan memperlakukannya seperti itu? Rani tak seperti apa yang Arkan duga. Dia tak sekotor yang Arkan pikirkan. Sayangnya, Rani tak bisa mengatakan apa yang sebenarnya.
“Lo benci karena merasa gue khianatin? Tapi, bahkan lo nggak mau dengar cerita  yang sebenarnya, Ar. Lagi pula, kita udah  putus, udah nggak ada hubungannya lagi. Dan, lo udah nggak pantas mengusik apa pun dalam kehidupan gue.” - Rani - hlm 136

Seperti bertemu oase di tengah gurun, kehadiran Gibran benar-benar berarti untuk Rani. Setelah kehilangan satu-satunya sahabat – Jean – Gibran-lah yang ada untuknya. Itu saat Gibran tak tahu apa yang dilakukan Rani di belakang semua orang. Itu saat Gibran belum mengetahui fakta dari setiap isu yang menguar di sekolah.
Bagaimana jika Gibran akhirnya tahu? Apakah dia akan menjadi kubu Arkan? Lalu, bagaimana jika Rani akhirnya menemukan apa yang sebenarnya ada di benak Arkan, mampukah dia memahami setiap tindakan Arkan yang terus menyakitinya?
“Ada yang bilang cinta itu buta, cinta tak punya mata. Dia hanya punya insting dan juga rasa, untuk menentukan arah ke mana dan mencari titik nyaman yang serupa.” – hlm. 314

Ini seperti teka-teki silang. Satu saja jawaban ditemukan, maka kamu akan menemukan jawaban-jawaban yang lainnya. Dan, saat semua terjawab, tinggal bagaimana mereka memutuskan jalan mana yang akan mereka tempuh.

Serendipity, novel kedua Erisca Febriani yang aku baca. Berbeda dengan Dear Nathan, novel ini terasa lebih mellow. Penulis menceritakan tentang hidup Rani yang berubah setelah ditinggal pergi ayahnya. Dia membuat keputusan paling berat dalam hidupnya. Namun, seperti tidak bisa memilih, dia harus melakoninya dengan hati lapang.
Sejak prolog, aku sudah dibuat penasaran, kenapa tiba-tiba Arkan memutuskan Rani, dan kenapa Arkan bersikap begitu kejam pada Rani? Sebenarnya, apa yang dilakukan Rani?
Saat satu clue muncul, aku seperti tidak percaya. Karakter Rani yang polos, baik, setia kawan, dan menyenangkan – dia tidak mungkin melakukan hal itu. Meskipun ini  cerita fiksi, tetap saja pemikiran seperti itu muncul di benakku.
Dari kilas balik saat Rani masih berpacaran dengan Arkan, akupun merasa apa yang Arkan lakukan terhadap Rani benar-benar janggal. Arkan mencintai Rani. Meksipun Rani melakukan hal yang membuatnya sakit hati, Arkan tidak mungkin sekejam itu memperlakukannya.
Gibran, cowok keturunan arab yang selengean, dan narsis abis, tapi dibalik kenarsisannya, Gibran adalah teman yang baik dan ganteng, tak kalah ganteng dari Arkan.
Seperti aku, Gibran merasakan kejanggalan-kejanggalan yang aku sebutkan di atas. Dan, dengan bantuannya, aku menemukan satu persatu jawaban dari setiap pertanyaan. Setelah bertemu jawbannya, aku merasa semua yang terjadi benar-benar masuk akal.
Erisca Febriani, dia cukup pandai membuat teka-teki yang membuat penasaran. Alurnya cukup cepat, diksinya enak dinikmati, dipadu dengan alur maju mundur yang gampang ditangkap. Suasana mellownya membuat galau, dan quote-quote-nya berhasil menyentuh hati.
Dari semua itu, aku juga belajar banyak tentang hidup, bahwa tidak semua kehidupan ditakdirkan penuh keberuntungan. Bahwa pikiran ternyata bisa menjadi bagian dari manusia yang paling kejam.
Kenapa? Karena pikiranlah yang menuntun seseorang untuk berpikir negatif hanya karena sebuah bayangan yang ditangkap mata. Sebagian besar orang cukup melihat fakta dari mata. Kenapa mereka tidak mencoba memahami alasan di balik semua itu? Mungkin saja tebakan mereka itu salah besar.
Tindakan bully yang dialami Rani bisa menjadi contoh bahwa tindakan itu benar-benar kejam. Rani sudah menderita dengan hidupnya. Kenapa mereka malah menambah beban hidup Rani dengan membully-nya? Bagaimana jika Rani itu mereka, apakah mereka bisa sekuat Rani?
Aku mengacungi jempol setiap ilmu kehidupan yang disisipkan Erisca Febriani di dalam novelnya. Tak banyak penulis yang bisa menitipkan pesan di dalam karyanya seperti yang dia lakukan.
Terima kasih untuk Penerbit Inari dan Haru yang memberiku kesempatan untuk membaca novel ini lebih dulu sebelum bukunya benar-benar selesai cetak. 
Pasti banyak yang penasaran dengan novel ini. So, selamat menanti Serendipity. Semoga review ini semakin membuatmu penasaran.

Sunday, April 24, 2016

[Review] DEAR NATHAN Karya Erisca Febriani



Penerbit : Best Media
Genre : Roman, Fiksi
Kategori : Young Adult, Family Drama, Persahabatan, Wattpad
Terbit : Maret 2016 (Cetakan Pertama)
Tebal : 528 halaman
ISBN : 978 – 602 – 6940 – 14 – 8
Harga : Rp. 99.000

Seperti apa hidup kita ke depan, nggak akan pernah ada yang tahu bentuknya. Seperti hidup Salma yang berubah drastis saat dia pindah ke SMA Garuda. Teman-temannya tak sealim saat di sekolah lamanya. Beberapa dari mereka tercipta sebagai tukang rusuh dan senang berantem, termasuk Nathan, cowok yang menyelamatkan Salma dari hukuman karena datang telat.
“Di SMA kalau nggak ada murid sejenis Nathan mah nggak seru, belum berasa putih abu-abunya. Kalau semua anak di sekolah ini kalem, pasti nggak bakal rame.” – Rahma – hlm. 79

Nathan, dia tak mengira akhirnya bisa sangat jatuh cinta pada Salma, anak baru yang tampak ingin menangis saat telat datang ke sekolah. Kalau bagi Nathan, terlambat adalah hal biasa baginya, ternyata jauh berbeda jika situasi itu dihadapi oleh cewek manis yang membuatnya berubah jadi cowok yang penuh perasaan.
“Meskipun saya tampangnya berandalan. Tapi saya amat menghargai perempuan. Perempuan itu kayak kaca, kalau retak ya bakalan retak seumur hidup dan nggak bakal bisa balik kayak semula. Gimana pun caranya.” – Nathan – hlm. 95

Nathan baru tahu, jatuh cinta pada cewek lugu yang belum pernah pacaran jadi hal yang cukup menguras tenaganya. Awalnya, dia begitu menikmati pengejaran cintanya. Tapi, apakah Nathan selamanya akan menikmatinya jika Salma terus menerus bersikap cuek padanya?
“Dan seandainya pemilik hati kamu adalah saya, ke mana pun kamu pergi, hati itu pasti akan balik kepemilik sejati dan Tuhan punya seribu satu cara untuk mendekatkan kita lagi. Tapi kalau bukan milik saya? Tuhan juga punya banyak cara untuk nemuin kamu dengan yang lain.” – Nathan – hal. 486

Tidak hanya cinta yang memperumit hidup Nathan. Ada masalah lebih besar yang sejak lama dihadapinya, masalah keluarga yang sangat berat, hingga Nathan merasa begitu berat menanggungnya. Kehilangan orang yang sangat disayangi, merasa ditinggalkan oleh ayahnya, dan masih banyak lagi masalah dalam otak Nathan.
“Nath, dunia ini udah penuh dengan kesedihan dan air mata. Seandainya lo nggak hanya fokus pada luka lo sendiri, ada banyak hal indah yang selama ini lo lewatin.” – Seli – hlm. 473

Dear Nathan, kisah masa putih abu-abu yang sweet. Sangat sweet sampai kamu akan merasa kangen menjadi anak SMA lagi. Jadi remaja memang bagian hidup yang tak terlupakan. Masa-masa dimana kita mencari jati diri, begitu ingin bebas lepas, dan baru mengenal tentang cinta.
Meskipun tema yang diusung memang sering kita jumpai, tapi karakter Nathan-lah yang jadi bagian paling apik di novel ini. Penulis berhasil menciptakan tokoh yang membuai pembaca. Bagaimana dia bersikap, tingkahnya, kejahilannya, dan terutama bagaimana cara Nathan saat bersama Salma – semua sangat menarik.
Nathan ini memang bad boy, tapi bukan playboy. Rasanya, jadi mulai berpikir, nggak semua bad boy adalah playboy. Dan, anak-anak nakal seperti Nathan harusnya bukan dimusuhi atau malah dilabeli ‘nakal’, karena selalu ada alasan yang membuat mereka tercipta sebagai anak nakal. Banyak yang salah dalam mengatasi anak-anak seperti ini. Makanya, anak nakal dimarahi bukannya membaik, tapi malah menjadi.
Karakter Salma yang terasa lugu, manis, pintar, dan punya jiwa yang halus, memang tampak kontras dengan Nathan. Namun, karena kontras itulah jadi terasa semakin menarik. Aku suka cara Salma bersikap di depan Nathan. Keluguannya mengatasi cinta yang pertama kali menyambangi hatinya, membuat Salma jadi semakin manis dan pantas jadi sasaran kejaran Nathan.
Intinya, kalau masalah karakter, penulis berhasil membuat karakter-karakter yang kuat. Tidak hanya pada tokoh utamanya, untuk tokoh pendukung yang jumlahnya bejibun, penulis mampu memberi mereka ciri khas satu persatu khas anak SMA.
Jalan cerita yang diciptakan juga terasa masuk akal. Konfliknya mampu dikisahkan dengan apik, dan penyelesaiannya cukup membuatku puas.
Banyak ilmu yang bisa diambil dari novel ini. Tentang pengorbanan, tentang kasih sayang, persahabatan, bahkan tentang arti memaafkan dan mau menerima kenyataan.
Yang jadi kelemahan di novel ini adalah cara penulis membuat narasi. Beberapa terasa berlebihan. Kadang, pemilihan diksinya terasa tidak pas. Narasi juga terlalu berputar-putar. Dan, banyak sekali typo dan penggunakan kata yang tidak baku. Jadi bertanya-tanya, ini novel ada editornya nggak ya? Kalau baca sih ada, tapi kenapa terasa nggak diedit ya?
Novel ini memang bermula dari Wattpad. Aku kenal novel ini juga dari Wattpad. Ada beberapa yang berubah di edisi cetaknya ini. Seperti beberapa nama teman Salma. Lalu cara bicara Nathan ke Salma yang menggunakan ‘saya-kamu’. Rasanya, malah nggak pas. Aku yang mengenal novel ini lewat Wattpad jadi merasa janggal. Dan, cara bicara Nathan yang menggunakan ‘saya-kamu’ malah terkesan nggak Nathan banget. Oke, penulis sudah menjelaskan kenapa dia pakai ‘saya-kamu’, tapi tetap rasanya nggak pas. Kalau ‘aku-kamu’ mungkin masih oke.
Sebenarnya, kalau beberapa hal di atas lebih diperhatikan saat proses editing, pasti novel ini aku kasih lima bintang di goodreads. Tapi, karena kesalahan yang teramat banyak hingga cukup mengganggu, 3,2 dari 5 bintang cukup. Yang jelas, aku selalu meleleh sama Nathan kalau lagi sama Salma.
Satu lagi, menanggapi beberapa pendapat yang mengatakan novel ini plagiat dari novel Jingga dan Senja karya Esti Kinasih, aku merasa nggak setuju. Novel ini sangat berbeda dari Jingga dan Senja. Nathan halus banget kalau sama Salma. Ari udah kayak preman kalau sama Tari. Nathan deketin Salma memang karena cinta banget. Kalau Ari karena nama mereka yang hampir mirip. Dan meskipun keduanya sama-sama kembar, tapi konfliknya jauh berbeda banget.
Jadi, janganlah asal nge-judge karya seseorang sebagai plagiat. Lihat dalamnya, baca baik-baik, dan telaah bagian mana yang kamu anggap plagiat? Kalau tema, nggak masalah-lah, banyak, kok novel yang punya tema sama, tapi tetep aja cara berceritanya sudah berbeda.
 

Jejak Langkahku Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos