Showing posts with label Christian Simamora. Show all posts
Showing posts with label Christian Simamora. Show all posts

Saturday, February 20, 2016

[Review] MEET LAME “Ketika hati harus memilih”



Penulis : Christian Simamora
Penerbit : Twigora
Genre : Romance, Fiksi
Kategori : Adult, JBoyfriend
Terbit : 2015
Tebal : viii + 296
ISBN : 978 – 602 – 70362 – 3 – 9
Harga : Rp. 73.000
Cinta masa lalu kadang tampak masih semenggiurkan saat kembali bertemu. Mereka benar-benar menjungkirbalikkan hati, serasa bernostalgia dan kembali muncul sepersekian persen harapan untuk mewujudkan impian di masa lalu.
Itulah yang terjadi saat ‘aku’ kembali bertemu cinta semasa SMA-‘ku’ yang ternyata semakin mempesona, Janiel. Dan, ‘aku’ merasa beruntung saat dia meminta ‘aku’ untuk mengajarinya berjualan online. Sikap Janiel membuat ‘aku’ berharap banyak. Namun, kenyataan memang kadang sepahit empedu.
Rasanya, Tuhan masih ingin menguji ‘ku’ lewat masa lalu yang kembali hadir, Daniel. Dia pernah melukai’ku’ begitu dalam setelah memberi’ku’ harapan yang terlalu melambung tinggi. Kemudian, dia kembali padaku dan mengaku ingin membayar semua lukaku untuk membuat’ku’ menerima cintanya kembali.
“Kamu datang dan pergi sesuka hati, nggak peduli aku siap atau enggak kehilanganmu. Ya, kamu memang bilang, nggak akan mengulangi sikapmu dua tahun lalu itu. Tapi omongan saja nggak cukup, Dan.” – Aku – hlm. 228

‘Aku’ memang lama sendiri dan mengaharapkan cinta menghampiriku. Namun, aku tak menyangka cinta akan datang bertubi seperti ini. Daniel dan Janiel, dua pria yang sama-sama mempesona, sama-sama pernah menempati hati’ku’, tiba-tiba menawarkan cintanya untuk’ku’.
Mana yang harus ‘aku’ pilih?
“Gue cuma mau bilang… seandainya dia nggak bisa memberi apa yang lo mau, gue nggak mau lo khawatir. Gue ada di sini untuk lo.” – Daniel – hlm. 125


Meet Lame, novel ini sedikit berbeda dari novel Jboyfriend-nya Christian Simamora pada umumnya. Tokohnya lebih down to earth, nggak kaya-kaya amat, nggak superior banget dan tampak nggak wao banget seperti biasanya, tapi malah terasa lebih enak dinimati. Jadi, berasa lebih dekat dengan tokohnya. Novel ini nggak  berbahaya untuk dibaca anak di bawah umur delapan belas ke bawah.
Si cewek – yang namanya tak pernah disebut – hidup seperti manusia-manusia pribumi pada umumnya. Dia harus bekerja keras, berjualan baju online dan meskipun dia cukup styles, tapi barang-barang yang dia pake KW.
Aku suka latar pekerjaan si cewek, jualan online. Penderitaan yang dia alami, melayani para pembeli yang aneh-aneh dan sebagainya itu juga aku alami, karena aku jualan online juga. Bedanya, aku jualan buku. Jadi, pas baca keluh kesah dia, aku kayak membaca kisahku sendiri.
Yang sama dari penokohan khas Simamora adalah cowok yang pesonanya nggak ketulungan. Di novel ini ada dua pula, Daniel dan Janiel. Dua-duanya naksir si tokoh ‘aku’, dan dua-duanya punya sesuatu yang pernah bersarang di hati tokoh ‘aku’ di masa lalu. Trus, di jaman sekarang, si tokoh ‘aku’ disuruh milih. Aduh, ini sebuah mujizat yang malah jadi bencana.
Karakter ‘aku’ terasa khas cewek-cewek pada umumnya, drama queen, gampang menyimpulkan sebuah sikap seorang cowok yang lebih sering nggak sadar mereka sudah memberi harapan palsu pada cewek yang pada akhirnya membuat si cewek kege’eran.
Pernah suka banget sama temen sekolahnya saat SMA, tapi cintanya hanya berakhir pada cinta sendiri dan cuma disimpan di hati sampai lulus, sampai sekarang. Dan pernah terbawa suasana suka sama temen sendiri, tapi akhirnya malah ditinggalin ke luar negeri. Dan si cowok tak pernah memberi kabar sama sekali. Realistis banget konfliknya.
Daniel, si cowok masa lalu yang meninggalkan tokoh’aku’ dan tak penah kasih kabar itu akhirnya kembali. Daniel punya karakter mendominasi, dewasa, dan sepertinya bisa ngemong.
Berbeda dengan Janiel, si cowok cinta semasa SMA si ‘aku. Dia tampak belum terlalu dewasa, namun Janiel ini ngegemesin banget.
Karena konfliknya yang membumi, benar-benar mudah dibayangkan dan diikuti. Endingnya juga oke banget, diselesaikan dengan manis.

Sunday, August 2, 2015

Resensi – PILLOW TALK “Haruskah aku menjadi sahabatmu – saja?”

Penulis : Christian Simamora
Penerbit : Gagasmedia
Genre : Romance
Kategori : Adult, Fashion, Friendzone
Terbit : 2013 (Ketiga belas)
Tebal : x + 430 hlm
ISBN : 979 – 780 – 689 – 8
Harga : Rp. 65.000
“Gimana kalo… dia mencintainya hari ini saja dan besok semuanya itu berubah? Gimana kalo dia nggak bisa mencintai Dimas sebesar cinta cowok itu padanya?” – hlm. 64

Itulah yang dirasakan Emi setelah mendengar lamaran kekasihnya, Dimas. Emi tak terlalu suka dengan sebuah komitmen seperti pernikahan. Dia memegang prinsip hidup bebas, termasuk masalah seks. Dan, bersama Dimas, prinsip itu sedikit mengendur dan mulai tergantikan dengan hidup monogami, alias menjalin hubungan hanya dengan satu saja kekasih.
Tidak hanya itu yang membuat Emi tak pernah mantap untuk menjawab ‘ya’ untuk lamaran itu. Ada Jo, sahabat kecilnya yang sampai saat ini masih berada di sisinya. Entah kenapa, Emi mempunya perasaan tertentu dan gelenyar yang mengganggu di tubuhnya saat melihat Jo dalam keadaan tertentu. Harusnya, semua itu tidak pernah terjadi karena Jo itu sahabatnya.
“Punya sahabat itu penting, tapi kamu juga harus bisa menjaga jarak sesehat mungkin biar Emi nggak mikir macam-macam.” – Trina – hlm. 102

Jo sendiri sebenarnya punya kekasih. Namun, hubungan Jo dan Emi yang terlalu dekat membuat sang kekasih cemburu. Mereka sering kali bertengkar karena Jo selalu memprioritaskan Emi di atas segalanya.
“Aku bukan cewek yang posesif, ngelarang-larang cowoknya bersahabat dengan cewek lain, tapi jujur, Jo, kedekatan kamu sama Emi kadang – bukan, SERING – bikin aku ngerasa kayak ban serep buat hidup kamu.” – Trina – hlm. 85

Jo tahu dengan pasti, dia memang mempunyai perasaan khusus itu untuk Emi. Sayangnya, persahabatan itulah yang membuat cinta itu tampak sangat mustahil bagi mereka.
 “Crush ato nggak, lo tetep harus milih, Ems. Nggak ada tuh istilahnya, badan lo milik Dimas, tapi hati lo milik Jo. Lo nggak dikawin paksa, Ems. Jadi, putuskan benar-benar sebelum lo nyesel entarannya.” – Ajeng – hlm. 164

Pillow Talk, novel yang temanya adalah friendzone.
Aku, sih nggak masalah sama tema cerita yang udah biasa dan umum banget kayak begini. Yang penting  alurnya oke, ceritanya asyik, punya tokoh yang karakternya nendang, juga eksekusi penyelesaian yang bikin angkat jempol kaki (Jempol tangan masih kurang). Dan…. Aku nggak mendapatkan satupun itu di novel ini.
Sejak bab pertama, nafsu membaca aku, tuh kayak orang nggak doyan makan. Perlahan mengenal tokoh-tokohnya, aku merasa mereka itu kurang jadi something. Konfliknya begitu-begitu saja, nggak ngreget dan bikin boring parah.
Biasanya, tokoh cowok buatan Bang Simamora itu selalu bisa bikin panas dingin. Tapi, Jo ini terlalu kalem, lempeng pula. Sebenarnya, dari ciri-ciri fisiknya sih oke. Tapi, sikap dia yang lebih suka memendam perasaannya pada Emi dan lebih memilih mencari rebound bikin aku sebel.
Jo kurang gentle. Aku paling malas ketemu cowok yang nggak mau menerima konsekuensi dari apa yang sangat dia inginkan, yang harusnya dia perjuangkan habis-habisan. Karena nggak ada salahnya kalau Jo memang mau berusaha meraih Emi. Emi kan bukan benar-benar saudara sedarah dia. Meskipun dia menganggapnya begitu, tetap aja itu beda.
Emi juga. Aku bosan sama hubungan dia dan Dimas. Aku nggak menemukan sesuatu yang bisa membuat Emi harus kembali menerima Dimas. Cowok kayak Dimas, apalagi keluarganya itu nggak bakal menjanjikan hidup tenang dan nyaman. Dan, untuk takaran seorang Emi, harusnya dia memilih membuang Dimas ke tong sampah, dan cari yang baru.
Di novel ini Emi diciptakan sebagai cewek yang nggak keberatan untuk hubungan satu malam sama orang asing sekalipun. Bisa dinilai, Emi ini tipe cewek bebas yang kebablasan. Cuma, aku nggak mendapatkan itu dari dia. Emi masih tampak kalem.
Hubungan cinta Emi dan Jo benar-benar kurang dieksplor. Sumprit, deh, boring akut banget. Rasanya pengin baca kilat aja. Atau baca ending-nya aja gitu saking nggak betahnya.
Hah, padahal ini cover barunya udah seksi banget.
Rating untuk novel ini 1 dari 5 bintang.

Friday, July 31, 2015

Resensi – GOOD FIGHT “Mari saling menutup lubang hati”



Penulis : Christian Simamora
Penerbit : Gagasmedia
Genre : Romance
Kategori : Adult, Fashion, J-Boyfriend
Terbit : 2012
Tebal : x + 514 hlm
ISBN : 979 – 780 – 545 – 6
Harga : Rp. 57.000
“Lo suka bertanya-tanya nggak, kenapa cinta malah bikin lo berada di posisi nggak mengenakkan kayak gini?” – Jet – hlm. 101

Jethro Liem, fotografer di Majalah Fashion Manner dan Mascara. Dia hidup sebagai orang ketiga alias kekasih simpanan dari seorang wanita bersuami, Nadine Sasongko. Jet menerima saja takdir yang mampir dihidupnya karena wanita itu ada tepat disaat dia merasa sendiri di dunia ini.  
Lalu, ada satu lagi makhluk yang punya nasib sama dengan Jet. Wanita ini berada satu kantor dengannya. Dia berprofesi sebagai Senior Fashion Editor di Majalah Mascara. Teresia nama wanita yang bersedia saja menjadi kekasih gelap seorang pria yang sudah punya tunangan. Dia sangat mencintai sang kekasih sampai tak peduli dengan status yang dia sandang, selingkuhan.
“Tapi, bukannya itu memang justru resikonya? Saat memutuskan buat jatuh cinta, lo juga membuka kemungkinan cinta kelak akan berbalik nyakitin lo…” – Sesa – hlm. 373

Jet dan Tere bukan sahabat, meskipun mereka senasib. Jet selalu bisa membuat Tere naik darah karena keusilannya. Suatu hari, karena terjebak di dalam lift kantor mereka, Tere dan Jet mulai membuka rahasia masing-masing yang tak pernah diketahui sahabat mereka sekalipun. Mulai saat itu, rasa tertarik mulai tumbuh di hati mereka.
Namun, tidak mudah untuk lepas dari pasangan mereka terdahulu. Rasa takut dikhianati dan rasa tak percaya yang sering kali menguasai hati, membuat Tere dan Jet harus berjuang membuktikan bahwa cinta mereka tak seperti cinta di masa lalu.
“Dibanding situasi penuh drama begini, gue lebih milih cinta yang sederhana. Yang membosankan. I like boring.” – Tere – hlm. 102

Good Fight, novel paling tebal untuk bulan ini. Novel yang sejak awal udah bikin senyum. Bayangin aja gimana reaksi kita pas lihat seorang cewek mencoba bra langsung. Ups, jangan dibayangin dia naked ya. Maksudnya, dia nyobanya di atas pakaian yang dia kenakan di tempat terbuka. Trus muncul cowok usil yang menilai pantas apa tidak bra itu dipakai si cewek.
Duh, kalau aku jadi si cewek, udah lari karena malu, deh. Lah, ini mereka malah berantem. Dan, dengan usilnya, si cowok bilang kalau si cewek lebih pantas nggak pakai bra. Hiaah… itu namanya pelecehan seksual. Namun, ini yang bikin seru, berantemnya si Tere sama Jet.
Sebenarnya, Jet itu bukan benci Tere. Tapi, Jet itu merasa Tere lucu kalau diusilin. Salah sendiri jadi cewek gampang marah. Situasi itu malah dimanfaatkan Jet buat hiburan. Jet bukan cowok jahat, kok. Dia baik banget malah. Buktinya, saat ada seseorang yang – secara nggak normal – nembak dia, dia nggak langsung menghina. Dia menolak baik-baik. Trus Jet itu punya badan bagus, dan tato dia kayaknya makin bikin Jet seksi, deh.
Kalau Tere lebih diciptakan sebagai cewek perfeksionis, entah itu dikerjaan ataupun di fashion yang melekat di tubuhnya. Dia juga tipe cewek manja kalau sama pacarnya. Tere ini baik sama temannya, lho. Dia bukan tipe orang yang nge-judge teman ataupun orang lain yang memilih hidup berbeda.
Di novel ini juga diceritakan sekelumit kisah cinta antar sesama jenis. Hubungan cinta antar pelakunya juga lebih bebas. Free seks sebelum nikah tampak slow aja gitu di novel ini. Khas metropolitan saat ini, khas luar negeri sih kayaknya, ya. Yah, nggak papa lah, ya. Karena pada dasarnya, itulah mereka saat ini.  Memang nggak semua punya hidup sebebas itu, tapi pasti ada, kan.
Trus, bagian paling seru di novel ini adalah bagian awal sampai sebelum hubungan Tere dan Jet ketahuan Nadine. Setelah itu, alurnya agak muter-muter. Untung ada aja adegan gokil yang bikin mood kembali oke.
Endingnya, duh…jujur aja, ya… aku mengharapkan penyelesaian yang lebih dari pada itu. Kenapa harus bikin jet…. Tiiittttit…… *takut spoiler* untuk bikin Tere sadar perasaan dia. Maunya yang beda gitu. Tapi, ya sudahlah, ya. Aku cukup terhibur, kok. Apalagi sama kekonyolan si Sesa sama Rian. Ah, jadi ingat adegan Rian memergoki Jet dan Tere ciuman. Itu bikin *ngek*, dan geleng-geleng saat bayanginnya. Duh, susahnya punya hubungan sama teman kantor. Kayaknya perlu mikir kalau harus punya hubungan di tempat kerja. Enakan orang luar aja.
Untuk rating, 2,8 cukup kali, ya?
Oh iya, cover barunya lebih seksi, lho. Tapi, aku punyanya yang lama.

Thursday, September 26, 2013

Resensi – WITH YOU “Sehari Bersamamu”

Pengarang : Christian Simamora dan Orizuka
Penerbit : Gagas Media (Gagas Duet)
Tebal : xviii + 298 hlm
Harga : Rp 50.000
Terbit : Juni 2012
ISBN : 9789797805739
Ternyata, cinta memang paling pintar memberi kejutan.
Dan, sekarang lewat novella With You “Sehari Bersamamu”, cinta kembali memberikan kejutan, nggak hanya untuk tokohnya, tapi juga padaku.
With You membuktikan padaku, tak perlu waktu yang panjang untuk mengatakan “I Love You”. Cinta itu sederhana. Cinta bisa terjadi dalam satu hari saja.
With You dimulai dengan sebuah kisah berjudul “Cinderella Rockefella” yang ditulis oleh Christian Simamora, penulis yang paling pinter bikin cerita “Hot”. Tapi, tenang, disini dia nggak akan bikin cerita yang ehem…tahu dong “18+” seperti di novel-novel karyanya. Dia sedikit kalem, namun selalu bikin karakter yang teuteup hot dan pasti ber “oh-puh-leez ria.
Gue bahkan belum kenal lo – ma-maksud gue, sebelum pemotretan Maskara hari ini. You’re practically a stranger to me.” – Cindy Tan – Hal. 126

Kisah pertama ini bercerita tentang seorang model Cinderella “Cindy” Tan yang harus ngomel di ponsel gara-gara temannya, Kelly yang lagi kena cinta buta sama seorang cowok beristri. Ternyata, omelannya tak sengaja di dengar oleh Jeremiah “Jere” Fransiskus Atmadjaputra, teman sesama modelnya. Cindy jelas kesal dong, tapi Jere menolak dibilang nguping, karena salah Cindy sendiri punya suara toa.
Suasana panas itu ternyata tak menyurutkan niat Jere untuk mengajak Cindy makan malam. Cindy jadi bingung, dong mau nolak atau meng’iya’kan. Secara, diam-diam dia tertarik sama fisik Jere. Namun, akhirnya dengan rasa gamang yang menggantung di benaknya, dia mengiyakan ajakan itu, sekalipun dia harus menegaskan kalau ini bukan “Kencan”.
Selama dinner, ternyata banyak hal yang terjadi pada mereka. Mungkin, karena pesona Jere, Cindy tak perlu pura-pura tertarik dengan semua ceritanya. Dia bahkan dengan senang hati bercerita kenapa dia masih jomblo sampai dengan sekarang.
Cinderella Rockefella punya narasi yang benar-benar Bang Mora banget. Aku belum nemu penulis yang bisa niru gayanya. Terkesan berani, tapi terasa fun. Alurnya cukup cepat, karena memang ini novella, tapi semua bisa dipahami dengan mudah.
Karakter Cindy yang bitchy tetap menarik. Dan, karakter Jere yang cowok banget benar-benar bikin ‘kipas-kipas’. Penggambaran setting tempat cukup detail, dan aku suka endingnya yang manis banget.
“Karena gue berhasil di-update. Satria Bergitar, kayaknya gue jatuh cinta deh sama lo.” – Cindy Tan – hal. 147  

Oke, sekarang lanjut ke kisah kedua, “Sunrise” yang ditulis oleh Orizuka. Kisah ini memang berbeda, namun tokohnya saling berkaitan. Cindy dan Lyla, mereka adalah sepupu.
Matahari terbit memberi kita kesempatan untuk memulai semuanya dari awal.” – Lyla – hal. 239

Sunrise bercerita tentang Lyla “Lyla” Andhara Johan dan Arjuna “Juna” Taslim yang baru saja putus sebulan yang lalu, setelah merajut kisah selama 7 tahun. Hah…ternyata, ini bukan sesuatu yang mudah bagi Lyla (dibaca “Laila”) sekalipun dia hanya menjawab Oke saat Juna mengatakan ingin berpisah. Dan, ini juga bukan hal yang gampang bagi Juna sekalipun dia dengan berani mengakhiri semuanya.
Kemudian, sunrise pantai Nirwana─salah satu pantai di Karimun Jawa─mempertemukan mereka. Dan, dimulailah kisah yang menyadarkan hati masing-masing kalau ternyata cinta di hati mereka tak pernah lenyap sedikitpun. Mereka masih tetap disana, di hati masing-masing yang merana karena perasaan tak ingin membebani dan tak ingin menyakiti, yang ternyata malah membebani dan menyakiti mereka.
Banyak adegan yang bikin tersenyum dan banyak pula yang bikin meleleh sekalipun mbak Ori menceritakan secara kalem. Setting Karimun Jawa yang eksotis juga tereskplor dengan sempurna. Membuat aku yang memang sudah bermimpi kesana semakin benar-benar ingin kesana.
Karakternya juga sangat mudah tergambar di imajinasiku, dan nggak kalah sama karakter yang dibangun Bang Mora. Endingnya juga super duper so sweet, apalagi dengan adanya sunrise yang mendukung adegan romantis itu.
Just….fight for me, La. I’ll always do for you.” – Juna – hal. 288

Pokoknya, aku merasa mereka ini pasangan yang cocok banget. Satu super hot and fun, satunya kalem namun cute. 2 in 1, deh!
 Buat nilainya, karena ini ditulis 2 orang dengan cerita berbeda, aku akan kasih nilai rata-ratanya, 4,5 dari 5 bintang. Hem…novella ini recommended deh!
Satu lagi, aku mau melakukan pengakuan dosa. Somehow, aku sudah nyuekin si merah manis ini selama lebih dati 1 tahun. Aku selalu menggeser antrian bacanya karena lebih tertarik sama novel lain. Dan, aku NYESEL BANGET! Karena novel ini tuh nggak cocok dianggurin lama-lama. Ciuz…sumpah! Buktiin sendiri, deh!
 


 

Jejak Langkahku Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos