Showing posts with label Novel Dewasa. Show all posts
Showing posts with label Novel Dewasa. Show all posts

Friday, December 30, 2016

[Review] DILANIKA – Alnira




Penerbit : Diandra Kreatif
Genre : Romance, Action, Fiksi
Kategori : Adult, Novel Dewasa, Wattpad, Men in Uniform
Terbit : Juli 2016
Tebal : 507 hlm
ISBN : 978 – 602 –336 – 279 – 0
Harga : Rp. 90.000

Kehidupan bagai roda yang beputar. Alinka benar-benar merasakan pepatah tersebut terjadi padanya. Dia yang kemarin tak perlu memikirkan bagaimana dia harus hidup untuk esok hari, tiba-tiba harus merasakan menjadi seseorang yang tak memiliki apapun, bahkan keluarga pun dia tak punya.
Namun, dari kehilangan tersebut, Alinka banyak belajar. Dan, kerena kehilangan itu, Alinka menenukan orang-orang baru yang dia anggap keluarga. Bahkan, dia bisa menikahi seorang Dilan Andara Wiratama, seorang Kapten Polisi yang berhati dingin, gila kerja, dan begitu pemarah.
“Janji Tuhan itu benar adanya ketika Dia mengambil sesuatu , maka Dia akan mengganti dengan yang lebi baik.” – hlm. 205

Bukan sesuatu yang baru bagi Dilan untuk merasakan kehilangan. Dia merasakan posisi yang sama seperti yang dirasakan Alinka. Mungkin, Dilan lebih beruntung. Saat kehilangan menyapanya, dia masih memiliki adik dan saudara-saudaranya. Sedangkan Alinka, tak ada saudara yang bisa dimintainya tolong.
Rasa iba menyentuh hati Dilan. Namun, dia tak bisa apa-apa. Bukan karena Dilan yang sejak awal tidak menyukai Alinka. Tapi, Dilan memang tak tahu harus bagaimana. Dia makin tak tahu harus melakukan apa saat adiknya meminta Dilan untuk segera menikah. Dia tak memiliki calon, itu masalahnya.
Mira – adiknya – mengusulkan sebuah nama. Namun, Dilan meragu. Alinka? Dia gadis yang manja dan terbiasa hidup enak. Mana mungkin gadis itu bisa hidup dengan dirinya yang hanya memiliki gaji sebagai Abdi Negara? Dan, apa Alinka bisa hidup dengan sifatnya yang seperti itu? Dan satu lagi, Dilan tidak mencintai Alinka.
“Kamu adalah alasankupulang, alasanku untuk selalu kembali dengan selamat. Kamu rumahku dan juga tujuan hidupku. I promise! That you’re the one and only wife until the rest of my life.” – Dilan – hlm. 325

Dilanika. Jujur yang membuat aku terpaksa mencari novel ini karena karakter Dilan yang dipamerkan di sinopsisnya. Aku menebak, sepertinya novel ini bisa mengobati rasa bosanku.
Tebakanku memang benar. Novel ini sejak awal sangat menggoda. Dan, bagian menggoda itu terletak pada karakter cowoknya yang berprofesi sebagai seorang Polisi. Dengan karakternya yang dingin, punya sifat kayak macan, tapi ganteng, siapa coba yang nggak terpikat.
Untuk ceritanya, menurutku masih butuh editing cukup banyak. Di beberapa bagian banyak yang harus dikurangi karena tidak perlu. Typo juga masih banyak. Dan, ada beberapa pilihan diksi yang harus dibenahi.
Sebenarnya, dalam membangun karakter tokoh-tokohnya, penulis sudah cukup berhasil. Mereka bisa hidup dengan baik di imajinasiku. Cerita action yang dicampurnya pun bisa bergerak dengan baik. Meski ada beberapa yang terasa terlalu dibuat kurang alamiah. Yah, mungkin kurang alamiah ini karena ingin membuat pembaca tidak tersakiti.
Contohnya, saat di adegan berantem, dimana Alinka dan Mira hampir dilukai, tiba-tiba Dani tiba dengan tepat waktu. Ini yang aku bilang kurang alamiah, namun membuat pembaca senang.
Ngomongin karakter Dilan, mungkin kalau di dunia nyata, Dilan itu cowok nyebelin. Cuma, kalau didalamin, cowok kayak Dilan inilah yang namanya cowok sejati. Nggak perhatian buanget, tapi dia punya cara mencintai yang awh... kalau dia mengeluarkan sisi manisnya... matilah kau.
Oh iya, Dilan juga suami posesif yang nggak mau istrinya dilirik cowok manapun. Tapi, sikap Dilan itu malah bikin yang baca terpesona. Ada satu kalimat Dilan yang bikin baper, nih :
“ Mesra itu tidak harus ditunjukkan di depan umum, dengan aku yang memilih menghalalkanmu adalah mesra dalam versiku Lin.” – Dilan – hlm. 476

Alinka, saat pertama ketemu dia, aku pesimis. Aku merasa, Alinka ini pasti nyebelin. Ternyata aku salah, Alinka cewek kuat yang tidak pantang menyerah. Dia bisa survive dengan hidupnya yang sudah hancur lebur. Dan, ini yang aku suka dari dia.
Yang bikin aku menghela napas, sikap cemburuannya Alinka yang nggak kenal waktu. Kayak pas ketemu temannya Dilan, bisa gitu dia langsung mewek. Oke..oke...saat itu mungkin dia kena syndrome ibu hamil. Cuma, rada lebay aja.
Aku malah suka sama Dani dan Mira. Aku menebak ada sesuatu di antara mereka. Tapi, tebakanku tak terjawab secara nyata di novel ini. Karakter Mira juga lucu. Kayaknya, bagus juga nih, dibikinin cerita khusus Dani dan Mira.
Kalau ngomongin konflik, konflik Alinka itu hanya muncul di awal-awal cerita saja. Hampir sebagian besar konflik malah terpusat pada pengejaran bandar narkoba – kasus yang ditangani Dilan cs. Bandar narkoba ini berusaha melarikan diri sekaligus memberi pelajaran pada Dilan dengan menyakiti orang terdekat Dilan.
Yang suka action, di novel ini kamu bakal dimanjakan dengan adegan-adegan berkelahi dan tembak-tembakan. Cukup seru, aku yang jarang ketemu novel begini lumayan menikmatinya.
Untuk rating, karena Dilan sudah menembak hatiku *abaikan bahasanya*, aku beri bintang 3,3 dari 5 bintang.
Erg...aku gatal pengin ngedit novel ini. Kalau aku edit, mungkin 500 halaman, tinggal 350 halaman, deh.

Thursday, May 8, 2014

Resensi – After D-100 “Kisah Sebuah Laci yang Terbuka”



Penulis : Park Mi Young
Penerjemah : Putu Pramania Adnyana
Penerbit : Haru
Tebal : 382 hlm
Terbit : Juni 2013
Genre : Dewasa
ISBN : 978 – 602 – 7742 – 18 – 5
Harga : Rp. 63.000

Menikah pada dasarnya adalah hidup bersama dengan orang yang kita cintai, orang yang membuat kita nyaman, aman dan bahagia. Untuk menjadikan tujuan pernikahan itu bisa terwujud, kita hanya perlu saling percaya dan terbuka kepada pasangan kita. Namun, rumus sederhana itu sepertinya sangat sulit diterapkan dalam rumah tangga Kang Gyung Hee dan Lee Jung Chul.
Selama pernikahan, Lee Jung Chul bukanlah Lee Jung Chul yang sebenarnya. Dia menyembunyikan dirinya dari istrinya karena sebuah alasan yang hanya dirinya yang tahu. Tapi, akhirnya setelah dua tahun menikah, Kang Gyung Hee menemukan rahasia besar suaminya yang tersimpan dalam laci meja kerjanya.
Dalam laci tersebut terdapat foto dan dokumen yang membuat Gyung Hee terkejut. Ternyata, selama ini dia tak mengenali siapa sebenarnya suaminya itu. Karena kenyataan tersebut, Kang Gyung Hee terpaksa mengambil keputusan, dia akan menceraikan suaminya setelah seratus hari.
Selama ini, Gyung Hee merasa bahagia dengan pernikahannya. Pernikahan yang terjadi begitu cepat karena para orang tualah yang mengambil keputusan tanpa meminta pertimbangan darinya maupun dari Lee Jung Chul. Dan selama ini pula, Gyung Hee sudah memberikan segalanya dan menuruti semua permintaan Jung Chul.
“…aku tidak pernah mendefinisikan bahwa suamiku adalah orang seperti ini dan seperti itu. Aku menerima sikapnya apa adanya. Ibaratnya seperti spons yang menyerap air, begitulah aku hidup selama ini. Menerima semuanya begitu saja.” – Kang Gung Hee – hlm. 79

Sekarang, Kang Gyung Hee sudah berubah. Dia bertekat membalas sakit hatinya pada Lee Jung Chul. Apalagi, setelah kemunculan Mina, mantan kekasih Jung Chul yang sepertinya berniat menggoda Jung Chul kembali. Gyung Hee semakin yakin, keputusannya sudah tepat.
Kang Gyung Hee benar-benar mempersiapkan dirinya sebelum perceraian itu terjadi. Dia membuka sebuah toko tas dengan bantuan sahabatnya, Jung Woo. Dia berharap, semoga toko itu bisa membuatnya hidup mandiri tanpa membebani siapapun.
Namun, sepertinya Tuhan sedang mengujinya. Dia semakin sering bertemu Mina. Mina bukan tipe wanita yang diam-diam merayu suami orang di belakang istrinya. Mina memperlihatkan niatnya, bahkan dia seperti sengaja membuat Gyung Hee marah dengan memintakan ijin Jung Chul untuk bertemu dan mengenang kembali cinta mereka.
Perubahan sikap Gyung Hee mulai disadari Jung Chul. Namun pria ini malah semakin dingin dengan istrinya. Dan, perlahan rahasia Jung Chul mulai diketahui banyak orang, termasuk kedua orang tuanya. Rahasia bahwa Jung Chul pernah menjalani pengobatan karena masalah kejiwaan dan kebohongan Jung Chul bahwa dia madul, membuat Kang Gyung Hee diminta pulang ke rumah orang tuanya. Dan, masalah perceraian itupun semakin menguat untuk segera diwujudkan.
Sebenarnya, Lee Jung Chul menyembunyikan masalahnya karena dia takut istrinya meninggalkannya. Diam-diam dia sangat mencintai istrinya meskipun sikapnya sangat dingin, bahkan dia pernah bilang, dia menikahi Gyung Hee bukan karena cinta.
“Cinta, tidak bisakah kau mengajariku tentang hal itu? Karena aku tidak tahu apa-apa tentang hal itu, tidak bisakah kau yang lebih tahu ini mengjariku?” – Lee Jung Chul – Hlm. 282

Lalu bagaimana Lee Jung Chul menjalani hidupnya tanpa Kang Gyung Hee? Apakah dia menerima saja dengan keputusan Gyung Hee?
Kemudian, bagaimana dengan Kang Gyung Hee? Apakah dia tetap kokoh tak akan kembali pada Lee Jung Chul yang masih membuatnya rindu, meskipun Kang Gyung Hee tahu dengan pasti suaminya ternyata sangat mencintainya dan juga menderita karena keadaannya?
“Kisah cintaku dimulai dari diriku seorang dan pada akhirnya pun, aku sendiri yang mengakhirinya. Cinta bertepuk sebelah tangan memang biasanya mudah hancur dan sulit untuk bangkit kembali saat jatuh dengan keras seperti ini.” – Kang Gyung Hee – Hlm. 172
After D-100 adalah novel yang bercerita tentang pernikahan tanpa keterbukaan. Sebuah keadaan rumah tangga yang awalnya tampak menyenangkan─walaupun hanya dari sudut pandang Gyung Hee─dan sangat menyedihkan saat mulai diuraikan.
Cerita mulai berjalan mengalir dengan gaya bercerita yang enak. Perlahan misteri kenapa Lee Jung Chul bersikap sebegitu dingin dengan istrinya dan kenapa dia menikahi Gyung Hee perlahan terurai. Dan, Jung Chul di awal cerita dengan Jung Chul yang sebenarnya sangat berbeda seratus delapan puluh derajat.
Inilah bagian menariknya, penulis memberikan gambaran awal yang berbeda, lalu mulai menuturkan kenyataan-kenyataan membuat aku terus tersedot misterinya. Lalu, aku mulai menaruh simpati pada Lee Jung Chul. Apalagi, di bagian akhir cerita, karakter Jung Chul yang hangat membuatku menyadari, banyak alasan seorang pria bersikap dingin pada wanita. Mungkin ada seribu alasan yang menuntutnya seperti itu.
“Gyung Hee, aku ingin kita hidup seperti air yang mengalir. Gejolak itu ‘kan ada di bawah air. Kita hidup sambil melihat permukaan air saja. Ya?” – Lee Jung Chul – Hlm. 115

Karakter Kang Gyung Hee yang sebenarnya ceria sepertinya tidak banyak terlihat dalam cerita. Mungkin karena situasi yang dia hadapi. Namun, aku merasa Gyung Hee adalah wanita kuat dan tabah, meski dia adalah wanita plin plan akut.
Dalam cerita, banyak karakter yang bermunculan, mulai dari Jung Woo, sahabat Gyung Hee, In Sik si pemilik bangunan tempat Gyung Hee mendirikan toko, Mina mantan kekasih Jung Chul yang menyebalkan, dan tentu orang tua Gyung Hee dan Jung Chul, juga orag tua Lee Jung Chul dan kakak-kakak Gyung Hee.
Namun, karakter itu hanya semacam bumbu semata. Seperti In Sik yang sebenarnya menyukai Gyung Hee. Dia hanya muncul di awal, dan satu kali di bagian akhir. Tak ada sebuah konflik yang lebih greget yang bisa dibangun antara Gyung Hee dan In Sik.
Lalu, Mina. Walaupun dia hanya muncul di awal, namun dia bisa memanaskan keadaan. Sedangkan Ayah dan Ibu Gyung Hee berhasil menjalankan tugasnya sebagai orang tua yang berusaha melindungi anaknya dari suami yang telah melukainya.
Secara keseluruhan, aku menyukai cerita ini. Tema tentang kemandulan, ketidakterbukaan, dan perceraian memberiku ilmu baru dalam kehidupan. Yaitu, keterbukaan dan memperlihatkan apa adanya diri kita sejak awal, ternyata menjadi bagian yang utama untuk menjadikan sebuah kehidupan lebih baik. Setidaknya, kita tidak menyimpan boom waktu yang kapanpun bisa meledak.
“Awalnya aku tidak sanggup mengatakannya padamu. Aku sudah berencana memberitahumu saat kau mengatakan akan menikah denganku. Tetapi, aku berharap, siapa tahu kau bisa memberikan 1% kemungkinan itu padaku. Jadi, kuputuskan untuk menyembunyikannya darimu. Hingga sampai saat ini. Maafkan aku.” – Lee Jung Chul – Hlm. 190

Meski cover novel ini manis, tapi sebenarnya novel ini bergenre dewasa. Ada beberapa adegan 17+ yang bisa dipahami kenapa dia hadir disana, karena novel ini memang bercerita tentang sebuah hubungan suami istri. Jadi, buat adik-adik, skip dulu novel ini, tunggu umur mencukupi, ya?
Aku ingin memberikan acungan jempol untuk Penerbit Haru, karena lagi-lagi berhasil memuaskanku dengan cerita yang manis, dan gaya penerjemahan yang nyaman dan luwes.
Nilai untuk novel ini 3,6 dari 5 bintang.
Buku ini bisa langsung kalian order ke aku dengan harga Rp. 40.000 saja (Exc ongkir). Minat? Langsung kontak BBM 74D81B01 atau Whatsapp : 085736100626. 

Saturday, March 15, 2014

Resensi – MARRIAGEABLE "Kisah Sekantong Susu Ultra"

Penulis : Riri Sardjono
Penerbit : Gagas Media
Tebal : x + 358 hlm
Terbit : 2006 (Cetakan Pertama), 2013 (Cetakan Ketujuh)
Genre : Dewasa
ISBN : 979 – 780 -651 – 0
Harga : Rp. 49.000
 “Dua minggu lagi, aku akan merayakan ulang tahunku yang ketiga puluh tahun dan sekarang sahabatku akan menikah?!... Mungkin sebentar lagi, Mamz  akan mengumumkan sebuah sayembara untuk mencari calon suami bagiku. Syaratnya : TIDAK ADA SYARAT! Lelaki pertama yang datang akan dinikahkan denganku dan mendapat imbalan satu kantong emas beserta ucapan terima kasih yang tulus.” Hlm. 4

Inilah masalah Flory, menikah. Di usianya yang hampir tiga puluh tahun, tak ada tanda-tanda dia akan melepas status single-nya. Membuat sang Mamz mengatur sebuah perjodohan untuknya, mempertemukan Flory dengan anak teman Mamz-nya, Vadin.
Pertama bertemu dengan Vadin, Flory tampak tak sedikitpun tertarik. Berbeda dengan Vadin, yang langsung tertarik dengan cara bicara Flory.
Namun, sebuah keputusan diambilnya. Setelah setahun mencoba dekat dengan Vadin, Flory menerima ajakan menikah Vadin. Ini bukan karena cinta, ini karena sebuah tuntutan dan ketakutan Flory pada statusnya.
“Kenapa akhirnya elo kawin? Takut jadi perawan tua?” Hlm. 77

“Kadang gue pikir, gue nggak pengin kawin. Tapi, kadang gue ngerasa itu nggak normal dan seharusnya gue emang kawin. Tapi gue takut sakit kalau gue kawin. Tapi gue juga takut kesepian kalau gue nggak kawin.” Hlm. 75

Sebenarnya, buat Flory sahabat-sahabatnya sudah cukup untuk hidupnya. Hingar bingar tawa dari mereka membuat hidup Flory berwarna. Tapi, apakah itu hanya alasan Flory untuk tidak menikah karena dia terlalu takut pada sebuah pernikahan? Takut pernikahannya akan bernasib sama dengan Papz dan Mamz-nya? Namun, kenyataan membuatnya bertekat untuk menikah, karena dia sadar, waktunya menjadi wanita produktif semakin lama semakin menyempit.
“Kantong rahim kayak susu ultra. Mereka punya expired date. Sementara sperma kayak wine. Masih berlaku untuk jangka waktu yang lama.” Hlm. 4

Pernikahan Vadin dan Flory jauh dari sebuah pernikahan pada umumnya. Mereka hidup bersama dengan kamar berbeda dan tanpa cicin kawin dijari manis masing-masing. Bagi mereka, pernikahan hanya memunculkan gelak tawa dan rasa nyaman untuk keduanya.
Namun, saat Nadya, mantan kekasih Vadin yang sangat sexy dan menggoda muncul, Flory tampak kalang kabut. Dia tidak mau mengaku cemburu. Dia hanya tak ingin Vadin bersama perempuan itu, membuat Flory mati-matian berubah untuk mengimbangi Nadya.
Lalu, muncul Bimo, atasan Flory di tempat kerjanya yang baru. Belakangan, muncul Gilang, si mantan yang pernah membuat Flory patah hati parah. Dua pria ini digunakan Flory untuk membalas Vadin, dia ingin membuatnya cemburu karena Flory mengira Vadin selingkuh.
“Kenapa, sih elo bisa kawin sama laki?”
“Hormon, Darling! Kadang-kadang kerja Hormon kayak telegram. Salah ketik waktu ngirim sinyal ke otak. Mestinya horny, dia ngetik cinta!” Hlm. 38

Pelan-pelan, Flory mulai ragu dengan tindakannya. Hubungannya dengan Vadin pun mulai menjadi rumit. Selama ini, Flory tak pernah bilang cinta pada Vadin. Namun, Flory sadar dia mulai mencintai Vadin. Tapi, apakah cintanya sudah terlambat untuk Vadin? Apakah tak ada lagi kesempatan untuk bersamanya?
Dengan dukungan sahabat-sahabatnya, Flory mengejar kembali cintanya, meminta kembali bintangnya yang berjalan pergi.
“Kalau kamu mau bintang, tinggal bilang bintang, Honey.” Hlm. 326
 
 Marriageable, karya pertama Riri Sardjono yang aku baca, sebuah novel yang lama menjadi wistlistku dan baru kesampaian gara-gara Flash Fictionku menang di Lomba FF yang diadakan @NBC_IPB. Nggak nyangka juga bakalan dapet ini.
Dan, saat membacanya, instingku nggak salah saat menebak novel ini selera aku banget. Yup, seluruh isi, gaya bahasa, cerita sampai karakter para tokohnya benar-benar bikin aku puassss sangat!!!
Yang paling aku suka di sini adalah para sobat Flory, di mana mereka bisa ngobrol blak-blakkan dan ajaib, mengingatkanku pada teman-teman XXX yang gila di masa SMA ku.
Dina, menurutku yang paling gila. Dia yang nggak percaya sama cinta dan laki-laki tampak membuat novel ini hot dengan pemikirannya. Lalu, Kika yang hampir senasib dengan Flory, takut menikah. Dia tampak tak kalah seru dari Dina. Dan Ara, dia adalah satu-satunya cewek di antara 4 cewek ini yang masih percaya pada cinta. Tapi, dia harus rela diinjak-injak karena pemikirannya itu. Satu lagi, Gerry adalah pria dengan jenis kelamin tak jelas, semakin membuat percakapan satu gank ini mengundang gelak tawa tapi juga membuatku berfikir.
“Apa cinta emang ada, Ka?”
“Mungkin. Kadang-kadang elo mesti belajar untuk berhenti berfikir. Cinta biasanya datang di saat orang lain nggak mikir.”
“Apa cinta selalu datang untuk orang-orang bego?” Hlm. 73

Love is blind, Honey,”
“Yeah… itu membuktikan betapa tololnya kita.”
“Itu Itu karena orang barat bilang untuk menikah kita perlu kematangan isi hati dan kepala. They called it maturity.”
“Sementara orang Timur bilang, untuk menikah kita cuma perlu kematangan kantong rahim dan sperma. We called it old enough.” Hlm. 306

Kalau bicara tentang Vadin, aku merasa dia di tipe pria yang diidamkan banyak perempuan. Bukan karena dia sudah mapan dengan pekerjaan yang gemilang. Tapi karena Vadin bisa membuat perempuan tertawa dan hidup nyaman di sampingnya.
Sedangkan Flory sendiri, menurutku dia terlalu larut dengan ketakutannya sendiri. Oke, takut menikah dengan latar belakang trauma memang sedikit sulit dimengerti oleh orang yang tidak merasakan sendiri trauma itu. Tapi, buat aku Flory yang takut menikah cukup normal. Karena aku sedikit merasakan ketakutan yang dialami Flory, takut melepaskan masa lajangku. *Curhat :D
 Bagi aku yang lebih sering baca novel dari pada BAB, sebuah novel menarik itu bernilai 4. Tapi, novel dengan daya sedot kuat seperti novel ini, pantas diberi bintang hampir sempurna, 5 maybe.
Yup, novel ini punya daya sedot kuat. Menurutku ini karena banyaknya dialog menarik yang membuat novel ini mengalir dengan penuh beriak namun mengasyikan. Dan ini adalah jasa dari Dina, Ara, Kara, dan Gerry. Jika novel ini hanya fokus pada Flory dan Vadin saja, jelas novel ini akan tampak sama saja dengan jenis novel bertema sama.
Dan, loncatan-loncatan yang dibuat Mbak Riri sangat lincah. Meski kadang ada bagian kembali ke waktu yang telah berlalu di tengah-tengah cerita, aku sama sekali nggak merasa bingung. Semua menyatu.
Pokoknya, novel ini benar-benar gila, gila kenapa ada novel kayak gini? Kenapa ada orang-orang kayak Dina, Kika dan Gerry? Huft, kita harus berterima kasih pada manusia dengan otak sedeng kayak mereka. Karena dunia terasa lebih ringan jika mau melihat dari sudut padang orang gila.
Ehm, berteman dengan orang-orang berotak gila memang membuat dunia lebih ringan. Serius, aku pernah hidup beberapa tahun dengan cewek-cewek dengan pikiran khas Dina dan Kara. Dan, aku kangen mereka.
Novel ini dicetak ulang dengan cover baru. Tapi, kenapa cover barunya malah terlihat sedikit ekstrim, ya? Aku lebih suka yang lama, lebih lembut. Bikin orang bertanya, kenapa ada gambar kemasan susu ultra di sana? Dan menurutku kemasan susu ultra lebih sesuai dengan ceritanya.
Oke, untuk rating aku kasih 4,8 dari 5 bintang. Kenapa nggak 5 sekalian? 0,2 nya buat di tabung, dear!
Dan, terakhir aku mau bilang big thanks buat si penulis yang baik banget mau men-signature buku ini. Juga buat @NBC_IPB yang sudah suka dan menjadikan Flash Fiction berjudul Loving You menang di lomba FF yang diadakannya. *Kecup jauh buat mereka.

Tulisan ini diikutkan dalam Indonesian Romance Reading Challenge 2014
 

Jejak Langkahku Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos