Showing posts with label Ika Natassa. Show all posts
Showing posts with label Ika Natassa. Show all posts

Thursday, February 11, 2016

[Review] CRITICAL ELEVEN – Awal dan Akhir yang Mendebarkan



Penulis : Ika Natassa
Penerbit : Gramedia
Genre : Romance, Family Drama
Kategori : Adult
Terbit : 2015
Tebal : 344 halaman
ISBN : 978 – 602 – 03 – 1892 – 9
Harga : Rp. 79.000

Cinta itu sebenarnya bukan pernyataan. Tapi, cinta adalah sebuah keputusan.
Aldebaran ‘Ale’ Risjad memutuskan bahwa dia mencintai Tanya ‘Anya’ Laetitia Baskoro sejak pertama kali mereka bertemu dalam penebangan Jakarta-Sydney. Sebuah keputusan yang disambut gembira oleh Anya. Keputusan yang tak perlu lagi dipikirkan secara berkepanjangan meskipun Anya tahu, hubungan mereka akan lebih banyak direntang oleh jarak.
“Berani menjalin hubungan berarti berani menyerahkan sebagian kendali atas perasaan kita kepada orang lain. Menerima fakta bahwa sebagian dari rasa kita ditentukan oleh orang yang menjadi pasangan kita.” – Anya – hlm. 7

Anya mencinta Ale, semua tahu itu. Dia tak pernah mempertanyakan waktu yang berjalan tanpa bisa mereka lalui bersama-sama. Dia tak pernah menuntut perhatian yang kadang datang hanya lewat ucap semata.
Tapi, semua terasa salah saat Anya kehilangan bagian terpenting dalam hidupnya. Dia ingin Ale memeluknya dan meredakan rasa bersalahnya. Namun, kalimat tak disengaja Ale membuyarkan semua harapan Anya. Anya merasa tak lagi tahu siapa Ale. Dia mulai mempertanyakan keputusannya untuk bersama Ale dulu.
“Nya, orang yang membuat kita paling terluka biasanya adalah orang yang memegang kunci kesembuhan kita.” – Tara – hlm. 252

Baginya, ada yang salah dengan keputusan itu. Ada sesuatu yang tidak diperhitungkannya dulu.
Masihkah Anya menginginkan Ale sebagai suaminya? Atau, dia menyerah pada luka dan rasa kecewanya?
“Aku ingin pulang ke kamu yang dulu. Aku ingin pulang ke Aldebaran Risjad yang telah aku pilih jadi suamiku. Aku ingin pulang ke kita yang dulu.” – Anya – hlm.213

Citical Eleven, Novel Ika Natassa yang langsung jadi National Bestseller sejak awal peluncuran. Hebat! Ini hanya terjadi pada penulis yang sudah berkaliber di atas angin.
Harus aku akui, ide yang dituangkannya benar-benar sangat menari. Tentang kehidupan sepasang suami istri yang harus diguncang prahara setelah anak pertama mereka meninggal. Karena sebuah ucapan tolol sang suami – Ale, si istri – Anya merasa sangat tersakiti. Dan musim dingin dalam hubungan mereka terjadi.
Membaca novel ini, aku merasa sangat ingin segera menuntaskan karena penasaran bagaimana cara penulis menyelesaikan konfliknya. Bisa dibilang, aku suka hampir di semua bagian novel ini. Hanya satu yang membuat aku bosan, narasinya. Kadang, aku merasa beberapa bagian narasinya tidak perlu ada. Rasanya, seperti membaca sesuatu yang tidak ada sangkut pautnya dengan isi cerita.
Karakter Ale menurutku tipe cowok yang baik banget jadi suami. Ya, meskipun dia melakukan kesalahan dalam satu kali ucapannya.
Dari Ale, para cewek harusnya tahu bahwa cowok itu radar sensitifnya benar-benar sangat lemah. Menurutku, Anya hanya ingin Ale meminta maaf atas ucapannya, dan mau masuk ke kamar Aidan, anak mereka – hanya itu saja. Tapi, Ale tak akan tahu itu.
Anya sendiri lebih senang berdiam diri. Dia tidak ingin mengatakan apa yang dia mau dari Ale. Egonya juga cukup besar hingga terlalu susah melupakan sebuah kesalahan.
Aku selalu tersentuh jika cerita sudah berbicara tentang Aidan dan Anya. Bagaimana Anya yang begitu merana setiap harinya di kamar Aidan, yang masih membawa kaus kakinya setiap saat di dalam tas-nya. Huft, syukurilah para ibu yang bisa memeluk anak-anak mereka.
Endingnya, mantap banget. Suka!
Rating 3,4 dari 5 bintang.

 

Tuesday, May 19, 2015

Resensi – DIVORTIARE “Melepas masa lalu, tak mudah ternyata”

Penulis : Ika Natassa
Penerbit : Gramedia
Genre : Romance, Metropop
Kategori : Adult
Terbit : Desember 2008 (Cetakan ketiga)
Tebal : 328 hlm
ISBN : 978 – 979 – 22 – 3846 – 4
Harga : Rp. 45.000
Alexandra, akhirnya dia menjalani hidup tanpa Beno. Mereka BER-CE-RAI. Yah, sudah tiga tahun dia menjanda, tapi dia belum bisa benar-benar lepas dari Beno.
“It’s time to move on, to open up yourself again.” – Wina – hlm. 58

Setiap sakit, Alex masih mencari Beno. Dan, tato bergambar nama Beno di dada kirinya pun belum dia lenyapkan. Juga hatinya, sosok Beno masih di sana, meskipun Alex tak pernah mengakuinya. Alex membenci Beno, itulah yang coba dia perlihatkan pada semua orang, dan dirinya sendiri.
“Jadi, kalau bisa memutar waktu, aku akan memilih membencinya dari awal… Karena kalau aku membencinya, ia tidak akan bisa menyakitiku. Kita hanya bisa disakiti oleh orang-orang yang kita cintai, ya kan?” – Alexandria – 62

Memang, setiap mereka bertemu, mereka selalu bertengkar dan bertengkar, meskipun pertemuan itu sekeder lewat telepon. Pertengkaran itu membuat Alexandra tak habis pikir, kenapa dia dulu mau saja menikah dengan Beno – dokter bedah yang begitu hebat, namun tak pernah ada untuknya, yang menganggap semua pasiennya lebih penting dari pada istrinya. Oh, God! Alex selalu merasa gila setiap memikirkan masa lalunya saat masih bersama Beno.
“Opposite, attracts, but two people who are so much alike are just like magnets with the same pole.” – Alexandra – 60

Denny, cowok yang pernah mampir di beranda hatinya muncul. Dia menawarkan apapun yang Alex mau saat bersama Beno dulu. Kasih sayang, cinta yang begitu tergambar jelas, cowok romantis dan perhatian, semuanya ada di Denny. Dia sosok yang begitu sempurna untuk menggantikan Beno.
Tapi, mampukah Denny menggeser laki-laki yang kata Alex cowok brengsek, menyebalkan, egois, arogan dan sombong – dari hatinya?
“Kalau tujuan gue mencari pengganti Damar, sampai kapan pun gue nggak akan nemu. Damar ya Damar, cuma diciptakan Tuhan satu di dunia ini, nggak ada yang bakal nyamain. Yang harus gue cari itu laki-laki yang menyayangi gue, mencintai gue, dan bisa bikin gue percaya cinta lagi.” – Wina – 258

Divortiare, novel lanjutan Twivortiare. Sayangnya, aku tak membaca Twivortiare sampai tamat – catat, tak sampai tamat – karena aku memilih menutup bukunya sebelum menghabiskan seperempat halaman. Kenapa? Aduh, aku pusing baca tweet bahasa inggris yang hampir mendominasi separuh lebih isi novel.
Kalau tweet aja sih, nggak masalah. Tapi, bahasa inggrisnya itu, lho. Bukannya aku nggak bisa. Aku bisa dikit-dikit. Sekedar Bahasa Inggris kelas SMA-lah. Nah, ini bahasa Inggrisnya kelas S1 jurusan Sastra Inggris. Puyeng kalau suruh ngartiin semuanya. So, aku langsung loncat ke Divortiare.
Dulu, Antologi Rasa bikin aku nggak bisa berhenti baca. Dan, untuk kali inipun aku juga sangat menikmatinya. Meskipun, aku nggak tahu cerita awalnya (Twivortiare), aku nggak ada masalah.
Alexandra, si cewek workaholic banker yang hidupnya bisa tiba-tiba harus nyungsep di pedalaman antah berantah untuk sekedar meninjau perusahan nasabahnya. Dia juga begitu mencintai berbagai merk branded yang menguras kocek, dan penikmat kopi.
Alex tipe cewek keras kepala, nggak mau ngalah, kadang bisa begitu emosional, tapi Alex bukan tipe cewek gampang jatuh cinta. Meskipun sudah berlalu lebih dari dua tahun, nyatanya dia belum bisa move on dari mantan suaminya.
“Gue sadar kenangan nggak bakal bisa dihapus. Anggap aja kenangan itu bagian dari hidup gue yang dulu, yang juga membuat gue yang sekarang. Gue cuma perlu mengalami kenangan-kenangan baru yang indah. Hidup kita nggak harus ditentukan masa laku kan, Lex?” – Wina – 258

Alexandra ini cewek pintar, modis dan cantik pula. Dia begitu ingin dicintai dan diperhatikan. Tapi, itu tidak dia dapat dari Beno. Yah, itulah yang bikin dia bercerai.
Sedangkan Beno, tipe cowok yang tak kalah workaholic dan tak romantis. Dia sangat mencintai Alexandra – aku tahu itu. Tapi, dia tak pintar memperlihatkan itu.
Sekelebat, aku dibuat takut akan kesibukan Beno yang super gila. Ya ampun, kalau jam kerjanya kayak begitu, dari pagi sampai entah jam berapa, dan bisa tiba-tiba dipanggil ke rumah sakit untuk operasi padahal lagi asyik mesra-mesraan. Aku bisa ngertilah, ya, apa yang dirasakan Alex. Namun, kalau melihat kayak apa argent-nya semua itu, sebagai istri yang baik harusnya sih bisa nerima.
Sayangnya, di Divortiare ini Beno tak banyak menampilkan dirinya. Dia kadang muncul dengan karakter yang dingin, sinis, dan menyebalkan. Tapi, waktu dia hadir untuk nolong Alex, semuanya tampak berbeda. Beno…oh, so cute, so gentleman, so apalah-apalah! Siapa sih yang bisa menolak dokter keren macam dia? Pantes aja si Alex nggak move on-move on.
Dan, saat aku ngelihat Denny. Sosok dia ini sebenarnya keren, manis pula. Namun, dia tak menantang. Dia hadir di hidup Alex sekedar untuk menguji Alex, atau untuk menyadarkan Alex bagaimana sebenarnya hati dia.
Divortiare dibalut dengan alur yang segar, dan nggak ketinggalan kehidupan khas banker benar-benar tercipta sempurna. Di novel ini, aku juga menyukai persahabatan Wina dan Alexandra. Karakter Wina yang ceplas-ceplos, juga gokil itu bikin aku kadang ketawa waktu menemukan percakapan mereka yang asal nyablak.
Si Ryan teman sekantor Alexandra juga nggak kalah sableng. Dia dan Wina lah yang jadi kompor buat Alex segera melupakan Beno, dan menerima Denny.
Banyak hal yang bikin aku paham tentang hubungan pernikahan karena novel ini, bahwa menikah itu gampang, guys. Tapi, untuk mempertahankannya itu, lho, yang super sulit. Saling mengerti dan komunikasi, juga sesekali memperlihatkan cinta kasih itu sangat penting. Menjadi workaholic boleh-boleh saja. Namun, keluarga kadang juga harus jadi prioritas. Dan, banyak lagi ilmu yang aku dapatkan.
Marriage counselor kami – yes, we want to one – pernah bilang ketika salah seorang mulai menarik diri, seharusnya pasangannya mengalah, meraih pasangannya supaya ia tidak menarik diri lebih jauh.” – Alexandra – 60

Aku menyukai pilihan diksi yang dipilih Ika Natassa, kecuali bahasa inggrisnya. Namun, kalau seperti ini mah, masih oke buat aku. Asal nggak separuh lebih aja, kayak baca novel bahasa Inggris aja.
Yang membuat aku sedih, kenapa ending-nya kayak begitu. Oke, fine, aku tahu Beno balik lagi sama Alexandra. Tapi, aku kan juga pengin tahu si Beno itu bilang gimana sama Alex saat minta balikan. Jangan-jangan harus baca di Twivortiare 2, enggak deh, kalau suruh baca yang Twivortiare 2. Dia sama aja kayak yang Twivortiare 1, full bahasa Inggris.
So, aku kasih 3,4 dari 5 bintang buat novel ini.

Friday, April 18, 2014

ANTOLOGI RASA “Illustrated Edition”



Penulis : Ika Natassa
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbit : Maret 2014
Tebal : 336 hlm
Genre : Metropop
ISBN : 978 – 602 – 03 – 0331 – 4
Harga : Rp. 99.000

Beberapa minggu lalu, aku menamatkan Novel ini dan memberikannya bintang 5 di goodreads. Novel yang aku baca, masih novel dengan versi cover lama (Resensiku bisa dibaca disini). Dan, dalam resensiku, covernya benar-benar aku hina gina. Tapi, untuk edisi yang ini, nggak lagi!
Di novel ini, ceritanya persis sama. Yang membedakan adalah di beberapa bab ada gambar ilustrasi yang dibuat sendiri oleh penulisnya, Ika Natassa. Sehingga, saat membacanya, kita seperti diberi bocoran imajinasi lebih nyata, dan tentu buku lebih menarik (Ya iyalah! Harganya gila banget, dua kali lipatnya sama dua versi lainnya).
Oh, iya. Hasil ngintip di blognya si penulis, gambar-gambar itu dibuat dengan cat warna di selembar kertas sketsa, atau semacamnya. Namun, ada beberapa gambar di blog tersebut yang nggak di masukkan dalam buku, lho! Kalau mau lihat beberapa gambarnya bisa langsung ke http://blog.ikanatassa.com/
Gambar hasil unduh dari sini
 Sekarang bahas covernya, ya?!
Cover versi paling jadul dan paling baru

Covernya keren banget! Apalagi kalau jantungnya dihilangin :D
Sketsanya top markotop pull!!! Hebat Mbak Ika Natassa itu. Pinter motret, dewa banget kalau suruh bikin cerita, ternyata gambarnya juga memukau. Betapa beruntung jadi seorang Ika Natassa.
Waktu buka-buka, aku langsung tahu adegan siapa, dimana, dan gimana ceritanya. (Iyalah, bacanya juga belum ada sebulanan. Pantes banget inget! Coba kalau udah setahun…)
Ini waktu Harris dan Keara baru sampai Singapura di bab awal novel

Ini gambar terakhir dalam buku. Tentang kenangan Harris saat nonton F1 bareng  Keara
Tapi, ada satu gambar yang bikin aku bertanya, ini siapa ya? Harris Risjad, kah? Sepertinya, sih!
Harris Risjad, kah?
Kalau melihat keseluruhan buku dan cerita. Nilai yang aku berikan kemarin, mau aku rubah jadi 4,9. Kenapa nggak sempurna? Karena kesempurnaan hanya milik Tuhan :D

Wednesday, April 9, 2014

Resensi – Antologi Rasa “Cinta Saling Silang dalam kotak Friends Zone”


Penulis : Ika Natassa
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbit : September 2011 (Cetakan Kedua)
Tebal : 344 hlm
Genre : Metropop
ISBN : 978 – 979 – 22 7439 – 4
Harga : Rp. 48.000


“Kegantengan gue ini mungkin nggak mempan di elo, tapi setidaknya gue masih jadi satu-satunya laki-laki yang selalu bisa membuat elo tertawa.” – Harris Risjad – hlm. 34

Hanya itu yang bisa Harris lakukan untuk menyalurkan rasa cinta terbesarnya untuk Keara, cewek satu kantornya sekaligus best friend-nya, yang selalu dia panggil ‘cinta gue itu’ meski cuma dalam hati.
Diam-diam, Harris menyesali harus terperangkap dalam Friend zone dengan Keara. Karena itulah sebab terbesar dia nggak bisa mengejar Keara seperti dia biasa mengejar cewek yang diinginkannya. Atau melakukan semua trik-trik yang biasa dia lakukan kepada semua cewek untuk meluluh lantahkan para korbannya. Keara itu berbeda, sangat berbeda. Keara adalah satu-satunya cewek yang nggak mempan sama pesonanya.
Sedangkan Keara, diam-diam dia memendam cintanya pada sahabat baiknya yang lain selain Harris, Ruly. Dia sudah membuatnya tertarik saat pertama kali dia memanggil namanya di hari pertama kerjanya. Keara tahu, Ruly cuma cinta mati sama sahabatnya juga, Denise. Sayangnya, keadaan Denise yang sudah menjadi istri orang, tak membuat cinta Ruly pada Denise menghilang.
Keara mati-matian membuang Ruly dari otaknya dengan berbagai cara, mulai shopping gila-gilaan, memotret yang adalah passion-nya, sampai melakukan sebuah permainan gila dengan Panji. Dia tak ada rasa dengan Panji. Panji hanya salah satu alat untuk membuatnya tak memikirkan Ruly.
“Dengan Panji, aku menenggelamkan diri dalam permainan yang selalu bisa kukendalikan dengan laki-laki menyenangkan yang tidak pernah membuatku berfikir. Dengan Ruly? Aku dipaksa memainkan permainan yang tidak mungkin kumenangkan karena aku bermain melawan diriku sendiri.” – Keara Tedjasukmana – hlm. 118

Masalah Keara bertambah satu lagi saat dia terbangun di tempat tidur Harris dan menyadari apa yang sudah terjadi di antara mereka. Sebuah kejadian yang di awali dari sebuah ciuman yang diminta Keara pada Harris karena otak Keara yang udah blank gara-gara membayangkan Ruly bersama Denise.
Kemudian, persahabatan mereka berakhir. Nggak ada lagi acara makan bubur bersama di pagi hari sebelum masuk kantor, nggak ada lagi telepon tengah malam yang minta Harris menemani Keara, nggak ada lagi guyonan Harris yang selalu berhasil membuat Keara terbahak dan melupakan rasa pedihnya saat mengingat Ruly.
“Saat aku ingin menghapus malam keparat antara aku dan Harris waktu itu, aku tidak tahu bagaimana caranya kecuali menghapus Harris sekalian. – Keara Tedjasukmana – hlm. 118

Yang merasakan kesedihan paling parah dari bubar jalannya persahabatan mereka adalah Harris. Apalagi saat Harris tahu dengan siapa Keara berkencan setelah mereka nggak lagi sahabatan. Dengan Panji, teman gila-gilaan Harris yang punya hobi sama hancurnya dengan dirinya.
Sama seperti Keara, Harris lari ke pelukan para wanita-wanitanya dan mulai merokok lagi. Dengan satu tujuan, melupakan rasa sakitnya karena dicampakkan Keara.
Masalah lain muncul saat Keara harus satu tim dengan Ruly. Dia yang sudah mulai bisa menggeser Ruly dari fikirannya, malah makin dekat dengannya. Apalagi, saat itu Ruly merasa dia mulai mengagumi Keara. Dan, dari Keara ‘lah Ruly bisa terlepas dari bayangan Denise walau untuk sesaat.
 “Tapi sejujurnya di dalam hati aku mulai menikmati kecanggungan ini, karena kecanggungan tidak pernah ada di antara dua orang yang tidak pernah ada apa-apanya.” – Keara Tedjasukmana – hlm. 317

Lalu, dengan siapa Keara akhirnya? Harris yang selalu membuatnya tertawa? Kembali lagi dengan Panji yang berhasil menjadikannya wanita paling diinginkan? Atau malah dengan cinta matinya, Ruly yang mulai ada di setiap hari-harinya?

Antologi Rasa, sebuah novel yang punya kisah cinta seruet benang wol, yang cover-nya gambar jantung yang lebih cocok untuk cover buku kedokteran atau buku biologi dari pada buku tentang cinta.
Oh, God! Masih banyak desain cover yang lebih good looking dari pada ini. Ckckck… sorry, sebelum aku memuja-muja buku ini, aku mau menghina-ginanya dulu. Ya itu, cover-nya itu. Daaannn… parahnya, cover barunya tak lebih baik dari cover lamanya. Putih dengan tulisan kecil dan lagi-lagi gambar jantung yang kalau dilihat – tetep – lebih mirip buku anak kuliahan kedokteran atau apoteker dari pada novel.
Cover Baru Novel Antologi Rasa
Stop it!
Antologi Rasa, di luar dari masalah coverplotnya, karakternya, gaya berceritanya, penggambaran setting dan rasa yang diusungnya, overall cukup mendekati sempurna.
Dan aku akhirnya mengesahkan diriku sebagai salah satu pemuja Ika Natassa, yang berarti, aku harus mengejar novel-novelnya juga. Yeah, saat ini aku baru dapat dua bukunya, satu hadiah dari kuis (Antologi Rasa), dan satu beli second (Divortiare).
Tadi aku bilang, semua unsur dalam novel ini, kecuali cover, adalah bernilai hampir sempurna. Karena aku suka semua karakter di novel ini, kecuali Denise dan Kemal. I don’t know kenapa aku nggak suka sama mereka. Mungkin nggak terlalu kenal, karena penulis cuma memuat si Denise dan Kemal saat Ruly mulai memuja-muja Denise, atau Keara yang tersakiti saat melihat Ruly yang cinta mati sama Denise, dan atau saat si Harris mulai menyuarakan suara hatinya saat dia mulai nggak tahan melihat Keara terluka saat melihat Ruly yang nggak bisa berpaling dari Denise.
Novel ini bak ajang pemilihan cowok terbaik untuk dinobatkan sebagai cowok paling cocok dijadikan suami. Kenapa? Karena semua karakter cowoknya keren gila, kecuali si Kemal.
Mulai dari Harris Risjad yang aslinya PK (Penjahat Kelamin) bisa begitu takluk sama Keara. Sampa-sampai dia mau mengorbankan apapun hanya untuk Keara. Perlakuan si Risjad ini emang cool banget. Kalau aku jadi Keara, mungkin aku akan jadi cewek beruntung yang punya temen kayak dia. I wish, meski aku juga punya dua sahabat cowok yang emang nggak se-cool Risjad, tapi cukuplah. Mereka bisa diandalkan.
Ruly Walantaga, cowok soleh, nggak minum, baik buanget, hobi main bola, dan cowok yang dicintai Keara sampai mati. Ruly ini emang cowok idaman semua perempuan. Tapi, siapa coba yang bisa hidup sama cowok yang tetep cinta mati sama cewek yang dia taksir habis-habisan meski cewek itu udah merrid sama orang lain, meski dia sudah sama cewek lain? Kalau aku sih pilih melarikan diri jauh-jauh dari Ruly, karena cowok kayak dia sulit diharapkan buat mencintai kita sepenuhnya. Ya, kan?
Dan, si Panji Wardhana, salah satu PK juga, yang ternyata jadi insaf gara-gara jatuh cinta sama Keara. Ya ampun, bayangin deh jalan sama cowok sekeren, sekaya, se-so sweet si Panji ini. Aduh, pastinya nggak bakalan nahan, deh. Nggak janji buat nggak khilaf.
Sekarang tentang Dinda, sahabat baik Keara di luar kantor. Dinda ini adalah cewek bitch yang beruntungnya minta ampun karena menikah dengan Panca Wardhana yang setia, kaya dan cinta sama dia.
Aku suka cara cewek ini saat menjadi bagian peramai suasana. Caranya ngeledek Keara, caranya mencari tahu seberapa jauh hubungannya dengan si adik iparnya (Panji, maksudnya), cara dia membuat Keara menyadari hal-hal tertentu dalam hidupnya, dan cara Dinda mencoba memancing Keara untuk memahami isi hatinya sendiri, itu beneran asik banget. Dinda itu tipe temen nyenengin meski kadang jadi salah satu bagian yang membuat kita ikut terseret ke neraka bersamanya.
Terakhir si Keara, si cewek yang sebelas dua belas sama Dinda, si tokoh utama. Dia emang cewek bitch, yang hidupnya glammor, yang punya hidup cukup bebas seperti para wanita di luar negeri, yang nggak masalah berhubungan sama cowok yang adalah pacarnya atau bahkan bukan pacarnya dengan keintiman di atas rata-rata. Tapi, ingat sisi lain Keara. Dia juga punya cinta yang nggak dia kasih buat sembarangan cowok. Buktinya, dia bisa cinta mati sama Ruly.
“Yang gue suka dari Keara adalah perempuan satu ini sangat unpredictable. Gue selalu bilang dia itu versi perempuannya Harris. Sama sintingnya.” – Ruly Walantaga – hlm. 144

Yang bikin rasa novel ini sukses mempengaruhiku, mungkin karena pemilihan sudut pandangnya, POV 1 yang nggak cuma dari Keara, tapi dari Harris, Ruly, bahkan ada part dari panji juga.
Cara berceritanya berhasil menunjukkan karakter masing-masing. Jelas nggak semua penulis bisa sukses membawakan POV 1 dari empat tokoh yang berbeda dalam satu buku. Keren banget!
Dan tema besar dari novel ini, “cinta bertepuk sebelah tangan, yang saling silang, yang sama-sama mencari jawaban” emang terkesan biasa, ya? Tapi, Antologi Rasa mengemasnya sangat menarik. Dengan dunia kerja sebagai bankir, aku jadi tahu, nggak enaknya kerja di bidang ini dan seberapa besar tuntutan profesi yang harus ditanggung. Sampai-sampai si Ruly yang jabatannya cukup tinggi dengan gaji puluhan juta, bisa menyebut dirinya kacung kamret.
Bagian yang aku suka dari novel ini adalah saat Keara menjelaskan kenapa dia suka fotografi, lalu saat Ruly menjelaskan kenapa dia cinta sama sepak bola, tapi kenapa dia nggak pilih jadi pemain sepak bola aja, padahal skill main bolanya jago banget. Dan banyak bagian lain yang nggak kalah keren, kayak waktu Keara yang tidur di perut Harris waktu di lapangan rumput Padang Stage, Singapura, a saat Ruly yang nolongin Keara pas mabuk laut di Bali.
Lalu, ending-nya. Well, ini ending nggak tahu deh masuk ending model sad atau happy. Aku nggak mau cerita kenapa, baca sendiri saja. Tapi, aku suka model ending kayak gini. Emang gantung, tapi model kayak gini malah bikin pembaca kayak aku berimajinasi lebih, meski nggak bisa membuatku puas dengan jawaban yang udah pasti kayak ngitung soal matematika.
Satu lagi makna novel ini buat aku, yaitu dia bikin aku sadar, nggak selamanya cowok playboy itu jadi playboy terus. Mungkin–mungkin, ya? Karena nggak semua cowok playboy sama–bisa cuma hidup dengan satu cewek disaat dia benar-benar jatuh cinta setengah mati sama cewek itu. Contohnya, Harris dan Panji.
“Setiap laki-laki, betapapun brengseknya, betapapun sudah tidak terhitung lagi berapa perempuan yang sudah ditiduri, seperti gue ini, pasti punya perempuan yang dia anggap sebagai gunung Everest-nya. The one he really wants to climb.” – Harris Risjad – hlm. 154
Akhirnya, karena terlalu banyak yang bagus di novel ini, aku dipaksa untuk memberikan nilai 4,7 dari 5 bintang. Kalau aja covernya lebih keren, aku kasih 4,9 deh!

Tulisan ini diikutsertakan dalam Indonesian Romance Reading Challenge 

 

Jejak Langkahku Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos