Showing posts with label Gramedia. Show all posts
Showing posts with label Gramedia. Show all posts

Sunday, February 26, 2017

[Review] JINGGA UNTUK MATAHARI – Esti Kinasih



Penerbit : Gramedia
Genre : Romance, Fiksi
Kategori : Teenlit, Family Drama, Series
Terbit : 2017
Tebal : 448 hlm
ISBN : 978 – 602 – 03 – 3723 – 4
Harga : Rp. 98.000
Setelah bertahun-tahu Ari mencoba mencari keberadaan ibu dan saudara kembarnya. Akhirnya, pencarian itu selesai juga. Sekarang, mereka ada begitu dekat dengannya. Keinginan agar keluarga Ari bisa kembali utuh lagi, tampak sudah di depan mata.
Sayangnya, ternyata selama ini Ari tak tahu apa-apa tentang keadaan keluarganya. Bahkan, apa alasan ibu dan saudara kembarannya tak lagi bersama, dia juga tak tahu menahu.
“...bahwa dalam setiap kebahagiaan sering kali tidak sepenuhnya seperti yang terlihat, dan dalam kesedihan juga sering kali tidak sepenuhnya hanya tentang itu.” – hlm. 123

Ata – saudara kembar Ari – awalnya dia bisa bersikap baik pada Ari. Namun, dendam yang terus berkobar di dadanya tak mampu membuat Ata menyembunyikan kebenciannya pada Ari dan ayahnya.
Kemarahan Ata memuncak saat bertemu sang ayah. Setiap detail luka masa lalu, Ata ceritakan pada Ari. Ari hancur, tentu saja. Apalagi saat Ari tahu, Ata membencinya dan tidak mempercayainya.
 Ini emang kejam, tapi ini realitas. Jadi lo harus terima.” – Raka – hlm. 333
Ata mulai melancarkan penyerangannya. Sebuah taktik yang membuat Ari goyah. Ata benar-benar ingin membalas dendam untuk setiap luka yang dia rasakan selama sembilan tahun itu.

Jingga untuk Matahari – JUM, novel yang sangat ditunggu pembaca Esti Kinasih, khususnya para Pembaca Seri Jingga dan Senja. Sekitar enam tahun lamanya, akhirnya seri ketiga Jingga dan Senja ini lahir juga.
JUM benar-benar fenomenal. Peluncurannya pun super fenomenal. Apalagi Pre Ordernya, aiihh... spektakuler banget. Dalam 1 hari, sold. Dari kehebohannya itu, aku sangat berharap penantian panjang bisa dibayar tuntas, lunas, melegakan. Namun, kenyataan novel ini bakal lahir adiknya lagi, bikin aku menghela napas. Ternyata, Esti Kinasih masih pengin menguji pembacanya.
Aku baca novel seri pertama dan keduanya sudah super lama, saat aku belum kenal blog. Jadi, nggak usah di cari reviewnya, nggak ada. Pada saat itu, saat aku baca seri pertama dan kedua, usia masih belasan. Jadi, ceritanya beneran bikin baper, apalagi sikap Ari ke Tari yang super preman, tapi kadang bisa sweet banget.
Nah, saat ketemu novel seri ketiganya... erg... boleh jujur? Biarkan aku jujur, ya? Mohon aku jangan ditimpuk pake apapun, mohon jangan merasa aku ingin menjatuhkan novel ini, dsb. Ini asli isi hatiku yang terdalam. Terpakasa, dari awal aku harus bilang, aku kecewa dengan novel ini.
Pertama, gaya bahasa penulis nggak seenak dulu, nggak semantap saat aku baca novel Dia Tanpa Aku, Jingga dan Senja, juga Jingga dalam Elegi. Rasanya, terlalu belibet. Bikin pembaca harus mikir maksud penulis.
Kedua, tentang reaksi berlebihan anak-anak yang satu sekolah sama Ata.
Sejak Ata di Malang, reaksi cewek-cewek di sekitar Ata itu super nggak banget. Ata itu anak ABG yang ganteng, aku tahu itu. Cuma, seganteng-gantengnya cowok, kayaknya nggak sedramatis itu deh efeknya.
Kecuali, Ata itu anak SMA yang tiba-tiba jadi artis gara-gara challenge pencarian bakat. Lalu, dia balik ke sekolah lagi. Silahkan deh bikin reaksi kayak begitu.
Yang makin nggak banget itu, saat Ata masuk ke sekolah Ari. Reaksi mereka super heboh, dan itu nggak rasional. Masak, sampai bikin kegaduhan super ngeganggu? Kalau sekedar deketin nggak masalah, lah. Dan, yang berani begitu, juga nggak anak satu sekolah gitu. Paling berapa cewek aja, biar kelihatan normal.
Oke, mungkin karena Ata itu 99% mirip Ari, dan Ari adalah pentolan sekolah. Cuma, mari kita pikirkan, seberapa aneh sih kita ngelihat anak kembar? Udah biasa, kan? Paling cuma, wah ada anak kembar! Udah. Nggak sampai sebegitu excited-nya sampai bikin aku...erg... Ata itu masih manusia...woooeee..bukan dewa yang jatuh ke bumi, bukan anggota Suju juga, jadi...please...reaksinya nggak usah kayak apaan aja.
Kalau mau penasaran, nah...itu normal. Nanya-nanyain Tari tentang Ari-Ata itu juga juga biasa. Tapi, kalau udah mulai lebay, aku angkat tangan ke kamera deh.
Konflik keluarga Ari-Ata udah kayak benang kusut yang sulit banget diurai. Teka-tekinya di setiap bagian memang bikin penasaran, tapi makin ke belakang malah bikin bosen. Aku kangen tulisan Mbak Esti yang enak, ringan, meski ceritanya punya konflik berat. 
Selain itu, reaksi shock Tari juga terlalu banget. Setelah mendengar cerita Ari yang sangat menyedihkan, Tari langsung lemas. Oke, sekali lagi aku katakan, cerita Ari menyedihkan, cuma kayaknya nggak sampai bikin Tari mau pingsan gitu. Bolehlah nangis, dan itu memang reaksi yang harus terjadi mengingat seperti apa karakter Tari.
Di halaman 286, aku merasa sangat terganggu sama cara Ari memanggil supir taksi dengan sebutan ‘oom’. Kayaknya lebih enak kalau manggilnya pakai ‘pak’ aja deh. Biasanya aku sih begitu. Nggak tahu kalo orang Jakarta gimana. Apakah sama seperti cara Ari atau cara aku yang bukan orang Jakarta?
Trus mobil Everest yang dulu sering dipake Ari buat nyamar sebagai Ata di depan Tari itu, sebenarnya punyanya Ari atau Raka, sih? Seingat aku kok punyanya Ari, ya. Tapi, di novel ketiga ini kok punyanya Raka. Atau aku aja yang lupa saking lamanya novel kedua aku baca.
Yang seru dari novel seri ini adalah interaksi Ari-Tari. Sayang banget, cuma dikit sekali. Nah, mulai dari adegan Ari curhat ke Tari tentang semua masalahnya, cerita mulai asyik. Bisa jadi, karena konfliknya udah mulai pindah fokus. Nggak lagi ngubek-ubek masalah keluarga Ari-Ata. Si Tari nggak sekedar hadir sebagai tempelan seperti di awal, dia mulai punya fungsi. Dan kisahnya mulai seru.
Sayangnya, pas seru-serunya, malah udah sampai ending. Pinter banget deh, Mbak Esti ngegantungin pembacanya.
Satu sanjungan lagi buat penulisnya, tebakan aku meleset, penulis nggak bikin konflik cinta segitiga antara Tari, Ari dan Ata. Lega.
Meski udah merasakan keseruan meski seiprit, aku tetap ngasih novel ini bintang 1 dari 5 bintang. Moga-moga seri berikutnya bisa membuat aku puas.


Tuesday, January 17, 2017

[Review] DUA CINTA NEGERI SAKURA – Irene Dyah

Penerbit : Gramedia
Genre : Romance, Fiksi
Kategori : Adult, Metropop, Islam
Terbit : 2015
Tebal : 186 halaman
ISBN : 978 – 602 – 03 – 1269 – 9
Harga : Rp. 49.500

Miyu Hasegawa, gadis Jepang yang mencintai Solo dan Tari. Dia lebih mirip Gadis Jawa dari pada orang Jepang.
Sifat Miyu yang lemah lembut harus diterpa sebuah perkara yang tampak bisa merobohkannya. Dia mencintai pria yang sudah memiliki istri, Scott, fotografer yang lebih sering meletakan kameranya dan lebih senang melihat Miyu menari langsung tanpa terhalang lensa.
Kenyataan bahwa Scott ternyata sahabat Aliyah, membuat Miyu susah payah menyembunyikan perasaannya kepada kedua sahabatnya – Aliyah dan Ajeng. Dia tidak ingin masalah perasaan akan merepotkan mereka berdua.
Terkadang, cinta bisa berjalan tanpa logika. Dan, apakah Miyu tetap mampu menjaga hatinya, atau dia mengalah dan menyambut uluran tangan Scott?
“Walaupun atas nama cinta. Aku tidak pernah merasa berhak bahagia di atas kesedihan orang lain. Sekali lagi, itu culas.” – Miyu – hlm. 146
Dua Cinta Negeri Sakura, ini sekuel dari Novel Tiga Cara Mencinta.
Aku membaca Novel Tiga Cara Mencinta di tahun 2014, di dalam bus menuju Surabaya. Saat itu, aku langsung menyukai cara bercerita Iren Dyah. Apalagi, di dalam ceritanya, dia menyisipkan banyak sekali hal yang membangun jiwa pembaca, seperti tentang Islam, tentang cinta, dan persahabatan. Dan, di seri kedua ini, aku masih bisa menemukan ilmu-ilmu yang sama.
Kalau di Tiga Cara Mencinta, fokusnya lebih ke Aliyah. Kali ini, fokusnya ke Miyu. Di novel pertama, aku sudah tahu konflik Miyu. Memang, saat itu konflik Miyu masih sangat mengambang. Dan, di sinilah Penulis mencoba menceritakan lebih detail.
Dari Miyu, aku belajar tentang cinta yang dewasa. Seperti apapun kita mencintai, tetap saja kita tidak boleh egois. Mau semasuk akal apapun alasan kita untuk mencinta dia – yang tidak lagi bisa kita cintai, tetap saja kita tidak boleh egois.
Mungkin, jika yang menjalani konflik ini adalah Ajeng, dia tidak akan peduli tentang egoisme. Eh, iya... Ajeng ‘kan nggak akan menikah dan nggak akan mau mencintai pria mana pun. Kalau kamu sudah baca Novel Tiga Cara Mencinta, kamu akan tahu seperti apa gilanya Ajeng. Dan, seperti apa konflik yang terjadi dengan rumah tangga Aliyah – dulu.
Terkadang, dalam konflik cinta segitiga, dimana yang pria sudah punya pasangan, kita akan dengan mudah menyalahkan pihak perempuan – yang dianggap sebagai penyebab rusaknya sebuah hubungan. Nah, di sini kita akan disadarkan, bahwa tidak semua perempuan yang menjadi perusak sebuah hubungan adalah pihak yang salah. Bisa jadi, dia juga korban, sama seperti Miyu.
Lagi-lagi Penulis berdakwah di dalam novelnya. Cara dakwahnya benar-benar begitu soft, sampai-sampai pembaca tidak akan merasa digurui, tapi perlahan pembaca akan mentelaah sendiri kebenaran dari ilmu tersebut.
Seperti tentang kejadian Ajeng yang pantatnya ditepuk seorang pria saat jalan-jalan di Jepang. Ini adalah gambaran manfaat berhijab. Seperti permen yang dibungkus plastik, maka permen itu akan lebih terjaga isinya dari pada permen yang dibiarkan terbuka.
Konflik Aliyah yang bingung memutuskan keluar dari tempatnya kerja dan menjadi ibu rumah tangga saja, ini juga menyadarkan kita bahwa hanya menjadi ibu rumah tangga itu adalah pekerjaan yang super mulia.
Di novel ini aku penasaran sama Thariq, kakak laki-laki Asyila – guru mengaji Aliyah. Cowok ini digambarkan Aliyah sebagai cowok yang ganteng, tapi dingin. Cuma, kalau sudah kenal Thariq ini menyenangkan. Duh, moga-moga di seri ketiga dia lebih banyak punya peran. Kalau Thariq ini sama Ajeng, seru kali ya.
Seri ketiga nanti fokusnya ke Ajeng. Setting pindah ke Bangkok. Sayang, saat ini belum punya bukunya. Ada yang mau beliin? Nggak usah deh, ntar ngrepotin.
Balik ke cerita. Untuk endingnya, gantung. Yah, maklum, masih ada novel sekuelnya.
Rating 2,8 dari 5 bintang.


Monday, October 31, 2016

[Review] CINTA PAKET HEMAT – Retni SB



Penerbit : Gramedia
Genre : Romance, Fiksi
Kategori : Adult, Metropop
Terbit : September 2013 (Cetakan Kedua)
Tebal : 280 hlm
ISBN : 978 – 979 – 22 – 9835 – 2
Harga : Rp. 50.000
Dunia Pipit berubah. Dia kehilangan kakak sekaligus kakak iparnya karena bencana Yogya. Pipit harus menerima takdir untuk menjadi orang tua dari keponakannya, Lio – anak dari kakaknya. Dan, Pipit juga harus berusaha berdamai dengan musuh adu mulutnya, Aries.
“...Berdamai. menganggap semua musibah ini sebagai berkah. Sebab hanya orangorang kuat saja yang diberi kepercayaan untuk menghadapi cobaan. Begitulah inti dari pemandangan menakjubkan yang aku lihat.” – Pipit – hlm. 133

Jujur, hidup Pipit memang jungkir balik, sebab terbesarnya karena Lio. Namun, Pipit ikhlas. Dia berusaha menjadi ibu yang baik untuk Lio. Tapi, kenapa begitu sulit? Keadaannya semakin sulit karena kehadiran Aries. Dia harus berdamai dengan musuh bebuyutannya demi Lio. Karena hanya Aries yang bisa mendampinginya menghadapi Lio.
Perlahan, perasaan benci itu berubah jadi sesuatu. Pipit semakin bingung dengan situasinya. Kehadiran Amy semakin menegaskan perasaan Pipit untuk Aries. Tapi, tidak mudah untuk mengakui rasa itu.
Bagaimana Pipit mengadapi segala problem di hidupnya? Dia wajib tetap tegar. Dia harus bisa. Tapi, Pipit hanya manusia biasa.

Cinta Paket Hemat, entah karya keberapa dari Retni SB yang aku baca. Sepertinya, karya mbak satu ini selalu bisa membangkitkan gairah membacaku lagi.
Beberapa hari ini aku seperti kehabisan bacaan, padahal di rak buku masih banyak buku yang masih dianggurin. Namun, rasanya seperti nggak yakin untuk membukanya, takut nggak pas. Untung, novel ini benar-benar renyah, punya konflik umum namun bisa dibawakan dengan sangat baik, alurnya pun cukup cepat dengan narasi dan pilihan diksi enak dicerna.
Waktu baca judulnya, aku pikir tokoh utamanya itu janda anak satu. Ternyata diluar dugaan. Pipit bukan janda, dia seorang tante yang harus menerima tanggung jawab membesarkan dan merawat keponakannya yang ditinggal orang tuanya pergi untuk selamanya karena gempa Yogyakarta.
Lio – keponakan Pipit ini bukan anak biasa, dia pengidap autisme infantil. Jadi, bisa dipahami kalau Pipit jadi kelabakan nggak karuan.
Pipit masih muda, banyak impian yang ingin dia capai. Cewek dengan karakter super ramai ini bisa berubah jadi nggak karu-karuan. Bahkan, keadaan batiniyahnya ini mempengaruhi dunia kerjanya, dunia persahabatannya, sampai dunia cintanya.
Pipit juga punya karakter labil, mudah menyimpulkan segala hal, dan suasana hati gampang berubah karena hal-hal kecil. Pipit sangat manusiawi. Dibanyaknya kelemahan yang dia punya, Pipit juga punya banyak nilai positif. Dia bisa ikhlas menerima tanggung jawab sebagai orang tua pengganti untuk keponakannya, itu salah satunya. Tidak semua orang bisa begini kan?
Di sini aku belajar bahwa keterpurukan yang tak bisa ditanggulangi itu bisa jadi boom atom yang menghancurkan semua, seperti yang terjadi pada Pipit.
Aries, cowok selengean yang lebih sering jadi musuh adu mulut Pipit malah menjadi patner terbaiknya untuk mengurus Lio. Cowok ini penggambarannya memang amburadul, namanya juga reporter. Tapi, sikap Aries beneran bikin suka. Aries yang tenang dan bisa menguasai keadaan benar-benar tipe suami idaman.
Mereka yang bukan pasangan dipaksa kompak seperti suami istri demi kepunakan mereka, Lio. Oh, iya. Aries ini adik dari kakak ipar Pipit. Jadi, Lio ini juga keponakan Aries, sama seperti posisi Pipit.
Sepertinya, Retni SB ini hobi traveling deh. Travelingnya nggak nanggung-nanggung. Tempat yang jadi setting petualangan beneran serem-serem sedap. Kayak di Novel His Wedding Organizer, dia mengajak pembaca ke Hutan Belantara. Di novel Mencarimu ke pulau apalah itu, pakai nyelam pula. Bikin pernyataan cinta yang sweet di dasar laut. Sekarang, di Novel Cinta Paket Hemat kita diajakin ke Yogyakarta, tepatnya ke Gunung Kidul untuk mengeksekusi gua yang ekstrim.
Nah, saat di dalam gua itu, Pipit seperti menemukan berbagai pencerahan demi pencerahan dari semua masalahnya. Memang itu maksud Aries memaksa Pipit untuk ikut serta masuk gua bersama dia dan beberapa teman lainnya.
Kemunculan Amy bisa dengan mudah dekat dengan Lio, membuat Pipit jadi iri. Perlahan, kehadiran Amy membuat sebuah konflik yang membuka jalan keluar. Lalu, Pak Sabta, dia juga jadi pembuat konflik, sekaligus cara menyelesaikan masalah.
Meskipun, hubungan Pak Sabta dan Pipit ini kayak gimmik aja gitu. Cerita terlalu singkat, tiba-tiba, hanya untuk membuka jalan menuju penyelesaian masalah.
Oh iya, Pipit Astuti lebih pas untuk nama orang jawa dari pada nama orang Kalimantan. Apalagi, semua keluarga Pipit tidak ada yang keturunan Jawa sama sekali  itu seingatku.
Aku suka saat di akhir bab, Aries muncul dengan membawa cerita dari sudut pandangnya. Meski sedikit, namun isi hati Aries benar-benar selalu aku tunggu.
Endingnya cukup manis, boleh deh. Ratingnya, 3,2 dari 5 bintang.

Monday, August 8, 2016

[Review] LOVE, LETTER AND LEUSER karya Nonier



Penerbit : Gramedia
Genre : Romance, Fiksi
Kategori : Young Adult, Amore
Terbit : 2015
Tebal : 264 hlm
ISBN : 978 – 601 – 03 – 2057 – 1
Harga : Rp. 54.000

Setia, sebenarnya seperti apa setia itu?
Radit tidak bisa membohongi dirinya sendiri saat hatinya bergejolak ketika bertemu Laras. Dia tahu, ini tidak pantas. Radit sudah bersama Linda. Dan, dia tidak ingin mendua, seperti apa yang dilakukan ayahnya dulu.
Untuk Laras, cinta bukanlah hal yang dia pikirkan. Saat ini, dia butuh pekerjaan agar bisa membiayai kebutuhan keluarganya. Apa yang menimpanya saat ini adalah pukulan besar untuknya. Ayah Laras bunuh diri, semua harta keluarga Laras sudah habis untuk menanggung hutang ayahnya. Sekarang, hanya Laras yang menjadi andalan keluarganya.
Pertemuan Laras dengan Radit menimbulkan sesuatu yang lain di hatinya. Tapi Laras sadar, tak ada kesempatan untuknya karena dia tahu Radit sudah memiliki kekasih.
Namun, siapa sangka, Gunung Leuser mempertemukan dua orang yang sama-sama ingin menghindari rasa itu. Lalu, muncul orang-orang yang menguji hati mereka. Zay dan Denny yang terang-terangan mengejar cinta Laras.
Zay cukup memenuhi kriteria seorang laki-laki yang di cari Laras. Perlahan, Laras membuka hatinya, berharap dia berhasil menghapus Radit.
Jadi, siapa yang akhirnya bersama Laras? Mampukah Radit mempertahankan kesetiaannya?
Love, Letter and Leuser, novel ketiga kalau tidak keempat dari Nonier yang aku baca. Novel-novel Nonier yang dulu selalu bisa menghanyutkan, dan saat membaca Sempurna, jujur aku dibuat jatuh cinta dengan Awang. Aku juga suka dengan setting tempat yang dipilih sang penulis. Mungkin, karena beberapa tempat yang dipilihnya cukup aku kenal, seperti setting Blora di novel Sempurna.
Mendengar Nonier melahirkan karyanya lagi, aku cukup senang. Sudah sejak lama tidak bersua dengannya lagi. Jadi, aku cukup excited saat bertemu novel ini. Berharap bisa menemukan citarasa yang sering aku kangenin.
Novel ini punya alur yang enak untuk diikuti, cara bercerita Nonier pun masih selalu bikin nyaman. Narasinya tidak membuat jenuh, dan aku suka setting tempatnya Taman Nasional Gunung Leuser. Namun, aku merasa karakter di novel ini kurang kuat, terutama pada tokoh utamanya, Laras dan Radit. Malah, aku merasa karakter Zay dan Denny-lah yang lebih kuat.
Untuk konflik di awal, aku sudah berharap akan bertemu keseruan. Sayang sekali, cerita masih terasa datar. Aku rasa, cerita kurang ada gencatan senjata dan boom atom yang mengajak pembaca bertemu klimaks.
Menurutku, kehadiran Denny yang pantang menyerah mengejar Laras, juga adegan pertengkaran Dini dan Denny yang memberi warna di novel ini. Aku suka dengan cara Zay mengejar Laras.
Sebenarnya, secara logika aku bisa menerima sikap Radit. Harusnya, aku menghargai cowok seperti ini. Dia tahu posisi, saat itu dia adalah kekasih Linda, dan dia bertahan untuk tetap setia meskipun dia tahu, hatinya mulai terisi oleh Laras. Tapi, sikap cool Radit malah nggak ada tantangannya.
Laras juga, dia memang tegas pada Denny. Tapi, kenapa dia nggak bisa bersikap sama pada Zay? Aku sedikit kecewa dengan cara Laras akhirnya menerima Radit *ups…spoiler*. Kenapa karena sesuatu itu berhasil dikembalikan Radit, Laras bisa dengan mudah menyerah. Kesannya, yang sebelumnya dilakukan Laras hanya sekedar mempersulit keadaan saja.
Tentang Linda dan Radit, harusnya ada konflik yang memacu adrenalin di antara mereka. Tapi, konflik mereka juga tak banyak membantu. Konflik itu punya penyelesaian yang sekedarnya saja. Oh iya, untuk Ardan dan Linda, konfliknya juga sekedar diselesaikan, yang penting sudah ada jawabannya – kesannya seperti itu.
Walaupun banyak yang aku kritik, namun aku cukup menikmatinya. Apalagi saat Laras dan kawan-kawannya bertualang di TN Gunung Leuser. Aku jadi tahu tempat penelitian di sana seperti apa. Sepertinya seru sehari atau dua hari di sana. Tapi, kalau enam bulan, kayaknya enggak deh.
Untuk rating 2,5 dari 5 bintang.


Sunday, July 31, 2016

[Review] PENGANTIN PENGGANTI – Astrid Zeng




Penerbit : Gramedia
Genre : Amore, Fiksi, Romance
Kategori : Adult, Perjodohan
Terbit : Maret 2016 (Cetakan Kedua)
Tebal : 264 hlm
ISBN : 978 – 602 – 03 – 2583 – 5
Harga : Rp. 63.000

“Aku sudah melakukan hal gila. Setuju menikahi laki-laki yang baru beberapa menit aku temui dan sekarang kamu mengatakan bahwa untuk acara pernikahan, aku hanya perlu datang tanpa mempersiapkan apa pun.” – Beatrice – hlm. 29

Nico hampir menikahi tunangannya, Benita. Namun, beberapa bulan sebelum pernikahan itu, Benita memutuskan membatalkan pernikahan dan memilih melanjutkan sekolahnya di luar negeri.
Nico tidak ingin keluarganya malu, maka dia menyetujui perjodohannya. Namun, ini hanya cara yang digunakan Nico sekedar untuk mengulur waktu sampai kekasihnya kembali, dan dia akan menikahinya seperti rencananya semula.
“Aku berencana menunggu tunanganku pulang sekaligus menutupi rasa malu orang tuaku. Kamu berencana menunggu beberapa tahun lagi untuk mencari laki-laki yang tepat sambil berharap orangtuamu tidak menganggumu dengan segala upaya mengenalkanmu pada laki-laki yang mereka anggap pantas.” – Nico – hlm. 28

Beatrice, menganggap ide keluarganya untuk menjodohkan dia, adalah hal konyol. Namun, saat mendengar kata-kata Nico – pria yang dijodohkan dengannya – membuat Beatrice berubah pikiran.
Selama ini, keluarganya sangat protektif. Beatrice dan kedua adiknya tidak bisa bergerak dengan leluasa. Beatrice berharap, saat dia sudah menikah, dia akan terbebas dari penjara keluarganya.
Hanya satu tahun, Nico dan Beatrice melakukan perjanjian untuk menjadi suami istri hanya satu tahun, sampai kekasih Nico kembali. Namun, kedekatan mereka yang dibangun perlahan, benarkah hanya sekedar sandiwara? Perasaan tak pernah bisa diatur. Akan ada kejutan besar dalam hubungan mereka, kita semua pasti tahu itu sejak awal bukan?
“Ia  terlanjur membiarkan perasaannya larut sebagai istri. Meski baru sebulan mereka bersama, Nico sangat jelas mencintai Benita. Beatrice dengan bodohnya mengijinkan perasaan sukanya kepada Nico tumbuh dan berkembang. Membiarkan hatinya berharap sesuatu dapat berubah satu tahun ke depan.” – hlm. 141



Pengantin Pengganti, punya tema yang klise – perjodohan. Namun, ceritanya sangat krispi, kriuk-kriuk kayak kripik tempe. Ini berkat karakter Beatrice yang nggak bisa diam, ada saja ulahnya. Dan, saat menikah pun, karakternya tidak berubah banyak.  
Kalau Beatrice itu banyak tingkah, Nico lebih kalem, irit omong, namun terkesan dingin. Jujur, aku tidak terlalu jatuh hati pada sosok Nico. Penggambaran kerennya kurang, padahal penulis mengatakan Nico itu tipe cowok yang membuat mata cewek meliriknya.
Berdasarkan cerita, Nico ini juga minim ekspresi. Kadang, aku malah suka sama cowok kayak begini. Tapi, karena penulis kurang bisa membuat Nico terbayang diimajinasiku, jadi kurang berkesan, deh.
Yang bikin aku suka sama novel ini adalah, ada saja hal yang seru diantara Beatrice dan Nico. Sampai-sampai aku penasaran, akan ada hal apa lagi di antara mereka, ya?
Namun, jika dicermati, novel ini punya beberapa kekurangan, seperti kurangnya penggambaran cerita dari sudut pandang Nico. Hampir semuanya diceritakan dari sudut pandang Beatrice.
Lalu, saat pertemuan Nico dan Benita, penulis tidak menampilkan adegan Nico dan Benita yang sedang makan siang, atau interaksi lainnya. Mungkin, penulis ingin memunculkan rasa penasaran pembaca, masih adakah hubungan antara mereka berdua? Rasa yang sama seperti yang dirasakan Beatrice. Kalau seperti ini, kenapa nggak pakai sudut pandang Beatrice aja. Jangan pakai sudut pandang orang kedua.
Untuk bagian pembuka, bagian ini juga kurang menarik perhatianku pada pandangan pertama. Untunglah, setelah Nico dan Beatrice menikah, ceritanya berubah jadi menarik.
Aku suka cara bercerita penulis yang terkesan to the point, nggak muter-muter. Bahasanya juga enak. Alurnya cepat, dan makin ke belakang, keseruannya makin meningkat.
Menurutku, aku masih kurang puas sama endingnya. Masih bisa dibuat satu epilog, nih, kayak di novel-novel Astrid Zeng lainnya. Dibuat pesta anniversary Nico dan Beatrice atau ada adegan romantis khas Astrid Zeng seperti biasanya. *Ups, spoiler, ya?* Yang jelas, jangan selesai pas di situ doang. Kurang, mbak…kurang!
Oh iya, biasanya Astrid Zeng membuat cerita novelnya seperti sedikit berbau dongeng, seperti Sleepaholic Jatuh Cinta cocok dengan dongeng Putri Tidur, kalau Suami Sempurna Untuk Tathiana cocok dengan dongeng Tangled Rapunzel, Bella and The Beast cocok dengan dongeng Beauty and The Beast, Cindy and the Playboy Prince cocok dengan Cinderella, Terpikat sang Playboy cocok dengan Putri salju. Kira-kira, ada yang bisa memberitahuku, novel ini cocok dengan dongeng yang mana? Atau khusus novel yang ini, penulis tidak mengaitkan dengan satupun dongeng?
Tunggu sebentar, mungkinkah The Little Mermaid? 
Ingat bukan, si Gadis Mermaid pura-pura hilang ingatan agar bisa tetap dekat dengan sang pangeran. Nah, si Beatrice kan juga pura-pura hilang ingatan agar Nico tidak meninggalkan dia. Pas, kan?
Ratingnya, 3,4 dari 5 bintang. 
Kira-kira, setelah novel ini siapa lagi yang akan muncul? Sepertinya Bibiana. Trus, dengan siapa ya dia diceritakan? Jadi pengin buka novel Bella and The Beast lagi, karena di sana, kan, Bibiana dan Beatrice diceritakan sudah menikah.


Review tambahan :
Saking penasarannya, akhirnya aku buka lagi novel Bella and the Beast. Kutemukan sebuah paragraf yang harus kalian simak di novel tersebut, “Hadi menghela napas terdiam menatap kedua putrinya lekat-lekat. Dia masih ingat saat Beatrice menikah muda dengan seorang pengusaha terkenal, dan Bibiana yang sempat membuat heboh karena menikah mendadak dengan seorang musisi internasional. Keduanya melangsungkan pernikahan setelah melarikan diri darinya…” – Bella and the Beast – hlm. 9 

Di novel itu, Beatrice menikahi seorang pengusaha terkenal, bukan dokter. Padahal, di novel ini, jelas-jelas disebutkan bahwa Nico adalah seorang dokter. Nah, ini penulisnya lupa atau gimana? Duh, bikin janggal cerita saja.
Dari pada bikin kesalahan, mending kemarin bikin nama tokoh lain saja. Atau, kalau mau bikin benang merah dari kisah-kisah sebelumnya, buka lagi buku yang ada hubungannya dengan tokoh yang diceritakan.
Sudahlah, anggap saja, Mbak Astrid Zeng sedang lupa dengan siapa seharusnya Beatrice menikah.

 

Jejak Langkahku Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos