Penerbit : Pastel Books (Mizan)
Genre : Romance, Fiksi
Kategori : Young Adult, Keluarga,
Persahabatan
Terbit : 2016
Tebal : 360 halaman
ISBN : 978 – 602 – 0851 – 56 - 3
Harga : Rp. 79.000
Dilan adalah panglima tempur.
Hidupnya tak sekedar hidup untuk dirinya sendiri. Ada teman-teman yang
menantinya untuk berbagi canda tawa, marah dan terluka.
Dilan adalah pacar Milea Adnan Hussain.
Kehadirannya sangat berarti untuk Milea, sekedar untuk berbagi kalimat romantis
yang membuat tersenyum.
Dilan adalah anak Bunda. Dia
berkwajiban untuk membuat Bunda tersenyum dan tidak khawatir.
“Intinya, jangan datang ke perempuan untuk membuat dia mau, tetapi
datanglah ke perempuan untuk membuat dia senang.” – Dilan – hlm. 127
Hidup Dilan itu berat. Ada saja yang
membuatnya harus berkorban untuk untuk melaksanakan tugasnya menjadi kekasih,
sahabat dan anak. Jadi, jangan salahkan Dilan jika dia kadang kala harus
mengorbankan beberapa hal untuk memenuhi tugasnya yang lain.
Jadi, jangan salahkan Dilan kalau
Milea menangis. Juga, jangan salahkan Dilan kalau Bunda kecewa. Jangan salahkan
Dilan saat teman-temannya harus terluka, atau bahkan pergi untuk selamanya. Itu
bukan salah Dilan, karena Dilan sudah berusaha untuk jadi manusia yang baik untuk
orang-orang di sekitarnya.
“Aku percaya, orang yang paling egois sebenarnya adalah orang
yang paling merasa tidak aman di dunia. Menyembunyikan emosi hanya untuk
terlihat seperti baik-baik saja, padahal sesungguhnya menyimpan berjuta pikiran
di kepalanya dan begitulah aku saat itu.” – Dilan – hlm. 241
Milea : Suara dari Dilan, seri ketiga dari Dilan Series. Jika kita merasakan indahnya
kisah asmara di jaman SMA melalui Dilan : Dia adalah Dilanku Tahun 1990, dan
merasakan patah hati di novel Dilan : Dia adalah Dilanku tahun 1991. Sekarang,
di seri Milea : Suara dari Dilan, kita akan belajar banyak hal tentang persahabatan,
keluarga dan cinta yang lebih terasa lekat.
Pertama membaca Milea : Suara dari
Dilan, kita akan bertemu Dilan saat sekarang. Dia menggambarkan seperti apa
perasaannya saat membaca Dilan seri pertama dan kedua yang dikisahkan oleh
Milea. Oh, aku lupa, di seri ketiga ini giliran Dilan yang cerita.
Kita jadi tahu seperti apa isi kepala
Panglima Tempur saat menghadapi masalah-masalahnya, termasuk seperti apa
perasaan Dilan saat cemburu, jatuh cinta, kecewa dan patah hati.
Ternyata, cowok lebih pandai berpura-pura
dari cewek, lho. Dan, cowok lebih gampang menyerah dari pada cewek. Mungkin nggak
semua cowok, namun ini Dilan. Saat Dilan mendengar Milea jadian dengan Nandan,
dia memilih mundur, bukan mencari tahu seperti apa kebenarannya. Begitu juga
saat Dilan mendengar Milea sering bersama Gunar. Rasanya, Dilan nggak segahar
gelarnya “Panglima Tempur”.
Andaikan Dilan tipe cowok yang
terbuka, mungkin ending-nya akan jadi
bahagia. Mungkin, kalau Dilan tipe cowok yang pantang menyerah, bisa jadi tak
ada yang terluka dan menyesali apa yang terjadi saat ini.
Baiklah, aku tidak ingin menyalahkan
Dilan. Di dalam benak Dilan sudah ada pemikiran tentang bagaimana cara membuat
Milea Bahagia. Ingat kalimat yang pernah diucapkan Dilan pada Milea :
“Jangan pernah bilang ke aku ada yang menyakitimu, Milea.
Nanti, besoknya, orang itu akan hilang!” – Dilan : Dia adalah Dilanku Tahun 1990
Maka, itulah yang harus Dilan
lakukan, menghilang dari hidup Milea. Dilan tak tahu, pilihannya menghilang
dari Milea bukan sesuatu yang membuat Milea bahagia, namun sebaliknya. Sampai
waktu lama membawa mereka laripun, Milea tetap menaruh Dilan di separuh
hatinya.
Novel ini juga menjawab, bisa jadi
malah mengklarifikasi pernyataan atau cerita dari Milea. Seperti penyebab Akew
meninggal, lalu kenapa Dilan ada di kantor polisi. Dilan tidak ditahan – untuk kasus
Akew meninggal. Tapi, Dilan dan kawan-kawannya menemani Burhan yang ditahan polisi.
Juga tentang gadis yang dikira Milea kekasih Dilan yang dia jumpai saat
pemakaman ayah Dilan. Termasuk latar belakang cerita Dilan yang meramal Milea
saat pertama kali kenalan.
Dilan itu teman yang baik. Dilan itu
juga pacar yang baik. Dilan tipe anak yang baik. Dan sebenarnya, Dilan juga
murid yang baik untuk guru-guru yang bisa mengerti dirinya.
Mungkin, guru-guru bisa membaca novel
ini agar tahu bagaimana bersikap pada anak-anak istimewa seperti Dilan dan
kawan-kawannya. Mereka tidak perlu dihukum, tidak perlu diceramahi panjang
lebar. Cukup dimengerti dan sedikit memberi mereka perhatian dengan cara yang
lebih bersahabat. Seperti apapun, anak-anak remaja itu masih punya hati. Jika
mereka merasa diperhatikan, mungkin mereka bisa mengerti kenapa guru-guru tidak
suka dengan ulah nakal mereka.
Mereka berulah, kadang ada alasan
yang perlu kita dengar. Rasa persahabatan mereka teramat tinggi, termasuk rasa
ingin mencoba hal baru yang beberapa termasuk hal menyimpang. Dilan menyukai
Ibu Rini, gurunya, kenapa? Karena Ibu Rini bisa mengerti dirinya.
Keluarga, Dilan bercerita banyak
tentang keluarganya. Aku masih suka Bunda, dan makin suka dengan Bunda – Ibu Dilan.
Dia keren, sangat berbeda. Mungkin, karena Bunda bisa berpikir luas, jadi
caranya bersikap pada anak-anaknya lebih terasa bersahabat. Nanti, kalau aku
punya anak, aku ingin jadi ibu kayak Bunda.
Jika di seri sebelumnya, saat Milea
yang bercerita, Dilan adalah pusat inti yang tak terlepaskan. Dia hampir
memenuhi kisah-kisah Milea. Namun, saat Dilan yang bercerita, Milea bukan
satu-satunya tema novel ini.
Yang aku kurang suka adalah saat Dilan
bilang “Seperti yang sudah Milea ceritakan, dan kalimat sejenisnya”. Dilan
memang tidak ingin mengulang cerita Milea. Namun, seri pertama dan kedua itu
sudah cukup lama aku baca. Jadi, aku akan lebih suka jika Dilan sedikit
menceritakan kembali – sedikit saja – kisah itu padaku, sekedar mengingatkan
saja.
Di novel ini ending sangat tidak
penting, karena mungkin sebagian besar pembaca sudah tahu ending macam apa yang
akan mengakhiri kisah Dilan dan Milea. Jujur, saat menyelesaikan Dilan, Dia
adalah Dilanku tahun 1991 aku masih berharap ada keajaiban. Namun, keajaiban
tidak semudah itu terjadi termasuk pada kisah fiksi.
Tapi, entah kenapa aku merasa novel
ini seperti novel dari kisah nyata. Jika memang ini fiksi, aku sangat
mengacungi jempol pada penulisnya yang membuat aku merasakan kisah nyata dalam
kisah fiksi. Keren.
Terima kasih Pidi Baiq sudah
mengajariku bahwa tidak semua kisah fiksi romance itu bisa happily ever after.
Rating 3,2 dari 5 bintang.



























