Showing posts with label Pidi Baiq. Show all posts
Showing posts with label Pidi Baiq. Show all posts

Sunday, September 18, 2016

[Review] MILEA : SUARA DARI DILAN – Pidi Baiq



Penerbit : Pastel Books (Mizan)
Genre : Romance, Fiksi
Kategori : Young Adult, Keluarga, Persahabatan
Terbit : 2016
Tebal : 360 halaman
ISBN : 978 – 602 – 0851 – 56 - 3
Harga : Rp. 79.000

Dilan adalah panglima tempur. Hidupnya tak sekedar hidup untuk dirinya sendiri. Ada teman-teman yang menantinya untuk berbagi canda tawa, marah dan terluka.
Dilan adalah pacar Milea Adnan Hussain. Kehadirannya sangat berarti untuk Milea, sekedar untuk berbagi kalimat romantis yang membuat tersenyum.
Dilan adalah anak Bunda. Dia berkwajiban untuk membuat Bunda tersenyum dan tidak khawatir.
“Intinya, jangan datang ke perempuan untuk membuat dia mau, tetapi datanglah ke perempuan untuk membuat dia senang.” – Dilan – hlm. 127

Hidup Dilan itu berat. Ada saja yang membuatnya harus berkorban untuk untuk melaksanakan tugasnya menjadi kekasih, sahabat dan anak. Jadi, jangan salahkan Dilan jika dia kadang kala harus mengorbankan beberapa hal untuk memenuhi tugasnya yang lain.
Jadi, jangan salahkan Dilan kalau Milea menangis. Juga, jangan salahkan Dilan kalau Bunda kecewa. Jangan salahkan Dilan saat teman-temannya harus terluka, atau bahkan pergi untuk selamanya. Itu bukan salah Dilan, karena Dilan sudah berusaha untuk jadi manusia yang baik untuk orang-orang di sekitarnya.
“Aku percaya, orang yang paling egois sebenarnya adalah orang yang paling merasa tidak aman di dunia. Menyembunyikan emosi hanya untuk terlihat seperti baik-baik saja, padahal sesungguhnya menyimpan berjuta pikiran di kepalanya dan begitulah aku saat itu.” – Dilan – hlm. 241

Milea : Suara dari Dilan, seri ketiga dari Dilan Series. Jika kita merasakan indahnya kisah asmara di jaman SMA melalui Dilan : Dia adalah Dilanku Tahun 1990, dan merasakan patah hati di novel Dilan : Dia adalah Dilanku tahun 1991. Sekarang, di seri Milea : Suara dari Dilan, kita akan belajar banyak hal tentang persahabatan, keluarga dan cinta yang lebih terasa lekat.
Pertama membaca Milea : Suara dari Dilan, kita akan bertemu Dilan saat sekarang. Dia menggambarkan seperti apa perasaannya saat membaca Dilan seri pertama dan kedua yang dikisahkan oleh Milea. Oh, aku lupa, di seri ketiga ini giliran Dilan yang cerita.
Kita jadi tahu seperti apa isi kepala Panglima Tempur saat menghadapi masalah-masalahnya, termasuk seperti apa perasaan Dilan saat cemburu, jatuh cinta, kecewa dan patah hati.
Ternyata, cowok lebih pandai berpura-pura dari cewek, lho. Dan, cowok lebih gampang menyerah dari pada cewek. Mungkin nggak semua cowok, namun ini Dilan. Saat Dilan mendengar Milea jadian dengan Nandan, dia memilih mundur, bukan mencari tahu seperti apa kebenarannya. Begitu juga saat Dilan mendengar Milea sering bersama Gunar. Rasanya, Dilan nggak segahar gelarnya “Panglima Tempur”.
Andaikan Dilan tipe cowok yang terbuka, mungkin ending-nya akan jadi bahagia. Mungkin, kalau Dilan tipe cowok yang pantang menyerah, bisa jadi tak ada yang terluka dan menyesali apa yang terjadi saat ini.
Baiklah, aku tidak ingin menyalahkan Dilan. Di dalam benak Dilan sudah ada pemikiran tentang bagaimana cara membuat Milea Bahagia. Ingat kalimat yang pernah diucapkan Dilan pada Milea :
Jangan pernah bilang ke aku ada yang menyakitimu, Milea. Nanti, besoknya, orang itu akan hilang!” – Dilan : Dia adalah Dilanku Tahun 1990

Maka, itulah yang harus Dilan lakukan, menghilang dari hidup Milea. Dilan tak tahu, pilihannya menghilang dari Milea bukan sesuatu yang membuat Milea bahagia, namun sebaliknya. Sampai waktu lama membawa mereka laripun, Milea tetap menaruh Dilan di separuh hatinya.
Novel ini juga menjawab, bisa jadi malah mengklarifikasi pernyataan atau cerita dari Milea. Seperti penyebab Akew meninggal, lalu kenapa Dilan ada di kantor polisi. Dilan tidak ditahan – untuk kasus Akew meninggal. Tapi, Dilan dan kawan-kawannya menemani Burhan yang ditahan polisi. Juga tentang gadis yang dikira Milea kekasih Dilan yang dia jumpai saat pemakaman ayah Dilan. Termasuk latar belakang cerita Dilan yang meramal Milea saat pertama kali kenalan.
Dilan itu teman yang baik. Dilan itu juga pacar yang baik. Dilan tipe anak yang baik. Dan sebenarnya, Dilan juga murid yang baik untuk guru-guru yang bisa mengerti dirinya.
Mungkin, guru-guru bisa membaca novel ini agar tahu bagaimana bersikap pada anak-anak istimewa seperti Dilan dan kawan-kawannya. Mereka tidak perlu dihukum, tidak perlu diceramahi panjang lebar. Cukup dimengerti dan sedikit memberi mereka perhatian dengan cara yang lebih bersahabat. Seperti apapun, anak-anak remaja itu masih punya hati. Jika mereka merasa diperhatikan, mungkin mereka bisa mengerti kenapa guru-guru tidak suka dengan ulah nakal mereka.
Mereka berulah, kadang ada alasan yang perlu kita dengar. Rasa persahabatan mereka teramat tinggi, termasuk rasa ingin mencoba hal baru yang beberapa termasuk hal menyimpang. Dilan menyukai Ibu Rini, gurunya, kenapa? Karena Ibu Rini bisa mengerti dirinya.
Keluarga, Dilan bercerita banyak tentang keluarganya. Aku masih suka Bunda, dan makin suka dengan Bunda – Ibu Dilan. Dia keren, sangat berbeda. Mungkin, karena Bunda bisa berpikir luas, jadi caranya bersikap pada anak-anaknya lebih terasa bersahabat. Nanti, kalau aku punya anak, aku ingin jadi ibu kayak Bunda.
Jika di seri sebelumnya, saat Milea yang bercerita, Dilan adalah pusat inti yang tak terlepaskan. Dia hampir memenuhi kisah-kisah Milea. Namun, saat Dilan yang bercerita, Milea bukan satu-satunya tema novel ini.
Yang aku kurang suka adalah saat Dilan bilang “Seperti yang sudah Milea ceritakan, dan kalimat sejenisnya”. Dilan memang tidak ingin mengulang cerita Milea. Namun, seri pertama dan kedua itu sudah cukup lama aku baca. Jadi, aku akan lebih suka jika Dilan sedikit menceritakan kembali – sedikit saja – kisah itu padaku, sekedar mengingatkan saja.
Di novel ini ending sangat tidak penting, karena mungkin sebagian besar pembaca sudah tahu ending macam apa yang akan mengakhiri kisah Dilan dan Milea. Jujur, saat menyelesaikan Dilan, Dia adalah Dilanku tahun 1991 aku masih berharap ada keajaiban. Namun, keajaiban tidak semudah itu terjadi termasuk pada kisah fiksi.
Tapi, entah kenapa aku merasa novel ini seperti novel dari kisah nyata. Jika memang ini fiksi, aku sangat mengacungi jempol pada penulisnya yang membuat aku merasakan kisah nyata dalam kisah fiksi. Keren.
Terima kasih Pidi Baiq sudah mengajariku bahwa tidak semua kisah fiksi romance itu bisa happily ever after.
Rating 3,2 dari 5 bintang.

Friday, October 16, 2015

Resensi – DILAN : DIA ADALAH DILANKU TAHUN 1991



Penulis : Pidi Baiq
Penerbit : Pastel Books (Mizan)
Genre : Romance
Kategori : Young Adult
Terbit : 2015
Tebal : 344 hlm
ISBN : 978 – 602 – 7870 – 99 – 4
Harga : 69.000
Cinta pertama memang tak terlupakan. Meskipun sudah bertahun-tahun lamanya, dia tetap menempati sisi lain hati. Memang kelihatan samar, namun begitu nyata, walaupun hanya untuk pemilik hati saja.
Milea Adnan Hussain, dia kembali mengenang kisah kasihnya bersama Dilan di tahun 1991.
Setelah akhirnya mereka menandatangani surat pernyataan bermaterai di Warung Bi Eem, Milea dan Dilan resmi berpacaran. Dengan perasaan yang masih begitu memuncah, Dilan mengantarkan Milea pulang ke rumahnya dengan status Pacar Milea.
Milea bahagia. Dilan juga begitu. Milea selalu rindu Dilan. Dilan sepertinya juga begitu.
“Aku merasa benar-benar nyaman dengannya dan aku tidak merasa tertekan. Dia hanya menungguku untuk menyerah. Aku telah menemukan seseorang yang aku bisa mencintainya tanpa merasa takut untuk tidak dicintai.” – Milea – hlm. 273

Namun, cinta mereka langsung diuji. Ingat bukan, sebelum mereka jadian, Dilan berkelahi dengan Anhar karena Anhar berani menampar Milea? Setelah itu, Dilan diancam akan dipecat dari sekolah jika berkelahi lagi?
Rasanya, bukan Dilan kalau takut dengan ancama pihak sekolah. Lagi-lagi Dilan dan kelompoknya berencana untuk balas dendam karena beberapa waktu yang lalu, Dilan dikeroyok sampai babak belur.
Milea sebagai pacar Dilan tentu tak ingin pacarnya berkelahi. Apalagi Milea tahu, jika Dilan kena masalah lagi, maka dia akan dipecat dari sekolah. Milea tak ingin Dilan dipecat dari sekolah. Saking cemasnya, Milea mengancam Dilan. Jika Dilan nggak nurut Milea, mereka putus.
“Dengar ya, Lia. Kamu harus tau, senakal-nakalnya gank anak motor, mereka juga shalat pada waktu ujian praktek Agama.” – Dilan – hlm. 19

Dilan masih remaja. Jiwanya yang bebas jelas tak ingin dikekang. Tapi, Dilan sangat mencintai Milea Adnan Hussain. Lalu, harus bagaimana dia harus bersikap? Menuntaskan rasa dendam dan marahnya, menyelematkan igo dan harga dirinya, atau menjadi Dilan yang diinginkan Milea?
“Ah, gak apa-apa gak pacaran sama kamu juga, deh. Asal kamunya tetep ada di bumi. Udah cukup, udah bikin aku seneng.” – Dilan – hlm. 24
 
Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1991 adalah kelanjutan dari Novel Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1990.
Jika novel pertamanya berkisah tentang Milea dan Dilan yang masih pendekatan. Maka, kelanjutannya berkisah tentang Milea dan Dilan yang sudah pacaran.
Menurutku seru yang novel pertama. Mungkin, saat-saat pendekatan memang selalu lebih seru dari pada saat-saat sudah jadian. Tapi, di novel yang kedua ini, kita akan lebih banyak belajar tentang sebuah hubungan asmara anak remaja, tentang pergaulan, dan juga akibat jika terlalu mengumbar amarah.
Kita juga bisa belajar dari Milea, bahwa menjadi wanita cantik itu banyak cobaanya. Gimana, nggak coba. Ada saja cowok-cowok yang mendekati Milea dengan berbagai cara. Milea mencoba bersikap baik pada mereka. Tapi, kalau disikapi baik mereka malah makin berharap. Namun, kalau Milea sadis pada mereka, nanti dibilang jahat. Serba salah, kan, jadi cewek cantik?
Rasanya, tidak hanya untuk anak remaja saja. Dalam semua hubungan asmara, kita tidak harus menggunakan amarah, tekanan dan ancaman untuk menyelesaikan sebuah masalah. Makanya, ada beberapa tindakan Milea yang aku nggak setuju saat menghadapi Dilan. Dilan itu sudah mendapatkan hukuman dari ayahnya. Rasanya, kalau nambah hukuman dari Milea, kok malah bikin Dilan jadi makin frustasi. Kalau udah frustasi, otak cowok kadang bisa koma, lho. Kalau udah koma, ya tahu sendiri.
Nyatanya, benarkan? Saat Milea menegur keras Dilan, si Dilan malah bukannya nurutin, yang ada dia tetep aja nekat.
Setahu aku, cowok berjiwa ala Dilan ini, kalau dibilangin pake marah-marah, malah nggak dimasukin hati. Tapi, kalau pakai cara baik-baik, mungkin bakal dipikirin – tapi, nggak menjamin juga diturutin. Susah, sih memang.
Menurutku Milea ini terlalu keras menghadapi Dilan. Yah, namanya juga anak SMA kali, ya. Makanya, nggak dewasa dalam menghadapi masalah. Jujur, aku malah kecewa sama Milea. Cowok diusia SMA kan memang begitu. Kayak api berkobar-kobar, kalau disiram bensin yam makin gede.
Novel ini bisa jadi bahan pertimbangan buat para cewek yang punya cowok kayak Dilan, maksudku, yang punya pergaulan riskan, suka bertengkar dan nge-gank. Gank sekarangkan lebih gahar dari pada dulu. Dulu aja udah kayak begitu, sekarang bisa dibayangin sendiri, deh.
Di novel kedua ini, karakter Milea makin terasa, terasa keras dan lumayan posesif. Dia senang bener mengatur-atur Dilan. Oke, memang sih melarang Dilan buat nggak ikut-ikutan gank motor memang punya niat baik. Tapi, nggak perlu sampai ngancam putus, deh. Kebangetan banget sama Dilan. Dilan, kan, udah diam saja setiap kali dimarahin Milea.
Tapi, aku juga suka Milea yang nggak jaim sama Dilan. Dia apa adanya di depan Dilan. Dia akan bilang cinta dengan blak-blakan tanpa malu-malu atau gengsi. Sebenarnya, lebih tepat, aku suka dengan cara mereka pacaran. Pokoknya, mereka berdua itu sebenarnya syik banget.
Dilan memang tipe cowok emosional. Tapi, menurutku emosi Dilan ini cukup terkendali. Dia nggak melakukan penyerangan kalau nggak merasa perlu balas dendam, atau nggak perlu ngamuk. Cuma, kalau sudah mulai menginjak-injak dia, dan nyakitin orang yang dia sayang, Dilan sudah nggak bisa diam lagi. Ini menurutku, sih wajar.
Aku masih suka dengan celetukan Dilan yang ngocol. Aku juga suka puisi-puisi Dilan buat Milea. Memang nggak seromantis puisi Khalil Gibran. Tapi, aku lebih suka novel Dilan dari pada Khalil Gibran. Pokoknya, cowok-cowok harus belajar sama Dilan kalau mau pinter ngerayu cewek.
“Kalau aku jadi presiden yang harus mencintai seluruh rakyatnya, aduh, maaf, aku pasti tidak bisa karena aku cuma suka Milea.” – Dilan – hlm. 30
“PR-ku adalah merindukanmu. Lebih kuat dari Matematika. Lebih luas dari Fisika. Lebih kerasa dari Biologi.” – Dilan – hlm. 30

Di awal novel, alurnya masih asyik, Dilan juga masih selucu dulu. Tapi, mulai ke belakang, suasananya berubah muram benar. Dilan juga nggak selucu dulu, nggak pernah ngocol lagi. Jadi, kangen Dilan yang tahun 1990.
Aku suka interasi keluarga Milea, dan juga keluarga Dilan. Aku suka banget sama Bunda, dan ayah Dilan. Menurutku, mereka ini suami istri yang asyik, deh. Enak kali, ya punya ibu-ayah mertua kayak mereka.
Meskipun aku merasa nggak terima sama ending-nya, aku tetap mengacungi jempol sepuluh – yang enam minjam – buat cara penyelesaian masalahnya.
Hah, rasanya tuh nyesek abis setelah banyak novel ini. Kenapa kisah yang dimulai dengan manis, kok nggak diakhiri dengan manis juga, sih? Kenapa Ayah Pidi? Kenapa kamu jahat? Kenapa!
Sudahlah, sebagai pembaca saya mah cuma bisa nelangsa dikasih ending begitu. Lain kali, jangan lagi ya! Please!
Rating untuk novel ini 3,6 dari 5 bintang.

Friday, June 19, 2015

Resensi – DILAN, DIA ADALAH DILANKU TAHUN 1990



Penulis : Pidi Baiq
Penerbit : DAR ! Mizan
Genre : Romance
Kategori : Young Adult
Terbit : 2014
Tebal : 332 hlm
ISBN : 978 – 602 – 7870 – 41 – 3
Harga : Rp. 59.000
Cinta, meskipun sudah berlalu sekian lama, tetap saja, saat dikenang begitu manis.
Milea, dia kembali ke tahun 1990 untuk menceritakan seorang cowok yang pernah sangat dia cintai, Dilan. Cowok yang mendekatinya bukan dengan seikat bunga atau kata-kata manis untuk menarik peratiannya. Tapi, melalui ramalan.
“Aku ramal, nanti kita bertemu di kantin.” – Dilan – hlm. 20

Sayang sekali, ramalannya salah. Hari itu, Milea tidak ke kantin karena harus membicarakan urusan kelas dengan teman-temannya.
Sebuah trik sederhana tapi bikin senyum dipilih Dilan untuk kembali menarik perhatian Milea. Dia mengirim Piyan untuk menyampaikan suratnya yang berisi :
“Milea, ramalanku, kita akan bertemu di kantin, ternyata salah. Maaf. Tapi aku mau meramal lagi : Besok, kita akan ketemu.” – Dilan – hlm. 22
Tunggu, besok yang dimaksud Dilan itu hari minggu. Nggak mungkin, kan mereka bertemu? Tapi, ternyata kali ini benar. Dilan datang ke rumah Milea untuk menyampaikan surat undangan yang berisi :
Bismillahirrahmanirrahim. Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Dengan ini, dengan penuh perasaan, mengundang Milea Adnan untuk sekolah pada : Hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, dan Sabtu.” – Dilan – hlm. 27

Hal-hal iseng yang sederhana itu nyatanya bisa membuat Milea tersenyum, dan perlahan mulai menaruh perhatiannya pada Dilan. Sampai-sampai, sejenak dia lupa, ada Beni – pacarnya – di Jakarta.
Milea tak ingin kehilangan Dilan. Baginya, Dilan seperti sesuatu yang bisa membuat hari-harinya berwarna. Namun, dia tampak sangat jahat pada Dilan, karena dia mau menerima perhatian Dilan, padahal dia sudah ada yang punya.

Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1990, sebuah novel yang diceritakan seperti seseorang yang mengisahkan masa lalunya pada sahabat.
Novel ini menyajikan romantisme sederhana tapi begitu menyentuh. Dilan, cowok gank motor yang punya otak cerdas untuk menciptakan penemuan baru cara flirting yang nggak biasa. Ulahnya sering kali membuat aku terpingkal-pingkal sambil geleng-geleng kepala, lalu istiqfar. Ya Allah… Si Dilan, gendeng pisan!
Kalau aku jadi Milea, jelaslah aku melintir nggak karu-karuan. Ini aja, aku yang cuma di kasih cerita Milea aja bisa kesengsem sama Dilan, apalagi Milea yang jadi tokohnya.
Dari semua kutipan yang aku sampaikan di atas, ada satu lagi nih yang manis banget. Waktu Milea ulang tahun. Mau tahu apa yang dikasih Dilan untuk Milea? TTS yang depannya ada gambar cewek jepangnnya. Trus di wajah cewek itu dikasih kumis dan jenggot. Di atasnya di kasih balon kata kayak di komik. Yang tulisannya : “Milea, ada titipan ucapan ulang tahun, nih, dari Dilan. Panjang umur katanya, dia sayang.”
Lucunya lagi, TTS itu sudah selesai diisi. Dan ada sebuah kertas yang tulisannya :
“Selamat ulang tahun Milea. Ini hadiah untukmu, cuma TTS. Tapi sudah kuisi semua. Aku sayang kamu. Aku tidak mau kamu pusing karena harus mengisinya. Dilan!” – Dilan – hlm 72

Aduh, mantap, dah! Sekaligus ngakak!
Aku juga suka baca percakapan antara Milea dan Dilan. Memang, lagi-lagi isinya nggak penting, ngawur pula. Cuman, kengawuran dan keabstrakan Dilan itu sesuatu banget! Jadi, kalau ketemu satu halaman pul isinya cuma percakapan mereka berdua, aku kayak ketemu kucing, gemes! Pengin aku uyel-uyel.
Di novel ini banyak sekali tokoh pendampingnya. Serunya, ada ilustrasi para tokoh di halaman depan. Juga ada ilustrasi adegan di beberapa halamannya, bikin novel ini berasa berbeda dari novel roman pada umumnya.
Yang agak menganggu itu beberapa kalimatnya terasa aneh. Kadang malah kayak nggak nyambung. Apa ini karena latar waktunya tahun 1990? Karena pas narasi Milea di saat sekarang, kalimatnya bagus, kok.
Eksekusi dari novel ini nggak bikin bosan. Dari awal sampai akhir pun oke punya. Dan, Dilan… ya ampun, aku pengin ketemu cowok kayak begini, dong! Sekelebat, karakter Dilan agak mirip Ari di Jingga dan Senja karya Esti Kinasih. Tapi, aku lebih suka Dilan, kok. Dilan ini lebut banget sih kalau sama Milea.
Baca novel ini terasa cepet banget. Berasa kuraaaangggg!!!! Pengin banget ada sekuelnya. (Padahal, aku sebel kalau ada novel bersekuel-sekuel). Untuk novel ini, aku malah menantikannya. Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1991. Katanya, ini seri Dilan kedua.
Rating novel ini 4,5 dari 5 bintang. Ntar, di Goodreads bisa jadi 5 bintang nih, biar sempurna.
 

Jejak Langkahku Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos