Showing posts with label Mizan. Show all posts
Showing posts with label Mizan. Show all posts

Sunday, September 18, 2016

[Review] MILEA : SUARA DARI DILAN – Pidi Baiq



Penerbit : Pastel Books (Mizan)
Genre : Romance, Fiksi
Kategori : Young Adult, Keluarga, Persahabatan
Terbit : 2016
Tebal : 360 halaman
ISBN : 978 – 602 – 0851 – 56 - 3
Harga : Rp. 79.000

Dilan adalah panglima tempur. Hidupnya tak sekedar hidup untuk dirinya sendiri. Ada teman-teman yang menantinya untuk berbagi canda tawa, marah dan terluka.
Dilan adalah pacar Milea Adnan Hussain. Kehadirannya sangat berarti untuk Milea, sekedar untuk berbagi kalimat romantis yang membuat tersenyum.
Dilan adalah anak Bunda. Dia berkwajiban untuk membuat Bunda tersenyum dan tidak khawatir.
“Intinya, jangan datang ke perempuan untuk membuat dia mau, tetapi datanglah ke perempuan untuk membuat dia senang.” – Dilan – hlm. 127

Hidup Dilan itu berat. Ada saja yang membuatnya harus berkorban untuk untuk melaksanakan tugasnya menjadi kekasih, sahabat dan anak. Jadi, jangan salahkan Dilan jika dia kadang kala harus mengorbankan beberapa hal untuk memenuhi tugasnya yang lain.
Jadi, jangan salahkan Dilan kalau Milea menangis. Juga, jangan salahkan Dilan kalau Bunda kecewa. Jangan salahkan Dilan saat teman-temannya harus terluka, atau bahkan pergi untuk selamanya. Itu bukan salah Dilan, karena Dilan sudah berusaha untuk jadi manusia yang baik untuk orang-orang di sekitarnya.
“Aku percaya, orang yang paling egois sebenarnya adalah orang yang paling merasa tidak aman di dunia. Menyembunyikan emosi hanya untuk terlihat seperti baik-baik saja, padahal sesungguhnya menyimpan berjuta pikiran di kepalanya dan begitulah aku saat itu.” – Dilan – hlm. 241

Milea : Suara dari Dilan, seri ketiga dari Dilan Series. Jika kita merasakan indahnya kisah asmara di jaman SMA melalui Dilan : Dia adalah Dilanku Tahun 1990, dan merasakan patah hati di novel Dilan : Dia adalah Dilanku tahun 1991. Sekarang, di seri Milea : Suara dari Dilan, kita akan belajar banyak hal tentang persahabatan, keluarga dan cinta yang lebih terasa lekat.
Pertama membaca Milea : Suara dari Dilan, kita akan bertemu Dilan saat sekarang. Dia menggambarkan seperti apa perasaannya saat membaca Dilan seri pertama dan kedua yang dikisahkan oleh Milea. Oh, aku lupa, di seri ketiga ini giliran Dilan yang cerita.
Kita jadi tahu seperti apa isi kepala Panglima Tempur saat menghadapi masalah-masalahnya, termasuk seperti apa perasaan Dilan saat cemburu, jatuh cinta, kecewa dan patah hati.
Ternyata, cowok lebih pandai berpura-pura dari cewek, lho. Dan, cowok lebih gampang menyerah dari pada cewek. Mungkin nggak semua cowok, namun ini Dilan. Saat Dilan mendengar Milea jadian dengan Nandan, dia memilih mundur, bukan mencari tahu seperti apa kebenarannya. Begitu juga saat Dilan mendengar Milea sering bersama Gunar. Rasanya, Dilan nggak segahar gelarnya “Panglima Tempur”.
Andaikan Dilan tipe cowok yang terbuka, mungkin ending-nya akan jadi bahagia. Mungkin, kalau Dilan tipe cowok yang pantang menyerah, bisa jadi tak ada yang terluka dan menyesali apa yang terjadi saat ini.
Baiklah, aku tidak ingin menyalahkan Dilan. Di dalam benak Dilan sudah ada pemikiran tentang bagaimana cara membuat Milea Bahagia. Ingat kalimat yang pernah diucapkan Dilan pada Milea :
“Jangan pernah bilang ke aku ada yang menyakitimu, Milea. Nanti, besoknya, orang itu akan hilang!” – Dilan : Dia adalah Dilanku Tahun 1990

Maka, itulah yang harus Dilan lakukan, menghilang dari hidup Milea. Dilan tak tahu, pilihannya menghilang dari Milea bukan sesuatu yang membuat Milea bahagia, namun sebaliknya. Sampai waktu lama membawa mereka laripun, Milea tetap menaruh Dilan di separuh hatinya.
Novel ini juga menjawab, bisa jadi malah mengklarifikasi pernyataan atau cerita dari Milea. Seperti penyebab Akew meninggal, lalu kenapa Dilan ada di kantor polisi. Dilan tidak ditahan – untuk kasus Akew meninggal. Tapi, Dilan dan kawan-kawannya menemani Burhan yang ditahan polisi. Juga tentang gadis yang dikira Milea kekasih Dilan yang dia jumpai saat pemakaman ayah Dilan. Termasuk latar belakang cerita Dilan yang meramal Milea saat pertama kali kenalan.
Dilan itu teman yang baik. Dilan itu juga pacar yang baik. Dilan tipe anak yang baik. Dan sebenarnya, Dilan juga murid yang baik untuk guru-guru yang bisa mengerti dirinya.
Mungkin, guru-guru bisa membaca novel ini agar tahu bagaimana bersikap pada anak-anak istimewa seperti Dilan dan kawan-kawannya. Mereka tidak perlu dihukum, tidak perlu diceramahi panjang lebar. Cukup dimengerti dan sedikit memberi mereka perhatian dengan cara yang lebih bersahabat. Seperti apapun, anak-anak remaja itu masih punya hati. Jika mereka merasa diperhatikan, mungkin mereka bisa mengerti kenapa guru-guru tidak suka dengan ulah nakal mereka.
Mereka berulah, kadang ada alasan yang perlu kita dengar. Rasa persahabatan mereka teramat tinggi, termasuk rasa ingin mencoba hal baru yang beberapa termasuk hal menyimpang. Dilan menyukai Ibu Rini, gurunya, kenapa? Karena Ibu Rini bisa mengerti dirinya.
Keluarga, Dilan bercerita banyak tentang keluarganya. Aku masih suka Bunda, dan makin suka dengan Bunda – Ibu Dilan. Dia keren, sangat berbeda. Mungkin, karena Bunda bisa berpikir luas, jadi caranya bersikap pada anak-anaknya lebih terasa bersahabat. Nanti, kalau aku punya anak, aku ingin jadi ibu kayak Bunda.
Jika di seri sebelumnya, saat Milea yang bercerita, Dilan adalah pusat inti yang tak terlepaskan. Dia hampir memenuhi kisah-kisah Milea. Namun, saat Dilan yang bercerita, Milea bukan satu-satunya tema novel ini.
Yang aku kurang suka adalah saat Dilan bilang “Seperti yang sudah Milea ceritakan, dan kalimat sejenisnya”. Dilan memang tidak ingin mengulang cerita Milea. Namun, seri pertama dan kedua itu sudah cukup lama aku baca. Jadi, aku akan lebih suka jika Dilan sedikit menceritakan kembali – sedikit saja – kisah itu padaku, sekedar mengingatkan saja.
Di novel ini ending sangat tidak penting, karena mungkin sebagian besar pembaca sudah tahu ending macam apa yang akan mengakhiri kisah Dilan dan Milea. Jujur, saat menyelesaikan Dilan, Dia adalah Dilanku tahun 1991 aku masih berharap ada keajaiban. Namun, keajaiban tidak semudah itu terjadi termasuk pada kisah fiksi.
Tapi, entah kenapa aku merasa novel ini seperti novel dari kisah nyata. Jika memang ini fiksi, aku sangat mengacungi jempol pada penulisnya yang membuat aku merasakan kisah nyata dalam kisah fiksi. Keren.
Terima kasih Pidi Baiq sudah mengajariku bahwa tidak semua kisah fiksi romance itu bisa happily ever after.
Rating 3,2 dari 5 bintang.

Friday, October 16, 2015

Resensi – DILAN : DIA ADALAH DILANKU TAHUN 1991



Penulis : Pidi Baiq
Penerbit : Pastel Books (Mizan)
Genre : Romance
Kategori : Young Adult
Terbit : 2015
Tebal : 344 hlm
ISBN : 978 – 602 – 7870 – 99 – 4
Harga : 69.000
Cinta pertama memang tak terlupakan. Meskipun sudah bertahun-tahun lamanya, dia tetap menempati sisi lain hati. Memang kelihatan samar, namun begitu nyata, walaupun hanya untuk pemilik hati saja.
Milea Adnan Hussain, dia kembali mengenang kisah kasihnya bersama Dilan di tahun 1991.
Setelah akhirnya mereka menandatangani surat pernyataan bermaterai di Warung Bi Eem, Milea dan Dilan resmi berpacaran. Dengan perasaan yang masih begitu memuncah, Dilan mengantarkan Milea pulang ke rumahnya dengan status Pacar Milea.
Milea bahagia. Dilan juga begitu. Milea selalu rindu Dilan. Dilan sepertinya juga begitu.
“Aku merasa benar-benar nyaman dengannya dan aku tidak merasa tertekan. Dia hanya menungguku untuk menyerah. Aku telah menemukan seseorang yang aku bisa mencintainya tanpa merasa takut untuk tidak dicintai.” – Milea – hlm. 273

Namun, cinta mereka langsung diuji. Ingat bukan, sebelum mereka jadian, Dilan berkelahi dengan Anhar karena Anhar berani menampar Milea? Setelah itu, Dilan diancam akan dipecat dari sekolah jika berkelahi lagi?
Rasanya, bukan Dilan kalau takut dengan ancama pihak sekolah. Lagi-lagi Dilan dan kelompoknya berencana untuk balas dendam karena beberapa waktu yang lalu, Dilan dikeroyok sampai babak belur.
Milea sebagai pacar Dilan tentu tak ingin pacarnya berkelahi. Apalagi Milea tahu, jika Dilan kena masalah lagi, maka dia akan dipecat dari sekolah. Milea tak ingin Dilan dipecat dari sekolah. Saking cemasnya, Milea mengancam Dilan. Jika Dilan nggak nurut Milea, mereka putus.
“Dengar ya, Lia. Kamu harus tau, senakal-nakalnya gank anak motor, mereka juga shalat pada waktu ujian praktek Agama.” – Dilan – hlm. 19

Dilan masih remaja. Jiwanya yang bebas jelas tak ingin dikekang. Tapi, Dilan sangat mencintai Milea Adnan Hussain. Lalu, harus bagaimana dia harus bersikap? Menuntaskan rasa dendam dan marahnya, menyelematkan igo dan harga dirinya, atau menjadi Dilan yang diinginkan Milea?
“Ah, gak apa-apa gak pacaran sama kamu juga, deh. Asal kamunya tetep ada di bumi. Udah cukup, udah bikin aku seneng.” – Dilan – hlm. 24
 
Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1991 adalah kelanjutan dari Novel Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1990.
Jika novel pertamanya berkisah tentang Milea dan Dilan yang masih pendekatan. Maka, kelanjutannya berkisah tentang Milea dan Dilan yang sudah pacaran.
Menurutku seru yang novel pertama. Mungkin, saat-saat pendekatan memang selalu lebih seru dari pada saat-saat sudah jadian. Tapi, di novel yang kedua ini, kita akan lebih banyak belajar tentang sebuah hubungan asmara anak remaja, tentang pergaulan, dan juga akibat jika terlalu mengumbar amarah.
Kita juga bisa belajar dari Milea, bahwa menjadi wanita cantik itu banyak cobaanya. Gimana, nggak coba. Ada saja cowok-cowok yang mendekati Milea dengan berbagai cara. Milea mencoba bersikap baik pada mereka. Tapi, kalau disikapi baik mereka malah makin berharap. Namun, kalau Milea sadis pada mereka, nanti dibilang jahat. Serba salah, kan, jadi cewek cantik?
Rasanya, tidak hanya untuk anak remaja saja. Dalam semua hubungan asmara, kita tidak harus menggunakan amarah, tekanan dan ancaman untuk menyelesaikan sebuah masalah. Makanya, ada beberapa tindakan Milea yang aku nggak setuju saat menghadapi Dilan. Dilan itu sudah mendapatkan hukuman dari ayahnya. Rasanya, kalau nambah hukuman dari Milea, kok malah bikin Dilan jadi makin frustasi. Kalau udah frustasi, otak cowok kadang bisa koma, lho. Kalau udah koma, ya tahu sendiri.
Nyatanya, benarkan? Saat Milea menegur keras Dilan, si Dilan malah bukannya nurutin, yang ada dia tetep aja nekat.
Setahu aku, cowok berjiwa ala Dilan ini, kalau dibilangin pake marah-marah, malah nggak dimasukin hati. Tapi, kalau pakai cara baik-baik, mungkin bakal dipikirin – tapi, nggak menjamin juga diturutin. Susah, sih memang.
Menurutku Milea ini terlalu keras menghadapi Dilan. Yah, namanya juga anak SMA kali, ya. Makanya, nggak dewasa dalam menghadapi masalah. Jujur, aku malah kecewa sama Milea. Cowok diusia SMA kan memang begitu. Kayak api berkobar-kobar, kalau disiram bensin yam makin gede.
Novel ini bisa jadi bahan pertimbangan buat para cewek yang punya cowok kayak Dilan, maksudku, yang punya pergaulan riskan, suka bertengkar dan nge-gank. Gank sekarangkan lebih gahar dari pada dulu. Dulu aja udah kayak begitu, sekarang bisa dibayangin sendiri, deh.
Di novel kedua ini, karakter Milea makin terasa, terasa keras dan lumayan posesif. Dia senang bener mengatur-atur Dilan. Oke, memang sih melarang Dilan buat nggak ikut-ikutan gank motor memang punya niat baik. Tapi, nggak perlu sampai ngancam putus, deh. Kebangetan banget sama Dilan. Dilan, kan, udah diam saja setiap kali dimarahin Milea.
Tapi, aku juga suka Milea yang nggak jaim sama Dilan. Dia apa adanya di depan Dilan. Dia akan bilang cinta dengan blak-blakan tanpa malu-malu atau gengsi. Sebenarnya, lebih tepat, aku suka dengan cara mereka pacaran. Pokoknya, mereka berdua itu sebenarnya syik banget.
Dilan memang tipe cowok emosional. Tapi, menurutku emosi Dilan ini cukup terkendali. Dia nggak melakukan penyerangan kalau nggak merasa perlu balas dendam, atau nggak perlu ngamuk. Cuma, kalau sudah mulai menginjak-injak dia, dan nyakitin orang yang dia sayang, Dilan sudah nggak bisa diam lagi. Ini menurutku, sih wajar.
Aku masih suka dengan celetukan Dilan yang ngocol. Aku juga suka puisi-puisi Dilan buat Milea. Memang nggak seromantis puisi Khalil Gibran. Tapi, aku lebih suka novel Dilan dari pada Khalil Gibran. Pokoknya, cowok-cowok harus belajar sama Dilan kalau mau pinter ngerayu cewek.
“Kalau aku jadi presiden yang harus mencintai seluruh rakyatnya, aduh, maaf, aku pasti tidak bisa karena aku cuma suka Milea.” – Dilan – hlm. 30
“PR-ku adalah merindukanmu. Lebih kuat dari Matematika. Lebih luas dari Fisika. Lebih kerasa dari Biologi.” – Dilan – hlm. 30

Di awal novel, alurnya masih asyik, Dilan juga masih selucu dulu. Tapi, mulai ke belakang, suasananya berubah muram benar. Dilan juga nggak selucu dulu, nggak pernah ngocol lagi. Jadi, kangen Dilan yang tahun 1990.
Aku suka interasi keluarga Milea, dan juga keluarga Dilan. Aku suka banget sama Bunda, dan ayah Dilan. Menurutku, mereka ini suami istri yang asyik, deh. Enak kali, ya punya ibu-ayah mertua kayak mereka.
Meskipun aku merasa nggak terima sama ending-nya, aku tetap mengacungi jempol sepuluh – yang enam minjam – buat cara penyelesaian masalahnya.
Hah, rasanya tuh nyesek abis setelah banyak novel ini. Kenapa kisah yang dimulai dengan manis, kok nggak diakhiri dengan manis juga, sih? Kenapa Ayah Pidi? Kenapa kamu jahat? Kenapa!
Sudahlah, sebagai pembaca saya mah cuma bisa nelangsa dikasih ending begitu. Lain kali, jangan lagi ya! Please!
Rating untuk novel ini 3,6 dari 5 bintang.

Monday, July 13, 2015

Resensi - SEVEN DAYS “Terjebak bersamamu"



Penulis : Rhein Fathia
Penerbit : Romance Qanita (Mizan)
Genre : Romance
Kategori : Adult, Friendzone, Traveling
Terbit : Februari 2013
Tebal : 296 hlm
ISBN : 978 – 602 – 9225 – 72 – 3
Harga : Rp. 45.000

“Sering kali kita dibuat bingung oleh pertanyaan, siapa yang kita cintai sebenarnya? Sosok yang selalu hadir menemani atau yang sejatinya dipilih oleh hati? Bagiku, keduanya tetap cinta.” – Nilam – hlm. 292

Buat Nilam, Bali adalah tempat yang sangat ingin dia kunjungi. Yap, Nilam belum pernah ke pulau yang sangat indah ini. Dan, Shen – teman sejak kecilnya, sekaligus sahabat terbaiknya – menawari Nilam untuk melakukan perjalanan ke sana.
Nilam mendapatkan pengalaman menyenangkan dan seru berkat Shen. Bagi Shen yang sangat tahu seperti apa Nilam, mudah saja menebak apa yang disukai gadis ini. Meskipun, hari pertama tiba di Bali, mereka harus kecewa dengan tempat penginapan yang mereka tempati. Sebelum berangkat, Shen sudah mem-booking dua kamar. Namun, sampai di sana hanya tersisa satu kamar. Terpaksa mereka harus tidur di satu kamar.
Keindahan Bali perlahan menyadarkan Nilam tentang sebuah perasaan yang sejak lama tak pernah dia sadari. Ada Shen yang ternyata menempati sisi hatinya. Padahal, selama ini Nilam merasa hanya Reza – kekasihnya – saja yang memenuhi seluruh hatinya. Ternyata, dia salah.
“Nilam, menurutku ada dua jenis cinta dalam memilih pasangan hidup. Ada cinta yang tumbuh karena witing tresno jalaran soko kulino… Lalu, ada juga cinta yang memang muncul tanpa alasan. Cinta itu hadir, ditunjukkan pada seseorang, karena hati memang memilihnya.” – Shen – hlm. 103 – 104
 
Nilam belum mau mengakui, mungkin dia belum yakin dengan hatinya. Tapi, Pantai Padang-Padang menjawab semuanya.
Mengetahui apa yang sebenarnya hati dia inginkan, bukanlah sebuah solusi. Yang ada, malah menimbulkan masalah baru. Bagaimana dengan Reza yang sedang menunggu jawaban Nilam atas lamarannya? Bagaimana Nilam menghadapi Shen kemudian?
Nilam sangat menginginkan Shen, tapi Reza terlalu baik untuk dia sakiti.
“Pada akhirnya, toh kamu harus memilih, Nilam. Menurutku begini, ibarat petualangan, kamu bisa pergi dan bertualang dengan siapa pun. Tapi, sampai kapan? Ada satu masa ketika kamu akhirnya merasa lelah dan kembali kepada seseorang yang dengan setia dan sabar menunggumu.” – Made – hlm. 178
Seven Days, Novel pemenang pertama Lomba Menulis Romance Qanita. Bertema tentang frienzone yang dibalut dengan cerita traveling. Cukup menarik, apalagi cara bercerita Rhain Fathia terasa ringan dengan pilihan diksi yang enak.
Karakter Shen menurutku cukup memikat, meskipun aku kurang menangkap jelas seperti apa Shen itu. Meskipun Shen jadi tokoh utama kedua setelah Nilam, aku merasa Shen kurang tereksplor penuh.
Konfliknya lebih ke perasaan Nilam. Padahal, Shen punya konflik yang lebih komplek dan seru untuk dibahas. Kayaknya – kayaknya nih, ya – novel ini akan seru kalau menggunakan sudut pandang Shen juga, tidak hanya Nilam yang sibuk galau.
Aku penasaran seperti apa perasaan Shen sebenarnya. Aku juga ingin tahu bagaimana cara Shen menguatkan hatinya saat mengetahui dan melihat kemesraan Nilam dan Reza di depan matanya, juga kenyataan bahwa dia tak akan bisa mendapatkan Nilam.
“Nanti pasti aku bakal dapetin perempuan yang membuatku selalu merasa terpanggil untuk ada di dekatnya. Perempuan yang dipilih oleh hatiku karena memang hatiku menginginkannya.” – Shen – hlm. 17

Nilam sendiri menurutku tipe cewek yang seru, cuek – saking cueknya nggak merasa kalau Shen itu cinta banget sama dia. Duh, repot ngadepin cewek kayak begini! Trus, Nilam itu juga apa adanya, tipe yang nggak macem-macem, menyenangkan, dan aku nggak menemukan sisi introvert seperti yang dia sebutkan. Buktinya, dia bisa bercerita dengan Made tentang masalahnya dengan gamblang. Kalau dia introvert, bercerita bukan masalah mudah, apalagi dengan orang lain yang baru dikenal. Sama yang udah kenal aja susah banget.
Setting Bali yang digambarkan Rhein Fathia bikin kangen pengin ke sana. Padahal, meskipun pengin ke Bali, aku lebih pengin ke tempat lain karena Bali sudah tak alami lagi, maksudku pantainya.
Ngomongin pantai di Bali, aku nggak setuju sama pendapat Rhein Fathia yang bilang Sanur itu pantai yang indah. Sanur kotor, aku cuma bisa menghela napas di sana. Aku yang biasa melihat pantai-pantai alami di Pacitan, Gunung Kidul – Yogyakarta, atau mulai pengin mengeksplor pantai-pantai baru di Trenggalek dan Tulungagung, nggak akan bisa puas melihat Sanur dan Kuta. Tapi, jujur aku penasaran sama Pantai Padang-Padang, aku belum pernah ke sana. Dan, sekarang jadi beneran pengin ke sana.
Waktu setting-nya di Joger, aku jadi teringat pengalamanku di sana. Sama seperti yang diceritakan, bah…tempat itu lebih ramai dari pada pasar. Lihat antrian kasir udah males banget.
Novel ini juga bisa jadi bahan referensi untuk kunjungan ke Bali. Kayak pas di Pure Besakih. Aku juga belum ke sana. Sebenarnya, banyak tempat di Bali yang belum sempat tereksplor, sih. Saat di tempat ini, Shen dan Nilam harus menghadapi para pemuda yang mencoba melakukan pemerasan pada mereka. Masak sewa sarung aja seratus ribu, masuk bayar tiket lima puluh ribu, belum lagi bayar guide. Habis berapa itu kalau di’iya’in aja? Nggak cocok sama kantong backpacker.
Novel ini sejak awal sudah bisa aku tebak, Shen cinta sama Nilam yang sudah punya pacar. Bali adalah trik Shen untuk mendapatkan Nilam. Juga endingnya, aku sudah menebaknya. Tapi, bukan itu yang terpenting. Aku cukup suka dengan eksekusinya. Meskipun penyelesaiannya agak terlalu kebetulan, tapi manis, sih. Jadi, diampuni.
Ini novel kedua Rhein Fathia setelah Coupl(ov)e yang aku baca. Novel yang punya tema sama dengan Seven Days, persahabatan dan cinta. Hati-hati, Mbak, ntar jadi beneran cinta sama sahabat sendiri, lho. Eh, jangan-jangan udah! (Just, Kidding!!!)
Aku jatuh cinta dengan cara penulisnya bercerita saat membaca Coupl(ov)e. Aku tak segan memberinya nilai hampir sempurna. Tapi, di Goodreads aku memberinya bintang sempurna.
Untuk novel ini, aku memberinya rating 2,8 dari 5 bintang. Ini karena konflik di setiap bagian – kecuali bagian hampir akhir – kurang terasa mantap.

Monday, June 22, 2015

Resensi – MARGINALIA “Keajaiban catatan di pojok buku”



Penulis : Dyah Rini
Penerbit : Romance Qanita – Mizan
Genre : Romance
Kategori : Semi-Adult,
Terbit : Februari 2013
Tebal : 304 hlm
ISBN : 978 – 602 – 9225 – 82 – 2
Harga : Rp. 49.000

Kamu percaya keajaiban? Aku percaya. Tapi, tidak pada Drupadi ‘Dru’.
“Tetapi keajaiban itu nggak ada. Semua yang kita sebut sebagai keajaiban hanyalah gejala yang belum bisa dijelaskan.” – Drupadi – hlm. 22

Sonya – istri Garda, pemilik Kafe Marginalia – menantang Drupadi untuk menulis marginalia di sebuah buku karena Dru bilang, dia tak percaya pada keajaiban.
Drupadi menerima tantangan itu kalau tidak mau usaha Wedding Organizer-nya  ‘Luna Nueva’ jadi gulung tikar. Inez ingin pernikahannya diadakan di sana. Dan, Sonya hanya memberinya ijin jika Drupadi membuat marginalia.
Drupadi mulai memilih buku di rak buku milik Kafe Marginalia. Tanpa di duga, dia memilih buku kumpulan puisi Rumi. Di sana, dia bertemu marginalia milik Padma, kekasih Aruna ‘Ren’.
“Aku tidak berdata mengikuti takdir. Takdir sudah lama memutar rodanya, jauh sebelum aku menyadarinya.” – Aruna – hlm. 13

Beberapa waktu yang lalu, sebelum Drupadi berjumpa dengan buku itu, Aruna-lah yang membawanya. Buku itu adalah buku berharga untuknya karena ada marginalia milik Padma – kekasihnya yang sudah meninggal – sekaligus buku kesayangan Padma.
Dia memutuskan mengembalikan buku kumpulan puisi Rumi agar catatan Padma bisa dibaca orang lain, dan membuat yang membacanya menemukan makna yang sama seperti Padma. Sayang sekali, buku itu jatuh ditangan seseorang yang menilai tulisan Rumi “CENGENG!”.
Aruna begitu marah saat membaca satu kata yang di tulis di bawah tulisan Padma. Dia memberi balasan dengan menulis marginalia untuk siapapun yang sudah menilai puisi Rumi Cengeng.
Ternyata, marginalianya mendapat jawaban. Akhirnya, terjadi perang marginalia. Dan Aruna sudah tidak tahan lagi. Dia harus bertemu dengan penulis ‘Cengeng!’ di buku itu. Dia bertekat akan memberinya pelajaran.
“Nggak usah milikirin omongan orang, Dru. Hidup ini bukan balapan lari.” – Aruna – hlm. 164

Aruna tidak menduga, marginalia dan puisi Rumi membawanya bertemu Drupadi, cewek yang langsung membuatnya bangkit dari keterpurukan setelah ditinggal Padma.
Namun, siapa sangka, Drupadi adalah seseorang yang membawanya pada masa lalunya, sekaligus orang yang memaksa Aruna – si vokalis Band Leskar, si Rocker yang begitu mempesona – menjadi seseorang yang harus mau memperjuangkan cintanya. Padahal, banyak cewek yang berusaha menarik perhatiannya, sekedar untuk mendapatkan senyumannya – tanpa dia harus bersusah payah.
“Hanya pecinta sejati yang rela berkorban demi cinta. Cinta tidak hanya berani memiliki, namun juga berani melepaskan.” – Aruna – hlm 269

Lalu, bagaimana dengan Drupadi? Bukan hal yang mudah untuk menerima cinta Aruna. Masa lalunya, kenangan pahitnya karena terluka oleh cinta, membuat Drupadi enggan untuk percaya pada Aruna. Juga Inez, dia selalu saja hadir untuk merebut apa yang menjadi miliknya.
“Apa kamu nggak melihat, Dru? Benang jodoh ini sudah lama ditentukan lama sebelum kita ada. Kamu hanya bagian dari takdir itu.” – Inez – hlm. 266

Marginalia, aku baru mengetahui kata ini karena membaca novel Marginalia. Marginalia berarti catatan pinggir di buku. Kalau aku, sih, aku sayang bukuku di coret-coret. Aku lebih suka menuliskan apapun tentangnya di blog atau goodreads saja. Kecuali buku pelajaran.
Novel ini diceritakan dengan sudut pandang orang pertama. Namun, dari dua tokoh yang berbeda, Drupadi dan Aruna.
Mereka punya sisi menarik yang membuat aku enggan meninggalkan novel ini sebentar saja. Termasuk eksekusinya, benar-benar diluar dugaan. Hasinya, hanya setengah hari aku berhasil menghabisinya.
Karakter Aruna menurutku melankolis, romantis, bukan tipe cowok emosional, dia malah terkesan lembut. Beda dengan Drupadi yang menurutku lebih superior, mempesona, dan tak gampang menyerah.
Aku juga suka setting Kafe Marginalianya. Sisi misteriusnya dapat banget. Aih… aku jadi penasaran sama kafe ini.
Aku nyaman sama pilihan diksinya. Nama yang dipilih untuk tokohnya pun keren. Jalan ceritanya juga mulus sampai akhir. Narasinya nggak muter-muter, jadi tambah enak bacanya.
Ending-nya juga oke. Yang paling aku suka, cara Aruna mempersatukan Inez sama Irwan. Ini cara yang tak terduga.
Ratingnya 4,4 dari 5 bintang.




 

Jejak Langkahku Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos