Friday, December 13, 2013

Resensi – YAMANIWA “Harga sebuah kesetiaan”





Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : November 2013
Tebal : 224 halaman
ISBN : 978-602-03-0017-7
Harga : Rp. 45.000
Niwa, perempuan pemilik “Niwatasari Modistre” harus mengalami karma akibat kesalahannya sepuluh tahun yang lalu. Bermula dari perkenalannya dengan seorang siswa SMK bernama Yamadipati,  mereka merajut cinta yang makin lama terasa sempurna. Sayangnya, saat Niwa ditinggal Yama ke Jakarta untuk mengikuti pelatihan, Niwa tak mampu menjaga hatinya. Seorang mahasiswa PPL di sekolahnya yang bernama Arvin membuat Niwa membutakan hati nuraninya dan memilih mendua dari Yama.
Hasilnya, selama sepuluh tahun Niwa dihantui bayangan tatapan terluka Yama saat memergokinya selingkuh darinya, membuat dia menanggung rasa bersalah yang tak kunjung hilang. Sebagai pelampiasan, Niwa sering kali bergonta ganti pacar untuk menghilangkan perasaannya pada Yama. Ya, Niwa sadar, dia masih sangat mencintai pria itu sampai sekarang.
Dan suatu hari, pria itu muncul di depan matanya, menyerahi tugas membuatkan kebaya pengantin untuk calon istrinya. Kebimbangan muncul di hati Niwa. Sempat dia ragu untuk menyetujui permintaan itu karena dia belum bisa terima akhirnya Yama menikah dengan wanita lain. Niwa mengalami siksaan batin tak terkira. Namun, Niwa menerima tugas itu, dia menganggap apa yang terjadi padanya saat ini sebagai hukuman dari masa lalunya.
“Mengapa setiap mendengar suara lembut calon istri Yama hatiku terasa sakit? Padahal kelihatannya dia perempuan yang baik. Dia tidak memarahi atau memaki-maki. Tapi mengapa efeknya jadi menyedihkan seperti ini?” – Niwa – Hlm. 180


Yamaniwa adalah salah satu finalis lomba novel Amore terbitan Gramedia. Bersampul orange bergambar seorang penjahit wanita yang menyulam gambar hati, tampak manis dan langsung menyiratkan salah satu keunikannya, latar belakang pekerjaan salah satu tokohnya.
Dengan prolog yang membuat penasaran, penulis berhasil menarik minat pembaca untuk membuka bab berikutnya yang ternyata tak kalah punya daya tarik karena gaya bahasa dan cara bernarasi penulisnya yang khas sekali cara bertutur masyarakat Semarang, latar tempat dalam novel ini. Inilah yang membuat novel Yamaniwa terasa segar dan berbeda.
Belakangan ini, banyak bermunculan novel dengan rasa metropolis yang kental. Bahasa yang digunakan adalah bahasa gaul seperti gue elo atau kamu aku yang yang diucapkan dengan nada bicara masyarakat kota besar seperti Jakarta. Namun, Yamaniwa punya gaya bahasa yang berbeda. Gaya bahasa inilah yang kadang membuat saya tertawa, karena saya orang jawa yang sering bertemu istilah-istilah seperti ‘ngekek dalam bahasa Indonesianya tertawa terbahak’, ‘pasrah bongkokan atau bahasa Indonesianya terima jadi’, ‘Jos gandos atau bagus sekali’, ‘sak karepmu atau terserah kamu saja’, dan masih banyak lagi istilah-istilah seperti itu. Sayangnya, istilah-istilah di atas tidak dilengkapi footnote. Padahal, tidak semua pembaca tahu arti istilah-istilah tersebut.
Yamaniwa mempunyai alur cerita cepat yang dimulai dengan prolog pertemuan kembali Niwa dengan Yama. Bab berikutnya bercerita dengan setting waktu mundur saat Yama dan Niwa masih SMK, lalu dilanjut dengan setting maju sampai dengan ending.
Ada tiga hal yang membuat saya menghitung waktu. Pertama, masalah pemakaian ponsel saat Niwa SMK. Yang menjadi pertanyaan, jika sekarang tahun 2013, sesuai tahun terbit novel ini, dan dikatakan kejadian perselingkuhan terjadi sepuluh tahun lalu, maka perselingkuhan itu terjadi tahun 2003. Maka, satu tahun yang lalu saat Niwa bertemu dengan Yama pertama kali adalah tahun 2002, dan saat itulah ada adegan Niwa menelfon Era dengan ponselnya di halaman 11.
Mengingat masa itu, bukannya ponsel belum seumum sekarang? Rasanya agak aneh siswa SMK dari keluarga biasa-biasa saja seperti Niwa dan Era sudah pegang ponsel sendiri. Sepengetahuan saya, untuk daerah Madiun, Ngawi, Magetan yang standar kotanya hampir sama dengan Semarang, ponsel di jaman tersebut masih terasa sangat mewah, hanya orang-orang tertentu yang memilikinya
Yang kedua, masalah Citraland. Saya meragukan tahun 2002 tempat pembelanjaan ini sudah berdiri. Dan saat saya cek di google, ternyata Citraland sudah berdiri sejak tahun 1993.
Satu lagi, penggunaan kata ‘Lebay’ yang saya temukan di halaman 12. Setelah menanyakan pada beberapa orang, kata ini juga masih asing di tahun 2002.
Tema yang dipilih, tentang perselingkuhan memang tak lagi baru. Namun, cara pengemasan cerita tetap terasa segar karena konfliknya berhasil dibangun sangat hidup dengan cara penyelesaian yang menarik. Disinilah bagian yang menunjukkan mutu penulis, dan saya tak segan-segan memberikan jempol dua untuknya.
Karakter-karakter tokohnyapun berhasil menempati fungsinya masing-masing. Tampak hidup dan membawa cirinya sendiri-sendiri. Mereka terasa konsisten sampai akhir. Dan aku sangat suka dengan karakter Yama yang terlihat tenang, sabar juga punya pembawaan mengayomi terhadap wanita.
Untuk karakter Niwa dapat dilihat dari cara dia menghadapi masalahnya. Buat saya, Niwa wanita yang kuat. Saya juga tidak menganggap Niwa wanita tidak setia. Jika Niwa memang wanita yang gampangan, dia dengan mudah melupakan cintanya untuk Yama dan tak lagi ambil pusing dengan kesalahan di masa lalunya.
Untuk saya pribadi, novel Yamaniwa mengajarkan banyak hal, tidak hanya tentang pentingnya saling setia, tapi juga bagaimana cara menghadapi sebuah rasa bersalah yang menggelayuti hati. Yamaniwa juga memberitahu saya, sebuah kesalahan sebesar apapun tetap harus mendapat kesempatan kedua, karena dia yang bersalah mungkin saja benar-benar menyesalinya. Mungkin saja kesalahan itu membuat dia berubah lebih baik. Seperti Agas yang menghianati Era. Setelah melakukan kesalahan itu, Agas berubah menjadi pria yang menyadari kesalahannya dan dia berubah menjadi pria yang lebih baik untuk istri dan anak-anaknya.
Juga pada Niwa, setelah menghianati Yama, akhirnya dia sadar, cintanya hanya untuk Yama. Dan Niwa menjadi wanita yang selamanya yakin, Yama adalah satu-satunya penghuni hatinya.
“...hukuman terberat dari orang yang menyakiti perasaan orang lain, apalagi menyakiti orang yang sangat dicintai, justru datang dari diri sendiri.” – Niwa – Hlm. 187

Ending dari novel ini membuat saya gemes. Rasanya ingin sekali tahu setelah Yama berkata, “Niwa…” apa yang selanjutnya terjadi? Tapi, tenang saja. Novel ini diakhiri tanpa rasa menggantung sedikitpun. Semua tuntas diceritakan tanpa ada lagi yang disembunyikan.
Kado Manis dari sang Penulis, spesial bercap jempol dan cap tiga jari
 Akhirnya, saya mempersembahkan 3,7 dari 5 bintang untuk Yamaniwa, novel dengan ciri khas yang mungkin tak bisa anda temukan di novel lainnya. Novel ini saya rekomendasikan bukan hanya untuk pembaca dewasa, namun juga para remaja agar bisa belajar banyak dari kisah Yama dan Niwa, belajar untuk menjadi pasangan yang setia.

Monday, December 2, 2013

Cerpen - RAINFALL IN LOVE


Tulisan ini diikutkan dalam
Giveaway #TentangHujan

Cokelat panasku sudah tak lagi beruap. Dan aku mulai bosan menunggu hujan berhenti untuk mengijinkan aku keluar dari café ini untuk pulang. Cukup kemarin saja aku melawannya dan berakhir masuk angin.
“Lho, kamu belum pulang?” Kang Yanto pemilik café ini cukup mengenalku karena setelah kuliah aku selalu mampir ke tempatnya.
“Belum, kang. Hujan gini, aku nggak bawa payung lagi!” gerutuku sambil meraih gelas cokelatku yang ternyata benar-benar sudah dingin. “Beberapa hari ini aku kesel sama hujan, Kang! Kalau nggak bikin aku masuk angin, dia bikin aku telat pulang.”
Kang Yanto duduk di depanku. “Al, hujan itu barokah, rezeki, nikmat dari Tuhan. La kok kamu benci. Piye, to!” senyumnya menyembul tulus untukku.
“Bukan benci, Kang. Cuma sebel!
Yo, sama aja, to!” dia tertawa. “Al, jangan benci sama hujan. Nanti kamu bisa jatuh cinta gara-gara dia.”
“Idih, Kang Yanto ini sok melankolis.” Aku malah menertawainya.
“Ya, lihaten sendiri aja kalo gitu!” Dia beranjak dari duduknya. “Itu di pojokan ada payung, bawa saja. Tapi, besok dibalikin, soalnya itu payung dari cewek cinta pertama akang!
“Oke!” Aku segera beringsung sambil memberesi barang-barangku di atas meja.
Saat aku melangkah keluar café, dan berusaha membuka payung, Kang Yanto berseru. “Al!” kuputar tubuhku menatap dirinya. “Akang ketemu cinta akang gara-gara hujan dan saksinya payung itu!” teriaknya. “Semoga payung itu jadi saksi saat kamu ketemu sama cinta kamu juga!
Kali ini tubuhku bergetar karena tawaku yang berderai. Ada-ada saja Kang Yanto ini, masak gara-gara hujan saja aku ketemu cinta aku, sih?!
Tiba-tiba tawaku berhenti. Cinta. Sejak kapan aku melupakannya? Sejak kapan aku tak lagi peduli pada bayangannya? Apakah waktu benar-benar menghapusnya dari benakku? Atau dia memberiku jeda sejenak dan kembali menghantuiku lagi saat aku mengingatnya?
Tanpa aku sadari, aku sudah berada di halte seberang jalan. Aduh, ceroboh sekali aku menyebrang dengan konsentrasi lari kesana kemari. Untung aku nggak ketabrak truk.
Aku duduk bersama beberapa orang yang menunggu bus untuk mengantar kami ke tempat paling nyaman di dunia, rumah. Belum sempat bus datang, perhatian orang-orang teralihkan pada sebuah mobil yang berhenti di dekat halte.
“Kenapa itu mobilnya?” tanya seorang ibu berseragam guru di samping ku. “Apa macet, ya?” dia masih meneruskan tanyanya yang entah ditujukan kepada siapa.
“Oh, ban depan mobilnya bocor kayaknya.” Sahut pria berjas yang berdiri di sisi tiang penyangga halte.
“Waduh, kasihan benar!” Seorang bapak tampak tak tega saat melihat pria pemilik mobil itu hujan-hujanan untuk mengganti ban mobilnya.
Aku dan beberapa orang di sana masih memperhatikan dia yang berjuang sendiri memperbaiki ban mobilnya. Dia tampak basah kuyup dan kesulitan melepas mur yang ada di velg nya.
“Dirga bukan, ya?” kataku lirih. “Kok kayak dia, ya?”
Ah, bukan! Ini pasti gara-gara Kang Yanto yang ngingetin aku sama cinta. Sekarang, aku jadi terbayang-bayang Dirga cinta pertamaku yang nggak pernah bisa benar-benar aku hapus dari ingatan dan hatiku.
Aku sudah tertunduk dan sibuk dengan fikiranku saat pria itu berdiri di antara kami, para penunggu bus.
“Maaf, ada yang tahu tukang ban terdekat di mana, ya?” tanyanya. “Ban mobil saya bocor, dan ternyata serepnya juga kempes.”
“Oh, ada mas! Mas jalan saja dua ratus meter, nanti ada tukang ban di ujung pertigaan itu.” Seorang siswa SMA mencoba membantunya. Dan aku sibuk memastikan kalau dia benar-benar Dirga.
“Kamu Dirga, ya?” tanyaku lirih. Tapi, aku sudah mulai yakin.
Dia berpaling padaku. “Iya.” Dia tampak terkejut. “Kamu?” dia tampak berusaha mengingat-ingat.
Aku tersenyum. Ternyata selama ini dia tak tahu aku. Ya jelas, aku tak pernah berani muncul di depannya. Aku hanya sibuk menatapnya dari jauh dan tak berani terang-terangan bilang suka sama dia.
“Aku…” tiba-tiba saja jantungku berdetak dengan kencang. “Aku Alisa, dulu anak SMA Bima kelas tiga IPA dua.”
“Oh,” dia tersenyum. “Berarti kelas kita bersebelahan, ya?” Auranya masih sama seperti dulu, memabukkan.
Aku mengangguk. “Mau aku antar ke tukang ban pakai payungku?”
“Nggak usah, deh! Aku sudah terlanjur basah kuyup juga.”
“Tapi, kalau kamu kehujanan lagi, bisa sakit lho!”
“Apa nggak ngerepotin?”
Aku menggeleng. “Nggak papa!”
Setelah dia mengiyakan aku beranjak dan kami berjalan berdua dengan payung Kang Yanto. Untung payung itu cukup lebar untuk kami berdua. Walaupun aku masih agak kehujanan karena aku tak berani terlalu dekat dengannya. Aku takut dia mendengar detak jantungku yang bertalu.
Kami berjalan dalam diam. Namun sebuah sentuhan membuatku terkejut. Ternyata tangannya yang menarikku mendekat ke arahnya.
“Kaget, ya?” tanyanya hanya kujawab dengan senyum. “Kalau kamu menjauh begitu, kamu yang akan basah.” Senyumnya, Tuhan! Aku meleleh dibuatnya.
Aku masih menatap wajah itu saat dia berseru, “Itu dia tukang bannya!” Entah reflek atau apa, dia mencengkram tangan kananku dengan tangan kirinya yang tadi memegang payung. Dan entah sejak kapan pegangan payung itu berpindah ke tangan kanannya.

Sekarang aku duduk di kursi penumpang mobilnya. Setelah ban mobilnya beres, dia mengantarkanku pulang. Saat di perjalanan kami mengobrol. Aku tanya dia dimana sekarang, padahal aku tahu dia kuliah di Jakarta ambil jurusan kedokteran di UI. Otakku ini tiba-tiba lebih bodoh dari biasanya. Yang keluar dari mulutku rasanya kok terdengar kalau aku senang sekali bertemu sama dia, dan kalau aku masih suka sama dia. Aku benar-benar takut dia tahu selama ini aku memendam cinta untuknya.
Dia menurunkanku dengan selamat di depan rumah. Karena saat itu hujan sudah reda, aku melupakan payung yang kuletakkan di dekat kakiku karena basah. Dan aku merasa bersalah sama Kang Yanto yang terlihat terkejut karena aku menghilangkan payungnya. Aku minta maaf berkali-kali sekalipun dia bilang nggak papa. Aku tetap merasa nggak enak. Aku akan berusaha mencari payung itu.

Tiga hari berlalu setelah kejadian itu, dan sekarang hujan kembali jatuh dengan derasnya. Lagi-lagi aku ceroboh tidak membawa payung di tasku. Aduh, tandanya aku harus rela jenuh duduk di cafe Kang Yanto sampai hujan agak reda.
“Kang!” panggilanku membuatnya menghentikan langkah.
“Apa, Al?” jawabnya terlihat khawatir. “Kalau mau pinjam payung, aku sudah nggak punya payung. Payung yang kamu pinjam itu ya payungku satu-satunya.”
“Maaf, ya Kang!”
Dia duduk di depanku. “Sudahlah, nggak apa-apa!” dia tersenyum.
“Kang,” kutatap dia. “Doa akang kemarin terkabul.”
“Doa yang mana?”
“Doa biar aku ketemu cinta aku.”
“Karena hujan?” senyumnya makin lebar. Aku menggangguk. “Karena hujan kamu ketemu cinta kamu?”
“Mungkin! Yang jelas, hujan itu mempertemukanku pada cinta pertamaku.” Aku menunduk.
“Masak, to?”
Aku menggangguk.
“Kamu masih cinta sama dia?”
Aku menggangguk lagi. “Saat satu payung dengannya, aku hampir pingsan karena tak kuat menahan debaran jantungku, kang.”
“Kalau kamu ketemu dia lagi, apa kamu akan mengatakan kalau kamu cinta sama dia?”
Aku diam.
“Al, cuma beberapa orang di dunia ini yang bisa membaca fikiran manusia, salah satunya Deddy Corbuzier. Dan aku rasa cinta pertama kamu itu nggak punya kemampuan seperti itu. Kalau kamu diam saja, mana dia tahu perasaan kamu! Ya, to?”
“Aku nggak berani, Kang! Takut ditolak!”
“Ditolak itu masalah belakangan. Kamu mau terus mengharapkan dia selama hidupmu karena mencintainya diam-diam?” Aku menggeleng. “Nah, kalau kamu ngomong sama dia, setidaknya kamu tahu dia juga suka atau tidak sama kamu. Kalau jawabannya memang nggak, berarti kamu memang nggak berjodoh sama dia, dan kamu nggak akan mengharap cinta dia lagi.”
Kang Yanto benar.
“Jadi?” dia menatapku.
“Jadi, aku akan bilang sama dia, kang!”
Kang Yanto tersenyum lebar. “Ngomong-ngomong, yang itu bukan cinta pertamamu?” Kalimat Kang Yanto membuat aku mengikuti tatapannya.
Aku melihat Dirga berjalan dari mobilnya ke arah halte di seberang jalan menggunakan payung Kang Yanto.
“Iya, kang. Iya itu dia!” aku langsung berdiri dari dudukku dan bergerak cepat keluar cafe. Rasanya aku lupa kalau saat itu hujan.
“Al!” panggilan Kang Yanto menghentikanku yang hampir bergerak menyebrangi jalan. Kulihat wajah ramah itu. “Jangan lupa bilang perasaanmu padanya!” teriaknya.
Aku menggangguk dan menyebrangi jalan saat mulai aman.
“Dirga!” dia terkejut melihat aku yang basah kuyup.
“Hai! Kok hujan-hujanan?”
“Kalau nggak hujan-hujanan kamu bakalan pergi sebelum aku sempat ngomong sama kamu.” Jawabku dengan nafas ngos-ngosan.
“Ya?” dia tampak bingung.
Aku merasakan tak ada butiran air hujan menyerangku lagi. Ternyata Dirga memayungiku, kami berada dalam satu payung lagi seperti tiga hari yang lalu.
“Tentang hatiku sejak empat tahun yang lalu.” Dia menatapku penasaran, tapi dia memilih mendengarkan. Kutelan ludahku untuk mengobati kegugupanku. “Aku...” Kupejamkan mataku tak berani melihat reaksinya. “Aku suka sama kamu!” kuucapkan kalimat itu lantang dan cepat. Tak terdengar jawaban apapun. Terpaksa kubuka mataku, dan pasrah dengan apa yang akan aku lihat.
Senyuman, yang aku lihat senyuman bukan wajah kaget dan takut.
“Aku tahu!” dia mengeluarkan buku harian warna merah dari dalam saku jaketnya. “Kamu nggak cuma ninggalin payung. Tapi, kamu juga menjatuhkan buku ini di mobilku.”
Aku meringis. Pantas dia jawab ‘aku tahu’. Aduh, cerobohku benar-benar sudah parah. “Dan...” dia kembali tersenyum. “Karena hujan kemarin, karena bertemu denganmu lagi, karena tiba-tiba jantungku berdetak kencang saat menyentuh tanganmu, karena kamu membuat dadaku hangat saat menatapmu, akhirnya hatiku jatuh di sini!” dia menunjuk dadaku. “Aku jatuh cinta sama kamu!”
Kututup mulutku dengan kedua telapak tanganku, dan mataku tak henti menatapnya.
Suara tepuk tangan di belakangnya menyadarkanku dan dia bahwa halte sore itu ternyata masih ramai seperti biasanya. Kami menatap wajah-wajah ikut bahagia di depan kami sambil mengucapkan terima kasih karena menerima doa dan selamat bertubi-tubi.
“Daaarrrrr” suara petir yang tiba-tiba, membuatku terkejut dan tanpa sadar memeluk pinggangnya.
“Kamu nggak papa?” bisiknya sambil mengusap lenganku. Kulepas pelukanku, dan beringsut agak menjauh darinya. Dia tersenyum. “Kuantar kamu pulang.” Dia menarikku mendekat padanya dan kami berjalan menuju mobilnya masih dinaungi payung yang dipegangnya.
“Antar aku ke cafe di depan itu, ya? Barangku masih tertinggal di sana.” Kutunjuk cafe Kang Yanto.
Dia menggangguk sambil memutar stir.
Ku kembalikan payung cinta milik Kang Yanto sambil berbisik, “Payungnya dahsyat, Kang!” Dia tertawa.
“Selamat, yo Al!” dia balas berbisik sebelum aku pergi bersama cintaku.
Hujan, terima kasih! Walaupun kamu membuatku telat pulang, ternyata kamulah yang mempertemukan hati yang telat bertemu.
***

Review - MANUSIA SETENGAH SALMON “Guyonan Tak Sekedar KakaKiki”




Penulis : Raditya Dika
Penerbit : Gagasmedia
Halaman : viii + 254 hlm
Tahun Terbit : 2011
Harga : Rp. 42.000
ISBN : 979-780-531-x

Sebuah kehidupan selalu punya tawa dan tangis, senyum dan sendu, semangat dan galau. Dan, buku Manusia Setengah Salmon yang berisi 16 tulisan Raditya Dika merangkum semua itu untuk kita.
Dimulai dari kisah Raditya dan ayahnya dalam cerpen Ledakan Paling Merdu.
Ledakan Paling Merdu, aku pikir akan menceritakan tentang kejutan yang mengerikan namun manis. Ternyata benar, memang tentang ledakan, ledakan kentut maksudnya.
Ayah Raditya punya kebiasaan senam kentut di pagi hari. Gerakannya aneh banget dan nggak senoh-noh. Tapi, bikin ngakak. Sekalipun ceritanya berasa nggak serius, namun ada rasa yang disampaikan dengan hati juga.
“…Lucu juga, gimana kita sebenarnya tinggal di satu rumah, tetapi masih jarang bertemu.” Hlm. 13

Sepotong Hati Di Dalam Kardus Coklat. Celetukan Raditya tentang kisahnya putus cinta sekaligus harus pindah rumah. Dia mengaitkan dua kejadian tersebut pada masalah perpindahan hati. Cara bercerita yang cerdik. Lagi-lagi aku dibuat senam perut sekaligus dapat ilmu.
 “Ada perasaan yang sama antara sehabis putus dengan pindah rumah. Keduanya sama-sama harus meninggalkan sesuatu yang akrab dengan kita. Keduanya sama-sama memaksa kita untuk mengingat-ingat kenangan yang ada sebelumnya, disadari atau tidak. Dipaksa atau tidak.” Hlm. 35
Dalam Cerpen Bakar Saja Keteknya, Raditya menyadarkanku tentang berani jujur, mengatakan yang sebenarnya sekalipun kenyataan itu terlalu sulit diungkapkan karena takut menyakiti. Namun, dalam praktiknya, ilmu Raditya mempan sama sopirnya yang bau ketek. Dan karena kejujurannya, akhirnya tak ada lagi yang dirugikan. Sopirnya nggak perlu dipecat gara-gara bau badan, dan Raditya berhasil menyelamatkan paru-parunya dari racun mematikan dari Sugiman, sopirnya.
Juga tentang kisah Raditya dan ibunya. Sejujurnya, aku mengalami apa yang dirasakan Raditya. Ibu yang protektif berlebihan memang kadang terasa mengganggu. Namun, sama dengan Raditya saat mendengar kisah hidup Perek (nama orang, dan tidak berkonotasi negatif) yang mengaku tak punya ibu, aku sadar kalau betapa beruntungnya punya ibu.
“Kita nggak mungkin selamanya bisa ketemu dengan orang tua. Kemungkinan paling besar adalah orang tua kita bakalan lebih dulu pergi dari kita… Dan kalau hal itu terjadi, sangat tidak mungkin buat kita untuk mendengarkan suara menyebalkan mereka kembali.” Hlm. 133.

Lagi, sekalipun dalam paparan ala Raditya yang lebih terkesan becandaan, namun fakta yang diceritakannya lewat cerpen berjudul Jomblonology berasa benar sekali. Sangat benar, dan nggak ada yang meleset.
Dan akhirnya Manusia Setengah Salmon di tutup dengan cerpen yang berjudul sama. Kali ini Raditya membawa pembaca pada rasa galau tentang perpindahan. Pindah dari rahim ibu ke dunia, pindah rumah, pindah hati, bahkan pindah status, dan keadaan.
Disini apa yang dia ucapkan aku rasakan juga. Aku yang masih sendiri merasa aneh melihat teman-teman dari SD sampai teman kuliah sudah terlihat ibu-ibu dan bapak-bapak yang sebenarnya sepantaran denganku. Mereka terlihat jauh berbeda denganku yang masih nggak berubah, dengan penampilan ala umur 20an, padahal udah 20 plus-plus. Pemikirannya juga berbeda sekali denganku. Aku masih asik main-main. Mereka sepenuhnya hidup untuk anak dan keluarganya sekarang. Wao!!!
Bagian berjudul Penggalaun yang dibikin Raditya juga nyentil banget. Contohnya :
“Jatuh cinta itu musuh akan sehat.” Hlm. 205 à  Benar sekali, saudara-saudara.
“Hampa itu seperti langkah tak berjejak, senja tapi tak jingga, cinta tapi tak dianggap.” Hlm. 205 à Seratus, brow!

Namun, ada juga tulisan dia yang absurd banget. Kayak Interview With The Hantus, Emo..Emo…Emo...Emotikon!, dan lainnya. Ini lebih buat hiburan saja kali, ya?
Raditya juga memperlihatkan seberapa dekat dia dengan followersnya. Dari masukin beberapa mention followersnya yang dijawab asal sama dia. Juga saat dia sakit gigi dan tanya ke followersnya, tanya dimana dokter gigi yang buka saat lebaran. Sekalipun jawaban para followers itu nyeleneh abis.
Oh, ya masalah pakai behel itu seperti menyuarakan penderitaanku saat pakai behel. Hohohoho…tapi, masih ngerian dia. Aku, syukurlah nggak sampai sariawan seperti dia. Dan saat cabut gigi, nggak sampai merana kayak dia, walaupun sebenarnya cenut-cenut juga.
Intinya, buku ini nggak cuma ditulis buat ngakak aja, tapi ada pesan yang coba disampaikan. Dan dia berhasil menyampaikannya dengan guyonan keren khas Raditya Dika. Nggak heran dia bisa terkenal gitu. Hebat…hebat!!!

Ratingnya 3,2 dari 5 bintang.
 

Jejak Langkahku Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos