Sunday, November 15, 2015

[Blogtour] GIVEAWAY WINNER PS. I STILL LOVE YOU



Giveaway PS. I Still Love You by Jenny Han sudah usai di blog ini.
Terima kasih banyak buat yang sudah ikutan. Dan, aku sudah memilih 2 orang beruntung yang mendapatkan masing-masing 1 novel PS. I Still Love You persembahan dari Penerbit Spring.
NANING PRATIWI (@chelseas_lover)
Dan, sebagai pemenang pemberi komentar di resensi PS I Still Love You terbaik adalah
AGATHA VONILIA (@agatha_AVM)
Buat yang belum beruntung, kamu masih bisa ikutan giveawaynya di blog berikut ini
4 November : Nurina Widiani http://kendengpanali.blogspot.co.id/
6 November : Abduraafi Andrian http://bibliough.blogspot.com
8 November : Athaya Irfan http://palapakelapakepala.blogspot.co.id

Juga bisa ikutan Kuis Final berhadiah 1 Novel PS I Still Love You dan 1 Paket Emerald Green Label untuk 1 orang pemenang dengan cara mengumpulkan semua potongan pertanyaan dari blog peserta blogtour "P. S. I Still Love You". (Cara lengkapnya bisa buka di sini)
Buat para pemenang, selamat, ya. Dan, jangan lupa mengirim konfirmasi ke email berisi Nama, Alamat lengkap dan no HP ke dian_putu26@yahoo.com. Ditunggu 2 x 24 jam. Jika tidak ada kabar, berarti akan di pilih pemenang lainnya.

GILI LABAK MADURA, PULAU MINI BERPASIR PUTIH



Bulan November ini, aku nggak nyangka bisa singgah di bagian timur Pulau Madura. Jalan-jalan kali ini, memang fokus utamanya bukan untuk jalan-jalan. Tapi, kenapa nggak sekalian saja. Rugi, kan perjalanan dari Ngawi saja butuh waktu 7-8 jam. Karena kali ini start dari Sidoarjo, waktu perjalanan cuma 4-5 jam.
Yang pertama dikuncungi – setelah setengah misi sudah terlaksana – adalah Pulau Talango, yang letaknya di sisi timur Pulau Madura. Untuk menuju ke sana, kita harus menyebrang dulu dari Pelabuhan Kalianget menggunakan perahu. Nggak lama, kok, kurang lebih sekitar 10 menit kita sudah  sampai.
Pelabuhan Kalianget - Madu
Di Pulau Talango ini ada Asta SAYYID YUSUF, sebuah makam pejuang dan penyebar agama Islam. Menuju ke sini , setelah menyebrang dari Kalianget, kalau nggak bawa kendaraan pribadi, kalian bisa menggunakan becak motor. Tarifnya sekitar 5-10 ribu.
Setelah selesai berziarah dan solat duhur, kita kembali ke Kalianget untuk persiapan ke Gili Labak.
Sampai ke Kalianget sekitar jam 12 siang. Kapal nelayan yang akan mengantar kita ke Gili Labak sudah siap. Memang lebih mudah sih, karena kita ngajakin orang Sumenep langsung. Namanya Mas Agus, anggap saja dia Tour Guide kita. Karena dia, kita nggak perlu repot-repot nyari perahu dan tawar menawar. Dengan bantuan temannya, kita bisa mendapatkan perahu nelayan dengan sewa 700 ribu pulang pergi Kalianget-Gili Labak. Lumayan, lah. Sebenarnya, ke Gili Labak gini paling enak rame-rame, biar bisa patungan sewa perahu. Satu perahu biasanya muat sekitar 10 orang.
Ini anaknya Bapak yang punya perahu
Jam 12 lebih 15 menit, perahu motor nelayan sudah mulai meninggalkan Kalianget. Kita butuh dua jam perjalanan untuk sampai di Pulau yang tak terlihat dari Kalianget ini. Tapi, semangat-semangat!!!
Perjalanan memang lumayan lama, matahari juga panas banget. Ombak yang awalnya biasa-biasa saja mulai mengganas, membuat baju mau nggak mau jadi basah juga. Kalau kesini, siapin kresek buat bungkus tas, lalu jangan lupa bawa baju ganti, karena walau nggak snorkeling, pas turun dari perahu kalian harus nyemplung air. Jadi, tetep saja basah. Juga jangan lupa bawa makanan dan minuman secukupnya, biar nggak galau di atas perahu.
Mendekati Gili Labak, pulau ini sudah memancarkan pesonanya lewat pasir putih yang keren banget dari kejauhan. Bikin nggak sabar buat segera sampai. Dan saat perahu menepi, kamu bakal disuguhi dasar laut dangkal yang air jernih banget, sampai-sampai kamu bisa lihat ikan-ikan kecil berenang.
Tuh, kelihatan kan dasar lautnya...
Turun dari perahu, tulisan nama pulau ini sudah memanggil kita buat pasang aksi – asli, bawaan anak alay, ini.
Niatnya, sandal tinggal saja di perahu. Ternyata, bahhh…panas banget pasirnya. Terpaksa nyemplung air lagi buat ambil sandal.
Nggak mau buang-buang waktu, kita jalan-jalan keliling pulau. Semakin jalan kita ke kiri – maaf saya nggak tahu arah angin waktu di sana –  angin lautnya semakin terasa. Padahal, di bagian saat kita menginjakkan kaki pertama kali tadi, anginnya sama sekali nggak terasa, pasirnya juga panas banget. Tapi, di bagian kiri ini pasirnya enak, adem banget.
Yang menarik di Gili Labak, selain dasar laut yang terlihat, dan pasir putihnya, di sini ada pohon-pohon tumbang atau ranting-ranting pohon yang tertancap di atas pasir berwarna putih. Kayu apaan ini? Orang Sumenep sendiri juga nggak tahu.
Di Gili Labak ada jasa yang menyedakan alat snorkeling, tapi kegiatan ini katanya cuma ada di hari sabtu-minggu. Katanya orang sana, kalau malam minggu pulau ini ramai banget orang camping. Saking ramainya, penjual di sana selalu belanja ayam satu perahu bisa ludes dalam semalam.
Waktu terasa cepat banget di sini, bikin kita angkat tangan saat ditawari keliling seluruh pulau. Padahal, masih ada bagian-bagian pulau yang belum di eksplor. Mungkin, lain kali bisa ke sini lagi – serius?- hahaha… rasanya udah mabuk banget, berasa mikir lagi kalau mau ke sini.
Kita naik perahu lagi menuju Kalianget. Saat perahu mulai jalan, goyangan perahu ganas banget. Jiper juga. Alhamdulillah, semakin ke tengah perahu semakin stabil. Di temani sunset yang tertutup mendung, mata berasa berat banget karena ngantuk. Tapi, mau tidur gaya apa coba, kalau dek perahunya basah. Kalau maksa rebahan, baju basah boy.
Menikmati sunset di atas perahu sambil menahan kantuk
Hampir jam enam petang, kita masih di atas perahu. Mimpi apa coba bisa merasakan naik perahu nelayan kecil begini jam segitu. Untungnya, meskipun beberapa kali melihat mendung, hujan nggak turun. Kalau hujan, nggak tahu, deh. Di tengah laut, matahari udah nggak ada, naik kapal kecil, hujan pula, udah nggak usah dibayangin, terlalu mengerikan.
Sekitar jam enam atau setengah tujuh – maaf, lupa nggak nyimak jam –  kita berhasil kembali ke Kalianget, dan siap-siap buat pulang.
Setelah dari Madura, kita langsung pilih dianterin menuju ke Terminal Bungurasih. Lanjut pulang saja, tidur bisa di bus. Sampai rumah sekitar jam empat pagi. Habis subuh, langsung dah tidur dan baru bangun jam sembilan pagi.
Lagi-lagi aku cuma bisa pamer foto buat oleh-oleh. Secara, kantong tipis begini mau apa lagi yang bisa dibawa pulang selain diri sendiri dan foto-foto.
So, buat racun biar kalian makin mupeng jalan-jalan silahkan dinikmati oleh-olehku berikut ini.




















Dokumentasi  by Mas Agus, Alin Amijaya (@alinamijaya)  dan Ari Putu Amijaya (@ariputuamijaya)
Narasi by  Dian S Putu Amijaya (@dianputuamijaya)

Friday, November 13, 2015

Air Terjun Mlaten Ponorogo, Sisi lain yang belum tersentuh



Air Terjun Mlaten-Ponorogo, ini tempat wisata yang belum banyak orang tahu, akupun juga nggak tahu kalau nggak diajakin ke sana. Tempat ini baru terkenal di Instagram, jadi jangan heran kalau sampai di sana nggak ada orang.
Air Terjun Mlaten berada di Desa Temon, Kecamatan Sawoo, Ponorogo. Jalan menuju ke sana lumayan perlu perjuangan, karena pas aku ke sana, jalan yang lebih dekat ke tempat ini ditutup karena diperbaiki. Alhasil, kita harus muter dulu. Tenang, di sana memang nggak ada petunjuk arah, tapi penduduk Ponorogo orangnya ramah-ramah, bisa tanya mereka, biasanya mereka tahu tempat ini.

Dari kejauhan, kita sudah di sapa oleh Air Terjun Mlaten yang ternyata nggak ada airnya. Lho? Iya, nggak ada airnya karena musim kemarau. Buat menuju ke sana saja kita nggak tahu dari mana tracking-nya dimulai.
Tadi, waktu lewat sebuah rumah yang di depannya ditulisi “Parker” bukan Parkir, beneran gitu tulisannya. Sayang, nggak sempat foto tulisan itu kemarin – kita lanjut aja, gitu. Nggak peduliin tulisan itu, kesasar deh. Untung bisa segera sadar dan balik arah menuju rumah itu.
Sama penduduk sana, kita dikasih tahu jalur menuju Air Terjun Mlaten. Lewat kebun gersang, menuruni bukit dengan keadaan tanah yang gampang bikin tergelincir kalau nggak hati-hati, trus menyebrangi sungai, dan akhirnya sampai di tempat di antah berantah ini.
Awalnya, sudah nggak semangat. Di jalan, dalam hati membatin, “Ini ntar apa yang mau dilihat? Hello… itu air terjun nggak ada airnya, coy! Masak masih mau lanjut, sih?” Niat hati, aku mau nunggu di sini saja. Di sebuah batu di bawah pohon yang semilir-semilir anginnya. Cuma, kok ya ngeri juga sendirian disitu. Terpaksa lanjut.
Tempat galau pengin berhenti aja

Ternyata, sampai di sana pemandangannya cukup memuaskan. Sungai yang airnya nggak benar-benar kering, tapi airnya hanya menggenang di beberapa tempat dengan batu-batu besar di sekitarnya ini beneran asyik banget buat latar belakang foto.
Lanjut mengeskplor sungai ini, bebatuannya makin rapat dan makin besar. Dari sungai ini, Air terjun Mlaten yang airnya hanya kayak iler bayi umur satu tahun ini, punya tekstur tanah yang bergaris di tebingnya. Keren, lho, jangan diremahkan.
Jika kamu berani naik ke atas bukit, kamu bisa naik ke tebing Air Terjun ini. Tapi, aku nggak, deh… nggak mau ambil resiko, karena beberapa kali terdengar longsoran batu dan tanah dari tebing air terjun. Nggak besar kok longsorannya, tapi tetep ngeri saja.
Kita berada di sana lama banget, sekitar dua jam.
Perjuangan buat kembali ke tempat parkir berasa banget menderitanya. Huaah… panasnya dan jalannya yang menguras tenaga bikin ngos-ngosan. Apalagi, bekal yang dibawa sangat-sangat minim. Kita kekurangan air, dan makanan. Bayangin di tempat parkir nggak ada warung, apalagi yang jual es teh… makin galau hati ambo.

Aku ini tipe orang kalau suruh prepare pinter banget, tapi sama ketua regu-nya, aku nggak dibilangin kalau jalan-jalan kali ini mau mencari planet baru, ya pesiapanku cuma air satu botol isi 1500 ml doang.
Sampai di tempat parkir, langsung menyelonjorkan kaki. Tanya sama penduduk, ada warung, nggak? Seperti prediksiku, nggak ada. Adanya toko, itupun harus jalan kaki ke atas beberapa meter. Mau ke kamar mandi juga begitu. Di sana nggak ada air. Aduh, nggak sanggup! Mending segera turun, dan cari di bawah saja.
Untung ketemu Mushola yang sudah pakai Jetpam, dan jalan beberapa meter ketemu toko yang jual air dingin. Juga sprite buat obat masuk angin Mas Eko.
Eksplor tempat begini nggak bawa bekal, aduh… menderita, deh. Buat yang ke sini, mending bawa bekal dan minum cukup, dengan dess kode yang simpel dan pakai sepatu atau sandal gunung. Bawa tongkat lebih bagus, biar waktu naik dan turun bukit yang tanahnya gampang bikin terpeleset, bisa ada yang dijadikan pegangan.
Ini cerita singkat di akhir bulan Oktober. Ada cerita seru lain di Bulan Nopember. Gili Labak Madura, draf sudah siap, tinggal posting. Tungguin ulasannya, ya.
Dan terakhir, silahkan dicicipi oleh-oleh traveling kali ini. Kalau kamu kepingin, tinggal datang aja ke sana.
Jalan menuju ke sini awalnya mulus. Pemandnagannya jg oke











Foto by Eko P dan Reny Kusuma Wardani (IG : @RenyKusuma)
Narasi by Dian S Putu Amijaya (@dianputuamijaya)
 

Jejak Langkahku Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos