Saturday, June 8, 2013

Flash Fiction - Dear Chocolato Thump….Thump



Flash Fiction ini diikutkan 
dalam #QuizDy yang diselenggarakan 
oleh @DyLunaly Via Twitter 

 NB : Nama tokoh diambil dari Novel 
"My Daddy ODHA" Karya "DyLunaly" 
Langkah Tasia tampak ragu saat mendekati Aditya yang duduk di salah satu kursi panjang taman. Di tangannya ada sekotak coklat yang dia sembunyikan di belakang punggungnya.

“Kak Aditya,” suara Tasia tak mampu membuka mata Aditya. Kelihatannya dia sangat menikmati musik yang keluar dari earphone-nya.

“Kak!” sekali lagi dia coba menarik perhatian pria di depannya. Tapi, tetap tak ada reaksi sedikitpun.
Rasanya dia terlalu takut mengusiknya, walaupun Aditya sendiri yang meminta Tasia datang ke sana. Akhirnya, dia memilih berdiri di depannya, diam, dan hanya memandang wajah tenang Aditya yang masih terpejam.
Dia yang selalu melindungi dan membuatku bahagia saat hatiku mulai sakit. Apa mungkin dia malaikat yang Kau kirimkan untukku, Tuhan?” batin Tasia.
Tazia lama termenung menatap Aditya, sampai tiba-tiba mata pria itu terbuka dan menyadari kehadiran sosoknya.
“Tasia, sejak kapan kau di sini?” Aditya tampak terkejut. Dia segera melepas kedua earphone-nya dan menegakkan punggungnya yang sejak tadi terlihat nyaman bersandar di kursi.
Tasia menunduk menyembunyikan rona merah pipinya karena malu dipergoki si pemilik wajah.
“Hai, kau baik-baik saja?!” Aditya kembali bertanya karena Tasia tak juga menjawabnya.
“Oh, iya! Aku baik-baik saja, kak!” Tasia mencoba tersenyum biasa. “Aku…aku hanya takut mengganggumu!”
Aditya mengangkat alisnya tinggi-tinggi dan tersenyum, “Kau ini!” dia tampak tercengang dengan jawabannya.
Melihat Tasia yang kembali diam, Aditya menggeser duduknya dan menepuk kursi di sampingnya, “Hai, ayo duduk! Aku punya lagu baru, kau ingin mendengarnya?”
Tasia kembali mengangkat wajahnya. Dia agak ragu mengambil keputusan. Tapi, hatinya menuntun dia untuk menuruti permintaan Aditya.
“Dengarkan!” Aditya meletakkan sebelah earphone-nya ke telinga Tasia.
Picture by DyLunaly
Gadis itu terlihat salah tingkah dengan ulang Aditya yang tiba-tiba. Dia lagi-lagi menunduk untuk menyembunyikan rona merah yang kembali hadir mengejeknya. Bahkan, sekarang jantungnya pun tak kalah heboh menyoraki Tasia dengan detaknya yang semakin memburu.
“Itu coklat, ya?” tanya Aditya saat melihat sekotak coklat di pangkuan Tasia.
Tasia mengangguk, “Ini buat kakak,” ucapnya lirih.
Tadi malam, saat belanja di supermarket, tanpa sengaja dia melihat sekotak coklat yang membuatnya teringat pada sikap manis Aditya padanya. Dan, tanpa sadar diambilnya sekotak coklat itu untuk dimasukkan ke dalam trolly bersama belanjaannya yang lain.
“Untukku? Benarkah?!” Aditya terlihat gembira menerimanya. Dia segera membukanya dan mengambil satu, “Terima kasih!” Aditya tersenyum lagi sambil mengunyah sebatang coklatnya.
Senyum itu lagi-lagi membuat jantung Tasia yang sudah tenang bergejolak lagi, “Oh, Tuhan apa yang terjadi denganku?!” tanyanya dalam hati. Dia mencoba menguatkan dirinya untuk bertahan sampai akhir, dan berusaha tidak kabur untuk menyelamatkan dirinya dari senyum maut Aditya.

Monday, June 3, 2013

RESENSI - MISS PESIMIS : Cinta tak pernah tepat waktu




Sebuah novel fiksi keluaran Gramedia Tahun 2010, sebuah Metropop yang ditulis oleh salah satu penulis yang ku kagumi Mbak aliaZalea.
Mungkin ceritanya yang bertema cinta lama yang begitu melekat di hati sampai bertahun-tahun tak hanya aliaZalea yang bercerita. Namun, cara membawakannya harus diacungi jempol, tidak membuat pembaca bosan dengan tema ini. Dan untuk covernya memang terkesan biasa, tapi jangan pernah lupa dengan sebuah ungkapan Don't Judge a Book by Its Cover karena ungkapan itu sangat benar untuk novel ini.
Isi novel ini tentang cewek bernama Adriana Amandira usia 30 tahun yang masih juga belum bisa melupakan laki-laki yang bisa dibilang cinta pertamanya saat dia SMP, Thomas Baron Iskandarsyah. Kemudian saat dia kembali ke Indonesia, dia memiliki teman sekantor Ervin Daniswara yang sejak pertama bertemu Adri langsung tertarik dengan tingkah polahnya di dalam lift saat pertama kali masuk kerja. Mereka semakin dekat saat melakukan training di Cincinnati, dan sangat semakin dekat sampai menimbulkan gosip di kantor saat mereka kembali ke Jakarta. Yap, mereka digosipkan menjalin asmara.
Tapi, tidak, itu sama sekali tidak benar, Ervin memiliki kekasih, dan kekasihnya itu selalu bergonta ganti seperti ganti underwear itu bahasanya si Adri. Dan menurut Adri, dia bukan tipe cewek yang disukai Ervin. Dia hanya akan menjadi semacam date for rent kalau si Ervin kehabisan cewek. Hem, mengenaskan.
Namun, dugaannya ternyata salah. Diam-diam Ervin selalu merasa kangen sama Adri, dan dia baru menyadari kalau dia benar-benar sudah jatuh hati pada Adrinya ini saat di Hard Rock, saat Ervin tahu cinta mati sahabatnya Tom alias Baron, alias Thomas Baron Iskandarsyah alias lagi orang yang sudah memporak porandakan kisah cinta Adri. Orang yang membuat Adri tak bisa mencintai laki-laki lain selain Baron, adalah Adriana Amandira. Saat itu juga pagar beton tinggi mulai disusun Ervin untuk menjauhkan Adri dari Baron. Dan itu membuat Adri menilai Ervin mulai aneh, tapi tak ada fikiran sedikitpun kalau laki-laki itu mencintainya.
Suatu hari, Baron menyadari kalau dia menginginkan Adri dengan status dia akan menikah dengan Olivia, apalagi dalam pertunangannya dengan Oli terjadi masalah. Dia memutuskan membatalkan pernikahannya dengan Oli dan lari ke Adri. Dengan otak yang masih waras tapi hati hancur lebur, Adri malah menyatukan kembali cinta Baron dan Oli.
Kemudian, dia lari ke Lembang  berkat ide Ervin. Di sana dia memutuskan meninggalkan prinsip-prinsip seorang Adriana Amandira, dia akan menjadi wanita yang berbeda untuk melupakan Baron. sebuah ide gila muncul di otaknya, ide tentang one night stand. Sebuah ide dimana Adri akan mencari pelampiasan cintanya pada Baron, dan ini menyulut emosi Ervin. Dia tak rela Adri disentuh laki-laki lain.
Lalu, ide gila itu malah berakhir dengan Ervin yang mengambil kevirginan Adri.
Dan parahnya lagi, itu berakibat Adri hamil. Kehamilan yang disembunyikan dari Ervin yang menurutnya tak punya kwajiban untuk bertanggung jawab. Dengan dukungan kakaknya Tita dan kedua orang tuanya, Adri mulai menyiapkan diri menjadi orang tua tunggal.
Namun, karena sebuah kejadian di rumah sakit, Tita tak sengaja cerita kisah hidup adiknya pada kedua saudara Ervin. Jadilah Ervin diamuk sama kakaknya. Ervin yang saat itu ada training di Cincinnati untuk naik pangkat menjadi kepala divisi Business Development, jelas saja bingung. Menyadari rahasia besarnya diketahui Ervin, Adri kabur ke KL, dengan alasan menghadiri pernikahan Eddi.
Tapi ternyata Ervin mengetahuinya dan menyusulnya kesana, dan jalan keluar mulai terbuka. Kenyataan demi kenyataan keluar dari mulut mereka masing-masing walau dengan teriakan, dan keputusan gila Adri yang tetap mau kabur dari Ervin. Tapi, semua tetap terselesaikan dengan manis.
Kemudian, setelah Ervin menyelesaikan trainingnya di Cincinnati, semua skenario hidup Adri mulai ditata ulang. Dia menerima lamaran Ervin, mempersiapkan kelahiran putri mereka, dan tentunya menyiapkan pernikahan mereka yang disusun mendadak. Dan pesta itu berjalan lancar yang dihadiri beberapa orang kantor Adri, keluarga kedua mempelai, teman-teman dekat Adri, bahkan Olive dan Baron hadir disana. Saat itu Adri hamil besar, tapi tak meredupkan niat Ervin untuk mengadakan pesta pernikahan sederhananya itu, baginya Adri yang perutnya buncit itu terlihat seksi. Hem... Cinta yang manis.
Mungkin inilah ciri khasnya mb Aliazalea kalau nulis novel. Ringan, nyaman, mudah diterima, dan memikat walau tidak membuat yg membaca histeris atau mengeluarkan emosi, tapi menghibur. Untuk karakter tokohnya, Aku cukup suka, dan sangat suka dengan karakter Ervin. Lagi-lagi Mbak aliaZalea mampu membuatku jatuh cintrong dengan karakter cowoknya. Ervin yang playboy, kadang bisa begitu emosional, tapi bisa jadi cowok humoris, menghibur dan sangat manis. Hem, tipe cowok yang menggiurkan jika playboynya hilang...hahahaha. It's Oke, Playboy membuat novel ini semakin menarik, jangan dihilangkan. Dan karakter Adriana, benar-benar pesimis seperti judulnya. Walaupun si Ervin sudah ngotot bilang dia cinta sama Adri, tetep aja dia pesimis kalau dia bukan tipe ceweknya Ervin, keterlaluan. Tapi tindakan-tindakan Adri yang penuh kejutan sangat menghibur, bagaimana dia yang nggak egois dan melepaskan baron, dan keputusan menyembunyikan kehamilannya karena takut Ervin nggak siap jadi ayah dan nggak ingin menikah dengannya itu sangat luar biasa. Kira-kira ada nggak ya cewek kayak dia di dunia nyata? Mau tahu aku.
Dan, kejutan lainnya di novel ini ada si Tita dan Reilley tokoh di Blind Date muncul kembali dengan kelanjutan kisah mereka yang akhirnya memutuskan tinggal di Jakarta dan anak mereka udah lahir cowok. Hemm... sebeneranya saat membaca tokohnya punya panggilan lain selain Adri, yaitu Didi. Aku sadar kalau ini pasti adiknya Titania Larasati di Blind Date. Namun, nggak nyangka kisah Blind Date diselipin disini. Keren...keren...
Dan, karena novel ini yang ringan dan nggak perlu mikir banyak-banyak sama alur ceritanya, maka aku rekomendasikan banget buat para pembaca yang nggak suka sama novel yang ribet dan penuh teka teki silang. Karena simpelnya novel ini, aku hanya perlu setengah hari untuk menyelesaikannya.
Dan, aku tak akan berfikir lama untuk menyematkan 3 bintang dari 5 bintang untuk si cakep Miss Pesimis ini.
Hehehehe.... buat yang tertarik, selamat berburu novelnya dan selamat membaca.

RESENSI – COTT’ER CELO DE ROMA : Biarkan Aku Bebas!!!


Penulis           : Donna Widjajanto
Tebal              : vii + 225
Penerbit         : Bentang Belia (PT Bentang Pustaka)
No. ISBN      : 978-602-9397-99-4
Harga             : Rp. 39.500

Hidup akan lebih baik jika menggunakan kaki sendiri untuk melangkah, mata sendiri untuk melihat, dan hati sendiri untuk menentukan cintanya. Memang terkesan mudah untuk yang terbiasa menapaki sendiri hidupnya. Tapi, jika hidup yang harusnya bisa berdiri sendiri itu terlalu tak dipercaya, dan banyak tangan terlalu ikut campur menyangga hidupnya, apa yang akan terjadi?
Inilah yang dirasakan Zetta, seorang gadis yang tak pernah lepas dari pengawasan orang tuanya, membuatnya selalu takut sendiri dan terkesan tidak mandiri.
Cerita diawali dengan tragedi hilangnya Zetta di Phanteon. Untung dia bertemu Rama, salah satu anggota tour yang memang memutuskan untuk jalan sendiri tidak ikut rombongan tour yang lebih sibuk ke tempat-tempat belanja, karena tour ini memang bertujuan untuk shopping ala ibu-ibu arisan
Hilangnya Zetta bikin acara Shopping ibu-ibu jadi berantakan karena mama Zetta, Bu Sisil terlalu khawatir sama putrinya yang memang nggak pernah jauh darinya. Jadilah, Pak Totok dan Bu Jasmine mengorbankan acara belanja mereka dan menemani Bu Sisil mencari Zetta.
Karena nggak ketemu juga dengan Zetta, akhirnya mereka memutuskan kembali ke hotel, berharap mereka bertemu orang yang dicarinya.
Zetta yang bersama Rama tak bisa menikmati pemandangan Kota Roma yang exsotis, dan itu bikin Rama juga nggak bisa menikmatinya. Akhirnya, Rama menuruti permintaan Zetta untuk kembali ke hotel walaupun dengan setengah hati.
Sampai di hotel, Zetta berhasil bertemu dengan mamanya. Pertama bertemu, Bu Sisil bukannya menanyakan keadaan anaknya, malah memarahinya karena nggak mikirin mamanya yang cemas setengah mati. Dan, parahnya Bu Sisil juga memarahi Rama yang sebenarnya udah jadi penyelamat Zetta. Alhasil Bu Rita, Bibirnya Rama nggak terima keponakannya di tuduh ingin menculik Zetta.
Rama akhirnya pergi bersama Bibinya agar tidak terjadi perang dunia ke III antara Bu Rita dan Bu Sisil. Sedangkan Zetta malah ikut-ikutan kabur karena marah sama mamanya. Terpaksa Pak Totok mengejarnya, dan saat itulah Pak Totok ngusulkan ide gila. Dia ingin Zetta sementara jauh dulu dari mamanya, lebih baik Zetta jalan sendiri sama Rama, biar mamanya tahu, Zetta nggak selemah yang mamanya kira.
Dan terjadilah petualangan seru Zetta dan Rama, yang membuat mereka makin dekat. Banyak banget kejadian yang mereka alami, dari kesasar di gang-gang kecil kota Roma yang mirip seperti labirin, makan es krim yang berakhir romantis, sampai kecopetan. Dan, nggak ketinggalan  ketemu sama duo calon dokter asal Indonesia  yang punya misi keliling dunia.
Nah, disinilah Rama diuji. Dia harus menahan cemburu dan kesalnya karena melihat Arya yang nguntitin Zetta mulu. Di beberapa adegan, Zetta dan Arya memang terlihat akrab. Dan apakah Zetta beneran suka sama Arya, atau Zetta suka sama Rama? Berhasilkah Zetta membuktikan dirinya kalau dia bisa mandiri? Semua jawaban hanya bisa kalian temukan di Novel Sett’er Celo de Roma  
Sebenarnya, daya tarik Novel Sott’er Celo de Roma ini terdapat pada settingnya, dan kisah petualangannya. Tapi, Penggambaran Settingnya kurang dieksplor lebih, dan lebih menggutamakan konflik Zetta dan ibunya, atau Zetta dengan Rama, atau Zetta dengan dirinya sendiri. Inilah yang bikin ceritanya kurang sedap.
Dan lagi, penulis membuat sudut pandang yang cukup bervariasi dalam satu novel. Sudut pandang dibagi menjadi tiga, sudut pandang Zetta, Sudut pandang Rama dan sudut pandang penulis. Dan, tak ada keterangan saat sudut pandangnya berganti, tapi itu bukan masalah berarti bagiku. Dan, Jujur di awal cerita kehadiran sudut pandang penulis bikin jenuh, bikin cerita bergerak lambat. Tapi, pas pertengahan mulai kerasa satu kesatuannya.
Yang membuat aku sangat terganggu adalah banyaknya kesalahan tanda baca, dan juga pemilihan idiom yang kurang tepat. Ada beberapa kalimat yang kurang sesuai jika digunakan dalam pharagrap itu.
Contohnya  :
“Gue, eh…, yah…, seperti yang bisa elo kira-kira…gue agak-agak tipe pemberontak,” gue, mengaku, tapi kecil, mini, liliput. (Halaman 104)

Nah penggalan paragrap ini contohnya, “gue, mengaku, tapi kecil, mini, liliput.” Dalam penjelasan ini sebenarnya Rama ingin menggambarkan dirinya yang tak ada apa-apanya sama Zetta. Tapi, pilihan kalimatnya susah dicerna.
Juga penggunaan kata gue-elo pada Zetta. Bagi aku, Zetta itu anak rumahan yang jarang bergaul sama teman-temannya, dia pasti lebih sering pakek aku kamu. Kalau untuk Rama, Arya dan Andi sih fine-fine saja, karena karakter mereka adalah anak gaul.
Yang perlu diacungi jempol itu pada cara mbak Donna menceritakan kebiasaan ibu-ibu arisan, kesan rumpinya dapet banget.
Dan untuk karakternya, saat di awal cerita, aku merasa Rama terlalu cerewet untuk ukuran cowok, atau mungkin karena sudut pandang yang dipakai adalah sudut pandang pertama. Tapi, saat mulai ke tengah udah kerasa karakter yang sebenarnya. Walaupun Rama itu digambarkan anaknya suka berontak, tapi disini aku malah menangkap kesan Rama yang punya tanggungjawab dan tahu kemana dia ingin melangkah. Dia juga matang, dan dewasa dalam bersikap.
Sedangkan Zetta, aku menangkap karakter yang jauh dari kata anak mami, atau anak papi. Dia lebih terkesan cewek yang peduli dan penurut, juga berperasaan halus.
Kalau karakter Andi kenapa aku ngerasa di cuma hiasan, ya? Dia kurang diperankan sehingga aku kurang menangkap karakternya. Berbeda sama  Karakter pendukung yang lain.  Seperti pada karakter Bu Rita atau si Meyka, bahkan Karakter Agus si guide. Mereka benar-benar terasa fungsinya, nggak cuma hiasan. Maaf, ya mbak. :D
Dalam plot yang terus berjalan, Mbak Donna juga nggak mengesampingkan pesan-pesan moralnya. Dia ngajarin kita anak muda untuk menengok kekayaan yang dimiliki negaranya sendiri, jangan trus silau sama kekayaan negara asing. Seperti percakapan Arya dan Zetta tentang Museum di Indonesia.
……” kata Arya membela diri. “Lagian, museum di Indonesia ‘kan yah… gitu-gitu…”
“Ya, nggaklah! Justru tahun-tahun belakangan ini museum-museum di Indonesia makin bagus-bagus, loh!” sergahku. “Museum Gajah udah punya gedung baru yang keren banget. Di banyak museum juga sudah banyak peraga yang menggunakan komputer, layar sentuh, dan perangkat interaktif modern.” (Halaman 162)

Juga Sketsa Kota Roma yang tersebar di beberapa halaman. Bagus banget!!! Andaikan sama adikku dibolehin aku warnai, udah aku warnai itu sketsa… hahahaha…
Sekarang nilainya. Eh, aku kasih dua aja dari lima bintang. Tetap berkarya mbak Donna!!! Di tunggu karya selanjutnya dan kuis selanjutnya. Hahaha… asal tahu saja ya, novel ini lagi-lagi aku dapatkan secara cuma-cuma, hanya bermodal twitter saja. Makasih, mbak Donna

Sunday, June 2, 2013

Resensi - BeLOVErage : Rasa cinta di segelas minuman



Penulis             : Delia Angela, Liz Lavender, Lily Zhang,
  Catz Link Tristan, dan Try Novianti
Tebal                : 204 hal
Penerbit           : Elf Books
No. ISBN        : 978-602-19335-6-5
Harga               : Rp 35.000


“Ada begitu banyak jenis minuman yang tersaji dalam aneka rasa. Begitupula cinta.” Ini adalah kalimat yang tertulis di sampul belakang buku berjudul beLOVErage yang mengangkat aneka kisah cinta dalam berbagai rasa minuman kemudian dikemas indah dalam sebuah buku terbitan Elfbooks.
Iya, memang, aku sendiri setuju jika rasa minuman dikaitkan dengan rasa cinta. Contohnya kopi, minuman favoritku. Kopi punya aroma yang memikat, membuat kita selalu kangen untuk menyesapnya. Dan, saat bi
bir kita beradu dengan tepian cangkir kopi, kita seperti merasa tertipu dengan aromanya. Pahit, itu yang pertama terasa. Namun, pahitnya membuat kita tetap ingin mencicipinya sampai tetes terakhir. Dan jika kita meraba di dalam rasa pahit itu tersimpan rasa manis yang khas, yang tak akan kamu temui di minuman manapun. Dan, dari berbagai rasa minuman itulah lima penulis ini menuliskan kisahnya masih-masing.
Dalam buku beLOVErage ini terdapat 8 cerpen dan semuanya terinspirasi dari minuman. Ada banyak rasa yang akan kita temukan di buku ini, dari rasa manis, pahit, asam dan segar, serta hangatnya cinta yang memuaskan dahaga rindu. Delapan cerpen itu berjudul Magical Cola (Delia Angela), Hot Chocolate (Try Novianti), Coffee Avocado (Lily Zhang), A Glass of Beer (Catz Link Tristan), Margarita Obsessed (Liz Lavender), Sky Juice (Catz Link Tristan), Honey Lime Tea (Try Novianti), I Hate Lomonade (Liz Lavender), dan Green Tea, My Cupid (Delia Angela).
Dari delapan cerpen itu, aku sangat menyukai cerpen Hot Chocolate (Try Novianti). Cerpen ini begitu sederhana menceritakan cinta dengan konflik batin yang dirasakan Stan karena kehilangan istrinya saat melahirkan buah hati mereka. Baginya, Emma tak akan tergantikan sampai kapanpun, walaupun Emma bukan wanita sempurna, dia cacat, dia harus hidup dengan satu kaki palsunya. Tapi, Stan mampu membuktikan, cinta yang tulus adalah cinta yang menerima apa adanya pasangannya.
Cerpen ini juga memiliki alur dan bahasa yang begitu nyaman dinikmati, sampai-sampai aku tak menyadarai aku sudah hampir menyelesaikan ceritanya. Dan, dari awal sampai akhir cerita, aku terus dibuat penasaran karena tak satupun mampu aku tebak bagaimana cerita ini berkisah. Satu kata untuk cerpen ini, keren!!!
Cerpen kedua yang mampu membuatku mengacungkan jempolku adalah Sky Juice. Temanya benar-benar unik, mengangkat kehidupan gadis Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Singapura dan seorang pria mahasiswa Indonesia yang bekerja paruh waktu di sana. Konfliknya sih memang lagi ngetren ya, konflik perbedaan usia di antara cinta mereka, kayak konflik yang dialami Yuni Sarah dan Raffi Ahmad, Yang cewek lebih tua dari pada si cowok. Walaupun endingnya bisa ditebak, namun tetep asik kok.
Dan, cerpen yang paling aku tidak suka adalah Magical Cola (Delia Angela). Temanya memang bagus, cinta berbeda dimensi, sehingga cerpen ini lebih ke cerita fantasi. Tapi, alurnya sangat cepat, penggambaran settingnya juga kurang “Wao”, padahal sebagian besar setting di cerpen ini berada di dimensi berbeda, harusnya dapat dieksplor lebih dari pada ini. Endingnya juga sangat dipaksakan, seperti masih ada beberapa paragraf yang akan ditulis, tapi kehabisan kertas, jadilah mempersingkat cerita begitu saja.
Tapi, jangan hiraukan kelemahan satu, dua, tiga, empat dan seterusnya ini. Yang jelas buku ini cukup mampu menghiburku dengan beberapa cerpen yang mampu membuatku tertawa, seperti pada cerpen terakhir, Green Tea, My Cupid (Delia Angela).
Aku suka dengan adegan Junsu yang membohongi Hyosung di hari ulang tahunnya. Salut sama Junsu yang bersedia pura-pura koma dan masih disusahkan dengan alat-alat ruang ICU demi memberi kejutan Hyosung. Wao… romantis eeeaaahhh…
Akhirnya, dengan berbagai pertimbangan yang sudah matang, aku sematkan bintang 3 dari 5 bintang untuk buku ini. Selamat…selamat….
Oh, ya...ini buku gratis hasil menang kuis dari twitter @elfbooks , makasih Elf Book!

PEMENANG RESENSI 
PILIHAN DARI PENERBIT ELFBOOKS
 

Jejak Langkahku Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos