Showing posts with label Fanfiction. Show all posts
Showing posts with label Fanfiction. Show all posts

Sunday, November 9, 2014

Fanfiction ‘Fangirl’– TERSERAH KAU SAJA



Fanfiction ini diikutsertakan
dalam #KuisFangirl yang
diadakan oleh @NovelAddict_
bersama Penerbit Spring dan Haru
“Reagan.” Cath memicingkan matanya, menembus kegelapan kamar untuk memperjelas penglihatannya, mencari tahu siapa yang masuk kamarnya selarut ini.
“Shhhuuttt!!!”
Sebuah suara mengisyaratkannya untuk tidak berisik.
“Ini aku.” Ternyata Wren, saudara kembarnya.
Cath menarik tubuh, dan bersandar pada sandaran tempat tidurnya. “Kenapa kau ke sini?” Diam-diam Cath melirik tempat tidur di sampingnya. Ternyata, Reagen, teman sekamarnya sudah terlelap. Jam berapa dia pulang? Batin Cath.
“Dengarkan aku.” Wren melirik sekilas Reagen yang menggeliat berpindah posisi tidur. “Biarkan aku tidur di sini semalam saja. Please!” Wren menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
Cath menghela napas. “Memang, ada apa dengan kamarmu?”
“Kau hanya perlu menjawab, iya atau tidak, Cath!” Meskipun suara Wren pelan, tetap saja Cath menangkap nada sinis Wren.
Cath hanya mengangguk, lalu menggeser tubuhnya lebih ke pinggir, memberikan tempat untuk Wren.
Cath tidur menyamping. Namun, setelah tadi terbangun gara-gara Wren, sekarang dia tak bisa memejamkan matanya. Apalagi bau alkohol dari tubuh Wren benar-benar mengganggunya.
Sekali lagi Cath menghela napas. Karena terlalu putus asa, Cath beranjak dari ranjangnya. Dia mengambil jaket, lalu berjalan keluar kamar. Dia perlu udara segar. Mungkin, setelah berjalan-jalan sebentar, dia bisa mengantuk lagi.
Cath berjalan menelusuri koridor asramanya sambil menggumamkan percakapan dalam fanfiction Simon Snow yang akan dia tulis setelah kembali ke kamarnya. Semoga dia bisa mengingatnya karena dia lupa tidak membawa buku catatan untuk menulis ide yang terlintas tiba-tiba.
Langkah Cath terhenti di ujung lorong. Seorang cowok bernama Levi–yang beberapa minggui ini seperti mengikutinya–tampak asyik menekuri laptop.
Sedang apa dia malam-malam begini? Cath hanya mengintip dari balik dinding di dekat tangga.
Cowok itu tak tampak mengentik apapun. Dia seperti sedang membaca. Sesekali bibirnya tertarik ke ujung, memperlihatkan senyuman lebar, atau kadang malah seperti terpingkal-pingkal.
Cath semakin penasaran saja. Tapi, dia tidak akan mendekatinya. Tidak akan!  Cath takut, kalau dia mendekat, Levi akan merasa Cath mengijinkannya masuk ke dalam hidupnya.
“Tilililit…tilililit…” Cath hampir terjungkal karena terkejut. Bunyi ponsel siapa itu? Sesaat kemudian, dia baru menyadari bunyi ponsel itu dari saku jaketnya. Ya ampun, ternyata dia lupa mengeluarkan ponselnya dari dalam saku jaket sejak dari kampus tadi.
Cath, melihat nama ayahnya di layar ponsel.
“Ya, Yah?” Cath berusaha menjawab dengan nada sepelan mungkin, berharap suaranya tak di dengar Levi. Ah, cowok itu. Seketika dada Cath berdebar.
Seseorang menelepon Ayah. Mereka mencari Wren. Apa dia bersamamu?
“Iya, dia tidur di kamarku. Memang ada apa, Yah?”
Mereka bilang, Wren baru saja membuat seorang cewek masuk ke rumah sakit.” Cath dengan jelas mendengar suara ayahnya yang resah. “Ponselnya terjatuh, jadi mereka menghubungi Ayah.
“Ah, begitu.”
Bilang padanya, hari minggu dia harus pulang. Ayah akan bicara padanya.”
“Iya.”
Setelah telepon ditutup, Cath reflek memutar tubuhnya. Dia ingin mengintip cowok itu lagi, berharap Levi masih di sana dan tidak mencurigai apapun.
Sayang, saat tubuhnya berputar, mata Cath langsung bertemu dada bidang berkaos biru laut bertulis Melbourne. Perlahan, Cath mengangkat wajahnya, dan dia langsung bertemu dengan mata Levi.
“Sedang apa kau di sini, Cath?” tanyanya dengan senyum mengembang, seperti biasanya.
“Menerima telepon.” Cath menunjukkan ponselnya.
“Oh,” Bibir Levi membulat. “Aku sedang membaca fanfiction-mu. Menarik juga!” Senyumnya muncul kembali, membuat Cath salah tingkah.
Sebenarnya, Cath menyukai pujian Levi. Tapi, dia tak ingin cowok itu tahu. “Benarkah? Terima kasih!” ucapnya dingin.
You welcome!”
Mereka sama-sama diam.
“Aku akan kembali ke kamar.” Cath memutar tubuhnya dan mulai melangkah.
“Cath.”
Panggilan Levi membuat Cath menghela napas dan memutar tubuhnya.
Levi tersenyum saat Cath sudah menghadap padanya lagi, “Aku tahu pizza terenak di daerah sini. Mau mencobanya denganku?”
“Tidak!” lagi-lagi Cath menjawabnya dengan dingin.
Tanpa menunggu kata-kata Levi, Cath langsung melesat menuju kamarnya.
Levi masih mematung, melihat Cath yang menjauh. Dia hanya bisa menghela napas. Bahunya turun, tanpa putus asa.
Bagi Levi, Cath sangat misterius. Banyak hal seperti teka-teki yang membuat Levi ingin menemukan jawabannya satu persatu. Tapi, Cath begitu sulit di dekati. Kenapa? Kenapa Cath seperti itu? Apa karena dia tak menyukai Levi? Atau, dia merasa terganggu karena dia terus mengikutinya?
 ***
“Cath!” Teriakan itu sangat dikenalnya. “Pagi!” sapa Levi setelah berhasil menyamakan langkahnya dengan Cath.
Cath tidak menghiraukan Levi sama sekali. Tatapannya terus ke depan tak minat sedikitpun untuk melirik cowok di sampingnya, yang sesekali sibuk membalas sapaan teman-temannya.
“Bagaimana tidurmu? Nyenyak?” Sebuah pertanyaan yang tak tergantikan setiap pagi.
Dan, sama seperti biasanya, Cath hanya menjawab dengan bahunya yang sedikit naik ke atas.
“Baguslah!” Levi mengartikannya sebagai ‘ya’. Padahal, Cath sama sekali tak bisa tidur meskipun dia sudah pindah ke sofa. Cath tak tahan dengan bau alkohol di tubuh Wren yang menyerangnya semalaman.
“Kau masih ingat tadi malam aku menawarimu pizza, kan?” Levi menunggu jawaban Cath, tapi percuma. Jadi, dia langsung meneruskan. “Kalau kau tak ingin pergi, aku akan membawakannya untukmu.”
Cath menghentikan kakinya tiba-tiba, membuat Levi terkejut dan ikut-ikutan berhenti.
“Levi, aku sudah bilang, aku nggak mau!” Jawaban Cath terkesan terlalu ketus.
“Iya, aku tahu. Makanya–”
“Jangan ganggu aku!” Cath memotong kalimat Levi dengan intonasi agak tinggi.
Cath semakin kesal saat menyadari tatapan orang-orang terarah pada mereka. Dia sangat tidak nyaman menjadi pusat perhatian seperti itu. Dan, Cath langsung bergerak cepat untuk melarikan diri. Meninggalkan Levi yang masih mematung cukup lama sekedar untuk melihat Cath yang sudah menjauh pergi.
***

“Sampai kapan kau menghindarinya?”
Suara Wren membuat Cath mengalihkan perhatian dari layar laptopnya. Dia melihat sebentar ke arah Wren yang sibuk dengan kuku-kukunya yang merah menyala.
“Siapa?” tanya Cath. Dia sudah kembali sibuk dengan fanfiction-nya.
“Levi.”
Cath mendengus.
“Sepertinya, dia menyukaimu.” Tiba-tiba saja Cath merasakan hembusan lembut napas Wren di dekat telinganya saat cewek itu berbisik.
Cath melihat ke arah Wren. Dia bertemu senyum penuh arti dari saudara kembarnya.
“Berhentilah jadi manusia yang seperti bisa hidup sendiri, Cath. Tak ada salahnya, kan, mencoba menjalin sebuah hubungan.”
Cath terus saja mengetik, meskipun isi fanfiction-nya sekarang berantakan. Dia hilang fokus.
“Levi sepertinya cowok yang baik. Dan juga– “ Wren memberi jeda agak lama. “ –lumayan tampan.”
Cath mendengar Wren tertawa pelan. Tapi, dia tak berminat untuk ikut tertawa. Tak ada yang lucu. Dan, ini bukan lelucon.
“Ayah memintamu pulang minggu depan.” Cath mengalihkan pembicaraan.
Wren menghela napas. “Aku tak akan pulang. Paling-paling Ayah hanya akan memarahiku. Aku bosan mendengarnya mengomel.”
“Bagaimana dengan ponselmu?” Cath sudah tak lagi menatap laptop. Menurutnya, meneruskan menulis hanya akan berakhir sia-sia karena dia sama sekali kehilangan minat untuk menulis. “Apakah orang itu mengembalikannya?”
“Orang itu?”
“Orang yang menemukan ponselmu, dan menelepon Ayah.”
Wren mengangkat bahu, lalu menggeleng. “Aku tahu siapa yang sudah melaporkan aku pada Ayah. Aku akan buat perhitungan dengannya. Lihat saja nanti!” Dia tampak kesal. Tangannya terkepal di atas pangkuannya.
“Wren, berhentilah seperti ini.”
Wren malah tertawa mendengar nasihat saudaranya. “Aku seharusnya mengatakan hal yang sama padamu, Cath!” Wren membalas tatapan Cath. “Aku akan berubah jika kau juga berubah. Aku akan berhenti berulah saat kau berhenti jadi manusia introvert!” Wren beranjak dari duduknya. Sesaat dia memperhatikan roknya. “Cath, apa aku cantik hari ini?”
Cath melirik sesaat pada Wren yang tersenyum cerah. Dia sekedar mengangguk untuk memuaskan Wren.
Senyum Wren semakin melebar. “Aku akan berkencan malam ini. Berkencan itu sangat mengasyikkan. Kau harus menyobanya Cath!” Lalu, Wren berjalan siap keluar dari kamar Cath.
***
Cath hampir masuk ke halaman asramanya. Tapi, langkahnya terhenti–saat tanpa sengaja dia melihat sesosok tubuh yang cukup familiar untuknya–duduk di bangku sambil membungkuk, seperti menahan sakit di perutnya.
“Levi?” tanyanya pada diri sendiri.
Cath berusaha mendekat, sekedar memastikan penglihatannya.
“Aarrggg…” Agak samar-samar, Cath menangkap nada kesakitan Levi. Membuat Cath jadi ragu untuk meninggalkannya.
Dengan tidak yakin, Cath mendekati cowok itu. “Le-vi?” panggilnya lirih. “Kau – Em… kau, baik-baik saja?”
“Tidak… aku sedang tidak baik-baik saja.” Levi mengangkat wajahnya meskipun tubuhnya tetap membungkuk. “Kau punya obat mag?”
Cath menggeleng. “Aku akan membelikannya.” Dia langsung memutar tubuh dan berlari.
Tak sampai lima belas menit, Cath sudah di depan Levi kembali. “Minum ini.”
Levi menerima obat yang disodorkan Cath.
Cath duduk di samping Levi. Dia masih tampak menghawatirkannya.
Levi tersenyum, sebuah senyum yang tak bisa dilihat Cath karena posisi Levi yang masih menunduk. “Aku akan baik-baik saja, Cath. Jangan khawatir.”
Apakah dia mulai menganggapku teman? Batin Levi.
Sepuluh menit kemudian, keadaan Levi mulai membaik. Perutnya tak sesakit tadi. Dan dia sudah bisa duduk tegak meskipun tangannya masih memegang perut.
Levi menghela napas. “Terima kasih, Cath. Kau teman yang baik.” Sebuah senyuman mengiringi kalimat Levi. “Maaf, selama ini aku membuatmu terganggu.” Levi melirik cewek di sampingnya. “Aku sama sekali tidak bermaksud begitu. Aku hanya ingin berteman denganmu.” Levi tersenyum lebar. Perlahan sakit di perutnya mulai menghilang.
“Baiklah, sepertinya kau sudah membaik. Jadi, aku pergi.”
Levi menangkap tangan Cath saat cewek itu hampir melangkah. “Please, jangan pergi.”
Tatapan mata Levi membuta Cath tersentuh. Dengan berat hati, dia kembali duduk.
Suasana sedikit tidak mengenakkan di antara mereka. Dan Levi merasa dia harus merubahnya. “Maukah kau menjadi temanku, Cath? Aku janji, aku tidak akan menyusahkanmu. Please!”
Cath menatapnya dengan tatapan yang Levi tak tahu artinya. Yang jelas, mata itu mampu membuat jantungnya berdetak sangat kencang.
“Hanya teman, Cath. Aku tak akan minta lebih.”
“Kenapa kau ingin menjadi temanku?”
Levi tersenyum, “Karena–” Levi tampak berfikir. “Entahlah!” Cengirannya membuat Cath kesal. “Aku memang tak punya alasan, Cath. Aku hanya ingin jadi temanmu, hanya itu alasannya.”
“Puitis!” jawab Cath sinis.
“Baiklah, anggap saja aku fan beratmu. Jadi, aku ingin berteman denganmu karena aku terlalu mengagumimu. Bagaimana?”
Cath menyipitkan matanya. “Terserah kau saja!”
Lagi, Levi tersenyum. “Oke, kalau begitu kau mau, kan aku traktir pizza?” Levi sudah ikut berdiri, siap mengikuti langkah Cath.
“Terserah kau saja!” jawabnya sinis dan sangat lirih.
“Oke, nanti jam tujuh aku jemput.”
“Terserah kau saja!”
“Kau suka pizza dengan bawang bombay yang banyak atau sedikit?”
“Terserah kau saja!”
Levi terus membrondong Cath dengan berbagai macam pertanyaan. Tapi, Cath hanya menjawab dengan singkat, “Terserah kau saja.”
Namun, tak ada yang tahu rahasia arti kalimat ‘terserah kau saja’ yang terus diucapkan Cath pada Levi. Ya, bagi Cath, ‘terserah kau saja’ menyiratkan banyak arti.
Perlahan, mungkin setelah berjalannya waktu ‘terserah kau saja’ akan berganti menjadi kalimat panjang lebar tentang apapun yang ingin mereka bicarakan.
Terserah kau saja.
Ya, biarkan saja semua berjalan apa adanya, Cath. Kau akan menemukan banyak titik menyenangkan bersama Levi. Ya, terserah kau saja sampai kapan menganggapnya sekedar teman. Itu hakmu! []

*Nama tokoh diambil dari
Novel Fangirl terbitan Penerbit Spring

Wednesday, January 15, 2014

FanFiction "THEREAFTER" #WFFB


FanFiction ini diambil

dari novel Melbourne “Rewind”

karya Winna Efendi
 
Apa yang tersisa dari perpisahan?
Hampa.
Iya, itulah yang aku rasakan setelah mengantar Max pergi dalam diam.
Sejujurnya, saat itu aku ingin berlari, memeluk pungungnya, berkata lirih, “Please, don’t go!” Tapi, aku tahu ini mimpinya, ini pilihannya. Berhak ‘kah aku egois mencabut mimpi itu dari hidupnya?
Setahun berlalu. Tempat Max tetap saja kubiarkan kosong. Mungkin, rasa hampa ini terlalu nyaman hingga aku enggan beranjak pergi. Sama seperti kebiasan lama ini, duduk di pojok Prudence Bar, dengan segelas kopi di kanan laptopku. Sibuk mendengarkan musik, mempersiapkan playlist yang akan kuputar malam nanti.
Kadang, aku terdiam, menatap sofa kosong tepat di depanku, dan bayangan Max yang menekuri laptopnya muncul di depanku. Sempurna mengingatkanku padanya, sempurna mengatakan padaku, “Ternyata, aku masih merindukannya.”
Lagu Life After You milik Daughtry belum habis diputar, namun karena perasaan hampaku tiba-tiba berubah rindu─itulah yang mempengaruhi tanganku menggeser kursor dan mengklik dua kali tepat pada tulisan Back To You milik John Mayer, dan bergantilah lagu di dalam earphodku.
Back to you
It always comes around
Back to you
I tried to forget you
I tried to stay away
But it's too late

Pelan, kupejamkan mataku, menyandarkan tubuhku senyaman mungkin dalam pelukan sofa tua Prudence. Menghayati setiap baitnya, menyenandungkannya pelan seperti mengucap doa. Berharap setiap liriknya memanggil Max kembali dalam hidupku. Berharap dia membawakan rasa itu kembali dalam hatiku, menggantikan hampa yang tak pernah pergi.
“Maximillian, mungkinkah kau kembali di hidupku lagi?”
***

Jika lagu yang aku putar tadi, yang kusenandungkan dengan mata terkatup dengan suara lirih bak hatiku yang bernyanyi, benar-benar tersampaikan padanya dan membuatnya berlari menghampiriku saat ini, mungkin inilah yang disebut keajaiban. Dia kembali, dia ada di depanku sekarang, menatapku, dan perlahan tersenyum padaku.
Nyata, iya, dia nyata!
Tapi, kenapa aku gamang?
“Hai!” Syukurlah dia menyapaku lebih dulu. Setidaknya aku tahu dia masih mengingatku.
“Hai, Max!” kucoba mengatur hatiku, menahan semua rasa yang hampir-hampir meluap mengisi seluruh ruang yang dulu hampa. “Apa kabar?”
Dia mengangkat bahunya, bergerak satu langkah lebih dekat denganku. “Baik!” Senyum itu, senyum yang sama, senyum yang selalu membuat aku tertular senyumnya. “What about some coffee?”
Masih juga dengan ajakan yang sama, seperti ajakan pertamanya.
Aku menggangguk, sekarang gantian aku yang bergerak mendekatinya. Saat aku sudah berada tepat di sampingnya, mata kami bertemu, namun tak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya.
Dia memindahkan pandangannya, berdehem sekali sambil membetulkan tali ransel yang bergelayut manja di bahu kanannya.
Prudence?” Dia menyebut nama bar tempat dulu kami sering menghabiskan waktu.
Aku hanya menggangguk.
Ah, aku butuh waktu untuk bersikap biasa.
Atau aku perlu melihat ke dalam dirinya, di sampingku ini masihkah Maximillian yang sama? Apakah aku masih bisa berlari dan memeluknya sepeti dulu? Atau dia sekarang sudah berbeda?
***
 
Pertanyaanku terjawab. Dia masih tetap sama dengan sosok yang meninggalkanku beberapa tahun yang lalu. Aku bisa menjawabnya setelah beberapa kali bertemu dengannya, menghabiskan waktu di Prudence Bar, menikmati kopi kami masing-masing dan dengan aktifitas kami yang diselingi percakapan ringan dengan topik sedikit menyerempet pada apa yang kami lakukan saat kami berpisah, dan kenapa dulu kami akhirnya memutuskan saling mencintai.
“Ah, hujan!” ucapan lirihnya membuat aku mengangkat wajahku dari layar laptop. Pandanganku ikut-ikutan menatap jalanan depan Prudence lewat kaca besarnya.
“Hem,” gumamku belum mengalihkan pusat pandangku dari hujan.
“Masih sama seperti dulu.” Kudengar desahan nafasnya, namun dia juga belum berpaling. “Masih sama seperti saat kita sering duduk di sini, saat sebelum kita belum seperti ini.”
Kualihkan juga tatapanku. Sedikit menunduk, kukulum senyum simpulku, namun ada yang perih di hatiku. “Seperti ini, memang kita seperti apa sekarang?” kuangkat wajahku, kutatap langsung matanya.
Dia mengakat bahunya. Dengan sedikit kasar dia banting punggungnya pada sandaran sofa. “Sekarang kita berbeda. Kamu dan aku berbeda.”
“Waktu membuat semua orang berbeda, Max!”
“Ya.”
“Sebenarnya, dunia tetap saja berubah, kadang kita saja yang tidak sadar.”
“Tapi, apa perubahan itu bisa mengembalikan sebuah keadaan?”
“Dia bisa menghapus, tapi mungkin dia juga bisa mengembalikan.” Aku kembali menatap layar laptopku. “Memang apa yang ingin kamu kembalikan?” tanyaku tanpa mengalihkan pandanganku.
“Hubungan kita.” Ucapannya mampu menghentikan detak jantungku sepersekian second.
“Ya?” tampang bingungku membuatnya tersenyum.
Dia meneguk kopinya sampai tandas, lalu kembali bersandar. “Laura, waktu memang membawa lari hubungan kita, membuatnya putus karena jarak bermil-mil. Sekarang waktu mengembalikan aku di dekatmu. Apakah hubungan itu bisa diikat kembali?” Sekarang kulihat wajah itu tampak serius, lebih serius. “Namanya juga ikatan, jelas tak akan sesempurna tali yang utuh. Namun, aku ingin kita berusaha menyempurnakannya. Apakah kamu mau menjalin hubungan ini kembali?”
Speechless, aku tak siap dengan semua argumen dan pertanyaannya. Ini terlalu mendadak. Memang, aku menikmati kebersamaan kami, tapi untuk kembali, entahlah, aku sedikit takut.
“Max…” sulit sekali merangkai kata ini. “Biarkan aku berfikir. Oke?” Kupijat keningku karena terlalu pusing.
“Kenapa?”
“Entahlah! Mungkin aku sedikit terkejut dengan ucapanmu.”
Dia tertawa hambar. “Terkejut? Benarkah? Aku pikir kamu sudah menantikan pernyataanku. Aku pikir─“ dia memalingkan wajahnya, menatap bartender di ujung lain yang sedang memperlihatkan sedikit kelihaian atraksinya. “Yah, aku rasa aku terlalu percaya diri.” Kulihat bahunya tampak jatuh ke bawah.
“Aku hanya perlu waktu berfikir. Ini bukan sebuah penolakan. Bisakah kau bersabar sebentar. Aku harus benar-benar tahu apa yang aku inginkan untuk hubungan kita.”
“Apa kau tak nyaman dengan kehadiranku?” suaranya tampak lemah.
“Aku nyaman berada di dekatmu.”
“Lalu?”
“Aku takut kau pergi lagi!”
Max mengerutkan dahinya. “Oh, Laura!” Dia menggeleng tak mengerti. “Jadi, masalahnya kamu trauma aku pergi lagi?”
Aku tersenyum sekilas. Kumatikan laptopku dan memasukkannya ke dalam tas. “Aku harus pergi.” Kulirik jam tanganku, pukul delapan lebih lima menit waktu Melbourne, tandanya satu jam lagi aku harus sudah ada di studio untuk persiapan siaran malam. “Kita bicara lagi besok.” Kusandang tali ranselku. “Bye, Max!” ucapku sebelum meninggalkannya. Tampak dia hanya menggangguk dan tak membalas senyumku.
Ah, Max, kenapa kamu tampak begitu kecewa? Kenapa kamu seperti terluka? Padahal aku tak yakin tak melukaimu suatu saat nanti jika kita benar-benar kembali bersama. Dan jika itu terjadi, apakah aku tahan melihat kamu kesakitan karena aku?
Ah, Max, waktu sepertinya merubah hatiku, mendekorasi ruang sempit itu. Apa mungkin waktu membuat buram namamu disana hingga aku sendiri tak yakin untuk berucap “Ya” saat kau menyatakan keinginanmu itu?
“Maaf!” gumamku.
Kupercepat kakiku menyusuri jalanan yang basah karena hujan yang sekarang tinggal gerimis, namun tetap saja udara terasa sangat dingin hingga membuatku harus menarik ujung jaketku semakin rapat.
***
 
Seminggu ini kami tak bertemu. Meneleponku pun tidak. Dan aku semakin terpuruk dengan flu yang melandaku. Sialnya, Cee sahabatku sedang berlibur dengan tunangannya, jadi seratus persen akulah yang harus merawat diriku sendiri.
Hakzziiingggg…!!!!
Entah berapa kali aku bersin. Suhu tubuhku pun tak bisa dibilang normal. Untuk mengambil minumpun rasanya malas bangun. Ya ampun, rasanya aku mau mati.
“Max,” aku ingat hanya dia yang bisa menolongku. Kuraih ponselku yang terdiam di atas meja dekat tempat tidur. Kuketikkan pesan singkat padanya.

Max, bisakah kamu belikan aku obat flu?

Setengah jam kemudian bel berbunyi, susah payah aku menyeret kakiku membuka pintu. Dan saat pintu terbuka, Max memelukku, menyangga tubuhku yang hampir terjatuh.
“Kamu baik-baik saja, Laura?” Katanya sambil mengangkat tubuhku menuju ke kamar. Ah, baunya inilah yang membuatku selalu rindu padanya.
Setelah meletakkanku di atas tempat tidur dan memastikan selimut menutup tubuhku, dia pergi entah ke mana. Yang aku tahu, dia kembali dengan cepat, dan kuarasakan ada handuk basah melekat di keningku. Setelah itu aku disodori beberapa pil dan segelas air. Selesai meneguknya aku langsung tertidur.

Pagi itu, wajah Max lah yang pertama kulihat. Rasanya tubuhku lebih baik. Kucoba untuk duduk. Kuperhatikan Max yang tidur di sofa persis di dekatku. Sepertinya dia membuat sofa kesayanganku berpindah tempat. Aku tersenyum membayangkannya susah payah memindahkannya sendirian.
Thanks, Max!” ada perasaan hangat dalam dadaku. “I love you.” Tanpa aku sadari kalimat itulah yang berikutnya kuucapkan. Dan saat itulah aku sadar, tempat itu masih dihuninya. Sekarang, nama yang dulu samar sudah kembali sangat jelas tercetak di sana.
Kini aku yakin untuk menerima tali yang dia sodorkan padaku.
I love you, Max!”
“Hem…” Aku tertawa mendengar gumamannya dalam tidur. Dia tampak sangat lelah.
Kira-kira tadi malam dia di mana saat aku kirimi pesan, ya? Semoga dia tidak sedang sibuk. []

Saturday, June 8, 2013

Flash Fiction - Dear Chocolato Thump….Thump



Flash Fiction ini diikutkan 
dalam #QuizDy yang diselenggarakan 
oleh @DyLunaly Via Twitter 

 NB : Nama tokoh diambil dari Novel 
"My Daddy ODHA" Karya "DyLunaly" 
Langkah Tasia tampak ragu saat mendekati Aditya yang duduk di salah satu kursi panjang taman. Di tangannya ada sekotak coklat yang dia sembunyikan di belakang punggungnya.

“Kak Aditya,” suara Tasia tak mampu membuka mata Aditya. Kelihatannya dia sangat menikmati musik yang keluar dari earphone-nya.

“Kak!” sekali lagi dia coba menarik perhatian pria di depannya. Tapi, tetap tak ada reaksi sedikitpun.
Rasanya dia terlalu takut mengusiknya, walaupun Aditya sendiri yang meminta Tasia datang ke sana. Akhirnya, dia memilih berdiri di depannya, diam, dan hanya memandang wajah tenang Aditya yang masih terpejam.
Dia yang selalu melindungi dan membuatku bahagia saat hatiku mulai sakit. Apa mungkin dia malaikat yang Kau kirimkan untukku, Tuhan?” batin Tasia.
Tazia lama termenung menatap Aditya, sampai tiba-tiba mata pria itu terbuka dan menyadari kehadiran sosoknya.
“Tasia, sejak kapan kau di sini?” Aditya tampak terkejut. Dia segera melepas kedua earphone-nya dan menegakkan punggungnya yang sejak tadi terlihat nyaman bersandar di kursi.
Tasia menunduk menyembunyikan rona merah pipinya karena malu dipergoki si pemilik wajah.
“Hai, kau baik-baik saja?!” Aditya kembali bertanya karena Tasia tak juga menjawabnya.
“Oh, iya! Aku baik-baik saja, kak!” Tasia mencoba tersenyum biasa. “Aku…aku hanya takut mengganggumu!”
Aditya mengangkat alisnya tinggi-tinggi dan tersenyum, “Kau ini!” dia tampak tercengang dengan jawabannya.
Melihat Tasia yang kembali diam, Aditya menggeser duduknya dan menepuk kursi di sampingnya, “Hai, ayo duduk! Aku punya lagu baru, kau ingin mendengarnya?”
Tasia kembali mengangkat wajahnya. Dia agak ragu mengambil keputusan. Tapi, hatinya menuntun dia untuk menuruti permintaan Aditya.
“Dengarkan!” Aditya meletakkan sebelah earphone-nya ke telinga Tasia.
Picture by DyLunaly
Gadis itu terlihat salah tingkah dengan ulang Aditya yang tiba-tiba. Dia lagi-lagi menunduk untuk menyembunyikan rona merah yang kembali hadir mengejeknya. Bahkan, sekarang jantungnya pun tak kalah heboh menyoraki Tasia dengan detaknya yang semakin memburu.
“Itu coklat, ya?” tanya Aditya saat melihat sekotak coklat di pangkuan Tasia.
Tasia mengangguk, “Ini buat kakak,” ucapnya lirih.
Tadi malam, saat belanja di supermarket, tanpa sengaja dia melihat sekotak coklat yang membuatnya teringat pada sikap manis Aditya padanya. Dan, tanpa sadar diambilnya sekotak coklat itu untuk dimasukkan ke dalam trolly bersama belanjaannya yang lain.
“Untukku? Benarkah?!” Aditya terlihat gembira menerimanya. Dia segera membukanya dan mengambil satu, “Terima kasih!” Aditya tersenyum lagi sambil mengunyah sebatang coklatnya.
Senyum itu lagi-lagi membuat jantung Tasia yang sudah tenang bergejolak lagi, “Oh, Tuhan apa yang terjadi denganku?!” tanyanya dalam hati. Dia mencoba menguatkan dirinya untuk bertahan sampai akhir, dan berusaha tidak kabur untuk menyelamatkan dirinya dari senyum maut Aditya.

 

Jejak Langkahku Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos