Saturday, March 8, 2014

Resensi – Get Lost “Jejak-jejak Hati”



Penulis : Dini Novita Sari
Penerbit : Bhuana Sastra
Terbit : 2013
Tebal : 198 halaman
Genre : Traveling, Romance
ISBN : 978 – 602 – 249 – 439 – 3
Harga : Rp. 32.500

“Entah kenapa aku semakin merasakan gejolak yang hebat untuk berpergian. Sial!  Inilah akibanya kalau terus meracuni diri dengan hal-hal yang kuketahui telah menjadi passion-ku.” Hlm. 88

Aku tersenyum, ya itu juga yang aku rasakan. Sejak awal membuka bab pertama Get Lost, aku tahu novel ini akan cocok denganku. Karena aku juga seorang traveler.
Lana, si cewek kantoran yang terobsesi dengan traveling selalu meluangkan waktunya untuk menuntaskan hobinya. Awalnya, alasannya hanya sekedar untuk menghilangkan kejenuhan dari rutinitasnya di Jakarta.
Namun, perjalanan itu ternyata lebih dari semua yang dia inginkan. Banyak ilmu hidup yang dia dapat, banyak teman baru yang bisa dia kenal, dan ada beberapa hal dalam hidupnya yang mulai terkuak. Yaitu, ternyata tujuan traveling-nya selama ini tak sesederhana itu. Ada hal lain yang ingin dia tuntaskan.
“… aku menyadari bahwa traveling bukan lagi sekedar sarana untuk melepas stres, atau refreshing. Ada sesuatu yang lebih dari pada itu, yang membuatku ketagihan untuk melakukan kegiatan ini.” Hlm. 89

Dharma, adalah pria yang membuat Lana tertular asiknya berpergian. Dia juga yang membuat Lana merasakan ketergantungan akan hadirnya, dan membuatnya jatuh cinta. Namun akhirnya, dia juga yang membuat Lana kecewa, karena saat Lana sudah memutuskan mencintai pria itu, dia malah pergi tanpa jejak. Dan, sejak saat itu, muncul pertanyaan-pertanyaan dalam diri Lana yang tidak bisa dijawabnya. Namun, di tempat-tempat yang disinggahinya itulah pertanyaannya sedikit demi sedikit mulai mendapatkan pencerahan.
“Lo ada di sini untuk mencari jawaban itu kan? Di sisi mana lo hendak berpijak?” hlm. 46
“Manusia memang hidup ditakdirkan untuk mencari jawaban… yang tak kita ketahui, seringnya jawaban itu sudah tersedia di hadapan kita, kita saja yang terlalu jauh mencarinya, hingga seolah tak tampak.” Hlm. 46

Pada dasarnya, novel ini memang cocok untuk pembaca yang hobi traveling. Karena novel ini memang bercerita tentang perjalanan ke tempat-tempat menarik di beberapa bagian dunia, seperti Bali, Singapura, Korea Selatan, Surabaya, dan Bromo.
Namun, karena ada kisah romance dan beberapa ungkapan inspiratif, novel ini mungkin juga bisa disukai oleh pembaca yang nggak suka sama sekali sama traveling. Atau, mungkin pembaca malah akan tertarik dengan hobi Lana setelah menghabiskan lembar terakhirnya. Siapa tahu, kan?
Get Lost disampaikan dengan sudut pandang orang pertama, yaitu Lana. Dia menceritakan kisah perjalanannya yang tanpa perencanaan dengan ringan bagaikan bercerita dengan temannya. Dan cerdiknya, kisah ini semakin semarak dengan dicampurnya genre traveling dan roman jadi satu. Ini perpaduan rasa yang unik.
Sayangnya, keindahan tempat-tempat yang dikunjungi Lana kurang menarikku untuk benar-benar larut dalam pesonanya. Mungkin karena Lana lebih sering mengungkapkan keindahannya dengan diskripsi ala reporter, melaporkannya secara tersurat bukan tersirat dalam setiap adegannya. Atau lebih sederhananya, keindahan setting tempatnya kurang menyatu dengan cerita.
Lalu, aku sedikit ngeri dengan keberanian Lana menyambut keakraban orang asing dalam hidupnya. Contohnya, saat Paul mengajaknya tinggal satu kamar. Wao…dia mau? Padahal, belum tentu Paul itu baik. Sekarang ini, banyak orang jahat berkedok orang baik dan tulus, ala Paul.
Dalam novel ini ada beberapa cerita yang sebenarnya jika diceritakan secara detail akan menambah manisnya kisah romance-nya. Seperti bagaimana haru-birunya Paul dan Nayna saat kembali bersatu. Kesannya, cerita ini di-skip dan langsung loncat ke saat mereka menikah.
Sebenarnya, loncatan-loncatan antar bab di novel ini memang agak lebar, ya. Apalagi di bab setelah Lana pulang dari Korea Utara dan bab saat dia pulang ke Surabaya.
Aku kira, saat kubalik bab setelah Lana kembali ke Indonesia, aku akan mendapati sekelumit kisah Lana di Jakarta atau mungkin di kantornya. Tapi, tidak seperti itu. Tiba-tiba Lana sudah di stasiun, menunggu kereta yang akan mengantarnya ke Surabaya.
Setahuku, sebuah novel harus punya kisah yang runtun antar bab. Jika memang penulis ingin meloncat langsung ke suatu bagian, penulis harus mempertimbangkan keterkaitan antar babnya juga. Minimal, memberikan penjelasan yang menghubungkan antar kisahnya.
Namun, inti sari dari apa yang ingin disampaikan sukses masuk ke dalam hati. Intinya, novel ini sangat menginspirasi juga. Ehm, dan buat penyuka traveling, apalagi traveler pemula sepertiku, emang harus baca novel ini, karena banyak tips yang berguna banget kayak alamat tempat yang akan disinggahi nggak boleh hilang waktu ke luar negeri. Trus, ternyata nggak gampang cari penginapan di Poppies Line, Bali. Selama ini, aku pikir gampang, kayak nyari losmen di sekitar Malioboro, Yogyakarta.
Kisah yang paling menyentuh di novel ini adalah saat Lana bercerita tentang papanya yang rela tidur di bawah dan memberikan jatah kursinya untuk dia tidur berselonjor kaki. Dan, aku juga suka interaksi Lana dan Robin. Mungkin karena Robin yang karakternya ramai dan beberapa bahasa ala Jawa Timuran yang digunakan Robin membuat suasana jadi sedikit renyah.

Untuk tempat yang menurutku menarik adalah Bromo. Alasannya, karena Bromo adalah tempat yang paling indah yang pernah aku kunjungi. Namun, aku sedikit kecewa karena Bromo tak banyak diceritakan secara detail. Di sini, hanya Pananjakan, yaitu tempat melihat sunrise paling indah di Bromo saja yang dijadikan settingnya.
Padahal, ada savana yang super eksotis, pasir berbisik yang benar-benar menakjubkan. Atau bagaimana serunya bertualang dengan Jeep. Ups, aku lupa. Lana tidak menggunakan Jeep saat menjelajah Bromo, tapi jalan kaki.
Beberapa orang memang ada yang memilih jalan kaki karena harga sewa Jeep di sana agak mahal, dan mulai tahun 2014 ini, harga Jeep dan tiket masuk Bromo makin mencekik untuk para traveler tak banyak duit kayak aku. Huft, tega benar!
Tapi, di sanakan Lana kenal Krisna yang asli orang Bromo. Kenapa Krisna tak mencarikan Jeep harga murah untuk Lana dan membiarkan tamunya ini bersusah payah menerjang padang pasir di malam gelap? Jahatnya!
Spesial untuk endingnya, aku beri jempol dua. Ending seperti ini menurutku ending yang genius. Kenapa? Ada yang bilang padaku, manusia tak pernah punya kisah tamat dalam hidupnya, kecuali dia mati. Dan, tak terkecuali dalam fiksi.
Lana memang menutup kisahnya karena pertanyaannya terjawab. Namun, Lana tidak menamatkannya begitu saja. Dia memberikan gambaran seperti apa pilihan hidupnya setelah itu. Dia seperti menyajikan sebuah dessert yang membuat pembaca minta lebih dan nggak mau berhenti.
So, aku memberikan rating 2,7 dari 5 bintang untuk novel ini.
Tulisan ini diikutkan dalam Indonesian Romance Reading Challange 2014

Monday, March 3, 2014

Resensi - AUTUMN ONCE MORE “Warna-warni Dunia Cinta”



Penulis : Ilana Tan, Ika Natassa, aliaZalea, dkk
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Genre : Metropop
Tebal : 232 hlm
Terbit : April 2013
ISBN : 978 – 979 – 22 – 9471 – 2
Harga : Rp. 40.000

Cinta, selalu banyak rasa dan selalu penuh warna. Hadir di setiap lembar kehidupan manusia. Dan cinta tak pernah mati sampai kiamat tiba. Karena itu, cinta punya banyak kisah, dari perpisahan, pertemuan, penghianatan, sampai yang paling menyesakkan.
Autumn One More, sebuah kumpulan cerpen Metropop yang ditulis oleh pengarang berkaliber aliaZalea, Ilana Tan dan Ika Natassa. Juga para editor-editor ngetop yang selama ini ikut ambil bagian dalam mensukseskan sebuah novel. Mereka berkumpul, bercerita tentang cinta dalam cerpen metropop yang manis, pahit dan menyenangkan.
Hem, mendengar nama besar mereka, jelas aku minat banget buat mengambil 1 eksempler untuk dinikmati.
Berawal dari ketertarikan itu, aku menghambiskan beberapa mingguku yang padat dengan aktifitas kerja dan menulisku. Dan aku menemukan banyak kisah cinta dari yang klise sampai bombastic di setiap lembarannya. Ending yang bisa ditebak dan ending yang memukau jadi bagian akhir yang menarik. Juga, tokoh-tokoh yang bikin ngiler sampai pingin meluk, semua ada di sini.
So, selamat menikmati ulasan dariku!

Be Careful What You Wish For (aliaZalea)
Persis ciri khas aliaZalea. Tokoh cowoknya pasti mempesona. Tema yang diambil juga lagi jadi fenomena, yaitu men-stalker cowok yang sedang ditaksir lewat media sosial.
Ceritanya mengalir. Pastilah, aliaZalea gitu! Diksinya enak. Jelas banget! Endingnya, selalu happy ending.
Tapi, aku punya pendapat, mbak satu ini kayaknya cocok nulis novel aja. Bikin cerpen begini terkesan membuatnya sedikit ditekan. Ada beberapa rasa yang hambar, dan kurang greget.
Rating : 2,3 dari 5 bintang

Thirty Something (Anastasia Aemilia)
Oke, ceritanya memang klise. Tentang persahabatan yang masing-masing di antara mereka memendam perasaan satu sama lain. Tapi..tapi…cerita yang dibangun benar-benar membuat aku terhipnotis hingga akhir. Dan lagi, kenapa endingnya semenohok itu, sih? Kenapa kadang cinta bisa sekejam itu?
Rating : 2,8 dari 5 bintang

Stuck With You (Christian Juzwar)
Cerita yang berawal gara-gara lift sering ngadat dan bikin tokoh utama bertemu dua cowok yang berbeda karakter. Di sana dia mulai melirik seorang cowok jutek, namun akhirnya dia malah deket dengan cowok yang ramah. Siapa sangka si cowok jutek sebenarnya jatuh cinta juga dengannya. Dan, dengan cara yang berbeda, si cowok jutek memberikan perhatiannya pada si tokoh utama.
Okelah, lagi-lagi tipikal cerita klise. But, masih oke, kok! Takaran romantisnya pas dan dapet banget.
Rating : 2,5 dari 5 bintang

Jack Daniel’s vs Orange Juice (Herriska Adiati)
Ini tentang kisah persahabatan para cowok. Di sini, dihadirkan bagaimana kehidupan cowok dalam pergaulan dan bagaimana cara berfikir cowok tentang pencarian pelabuhan hati. Pelabuhan hati di sini bukan sekedar bikin jatuh cinta dan pacaran, namun lebih ke jenjang pernikahan.
Lalu, mulailah konfliknya. Si tokoh yang nyoba naksir anak Pak Haji mulai berubah. Tapi, cinta kadang memang kejam. Dia harus kecewa setelah berusaha menjadi lebih baik. Dan, itulah makna yang ingin di sampaikan.
“Cewek juga menginginkan cowok baik-baik buat jadi suaminya, apalagi anak Pak Haji dan Bu Hajjah.” Hlm. 69

Rasanya, aku ingin banget para cowok di luar sana baca cerita ini. Biar mereka nggak egois, mencari cewek baik-baik untuk mereka nikahi. Tapi, mereka sendiri belum tentu bisa jadi orang baik-baik untuk para gadis baik-baik itu.
Ada satu kutipan yang nohok banget buat cewek.
“Gue heran, kenapa cewek suka banget ngasih pilihan-pilihan nggak masuk akal. Pilih lembur atau nge-date? Pilih dia tau rokok? Lha, buat bayar nge-date di restoran pakai duit apa kalau nggak pakai honor lembur? Dan kenapa cewek suka merendahkan diri ke harga sebelas ribu sebungkus? Cowok waras tentu saja pilih yang lebih berharga.” Hlm. 62
Rating : 3,5 dari 5 bintang


Tak Ada yang Mencintaimu Seperti Aku (Hetih Rusli)
Ini tentang kisah cinta yang posesif, cenderung psikopat karena sebuah trauma masa lalu. Agak ngeri sekaligus tersentuh. Begitukah cinta yang benar-benar dibangun dengan luar biasa besar? Begitukah akhirnya jika cinta terlalu diharapkan oleh seorang cowok yang pernah terluka?
Rating : 1,7 dari 5 bintang

 Critical Eleven (Ika Natassa)
Ini pertama kali aku baca karya Ika Natassa. Sejak dulu penasaran sama cara berceritanya. Dan, wao..dia emang berkelas!
Sejak awal aku udah disuguhi berbagai tulisan penuh makna. Sampai aku bingung, nanti yang mau aku kutip yang mana, ya?
Ceritanya sangat mengalir, dengan penokohan yang nggak terlalu menonjol namun memikat. Latar belakang cowoknya juga keren. Dan, endingnya juga oke banget.
Kutipan yang oke.
“Mungkin karena itu aku suka bandara. Airport is the least aimless place in the world. Everything about the airport is destination. Semua yang pergi ke bandara harus punya tujuan. Bahkan tujuan itu tercantum jelas di sebuah kertas. Boarding pass. Setiap memegang boarding pass itu, aku merasa hidupku punya tujuan, walau tujuannya hanya berupa tiga huruf. CGK, SIN, ORD, TTE, HKG, LGA, EWR, NRT.” Hlm. 86

Rating : 4,3 dari 5 bintang
Autumn Once More (Ilana Tan)
Oke, aku jujur saja. Autumn One More adalah salah satu cerpen yang membuat aku kecewa. Untuk novelnya cukup menariklah, namun nggak untuk side story-nya. Huft, terlalu biasa dengan konflik dan jalan cerita yang luar biasa sederhana.
Rating : 1 dari 5 bintang

Her Footprints on His Heart (Lea Agustina Citra)
Kalimat pembukanya sudah membuatku suka. Latar belakang pekerjaannya pun menjadi bagian yang menarik. Dan, apa yang ingin disampaikannya pun sangat manis. Ini tentang bagaimana cara kita menyikapi konflik pasangan, di mana masa lalu pasangan kita tiba-tiba muncul dengan sangat mempesona. Dan, kita tahu, pasangat kita “dulu” begitu mencintainya.
Dari cerita ini, kita disadarkan, jangan selalu menanggap masa lalu jadi bagian yang mengancam. Itu belum tentu. Rasa percaya harusnya menjadi senjata untuk terus mempertahankan hubungan cinta itu, seperti Rendy yang dengan caranya sendiri mampu meyakinkan Aliana kalau dialah satu-satunya penghuni hatinya, saat ini dan selama-lamanya. Oh, so sweet!
Rating : 2,4 dari 5 bintang

Love is a Verb (Melia Kusumadewi)
Waktu tahu apa yang bikin konfliknya lahir, aku cuma geleng-geleng kepala. Ada ya cewek begitu cemburuannya. Cuma gara-gara cowoknya ngelike posting instagram cewek lain dia bisa sekesel itu. Waktu teleponnya nggak ditanggapi dengan baik karena si cowok lagi rapat, dia bisa sengamuk itu. Dasar, cewek gila!
Aku juga cewek, dan aku ngerasa ‘kalau’ beneran ada cewek kayak gitu, oh God, dia adalah cewek yang lebih mengerikan dari pada nenek sihir!
Tapi, di sini aku suka sama pembawaan cowoknya. Dia asli tenang banget ngadepin si cewek. Dan, cara penyelesaiannya juga mulus.
Rating : 2,4 dari 5 bintang

Perkara Bulu Mata (Nia Addenson)
Cerita yang dihadirkan Nia Addenson mengingatkanku pada sahabat-sahabatku. Kita juga berempat, dua cewek dan dua cowok. Persis dengan tokoh-tokoh di cerita ini. Dan, konfliknya kayak nyindir banget, bikin aku ngakak di setiap bagian cerita. (Ehm, yang punya konflik bukan aku, ya. Catet!)
Ini tentang seorang cewek di antara empat sekawan itu. Dia mulai naksir salah satu sobatnya gara-gara bulu mata. Setelah itu konflik mulai memuncak dengan adegan-adegan yang bikin terkejut. Dan, endingnya pun bikin terkejut pula. Hem, bulu mata aja bisa bikin cerita semenarik ini ya? Salut!
“Aneh, bagaimana bisa seseorang yang sudah tahunan yang kita kenal, hampir tiap hari bertatapan wajah dengan kita, tiba-tiba berubah menjadi sosok baru yang bikin bergetar? Kenapa sekarang? Kenapa nggak setahun lalu, atau bahkan ketika aku pertama kali kenal dengannya? Hlm. 174

“Naksir-naksiran di antara sahabat itu tricky banget soalnya. Kayak nyoba salto di jembatan yang rapuh. Hlm. 182
Rating : 3,7 dari 5 bintang

The Unexpected Surprise (Nina Andiana)
Untuk yang ini ceritanya beda. Bukan tentang kisah cinta roman. Tapi, kisah cinta antara ibu dan anak. Ceritanya seperti mengingatkan semua anak di muka bumi, kalau apapun yang dikatakan ibumu adalah bukti kasih sayangnya.
Manis, sih. Tapi, konfliknya agak garing.
Rating 1,7 dari 5 bintang

Senja yang Sempurna (Rosi L. Simamora)
Baiklah, aku harus jujur, untuk cerita yang ini aku nggak bisa cerita banyak, karena dengan jahatnya aku men’skip’nya setelah membacanya kurang lebih 2 halaman. Hehehe… Alasanya simpel, aku nggak suka sama diksi yang digunakannya. Karena, hampir seluruh kalimat yang digunakan puitis abis. Dan, itu asli bukan seleraku.
Rating : 0,5 dari 5 bintang

Cinta 2 x 24 Jam (Sandy Tan)
Jika mencari sebuah cerita yang tak bisa ditebak, kamu harus baca cerita yang satu ini. Dan rasa dari cerita ini benar-benar kayak minum kopi dengan lambung nggak sehat. Kenapa? Saat kamu mencicipi bagian awalnya, rasanya benar-benar nagih, bikin mau lagi dan lagi. Tapi, di akhir cerita kita akan dibuat terkejut karena rasa menyakitkan di lambung. Namun, dalam cerita ini, hatiku yang sakit.
“Oh, God! Kenapa harus seperti itu! Kenapa!” Nggak rela pokoknya! Sandy Tan asli, tega banget!
Satu lagi, aku nggak nyangka kalau cerita ini dikisahkan oleh si dia yang bukan manusia. Siapa dia? Baca sendiri saja!
Rating : 4,5 dari 5 bintang

Rating keseluruhan dari buku ini 2,5 dari 5 bintang

Saturday, March 1, 2014

Flash Fiction - COFFEE PHILOSOPHY



Diikutsertakan dalam
Tantangan menulis #KalimatPertama

“Bagiku hidup seperti secangkir moka, bukan secangkir kopi tanpa gula.” Vean menertawakan teorinya sendiri.
Aku? Hem, aku hanya diam tak berekspresi di depannya.
Vean mengangkat bahu, tak ambil pusing dengan sikap dingin yang sejak tadi kuperlihatkan padanya.
“Santai aja, lah! Mereka menikah bukan akhir yang buruk, kan? Malah terkesan happy ending!” tawanya semakin berdera riuh.
Sial, kenapa aku harus punya kakak tiri aneh kayak dia, sih?!
“Sekarang emang terasa pahit buat kamu. Tapi tenang, aku akan menuangkan gula  di hidup kamu. Nanti, gelas kopi pahitmu itu akan sama nikmatnya dengan kopi mokaku ini.” Dia mengangkat gelas kopinya dan menyesapnya perlahan. Lagi, setelah menuntaskan tetes terakhir minuman kesukaannya, dia tersenyum hangat kepadaku.
Idih, dia pikir senyumnya itu membuatku terpesona apa?
“Oke, aku punya satu sendok gula. Aku yakin, dia bisa sedikit merubah rasa di hidup kamu. Jadi, dengarkan kata-kataku!” Dia menegakkan punggungnya, dan mencondongkan wajahnya ke arahku.
Aku yang merasa risih, memilih berpaling darinya. Kulirik sekilas cowok itu, dia tampak menyeringai geli.
Helooo…saat ini wajahku nggak mirip badut, ya?! Kenapa dia terus menganggapku lucu?
Heran, deh! Selama tiga bulan menjadi adiknya, tak ada sekalipun aku melihat dia terlihat tak bahagia. Apa dia punya cadangan kebahagiaan segudang hingga dia terkesan tak pernah berduka meski ayah dan ibunya bercerai gara-gara kehadiran mamaku?
“Sekarang, kamu adalah anak ayahku.” Ucapnya tegas.
Kugigit bibir bawahku. Perasaan getir yang tadi menghilang kini merasukiku lagi.
“Sekarang, kamu adalah adikku.”
Kuhela nafasku keras-keras. Tak peduli jika dia mendengarnya.
“Dan, sekarang mamamu adalah mamaku juga.”
Kutatap dia dengan tajam. Tapi, dia membalasku dengan senyuman, membuat aku berpaling lagi darinya.
“Jadi, bisakan kamu mengikuti arus yang digariskan Tuhan untukmu? Ini tidak akan berat, kok! Memang awalnya terasa aneh. Tapi, perlahan semua akan baik-baik saja. Sama seperti segelas moka.”
Tuh, mulai lagi deh filosofinya.
“Saat pertama kali kamu menyesapnya, dia akan terasa pahit di lidah. Namun, pelan-pelan rasa manisnya akan menguar, menimbulkan rasa nyaman. Kayak hidup ini, kita hanya butuh waktu untuk menemukan manis dari rasa pahit.”
Aku menunduk. Kuremas jemariku karena gemuruh haru memenuhi dadaku.
Kutuliskan sebaris kalimat di atas buku catatanku.
Semudah itukah kamu menghadapi hidup ini?
Kugeser buku catatanku agar dia bisa membacanya.
Dia tertawa, “Ya! Sebenarnya, pahit-manisnya hidup itu tinggal kita yang menakarnya. Kamu bilang hidup ini sepahit kopi tanpa gula. Nah, sepahit itulah hidup kamu. Namun, kalau kamu bilang hidup kamu semanis kopi dengan gula dua sendok. Seperti itu pula rasa manis yang kamu rasakan.”
Kuambil lagi bukuku dari hadapannya. Bulpoinku kembali bergerak. Kali ini menuliskan sebaris kalimat tepat di bawah tulisanku tadi.
Kamu tak membenci mamaku?
Tanpa menungguku menyodorkan ke hadapannya, dia sudah mencuri tahu isi tulisanku.
Dia menggeleng, “Kenapa harus benci? Aku malah berterima kasih pada mamamu. Karena mamamu, ayahku menemukan kebahagiaan yang tidak dia dapat saat bersama ibuku.”
Bagaimana denganmu? Apa kamu akan bahagia hidup bersama kami?
“Tentu saja aku akan bahagia. Karena aku sudah menakar kebahagian itu banyak-banyak ke dalam hidupku saat aku tahu ayah akan menikahi mamamu. Dan, kamu juga harus melakukan hal yang sama sepertiku. Oke?”
Aku tak mengangguk, tak juga menggeleng. Aku hanya menatapnya, berusaha menebak jalan pikirannya. Apakah dia benar-benar sehebat itu? Bagaimana jika dia di posisiku? Masihkan dia tetap bisa sebahagia itu?
Dia bisa bicara seperti itu karena dia diciptakan sempurna. Berbeda denganku. Aku tak bisa bicara sejak kecelakaan merenggut ayahku. Aku harus menerima kenyataan bahwa mamaku adalah perempuan perebut suami orang. Belum lagi lingkungan yang menanggap orang yang tak bisa bicara sepertiku tak berguna, meski otakku encer di atas rata-rata.

Omongan kamu absurd!
Dia mengakat alisnya, “Kok absurd?”
AKU SUDAH MENUANGKAN RIBUAN SENDOK GULA KE DALAM GELASKU. PERCUMA! TETAP SAJA HIDUPKU SEPAHIT KOPI TANPA GULA!!!
Kutulis kata-kataku dengan huruf besar untuk menggambarkan kekesalanku padanya. Atau, jika aku bisa bicara, saat itu aku sudah berteriak di depan mukanya biar dia tahu rasa.
Kututup buku catatanku. Dengan sedikit terburu-buru, aku beranjak dari kursi taman di belakang rumah baru kami.
“Kamu mau ke mana?” teriaknya saat melihatku meninggalkannya.
Ke manapun aku pergi bukan urusanmu “KAK” Vean!
Tapi, saat aku sampai di kamar, dan kulihat dia yang masih di sana sendirian,  pikiranku melayang. Benarkah hidupku sepahit kopi tanpa gula?
Aku tersenyum. Tidak, hidupku memang tidak sepahit itu.
Kuhela nafasku. Sebenarnya, dalam hidupku banyak hal manisnya juga. Sayangnya, karena terlalu larut dalam aura kesedihan yang kuciptakan sendiri, aku tak merasakan manis itu.
Aku teringat beberapa kejadian di beberapa bulan belakangan. Salah satunya saat Vean menjemputku ke sekolah. Kalau boleh jujur saat itu hatiku berbunga-bunga. Namun, aku tak ingin dia tahu. Jadilah aku tetap terlihat murung di depannya. Juga tentang kejutan ulang tahun yang dibuatkan keluarga baruku. Aku sebenarnya terharu, namun aku tak ingin menunjukkannya pada mereka. Karena aku tak ingin mereka menganggap aku senang dengan keadaan kita saat ini.
Yep, ternyata selama ini bukan gula yang kutuangkan dalam hidupku. Tapi, kopilah yang memenuhi cangkirku. Pantas rasanya pahit sekali.
Kulihat lagi Vean dari jendela kamarku. Sekarang dia sedang sibuk dengan ponselnya. Sedang apa dia? Sms ke cewek yang kemarin?
Tiba-tiba aku merasakan rasa tidak senang. Cewek kayak begitu dijadiin pacar. Semoga mereka segera putus! Batinku.
Aku terkejut sendiri. Sejak kapan aku peduli pada Vean? Mungkinkah diam-diam aku sudah menganggapnya sebagai kakakku?
Aku menggeleng keras-keras. Apakah sebenarnya aku sudah menerima kehadirannya?
Aku bergeming cukup lama. Mencoba membaca hatiku sendiri. Mencari tahu seberapa berubah hidupku.
Ya, jika memang harus berubah, maka biarkan saja berubah. Aku tersenyum. Perasaan lega muncul tiba-tiba. Dan, helaan nafas berat membulatkan ikrar pejanjian hati ini.
Aku akan menuangkan gula banyak-banyak di hidupku. Karena aku ingin kopi manis, bukan kopi pahit tanpa gula lagi.
***
Catatan :
“Bagiku hidup seperti secangkir moka, bukan secangkir kopi tanpa gula” adalah kalimat pertama di Novel The Mocha Eyes karya Aida MA. Kenapa kalimat ini yang aku pilih? Karena hidup memang seperti moka, bukan seperti kopi tanpa gula.
Manusia hidup berarti dia terus berjalan dalam arus kesedihan maupun kebahagiaan. Tak mungkin manusia hanya merasakan kesedihan saja. Arus sesekali menariknya dalam kebahagiaan. Namun, beberapa orang menanggap kebahagiaan itu tak terasa karena dia lupa bersyukur. Jika dia manu bersyukur, kebahagiaan sekecil apapun akan menjadi gula dalam hidupnya.
 

Jejak Langkahku Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos