Saturday, September 19, 2015

Resensi – AN ABUNDANCE OF KATHERINES “Ilmu Matematika tentang Cinta”

Penulis : John Green
Penerjemah : Poppy D. Chusfani
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Genre : Romance
Kategori : Young Adult, Terjemahan, Matematika
Terbit : 2014
Tebal : 320 halaman
ISBN : 978 – 602 – 03 – 0527 – 1
Harga : Rp. 60.000

Colin Singleton, dia baru saja lulus SMA. Namun, dia harus mengalami patah hati karena Katherine – kekasihnya ke sembilan belas – mencampakkannya.
“Di mana-mana manusia menyalahkan alam dan takdir, namun takdir seseorang adalah gema dari karakter dan gairahnya sendiri, kesalahan dan kelemahannya.” – Kutipan Yunani – hlm. 43

Colin frustasi berat.  Sahabatnya, Hassan Harbish mencoba menghiburnya dengan mengajukan ide untuk melancong ke mana saja.
Bersama Kereta Jenasah Setan – nama mobil Colin – mereka menyusuri jalanan tanpa tujuan. Di sepanjang jalan itu pun, ingatan Colin tentang Katherine XIX terus saja muncul.
“Kau bisa sangat mencintai seseorang. Tapi kau tidak bisa mencintai sebesar kau merindukan mereka.” – hlm. 153

Sebagai pelampiasan, Colin yang dikenal sebagai anak ajaib karena mempunyai kemampuan mengingat yang menakjubkan, juga sangat pandai dalam bermain anagram, dan hal-hal lainnya – mencoba membuat sebuah rumus tentang hubungan terjampak dan pencampak untuk meramalkan sebuah hubungan.
“Karena hubungan cinta mudah ditebak, bukan? Yah, aku menemukan cara untuk menebak. Sebut saja dua orang, dan bahkan jika mereka belum pernah bertemu, formulanya akan menunjukkan siapa yang akan mencampakkan siapa jika mereka berkencan, dan persisnya berapa lama hubungan mereka akan berlangsung.” – Colin – hlm. 63
“Mustahil,” – Hasan
“Tidak mustahil, karena kau bisa melihat masa depan kalau kau punya pemahaman dasar tentang bagaimana orang akan bersikap.” – Colin

Sebuah papan iklan pemakaman Archduke Franz Ferdinand di Gunshot, Tennessee, membawa mereka ke sebuah toko klontong. Di sana, Colin dan Hassan bertemu Lindsey Lee Wells yang bersedia menjadi pemandu mereka ke tempat pemakanan Archduke Franz Ferdinand. Setelah mengunjungi pemakaman, mereka bertemu pacar Lindsey, yang ternyata bernama Colin juga. Lalu, mereka bertemu ibu Lindsey, Hollis.
Saat Hollis tahu Colin adalah anak ajaib, dia menawari pekerjaan dengan upah cukup besar pada mereka. Pekerjaan itu adalah mewawancarai penduduk Gunshot bersama Lindsay. Karena tawaran itu cukup menarik, mereka menerimanya.
Dan, petualangan sebenarnya di Gunshot baru saja dimulai. Petualangan tentang bagaimana menghargai diri sendiri, tentang arti persahabatan, cinta, kesetiaan dan kasih sayang sesama manusia.
“…Kurasa bagian-bagian yang hilang dari dirimu takkan pernah bisa masuk dengan pas lagi. Seperti Katherine. Inilah yang kusadari : kalau aku mendapatkannya lagi, dia takkan bisa menggantikan lubang yang terjadi akibat kepergiannya.” – Colin – hlm. 283

An Abundance of Kathrines, novel pertama John Green yang aku baca, dan aku terpukau.
Menurutku, dia jenius. Aku sangat tahu, cinta selalu bisa diceritakan dalam bentuk apapun. Dan, dia punya cara bercerita yang unik tentang cinta. Cinta untuk Colin adalah geometri,  teori dan rumus Matematika.
Novel ini adalah novel romance. Tapi, kamu akan bertemu banyak rumus-rumus matematika, kurva, bahkan kamu akan menemukan ilmu pengetahuan umum tentang para tokoh-tokoh terkenal di dunia – di dalam buku ini. Juga catatan kaki yang ditulis tak kalah seru dari isi novelnya. Kadang, aku bisa tersenyum saat membacanya.
Bisa dibilang, John Green ingin pembacanya tidak sekedar menikmati kisah cinta para tokohnya, tapi juga belajar tentang ilmu sesungguhnya.
Colin, si cowok ajaib yang jatuh cinta pada sembilan belas cewek bernama Katherine. Uniknya, semua Katherine ini punya ejakan yang sama K-A-T-H-E-R-I-N-E. Ini memang terasa terlalu kebetulan, tapi kebetulan memang banyak ditemukan di dunia. Sebenarnya, bukan sembilan belas Katherine, tapi delapan belas Katherine. Karena Katherine I adalah juga merupakan Katherine XIX.
Uniknya lagi, kesembilan belas Katherine itu semua mencampakkan Colin. Wao… ini mengenaskan. Dan, Colin yang digambarkan sebagai cowok dengan otak brilliant namun punya jiwa lemah dan tubuh kurus yang gampang ditindas pun akhirnya patah hati parah.
Patah hatinya inilah yang menjadi dasar Colin menuliskan teori hubungan tercampak dan pencampak. Dia ingin menjadikan rumus ini sebagai cara untuk memprediksi kapan cintanya akan tercampakkan lagi.
“...terpisahnya Colin Singleton dengan kacamatanya membuat dia menyadari apa masalahnya selama ini : myopia. Dia rabun jauh. Masa depan terbentang di hadapannya, tak terhindarkan namun tak kasat mata.” – hlm. 52

Berbagai kurve dia buat. Bahkan, akhirnya kurve itu berubah menjadi rumus cantik dengan berbagai variable tambahan. Lindsay termasuk orang yang membantu Colin untuk menyelesaikan rumus itu. Dia memberikan beberapa hal yang awalnya tak pernah dipirkan Colin.
Tokoh menarik di novel ini adalah Hassan. Dia muslim. Dan, dia muslim yang rajin menjalankan solat lima waktu meskipun dia tetap melanggar beberapa aturan Islam. Hassan ini konyol. Dia menjadi bagian yang segar di antara kelempengan Colin.
Sedangkan Lindsay, dia gadis yang menyenangkan. Walaupun, dalam dirinya ada beberapa hal yang dia coba untuk disembunyikannya. Dia merasa tidak menjadi dirinya sendiri. Dia malah kagum pada Colin yang bisa menjadi dirinya sendiri. Padahal, Colin merasa dia ingin menjadi orang lain karena dia merasa tak berarti.
Kedekatan Lindsay dan Colin membuat mereka belajar banyak tentang menjadi diri sendiri, dan bagaimana memperlakukan dirinya sendiri. Hollis juga mengajarkan mereka tentang arti pengorbanan untuk orang lain.
Novel ini punya banyak sekali makna, benar-benar banyak. Aku nggak bisa mengurainya satu persatu. Hanya orang-orang yang mau memahami novel inilah yang akan mendapatkan ilmunya.
Ending-nya, adalah sebuah jawaban dari segala rumus Colin. Colin menemukan hal-hal yang tak pernah dia pikirkan. Bisa dibilang ending-nya adalah “Eureka” yang sebenarnya – dalam bahasa Yunani berarti ‘Aku Menemukannya!’ – dari Colin.
Rating 3,3 dari 5 bintang.

Wednesday, September 16, 2015

Cerpen - MAAF DI UJUNG HATI



Tulisan ini dikutsertakan
Dalam Tantangan menulis
Untuk Alumni Kampus Fiksi
Bertema ‘IBU’
“Jangan hanya ngomong, Waw! Kamu nggak tahu apa yang aku rasakan! Kamu nggak tahu, bagaimana sakitnya hatiku saat Ibu pergi, Waw! Kamu cuma pintar ngomong!” Nisa tertunduk, menahan air mata yang hampir terjatuh. Dia berusaha mengatur nafasnya setelah separuh tenaga dia keluarkan untuk berteriak marah pada kekasihnya.
Nisa menatap Wawan lekat, “Aku capek, setiap hari kamu hanya menceramahi aku ‘jangan jadi anak durhaka’.” Suaranya tak sekencang tadi. “Bukan aku yang durhaka, Waw. Tapi, Ibu!” Memang hanya lirih, tapi kata ibu tampak diucapkan begitu tegas, penuh amarah, dan rasa sakit.
“Ibu pergi meninggalkan aku dan Ayah. Meninggalkan Fakhri yang masih teramat butuh kasih sayang. Ibu nggak peduli itu! Hanya beralasan cinta, Ibu pergi untuk laki-laki lain.” Akhirnya, air mata itu jatuh.
Nisa menarik tasnya dari atas meja, bersiap meninggalkan Wawan yang masih terlalu kaget akan kemarahan kekasihnya.
“Aku pergi dulu, Waw.”
Nisa hampir melangkah saat tangan Wawan meraih tangannya. “Aku minta maaf, Nis. Bukan maksud aku menyebut kamu durhaka. Ini karena – “
“ – karena kamu sayang aku, kan?” potong Nisa. Dia mengangguk, “Tapi, aku capek kamu selalu membujuk aku untuk bertemu Ibu. Aku nggak mau jadi anak yang lebih durhaka lagi, Waw. Aku takut, aku akan meledak kayak boom atom kalau sekarang aku ketemu Ibu. Untuk saat ini, aku belum bisa.”
“Sampai kapan?”
“Sampai amarahku dan rasa sakit hatiku berkurang.” Nisa menghela napas. “Aku masih berusaha untuk meredakan itu semua, Waw.”
Wawan mengangguk, “Oke, aku akan bilang itu ke Tante Deasy.” Wawan menatap Nisa penuh rasa bersalah. “Kamu jangan marah sama aku, ya, Nis? Aku nggak mau semua ini jadi perusak hubungan kita.”
Nisa tak menjawab, tapi dia masih membiarkan tangannya digenggam Wawan. Dan, meskipun rasa kesalnya masih tersisa, Nisa tak menolak saat Wawan mengajaknya pulang bersama.
Mereka melangkah tanpa menghiraukan tatapan orang-orang di kantin kampus – yang tampak sangat tertarik dengan konflik mereka.
Apakah hal semacam itu selalu menarik untuk dinikmati? Padahal, ini bukan drama, maupun sinetron yang penuh intrik. Ini tentang hidup Nisa, bukan skenario hidup yang dibuat-buat.
----D----

Jika ada pertanya, ‘siapa orang yang paling dibenci Nisa?’. Maka, kalau dia boleh jujur, dia akan menjawab, Nisa membenci Ibunya. Meskipun dia sangat tahu, Ibu adalah orang yang melahirkannya. Haram hukumnya membenci ibu, seperti apapun dia memperlakukan kita.
Tapi, siapa yang tak benci ditinggalkan begitu saja. Siapa yang tak jadi marah saat melihat Ayahnya yang begitu baik, yang tak pernah mengeluh meskipun jiwa dan raganya sangat lelah menanggung beban hidup – dihianati habis-habisan, diberikan tanggungan hidup dua anak yang perlu diurus, dan mengalami patah hati tak terkira? Siapa? Orang yang mau melihat itu, pasti tak akan menyalahkan Nisa.
Ya Tuhan, kenapa keluarga kecil yang dulu tampak baik-baik saja, akhirnya hancur? Kenapa Ibu yang Nisa tahu wanita baik-baik, bisa berubah setega itu meninggalkannya?
Cinta. Alasan apa itu? Meskipun Ibu tak bersama laki-laki yang dicintainya, Ibu masih punya Nisa, punya Fakhri, dan juga Ayah yang akan memberinya cinta yang tak akan habis. Tapi, kenapa Ibu hanya peduli pada cintanya pada laki-laki itu?
Nisa menghela napas. Dia terpejam setelah sadar sudah terlalu dalam membiarkan lamunan merasuki dirinya. “Astagfirullah…” Nisa sadar, tak seharusnya pikiran itu melintas lagi di benaknya. Kalau dia terus-terusan membiarkan ingatan itu merajainya, dia tak akan pernah bisa menghapus rasa bencinya pada Ibu. Lalu, kapan dia bisa siap bertemu Ibu?
“Jangan ngelamun mulu!”
Nisa mengangkat wajahnya, melihat Reni yang sudah duduk di kursi persis di sampingnya.
“Bentar lagi kuliah mulai. Kalau kamu kayak begitu, yang ada semua materi mental!” lanjutnya.
Nisa tersenyum, “Lagi butek banget otakku.”
“Karena berantem sama Wawan?” Senyum jahil tersungging di bibir Reni. Dia tahu kabar pertengkaran hebat Wawan dan Nisa di kantin kampus tadi pagi. Lagian salah mereka sendiri, bertengkar nggak pilih-pilih tempat. Sekarang, jadi bahan gosip, deh.
“Banyak yang tahu, ya?” Nisa meringis ngeri. Melihat Reni mengangguk, kepala Nisa jadi pening. “Duh, gara-gara ke bawa emosi. Salah Waw, sih, ngomongin bahan sesensitif itu di tempat umum.”
“Emang bahas apa?” Reni mencondongkan tubuhnya, mendekat ke arah Nisa ala biang gosip.
“Rahasia!”
“Yee… kamu pikir aku nggak tahu? Ibu kamu, kan?”
Kepala Nisa langsung memutar ke arah Reni. “Mereka juga tahu?” tanyanya agak histeris.
Lagi-lagi Reni mengangguk.
“Oh, Tuhan!” Separuh nyawa Nisa seperti melayang pergi.
Slow, Nis. Mungkin, itu tanda kamu harus belajar lebih sabar. Atau, tanda kamu harus mau bertemu Ibumu.” Reni berusaha mengatur kalimat yang keluar dari bibirnya. Dia tak ingin menyakiti Nisa. Tapi, dia tak bisa membiarkan sahabatnya terus-terusan membenci ibunya.
“Begitu?”
Reni mengangguk, meskipun Nisa tak memperhatikannya.
---D---

Ini sudah terlalu malam, tapi Ayah Nisa belum juga pulang. Ke mana? Semoga beliau baik-baik saja.
Nisa yang duduk di beranda, menengok ke dalam rumah untuk melihat letak jarum jam. Jam 22.45 menit. Nisa menghela napas. Pandangannya terus tertuju ke ujung gang, berdoa Ayahnya segera pulang.
Akhirnya, deru motor terdengar juga. Nisa bangun dari duduknya, dan mendekat ke ujung teras. Ya, itu memang Ayahnya. Tapi tunggu, ada satu lagi motor yang ikut masuk ke pekarangan rumah Nisa. Siapa, mereka? Nisa mencoba memperhatikan dua orang yang sibuk melepas helmnya.
Ibu! Teriak Nisa dalam hati. Wajahnya yang terkejut, berangsur-angsur berubah jadi marah. Mau apa ibu kemari? Dengan laki-laki itu pula?
“Nis,” Ayah Nisa mencoba menenangkan putrinya. Beliau tahu gejolak apa yang begemuruh di dada Nisa. “Dengarkan Ayah, ya?”
Nisa masih menatap dua orang yang sekarang mematung di halaman rumahnya. Mereka tampak ragu untuk melangkah mendekati Nisa.
“Tadi, Ibu sama Om Ersa menemui Ayah. Mereka ingin bertemu kamu untuk menjelaskan masalahnya.”
“Nggak, Yah!” kata Nisa ketus. “Aku nggak mau bicara apapun sama mereka!” mata Nisa belum beralih. Begitu tajamnya tatapan itu, membuat Ibu menunduk dan menangis dalam diam.
Nisa nggak peduli, mau Ibu menangis atau meraung-raung sekalipun, Nisa tetap nggak mau bicara apapun pada Ibunya.
“Jangan begitu, Nis. Kamu belum tahu apapun. Kalau kalian sudah bicara, Ayah yakin, kamu akan mengerti.”
“Penghianat tetap saja penghianat! Mau seperti apapun, Ibu tetap saja penghianat!” Suara Nisa sampai di telingan Ibu, membuat wanita umur 35 tahun itu semakin deras mengucurkan air mata.
Om Erza mendekat, “Nis, ini salah Om, bukan salah ibu kamu.”
“Kalian berdua sama-sama salah. Buat apa belain orang yang sama-sama salah?!” Suara Nisa meninggi.
“Nis, jangan pakai emosi. Tenang, ya?” Ayah mengusap kedua lengan Nisa.
Perlahan, Ibu ikut mendekat, meski hanya dua langkah.
Jari-jemari Nisa terkepal erat. Dia berusaha menahan amarahnya yang semakin memuncak.
“Nisa, Ibu sayang Nisa dan Fahkri. Ibu tahu, Ibu egois. Tapi, Ibu sayang kalian. Ibu pergi karena Ibu nggak ingin terus menyakiti Ayah kamu.”
Nisa terdiam, dia tak berminat untuk menyela segala alibi yang dituturkan Ibunya.
“Ibu menikah dengan Ayahmu karena Ibu tak bisa menolak permintaan Nenek kamu. Sejak dulu, sejak Ibu masih sekolah, Nenek sudah menjodohkan Ibu dengan Ayahmu. Ibu berusaha untuk menolak. Tapi, Nenek yang sifatnya tak bisa dibantah tetap memaksa Ibu untuk menikah dengan Ayahmu.
Ibu menghela napas, lalu melanjutkannya. “Dua puluh tahun Ibu berusaha untuk tetap bersama Ayahmu. Ayahmu sejak awal tahu Ibu mencintai Om Erza. Saat Ibu bicara pada Ayahmu, kalau Ibu bertemu lagi dengan Om Erza yang ternyata masih mencintai Ibu, sampai-sampai Om Erza tak pernah menikah – Ayah mengizinkan Ibu untuk pergi. Dengan syarat, kalian tetap bersamanya.”
“Dan, Ibu pergi!”
Satu kalimat Nisa langsung membungkam Ibu.
“Nis, kalau kamu sudah dewasa, kamu akan paham situasi ini. Apa Nisa tega melihat Ayah tetap bersama wanita yang tak mencintai Ayah?” Ayah Nisa tersenyum. Dia memang sudah ikhlas akan kepergian istrinya untuk laki-laki lain.
“Tapi, Ayah mencintai Ibu, kan?” Mata Nisa berubah sendu saat menatap Ayahnya.
Ayah mengangguk, “Tapi, Ayah memilih tidak bersama Ibu yang tidak bisa memberi Ayah cinta, Nis. Ayah punya kamu dan Fakhri yang jelas-jelas cinta sama Ayah. Itu cukup, Nis. Sudah sangat cukup.”
Nisa tak ingin menangis. Tapi, kata-kata Ayahnya terlalu mencengkram hatinya.
“Ikhlasin Ibu untuk Om Erza, Nis. Walaupun Ibu sudah tak bersama Ayah, Ibu tetap akan ada buat kamu dan Fakhri. Ibu tetap akan sayang sama kamu dan Fakhri, sampai kapanpun, Nis.” Ayah memeluk putri tersayangnya.
Tangis Nisa pecah. Dia sadar, dia memang harus memaafkan Ibunya. Dia harus belajar ikhlas seperti Ayahnya.
“Maafkan Ibu, Nis. Ibu janji, Ibu akan berusaha jadi Ibu yang baik buat kamu dan Fakhri.” Ibu Nisa menyentuh lengan Nisa. Tapi, Nisa memilih tetap berada di pelukan ayahnya.
“Nis, maafkan Ibu, Nis!” Ibu terduduk di bawah kaki Nisa. “Ibu tahu, Ibu jahat! Tapi, Maafkan Ibu, Nis!”
Tangis Nisa makin kencang.
“Maafkan Ibumu, Nis!” Ayah berbisik pelan. “Buat apa membenci? Membenci tak akan bisa memperbaiki keadaan. Yang ada, masalah tak akan pernah selesai.”
Nisa mengangguk dalam pelukan Ayahnya. Ayah tersenyum, “Katakan pada Ibumu, kalau kamu sudah memaafkannya, Nis.”
Perlahan, Nisa melepas pelukan Ayahnya. Dia menatap Ibunya yang masih terduduk di bawah. Wajahnya tertunduk, sedu-sedannya terdengar begitu menyayat hati.
Nisa ikut duduk di depan Ibunya. “Aku maafin, Ibu.”
Ibu Nisa mengangkat wajahnya, menatap putrinya yang selama hampir setengah tahun tak ingin menemuinya. Tangan Ibu terbuka, mengharap pelukan Nisa.
Dengan ragu Nisa mendekat, dan masuk dalam pelukan Ibunya.
“Terima kasih, Nisa. Terima kasih.” Ibu Nisa mencium kepala Nisa. Senyum tersungging di bibir wanita itu. Dadanya terasa mengembang karena bebannya perlahan terangkat.
Mata Ibu terarah ke mantan suaminya, “Terima kasih Mas Reza. Aku tahu, kamu adalah laki-laki yang baik. Sudah sekian dalam aku menyakitimu, tapi kamu masih mau menolongku untuk meminta maaf pada Nisa.”
Ayah Nisa tersenyum, dia mengangguk.
Om Erza mendekat. Dia mengelus pelan bahu istrinya. Hatinya ikut lega, rasa bersalahnya  sedikit berkurang meskipun tak hilang, mungkin malah tak akan pernah hilang.
Dalam pelukan Ibunya, Nisa mulai mengingat masa-masa kecilnya. Pelukan itu masih sama hangatnya, belaian tangan Ibu masih sangat membuainya. Beliau masih Ibunya yang dulu, meski tak sepenuhnya sama seperti waktu itu.
Kenapa waktu selalu merubah segala hal? Untungnya, waktu tidak membawa kasih sayang Ibu untuk anaknya pergi, bagaimana pun kondisinya.
---D---
NB : Cerpen ini terinspirasi dari sekelumit kisah hidup seorang artis dan kedua anaknya. Yang suka lihat gosip pasti tahu siapa yang aku maksud. Dan, nama tokoh-tokohnya diambil dari nama anak-anak Alumni Kampus Fiksi. Maaf, menggunakan nama kalian, sekedar untuk memacu semangat menulis.

Sunday, September 6, 2015

Resensi – UTUKKI : SAYAP PARA DEWA “Cinta yang menembus waktu”

Penulis : Clara Ng
Penerbit : Gramedia
Genre : Romance, Fantasy
Kategory : Young Adult, Mitologi, Dongeng
Terbit : Juli 2011
Tebal : 408 hlm
ISBN : 978 – 979 – 22 – 6983 – 3
Harga : Rp. 65.000

Siapa bilang cinta hanya dimiliki penghuni bumi? Cinta juga menyentuh hati para dewa-dewi di dunia atas. Namun, cinta yang tidak pada tempatnya bisa membuat sebuah bencana.
“Cinta… adalah kekuatan, kekuatan untuk berani untuk merelakannya pergi, walau itu menyakitkan. Cinta adalah…ketabahan, ketabahan untuk menerima hal-hal yang sangat sulit untuk diterima. Cinta… adalah keabadian, karena cinta itu adalah jantung, pemberi kehidupan.” – Dewa Ea – hlm. 172

Nannia adalah putri Dewa Anu dan Dewi Antu. Dia merupakan Utukki ke delapan dan Utukki yang memiliki fisik paling sempurna. Tujuh Utukki lainnya tercipta sebagai monster yang mengerikan. Meskipun Nannia memunyai fisik sempurna bak dewi, dia tetap saja monster.
Kemudian, Nannia jatuh cinta pada pendeta bernama Enka. Jelas saja cinta mereka ditentang kuat oleh Dewa Anu dan Dewi Antu. Keadaan semakin runyam karena Dewi Cinta dan Perang, Dewi Ishtar juga jatuh cinta pada Enka.
Lalu, Dewa Anu menuliskan takdir mereka.
“Hidup mereka terdiri atas pilihan-pilihan. Apa yang sudah dipilih langit selalu dapat ditulis ulang.” – hlm. 95

Beribu-ribu tahun kemudian, Nannia dan Enka bereinkarnasi menjadi Thomas dan Celia. Mereka bertemu dan jatuh cinta kembali. Namun, lagi-lagi mereka diuji. Dewi Ishtar masih menginginkan Enka. Dia berusaha memisahkan mereka berdua. Dengan bantuan Utukki dan Dewi Antu, Dewi Ishtar melakukan berbagai hal jahat untuk memisahkan mereka.
Mampukah Thomas dan Celia menyatukan cinta mereka yang sudah berkembang sejak beribu-ribu tahun yang lalu?
“Kau tahu apa yang dapat melemahkan serangan dewa kepada manusia? Cinta, adalah mata rantai yang terkuat.” – Dewi Antu – hlm. 81
 
Utukki, novel roman yang dipadukan dengan fantasi. Mengangkat tentang mitologi Babylonia, terasa seperti ide yang sangat segar.
Novel dibuka oleh Adam dan Naeva. Dilanjutkan cerita kebangkitan Dewi Ishtar yang dilakukan oleh Dewi Antu. Lalu, pertemuan Thomas dan Celia di sekolah.
Kita akan menemukan info sejarah mitologi Babylonia dari Adam dan Naeva yang kuliah di The Michigan State University. Meskipun Naeva merasa jenuh setiap kali Adam berceloteh tentang mitologi yang sedang dipelajarinya, perlahan Naeva mulai menikmati kuliah singkat Adam spesial untuknya.
Lalu, saat ada Thomas dan Celia kita akan disuguhi kisah remaja yang masih malu-malu. Sayangnya, sebelum mereka bisa semakin dekat, Dewi Ishtar datang dan menculik Celia ke dunia atas. Mulailah perjuangan cinta mereka benar-benar diuji.
Akan muncul banyak dewa di cerita ini, dari Dewa Ea sang dewa air dan kebijaksanaan, Dewa Anu, Dewa langit atau raja dunia atas, Dewa Antu, Marduk, juga Utukki. Para Dewa-Dewi itu tidak selamanya baik. Mereka punya nafsu dan bisa berbuat sangat jahat.
Ada beberapa hal di novel ini yang membuat aku kurang nyaman. Saat percakapan Nannia dan Enka, Nannia sering menggunakan bahasa ABG jaman sekarang, bahkan bahasa Inggris. Padahal, setting waktu  saat itu adalah beribu-ribu tahun sebelum masehi. Kalau novelnya memang berbahasa Inggris sih nggak masalah. Kalau Indonesia, ya Indonesia aja.
Aku juga menemukan Dewa Anu menggunakan bahasa Inggris. Rasanya, kurang pas saja jika di dunia dewa ada bahasa selain bahasa mereka sendiri. Lebih nyaman jika menggunakan bahasa Indonesia formal untuk Dewa Anu.
Aku merasa kehadiran Adam dan Naeva tak ada hubungannya dengan kisah ini. Mereka seperti moderator atau pemberi informasi tentang siapa tokoh-tokoh dalam novel ini. Maksudku, spesial tokoh yang lahir dari mitologi. Padahal, tanpa itupun, pembaca akan mengerti. Penulis cukup menambahkan informasi siapa mereka di dalam narasi.
Beberapa adegan kesannya tampak konyol. Tapi, namanya juga novel fantasi. Mungkin ini efek aku yang jarang baca novel fantasi.
Alurnya lumayan lambat. Diceritakan dengan alur waktu maju mundur tapi tidak terasa membingungkan. Namun, konfliknya terlalu berkutat dengan itu-itu saja sampai akhir, lumayan bikin boring.
Rating 1,4 dari 5 bintang.


 

Jejak Langkahku Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos