Thursday, April 24, 2014

Resensi – #CrazyLove Move On “Remah masa lalu”

Penulis : Ardelia Karisa, Donna Widjajanto,
Aiu Ahra, Clara Canceriana,
Aida MA, dan Dy Lunaly
Penerbit : Bentang Belia
Tahun Terbit : Desember 2013
Tebal : vi + 250 hlm
Genre : Teenlit
ISBN : 978 – 602 – 7975 – 73 – 6
Harga : Rp. 44.000
Move on, adalah keadaan dimana kita belum juga mau berdamai dengan masa lalu, terikat dengan kenangan dan tak kunjung bangkit dari keterpurukan. Terkesan menyedihkan, memang!
Dan, dalam buku bersampul kuning bergambar siput ini, kita akan menyaksikan kisah-kisah manis sampai pahit karena terjerat pada kondisi susah move on, yang diceritakan oleh enam penulis keren dalam novelet bertema ‘Move On’.

#1 Fiksi by Ardelia Karisa
Mau tahu kenapa si Silver, tokoh ceweknya nggak bisa move on dari si cowok yang adalah sahabatnya meskipun si cowok malah jadian sama orang lain? Karena kisahnya mirip sama novel yang pernah dibacanya. Asli, stupid banget! Meskipun, kebanyakan cerita fiksi itu memang bermula dari kisah nyata, tapi kenapa bisa tetap mengharap seorang cowok yang kelihatan udah nggak mungkin sama dia, walaupun kisah mereka sebelas-dua belas sama cerita novel?
Oke, karena stupid itulah yang bikin kisah ini unik. Sayangnya, di beberapa baris pertama, aku harus mengulang untuk benar-benar memahami ceritanya. Dan setelah itu mengalir saja, sih.
Selain bermasalah sama bab awal, nama tokoh cowoknya juga mengganggu banget. Kenapa harus Novel, sih? Padahal dalam cerita banyak kata novel sebagai kata benda. Aku jadi perlu memusatkan perhatian lebih saat mendapati dua kata itu tercetak berdekatan.
Rating 2,3 dari 5 bintang

#2 Praline Caramel by Donna Widjajanto
Ini tentang Gail yang udah punya pacar, tapi naksir temannya sendiri yang namanya Reza. Karena perasaan itulah, saat pacarnya melamar Gail, dia malah menolak dan meminta putus. Setelah lulus, dia bekerja sebagai seorang reporter. Diam-diam kameramennya yang bernama Teguh naksir dia.
Menurutku, novelet ini kurang sekali mengangkat feel move on-nya. Ceritanya lebih kepada cerita cinta Gail secara keseluruhan, mulai dari kebimbangannya karena hatinya mendua, sampai perasaannya yang mulai galau karena Reza yang mulai jarang membalas kabar-kabarnya, dan perasaan saat dia tahu Teguh suka sama dia.
Kalau sekelebat memang move on-nya terasa. Tapi, kurang banget saat dibaca. Ah, iya. Maaf banget, aku nggak suka sama nama Gail. Terasa kurang matching jika digabungkan dengan nama Teguh, Anto dan Reza.
Rating, 2 dari 5 bintang

#3 Another Orion by Aiu Ahra
Lagi, novelet ini juga kurang banget feel move on-nya. Oke, memang Daru sulit move on dari Ryana yang meninggalkannya karena menyusul ayahnya ke luar negeri. Tapi, cerita di sini lebih berpusat pada kronologis bagaimana Daru akhirnya jatuh cinta sama Ara.
Dalam cerita lebih banyak narasinya, ini bikin emosi kurang tersampaikan dengan baik, dan kurang gahar.
Namun, aku suka cara penulis bercerita tentang bintang. Cukup detail, lho. Dan beberapa adegan antara Ara dan Daru itu manis juga. Ah, untuk kali ini, aku suka pilihan namanya. Handaru dan Ara, yang dua-duanya punya makna sebagai salah satu benda langit yang kalau dilihat dari bumi indah banget.
Rating 2,5 dari 5 bintang

#4 Eyes on You by Clara Canceriana
Ini salah satu novelet yang aku suka. Tentang Vanya yang selama tiga tahun men-stalker Raymond, cowok teman satu kelasnya yang diam-diam dia suka. Vanya tahu, Ray nggak pernah bisa move on dari Rika, dan dia sendiri juga sadar bahwa dia nggak bisa move on dari Ray.
“Mungkin beberapa orang akan menganggap abnormal. Tapi, ketika menyukai seseorang seperti ini, hal-hal tidak normal sekalipun bisa menjadi sumber kebahagiaan….” – Hlm. 131 –

Vanya punya kebiasaan menguntit Ray dan memfoto cowok ini dengan kamera Fujica-nya. Dia mengumpulkan foto-foto Ray menjadi satu yang pada suatu hari membuat Ray sadar, Vanya menyukainya.
Rasanya, aku ikutan nyesek saat Vanya mulai deket sama Ray, tapi hanya sebagai teman curhat. Dan, geleng-geleng saat Vanya menjodohkan temannya dengan Ray hanya untuk membantu Ray move on dari Rika.
“Jika rasa suka ini membuatnya lemah, lalu bagaimana caranya agar dia kuat?” –Hlm. 152–

Novel ini makin bikin nyes karena quote-quote-nya yang nyentil banget. Beberapa quote-nya ngena banget sama hidup aku.
“…Gue yang punya perasaan ini. Gue tahu apa yang harus gue lakukan.” – Hlm. 155 –
Yes, of course!

“Orang yang nggak bisa move on itu mungkin menyedihkan. Tapi, buat gue, ada yang lebih menyedihkan, yaitu orang yang nggak menyatakan perasaannya cuma karena rasa takut dalam diri sendiri.” – Hlm. 155 –
Semprul banget ini quote… *pura-pura nggak baca

“Lo tahu? Waktu lagi suka sama orang, saat itu lo bakal paham apa makna senang dan sedih sekaligus. Ya, nggak? Gue ngerasain itu.” – Hlm. 157 –
Hmm… iya, gue juga Mbak Clara *buang muka

Hahaha…. Baru pertama curhat colongan sebanyak ini di review-ku sendiri Sudahlah, udah terlanjur ditulis!
Rating, 3,5 dari 5 bintang

#Cinta Dua Sisi by Aida MA
Menurutku, novelet ini juga nggak fokus sama temanya. Dia lebih banyak mengangkat kisah bagaimana Anna dan Dante akhirnya bisa menjadi sepasang kekasih dan kenapa akhirnya mereka berpisah.
“…gambar lo ini kayak paru-paru, terus napasnya, ya, puisi gue. Napas juga nggak bakal berarti apa-apa kalau nggak ada paru-paru, dan paru-paru juga nggak bakal berfungsi apapun kalau nggak ada sebuah napas.” – Dante – Hlm. 199

Sisi move on-nya benar-benar nggak terasa. Kecuali, pada akhir ceritanya yang kedua tokohnya dikisahkan berpisah namun tak bisa melupakan satu sama lain, setelah itu selesai. Move on hanya menjadi penutupnya. Makanya, feel move on-nya kurang banget.
Tapi, di luar dari temanya, aku suka sama cara berceritanya, alurnya, sampai karakter Dante-nya. Uh, Dante itu pasti keren plus unik banget kalau di dunia nyata. Hmm... ada satu paragrap yang manis banget. Manis sampai bikin aku menghela napas.
“Perahu itu kini melabuh, melempar jangkar, mengikat sauh. Biar angin, biar putik bunga ini yang setia mendatangkan rasa,  seperti sebaris ucapan, “Kok, aku kangen, ya.” – Hlm. 200 –
Ratingnya, 3 dari 5 bintang.

#6 You after Us by Dy Lunaly
Aku baru pertama menemui cara bercerita seperti ini. “Aku” si pencerita, menyebut “dia” sebagai bagian yang menjadi tokoh utama pendampingnya sebagai ‘Kamu”. Biasanya, meski POV yang dipilih adalah orang pertama, mereka akan menyebut tokoh utama pendamping sebagai dia. Kesannya, seperti pembaca mendengar cerita tentang kisahnya. Namun, dalam novelet ini, Mbak Dy mengajak pembaca untuk diajak bicara. Woaa… ternyata feel-nya lebih terasa. Terima kasih ilmunya, kakak cantik! :D
Cerita dari novelet ini ternyata tentang seorang cewek yang sudah meninggal dan menyaksikan kekasihnya belum bisa move on darinya. Ceritanya mengambil alur maju mundur. Kita di bawa kembali ke masa-masa indah mereka, saat si cewek─yang biasa dipanggil Honey oleh si cowok─masih hidup. Dan, kisah akan kembali ke masa kini saat si cowok yang biasa dipanggil Bee oleh si cewek larut dalam foto-foto dan kenangan mereka.
Si cewek sebenarnya selalu ada di dekat si cowok. Dia melihat dan menjawab setiap tanya yang bergulir dari mulut si cowok. Dan, beberapa adegannya benar-benar manis legit, tapi saat ditelan ada rasa nyeri di ulu hati. Dan, aku harus berhenti membaca saat beberapa adegan itu mengingatkan beberapa adeganku dengan… Udahlah, nggak penting. Yang jelas, Mbak Dy… kamu jahat bikin aku ingat pada apa yang harusnya aku lupakan!!!!
Lajut ke cerita.
Aku baru menyadari posisi si cewek sebagai pencerita ternyata sudah meninggal setelah menamatkan beberapa bab. Dan, yang menjadi pertanyaan setelah menyelesaikannya adalah kenapa si cewek meninggal? Maksudnya, bagaimana si cewek meninggal? Lalu, aku kurang sreg sama kata *Kepedan dan *ngakak yang terselip dalam surat. Kayak mengurangi rasa syahdunya. Itu saja, sih yang ganggu. Lainnya, suka banget. Suka mbak… serius suka! Bukan karena dikasih bukunya, tapi serius, aku suka banget!
Rating 4,4 dari 5 bintang karena udah membawakan kisah yang bikin nggak bisa move on. Hahaahaha
 Terakhir rating dari keseluruhan cerita adalah 2,95. Kalau dibulatkan jadi 3 dari 5 bintang. Dan, buku ini beneran recommended buat yang lagi berkutat sama intrik move on-nya atau kamu yang hobi sama kisah sadness.

Tulisan ini diikutkan dalam Indonesian Romance Reading Challenge

Friday, April 18, 2014

ANTOLOGI RASA “Illustrated Edition”



Penulis : Ika Natassa
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbit : Maret 2014
Tebal : 336 hlm
Genre : Metropop
ISBN : 978 – 602 – 03 – 0331 – 4
Harga : Rp. 99.000

Beberapa minggu lalu, aku menamatkan Novel ini dan memberikannya bintang 5 di goodreads. Novel yang aku baca, masih novel dengan versi cover lama (Resensiku bisa dibaca disini). Dan, dalam resensiku, covernya benar-benar aku hina gina. Tapi, untuk edisi yang ini, nggak lagi!
Di novel ini, ceritanya persis sama. Yang membedakan adalah di beberapa bab ada gambar ilustrasi yang dibuat sendiri oleh penulisnya, Ika Natassa. Sehingga, saat membacanya, kita seperti diberi bocoran imajinasi lebih nyata, dan tentu buku lebih menarik (Ya iyalah! Harganya gila banget, dua kali lipatnya sama dua versi lainnya).
Oh, iya. Hasil ngintip di blognya si penulis, gambar-gambar itu dibuat dengan cat warna di selembar kertas sketsa, atau semacamnya. Namun, ada beberapa gambar di blog tersebut yang nggak di masukkan dalam buku, lho! Kalau mau lihat beberapa gambarnya bisa langsung ke http://blog.ikanatassa.com/
Gambar hasil unduh dari sini
 Sekarang bahas covernya, ya?!
Cover versi paling jadul dan paling baru

Covernya keren banget! Apalagi kalau jantungnya dihilangin :D
Sketsanya top markotop pull!!! Hebat Mbak Ika Natassa itu. Pinter motret, dewa banget kalau suruh bikin cerita, ternyata gambarnya juga memukau. Betapa beruntung jadi seorang Ika Natassa.
Waktu buka-buka, aku langsung tahu adegan siapa, dimana, dan gimana ceritanya. (Iyalah, bacanya juga belum ada sebulanan. Pantes banget inget! Coba kalau udah setahun…)
Ini waktu Harris dan Keara baru sampai Singapura di bab awal novel

Ini gambar terakhir dalam buku. Tentang kenangan Harris saat nonton F1 bareng  Keara
Tapi, ada satu gambar yang bikin aku bertanya, ini siapa ya? Harris Risjad, kah? Sepertinya, sih!
Harris Risjad, kah?
Kalau melihat keseluruhan buku dan cerita. Nilai yang aku berikan kemarin, mau aku rubah jadi 4,9. Kenapa nggak sempurna? Karena kesempurnaan hanya milik Tuhan :D

Thursday, April 17, 2014

Resensi - For Better or Worse “Ternyata Masih Kamu"

Juara 1 Lomba Review Novel For Better
or Worse #ReviewFBoW yang diadakan
Christina Juzwar dan  Bentang Pustaka

Penulis : Christina Juzwar
Penerbit : Bentang Pustaka
Tebal : viii + 352 hlm
Terbit : Agustus 2013
ISBN : 978 – 602 -7888 – 56 – 2
Harga : Rp. 59.000
Sebuah pernikahan adalah awal dari hidup baru, katanya. Memang, sih ada benarnya juga. Setelah pernikahan banyak hal yang akan terasa baru, baik tanggungjawabnya, maupun masalah-masalah yang muncul di dalamnya. Apalagi, jika sudah hadir buah hati yang mulai tumbuh dari bayi dan semakin dewasa. Permasalahan dari dua orang saja, akan bisa berlipat ganda.
Dan, dalam sebuah pernikahan, semakin hari permasalahan semakin beragam. Inilah yang membuat sebuah biduk rumah tangga seperti kapal yang tertiup angin di tengah laut. Seberapa kuat kapal dan seberapa hebat nahkoda dan para awaknya mempertahankan kapalnya untuk tetap tegak berdiri mengarungi lautan, menjadi satu-satunya cara untuk menjawab akhir dari kisah mereka.
“Babe, kita, kan nggak pernah tahu apa yang ada di depan kita. Semuanya masih misteri. Kalau kita mau tahu, kita harus melewatinya dulu. Kamu tahu, kan maksudku?” – Martin – hlm. 340

“Trust me, Babe. Awan hitam nggak selalu diam di tempat. Semua akan segera berlalu.” – Martin – hlm. 340

Sama seperti hubungan July dan Martin. Bermula dari Martin yang terkena PHK, kemudian Martin yang tak kunjung mendapat pekerjaan, dan kepanikan July tentang bagaimana masa depan keluarganya, membuat sebuah perubahan besar untuk keluarga mereka.
Perlahan, Martin berubah, dia bukan lagi Martin yang dulu, bukan lagi suami yang manis ataupun ayah yang begitu perhatian dengan kedua buah hati mereka. Martin lebih terkesan nggak mau tahu tentang anak-anaknya, tak lagi lembut, kadang bahkan terasa sangat kasar, dan tak lagi jadi suami yang manis untuk July.
July merasa, dia tak lagi bisa mengandalkan suaminya. Dia harus kembali bekerja dan membantu Martin untuk mempertahankan ekonomi keluarganya.
Setelah mengajukan CV ke beberapa perusahaan, July mendapatkan pekerjaan. Dan pekerjaan itu─sepertinya─dia dapatkan karena dia mengenal bosnya tersebut. Vincent, itu nama bosnya, sekaligus mantan kekasihnya.
Dari awal, Martin sudah melarang July untuk bekerja. Bahkan, Martin marah besar saat tahu istrinya mendapatkan panggilan wawancara. Dan saat tahu siapa bos July, Martin makin marah. Dia minta July resign.
July mulai bimbang. Satu sisi dia sangat membutuhkan pekerjaan itu, satu sisi dia juga nggak mau terus berada di dekat Vincent karena Martin nggak menyukai itu dan diam-diam July menyadari, Vincent mulai mendekatinya lagi, bahkan dia terus terang masih menyayangi July.
“Hati itu nggak pernah salah. Mungkin awalnya akan terlihat salah. You will feel bad about it. Tapi, semakin kamu menjalaninya, trust me, that’s the best decision you’ve ever made.” – Paula – hlm. 269

Karena nasehat Paula, July akhirnya resign. Namun, sebuah kenyataannya membuat dia tertohok dan memutuskan keluar dari rumah bersama anak-anaknya dan meninggalkan Martin. Yep, Martin selingkuh. July melihatnya sendiri suaminya sedang bersama seorang wanita dan mereka terlihat begitu mesra.
Berhari-hari July terpuruk. Sampai-sampai kakaknya lah yang mengurus Ernest dan Emilia. Dia juga enggan bertemu Martin, dan malah memakinya tak karuan dan mengusirnya dari rumah kakaknya saat Martin mencoba menemuinya. Namun, kata-kata Ernest membuat July berfikir, apakah dia harus terus seperti itu? Tapi, July tak bisa membuang bayangan Martin dengan perempuan itu. Hatinya teramat sakit, sampai-sampai untuk memaafkannya saja dia tak mampu.
“Karena, July Bernandeth.. mau nggak mau kamu harus belajar dari anak berusia 8 tahun. Percaya atau nggak, itu adalah suara Tuhan yang berbicara melalui anak kamu, lho…” – Jeni – hlm. 251

Lalu, bagaimana rumah tangga mereka? Apakah July akan jadi wanita egois dan berpisah dengan Martin? Mungkinkah Vincent benar-benar kembali dihidup July karena dia teramat mencintai wanita ini dan bersedia menjadi tempat curhat July saat July terpuruk?
“….Sayang itu nggak pernah bisa hilang meskipun kita udah berusaha untuk menghapusnya. Tapi, Mami dan Papi sedang ada masalah yang harus diberesin. Untuk sementara lebih baik berpisah dulu…” – July – hlm. 242


The Better or Worse, jenis genre baru yang aku baca, momlit. Genre yang lebih menekankan tentang keluarga, dengan konflik-konflik keluarga dan mengajarkan tentang cara memecahkan masalah dengan menekankan demi kebaikan keluarga.
Rasanya, membaca novel ini aku seperti belajar sebelum benar-benar masuk dalam kehidupan rumah tangga. Memberiku gambaran betapa indahnya berkeluarga, punya suami yang mencintai kita dan anak-anak yang menyempurnakan hidup kita.
Namun, hidup itu seperti mata uang, ada dua sisi yang berlawanan. Dan mata uang itu tak pernah diam dalam genggaman. Dia selalu dilempar ke atas seperti sebuah permainan keberuntungan. Dan hasilnya, tak pernah sama.
Seperti kehidupan July yang digambarkan begitu sempurna di awal cerita, lalu saat hidupnya jatuh di bagian tak beruntung, dia dihadapkan dengan berbagai cobaan dan dilema yang membuatnya harus kuat.
Setelah cobaan mulai berlalu, kehidupannya dilempar lagi, nyatanya, kekecewaan lagi yang harus dia hadapi. Tapi, seperti kataku tadi, saat mata uang dilempar, belum tentu dia akan jatuh di bagian yang sama. July mulai bisa merasakan hidupnya yang penuh keberuntungan.
“Setiap orang patut untuk bahagia, Darl. Tapi, caranya, kan, berbeda-beda. Terkadang kita harus melewati suatu masa atau peristiwa, either good or bad. Kita, kan, nggak bahagia terus-menerus.” – Paula – hlm. 82

Dari itu semua aku bisa mengambil banyak ilmu. Sesulit-sulitnya hidup, selalu ada jalan untuk lepas dari kesulitan itu. Bukan hanya rasa sabar saja yang harus kita tanamkan, namun juga kerja keras dan rasa pantang menyerah meski harus terjatuh berkali-kali. Dan semarah-marahnya hati, ada bagian dimana kita harus kembali tenang dan memikirkan apa yang menjadi tujuan awal pernikahan, hidup bersama, bahagia bersama, dan selalu bersama-sama.
Buat aku, July itu hebat, dia contoh ibu yang baik, dan istri yang baik pula. Caranya bersikap dengan anak-anak tak pernah berubah meski dia sedang menghadapi masalah besar. Dia benar-benar mencirikan karakternya yang sebenarnya, yaitu lembut dan sabar. Meski di bagian klimaksnya, July sedikit jadi emosional, dan kasar. Itu wajar saja. Siapa yang bisa tetap teguh dan lembut jika hati dipenuhi kemarahan yang tak tersampaikan?
Martin sebenarnya tak kalah hebat. Dia ayah yang baik, dan aku suka cara interaksinya dengan kedua buah hatinya, juga dengan July. Perubahan sikapnya bisa dimaklumi. Pria mana yang nggak putus asa menghadapi dirinya yang dulu bisa menjadi tulang punggung keluarga yang kokoh, harus hancur begitu saja karena PHK dan kegalauan tak juga mendapat pekerjaan?
Hanya satu kesalahannya, selingkuh dan tak bisa menjaga dirinya untuk tetap stabil. Membuatnya tampak tak peduli pada keluarganya. Namun, karena Martin hebat, dia berani meminta maaf dan mengakui kesalahannya. Dia mulai bisa bangkit dan kuat lagi. Menerima takdirnya tanpa mau putus asa untuk mencari pekerjaan. Bahkan, dia bisa berubah lebih baik daripada saat sebelum dia hancur.
“Kalau saja aku tahu kepercayaan itu harganya sangat mahal dan, kalau saja, aku menyadari dari awal untuk memperbaiki sikapku sebelum keluarga kita bebar-benar pecah, semua ini pasti tak akan terjadi. Tapi, aku juga nggak bisa memutar waktu. Aku nggak sempurna, Jul. sekali lagi maafkan aku, ya. Aku berharap kamu mau maafkan aku.” – Martin – hlm. 282

Dari tiga teman July, tokoh Paula ‘lah yang punya sumbangsih besar untuk hidup July. Meski dua lainnya juga jadi penyokong semangatnya. Mungkin, karena Paula lebih banyak berinteraksi dengan July meski July tak lagi masuk dalam anggota arisannya, dan Paula pula yang membukakan pintu rezeky July dengan mengajarinya Yoga, dan mengenalkannya dengan beberapa orang yang akhirnya menjadi murid privat July.
 Selain itu, aku juga suka karakter Kakak July, Jeni. Dia nggak emosional menghadapi Martin, meski dia tetap marah dengan adik iparnya itu. Dia juga nggak terbawa kemarahannya dan memberikan July saran yang pantas untuk dilakukan seseorang yang sudah menikah dan punya anak dua. She is good sister.
Sosok Ernest, anak pertama July dan Martin. Meski usianya belum ada sepuluh tahun, namun beberapa kata-kata Ernest berhasil membuat aku trenyuh. Apalagi saat Ernest menyampaikan permintaan hadiah ulang tahunnya, juga kalimat Ernest yang menyadarkan July bahwa manusia itu nggak ada yang nggak pernah salah. July sering bilang, Ernest anak yang pintar, dan dari semua itu, aku tahu July benar.
“…Habisnya, masak kita marah lama-lama sama orang yang kita sayangi. Kayak aku, nggak bisa marah lama-lama sama Emili walaupun dia nakal atau ke Mami juga. Orang, kan, nggak ada yang sempurna. Ya, kan, Mami?” – Ernest – hlm. 243

Sedangkan Emilia, angle mungilnya Martin dan July, dia bikin cerita tampak lucu dan menggemaskan meski di suasana yang sesuram apapun. Namun, kadang juga bikin ngelus dada saat melihat tingkahnya yang seperti monyet kecil yang lompat-lompat di dahan pohon, nggak bisa diem.
Satu lagi tokoh yang bikin, ehm…terpesona. Vincent, meski tokoh ini adalah tokoh yang bisa jadi tokoh penguji kesetiaan July, tapi cara dan kesetiaan Vincent pada July membuat cewek manapun iri sama July.
Selama ini, meski hampir sepuluh tahun tak bersama July, nyatanya cinta Vincent tetap setia untuk mantan kekasihnya ini. Aku juga suka cara Vincent mengatasi hatinya. Dia tak terbawa egonya untuk memaksa July untuk kembali padanya padahal dia tahu seperti apa keadaan July.
Novel ini memang sangat mengispirasiku. Gaya bercerita dan plotnya begitu mudah masuk dan mengalir lancar, bahkan setelah klimaks, aku merasakan dorongan makin kuat untuk segera menyelesaikan novel ini. Aku benar-benar penasaran bagaimana Martin dan July akhirnya bisa bersama dan memulai hidup barunya lagi.
Sudut pandang novel ini adalah sudut pandang dari July. Sehingga, aku mampu menangkap rasa yang tersirat dalam benaknya, benak seorang ibu yang miris melihat perubahan suaminya, nelangsa melihat anak-anaknya yang mulai terluka dengan keadaan hidup mereka, dan begitu kuatnya July sebagai seorang ibu dan istri untuk berjuang bangkit lagi dan memaafkan suaminya yang selingkuh. Sekali lagi aku mau bilang, July adalah sosok perempuan hebat.
Satu yang masih menjadi kelemahannya. Ada beberapa paragraf saling tindih. Dimana dialog tokoh berbeda dijadikan satu paragraf
Example :
“Rakus,” bisik Martin di telingaku. Aku melotot di tengah kegelapan, mencari matanya dan berbalik berbisik, “Kamu yang rakus! Tangan kamu, kan, besar. Aku jadi kalah sama kamu.” Hlm. 299
Menurut aku, satu paragraf di atas  harusnya menjadi dua, seperti ini.
“Rakus,” bisik Martin di telingaku.
Aku melotot di tengah kegelapan, mencari matanya dan berbalik berbisik, “Kamu yang rakus! Tangan kamu, kan, besar. Aku jadi kalah sama kamu.”
Dengan paragraf yang berbeda, pembaca akan lebih mudah menangkap mana yang diucapkan Martin dan mana yang diucapkan July, meskipun disitu sudah jelas mana yang Martin dan mana yang July.
Selain paragraf di atas, ada lagi beberapa paragraf dengan keadaan yang sama. Tapi, itu bukan masalah besar. Meski aku sedikit terganggu karena harus membaca ulang paragraf tersebut karena mengira kalimat yang diucapkan masih menjadi satu bagian dari dialog satu tokoh saja.
Desain cover-nya sangat pas dengan cerita, menggambarkan kehidupan setelah pernikahan. Warnanyapun aku suka, dan makin suka dengan corak garis cokelat muda dan cokelat tua yang elegan.
Untuk endingnya, ini jenis ending penyelesaian matematika. Setelah masalah dijabarkan, diurai satu persatu, membuat jawaban langsung bisa terbaca jelas. Aku yang beberapa hari ini menghadapi ending menggantung, sedikit terhibur dengan ending seperti ini. Dan setahu aku, jenis ending seperti ini memang lebih terasa aman karena beberapa pembaca lebih menyukai jenis ending seperti ini.
Dan untuk nilainya, aku berikan 3,8 dari 5 bintang.

Tulisan ini diikutkan dalam Lomba Review Novel For Better or Worse yang diadakan Christina Juzwar dan  Bentang Pustaka dan diikutkan Indonesian Romance Reading Challenge

 

Jejak Langkahku Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos