Monday, November 4, 2013

Telling Tuesday (1) : November pertama




Lagi libur nih! Padahal, kemarin beneran nggak ingat kalau hari ini libur dan sudah merencanakan kerjaan mana dulu yang mau di lembur di kantor. Karena rencana pertama gagal total, yuk beralih bikin rencana buku apa aja yang bakal aku lahap buat bulan November ini.
Tapi, sekarang ngomongin buku yang udah aku baca di bulan Oktober dulu, ya?
Biasanya dalam satu bulan, aku bisa ngabisin buku 3 sampai 6 buku. Tinggal lihat mood, waktu dan seberapa tebal novelnya. Karena bulan ini ada satu novel tipis, dan ada dua novel yang seru abis, jadi aku bisa menyelesaikan 5 buku dalam 1 bulan. Lumayan.
Dan, ini buku yang sempat aku baca di bulan Oktober :
Dari lima novel itu, aku paling suka novel Notasi, alasannya bisa langsung di baca disini.
Sekarang ini, aku sedang membaca sebuah buku berjudul “Rectoverso” by Dewi Lestari “Dee”. Bukunya sudah lama terbit memang. Tapi, baru sempat kebeli karena recehannya baru aja ngumpul. Biasa, kantong tipis. :D
Novel ini sepertinya nggak butuh di baca lama, karena tipis banget, dan ceritanya menarik. Jadi, tiga hari aja harusnya kelar.
Nah, setelah itu aku akan membaca beberapa buku lainnya. Aku nggak janji juga kalau akan membaca semua, bisa saja di tengah jalan aku akan berpindah ke lain hati, dan menggeser novel yang sudah aku rencanakan. Maklumlah, cewek gemini ‘kan kadang plin-plan :D
Oke, inilah daftar buku yang akan aku baca di bulan November.
Runaway Ran – Mia Arsjad
Cheeky Romance – Kim Eun Jeong
The Wolf and The Dove – Kathleen E. Woodiwiss
Antologi Cinta – Khrisna Pabichara, dkk
Nah, itulah daftarnya. Tapi…tapi…tapi, seperti yang aku bilang tadi, semuanya bisa saja tidak sesuai rencana ‘kan? Nggak papa, ya? Namanya juga rencana, dirubah dikit sah-sah saja. :D

Sunday, November 3, 2013

November Giveaway Hop by Melodi Violine

Hai pecinta Giveaway!!!
Ada sebuah event di bulan November yang Grand Prize giveaway hop ini adalah voucher buku sebesar Rp500.000,00. Dan, masih banyak lagi hadiah yang menanti.
Di blog Lamunyata ini, bahkan ada beberapa periode, seperti ini :

Periode Pertama (31 Oktober -9 November 2013)
Hadiah: Winnetou dari Visimedia

Cara: Isi Rafflecopter Melody's November Giveaway
Pengumuman Pemenang: 10 November 2013
Periode Kedua (10-19 November 2013)
Hadiah: Mystery Book 1 dari aku (diungkap 10 November 2013)
Cara: Isi Rafflecopter Melody's November Giveaway (peserta Periode Pertama ikut diundi, kecuali pemenang)
Pengumuman Pemenang: 20 November 2013
Periode Ketiga (20-29 November 2013)
Hadiah: Mystery Book 2 dari aku (diungkap 20 November 2013)
Cara: Isi Rafflecopter Melody's November Giveaway (peserta Minggu Pertama & Kedua ikut diundi, kecuali pemenang)
Pengumuman Pemenang: 30 November 2013
Jadi, kalau kamu belum menang pada satu kesempatan, jangan bosan kembali ke blog Lamunyata untuk ikut kesempatan berikutnya ;)
 
So, yuk kunjungi Link di bawah ini 
http://el-ovio.blogspot.com/2013/10/november-giveaway-hop.html

TITIK AWAL DUNIAKU, DUNIA MENULIS




Tulisan ini diikutkan dalam

Giveaway #Kuis1Minggu yang

diadakan oleh @bellazoditama

dan @kopilovie

Menulis adalah bagian awal yang diajarkan saat kita mengenal bangku sekolah. Namun, kadang menulis sudah dikenalkan lebih awal sebelum itu. Lalu perlahan tulisan-tulisan itu merangkai sebuah makna di dalamnya. Mulai dari goresan pengetahuan, sampai suara hati dan bahkan sebuah kisah imajinasi yang banyak berpengaruh untuk orang lain.
Dan karena itu aku menulis. Aku menjadikannya sebagai bagian dari hidupku untuk mengisi hari-hariku.
Hal pertama yang membuat aku menulis karena aku ingin orang membaca karyaku di mana aku bisa menciptakan dunia yang bisa kutentukan sendiri bagaimana ceritanya. Kemudian, menulis membuat aku bermimpi, mimpi yang sangat tinggi, mimpi terbesar dalam hidupku, menjadi seorang penulis.
Sebelum aku menjadikan menulis sebagai hidupku, aku juga melewati proses untuk mencintainya karena aku harus mengenalnya lebih dalam.
Berawal dari sebuah tugas bahasa Indonesia saat aku kelas tiga SMP. Saat itu kami diberi tugas membuat kelanjutan sebuah cerpen yang ada di buku paket kami.
Cerita cerpen hanya ada dua paragraf, dan kami dipaksa mengarang bebas untuk melengkapinya sampai akhir. Kemudian, aku mulai beimajinasi dan mencoba melengkapi cerita itu dengan kelanjutan dan ending yang berbeda dengan yang dibuat kebanyak temanku. 
Aku menceritakan bahwa tokoh mengalami mimpi yang mengerikan, namun membuat tokohnya menyadari bahwa hidupnya terlalu sia-sia jika dia terus hidup pasrah seperti itu. Dia harus berjuang agar mimpi itu tidak terjadi padanya. Akhirnya dia bangkit dan menemukan hidupnya yang baru.
Guruku tersenyum mendengarku membacakan cerita itu. Guruku bilang, beliau pikir apa yang aku ceritakan memang berakhir menyedihkan. Beliau sama sekali tak menyangka kalau happy ending, dan nggak menyangka semua kejadian adalah mimpi. Belia juga menambahkan, makna yang tersirat di dalamnya terasa sangat dalam.
Katanya lagi, beliau menyukai cerita yang aku buat. Beliau meminta aku lebih aktif menulis untuk mengasah kemampuanku. Dan seperti sihir, aku melaksanakan sarannya. Perlahan, aku mulai jatuh cinta dan terus menulis sampai sekarang.
Saat aku semakin melebarkan imajinasi dan menuliskannya menjadi cerita membuat aku sadar, menulis tidak hanya mengasikan namun juga sangat dalam maknanya, apalagi jika aku menuliskannya bersama rasa yang aku tuangkan di dalamnya. Dan, aku mulai ketagihan untuk membuat berbagai cerpen untuk mading sekolahku, lalu mulai merambah ke media masa. Akhir-akhir ini mulai aktif di blog dan mencoba menembus ke penerbit.
Namun, aku beberapa kali harus berhenti menulis karena kesibukan dan karena tak ada feel. Aku sedikit pesimis mimpiku bisa jadi kenyataan.
Tapi, beberapa bulan yang lalu aku mengenal seorang penggiat sastra lewat twitter. Beliau memberiku semangat untuk terus menulis karena aku punya bakat namun dengan kemampuan yang masih sangat  kurang dan harus terus diasah.
Dari situ aku sering mengikuti event menulis. Jangan pikir aku langsung menang? Tidak! Sampai saat ini menang dalam event besar masih belum pernah aku cicipin. Namun, dari itu semua aku bisa tersenyum bangga menatap namaku di sebuah halaman buku antologi sekalipun aku tak menjadi terbaik. Semangat menulis kembali menggebu saat aku menang kontes cerpen, walaupun lagi-lagi aku tak menjadi terbaik dan harus puas dengan juara tiga.

Sekarang, aku masih menulis dan akan terus menulis. Menceritakan dunia di imajinasiku. Membangun harapan paling tinggi dari impianku. Dan aku tak akan berhenti sekalipun aku terus diserbu kecewa karena kegagalan.
Aku selalu ingat, gagal adalah tanda kita akan berhasil dalam bagian yang lebih besar. Maka, aku akan terus menulis untuk diriku sendiri yang mencintai menulis. Mencari kebahagian yang memuaskan keinginanku.
Happy Writing!!!! 

Wednesday, October 23, 2013

Resensi - NOTASI "Kenangan di antara Surat-surat Tak terbalas"





Penulis : Morra Quatro
Penerbit : Gagas Media
Tahun Terbit : 2013
Halaman : vi + 294 hlm
Harga : Rp. 43.000
ISBN : 979-780-635-9
Kenangan adalah kenangan. Dia pergi, entah kembali, entah tidak, tetap saja menempati tempat tersendiri. Sekalipun kau berusaha mengusirnya jauh, dia tak akan benar-benar pergi. Dan kenangan kadang kala akan membuat hidupmu bergejolak suatu saat, di waktu yang tak akan kau kira.
Sama seperti kenangan yang menghantui Nalia. Kenangan tentang cintanya pada seorang pria Fakultas Teknik UGM, pria berkaca mata jangkung dengan rambut kriting yang terlihat sangat tenang, Nino.
“…. Bahwa saat-saat istimewa dalam hidup kita selalu datang tanpa peringatan. Seringnya kita tidak sadar ada saat-saat dalam hidup yang kemudian akan menjadi momen yang spesial, meskipun itu sedang berlangsung. Seringnya kita justru menyadarinya setelah semua berlalu.”Nalia Hal. 52

Pria itulah yang menarik perhatian Nalia lewat tawanya, pria itu juga yang menemaninya dalam remang malam kampus UGM, dia juga yang meminjamkan punggungnya untuk Nalia bersembunyi saat dia ketakutan pada bayangan kuda yang dikiranya hantu, dan pria itulah yang membuatnya tak bisa melepaskan kenangan sekalipun sudah bertahun-tahun lalu, sekalipun hatinya sudah tertambat pada seorang pria yang akan menikahinya dalam hitungan minggu, Faris.
Notasi adalah novel yang tidak biasa. Dia tidak hanya bercerita tentan cinta, namun Notasi bercerita tentang sejarah dan kenangan pahit bangsa ini dan juga kenangan untuk Nalia sendiri.
“Kami mahasiswa Indonesia, bersumpah, bertanah air satu, tanah air tanpa penindasan. Kami mahasiswa Indonesia, bersumpah, berbangsa satu, bangsa yang penuh keadilan. Kami mahasiswa Indonesia, bersumpah, berbahasa satu, bahasa tanpa kebohongan.” Hal. 194

Novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama, yaitu Nalia. Dia memulai kisahnya dengan menarasikan perjalanannya menapaki UGM kembali bersama Faris, melewati kampusnya dan kampus Teknik dimana dia biasa melihat bayangan sosok Nino yang sangat dirindukannya.
Perlahan, dia memulai cerita tentang masa lalunya, mulai dari pertama kali bertemu Nino, perjuangan para anak-anak Teknik untuk mempertahankan Radio Jawara yang susah payah mereka dirikan, obrolan yang tak ingin diakhiri di warung Tiada Tara, penyerangan di event yang diselenggarakan anak-anak Fakultas Kedokteran Gigi, demonstrasi besar-besaran di era orde baru yang menuntut Soeharto turun, hilangnya Nino, dan surat-surat Nino untuk Nalia yang tak terbalas.
Sempuna, tanpa cela, tak membosankan dan sangat menyentuh. Sekalipun, aku masih menemukan beberapa typo yang tak aku hiraukan karena sempurnanya cerita ini.
Karakter Nino yang misterius membuat pembaca tak ingin melepaskan kisah ini begitu saja. Dia dan Nalia mampu menyajikan sebuah ikatan yang tak berlebihan dengan cinta-cinta seperti biasa.
“Nino itu padi yang sedang tumbuh. Dan padi yang sedang tumbuh tidak berisik. Seperti itulah dia.”Nalia Hal. 100
“Karena ia laki-laki yang baik. Yang pintar, yang menjaga kebenaran janji dan kata-katanya. Aku tahu aku bisa percaya padanya.” Nalia Hal. 121

Nalia sendiri mencirikan seorang wanita yang gigih, tangguh dan pintar. Dia juga setia kawan dan punya cara mencintai yang tak diumbar-umbar namun terasa begitu dalam.
Karakter Ve, wanita yang juga mencintai Nino tak kalah memikat. Dia menghadirkan sosok wanita yang tak kenal takut, setia kawan, dan aku juga salut dengan caranya mencintai Nino.
Novel ini mempunyai banyak sekali tokoh. Tapi, aku tidak dibuat bingung. Mereka seperti memang harus ada dan menjalankan fungsinya masing-masing. Bahkan, karakter mereka tetap konsisten sampai akhir cerita.
Tema yang diangkatnya pun termasuk berani. Politik, menguak beberapa kebobrokan Indonesia di bidang sumber daya alam. Menceritakan kisah pilu penghancuran orde baru yang membuat Indonesia porak poranda. Semuanya, aku benar-benar salut pada penulis satu ini.
Notasi, sangat tidak mengecewakan. Penuh teladan, membuat kita ingat kalau kita harus punya rasa nasionalisme untuk mempertahankan Indonesia yang sudah susah payah di bangun dan diperjuangkan dengan titik darah penghabisan, tidak hanya oleh para pahlawan sebelum kemerdekaan, namun juga pahlawan orde baru yang tak kenal takut.
Endingnya membuat aku yang sudah sesak merasakan fakta-fakta yang bergulir, semakin sesak dengan kenyataan yang harus di terima di epilog. Tidak apa-apa, inilah hidup, kita harus belajar menerima apapun yang sudah ditakdirkan.
Dan covernya sangat elegan, membuat kita tahu kalau novel ini akan mengajak kita kembali ke masa lalu.
Settingnya, Jogjakarta. Lekat, legit dan memikat. Detail dan sangat rinci. Namun, kadang aku malah sedikit kesulitan untuk membayangkannya. Dan, jika pembaca adalah alumni atau masih mahasiswa di kampus UGM, pasti ada nilai plus plus tersendiri saat membacanya. Jadi ingin menunjukkan pada kakak sepupuku yang alumni kampus ini.
Bicara tentang rating, aku tak segan untuk menyematkan nilai sempurna pada novel ini, 5 dari 5 bintang.
 

Jejak Langkahku Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos