Thursday, August 20, 2015

Resensi – HER SUNNY SIDE “Masa Lalu, mungkin adalah Masa Depanmu kemudian"



Penulis : Koshigaya Osamu
Penerjemah : Faira Ammadea
Penerbit : Haru
Genre : Romance, Legenda
Kategori : Adult, Terjemahan, Fantasy
Terbit : Maret 2013
Tebal : 224 hlm
ISBN : 978 – 602 – 7742 – 12 – 3
Harga : Rp. 59.000

Ini entah kebetulan, atau memang sudah takdir. Dari berbagai kemungkinan bertemu seseorang dalam sebuah proyek pekerjaan, Okuda Kosuke malah bertemu teman semasa SMP-nya, Watarai Mao.
“Yang ingin kukatakan adalah aku merasa semuanya bagaikan takdir, termasuk pekerjaanku di Lara Aurore. Tentu saja pertemuanku dengan Kosuke 13 tahun yang lalu adalah peristiwa yang paling ditakdirkan untukku. Apakah kau sendiri juga menganggap bertemu denganku adalah takdir?” – Mao – 120

Kosuke yang bekerja di perusahaan jasa periklanan Railad Japan Co.,Ltd, tiba-tiba kembali disapa gadis yang dulu terkenal ‘anak paling bodoh di sekolahnya’ dan suka di-bully teman-temannya. Sekarang, gadis itu tampak cantik dan juga memperlihatkan bahwa dia bukan lagi gadis bodoh seperti dulu.
Mao sudah berubah. Itu juga berkat Kosuke. Saat di SMP dulu, Kosuke sering mengajarinya pelajaran yang tidak dia kuasai dengan amat sabar. Dia juga menjadi teman satu-satunya Mao. Jadi, karena Kosuke, Mao berusaha keras untuk belajar dan akhirnya di masa SMA dan Kuliah, Mao lebih bisa diandalkan, dan kemudian dia diterima di perusahan Lingerie Lara Aurore
Dari kerjasama kedua perusahaan mereka, Mao dan Kosuke mulai dekat, dan akhirnya berpacaran. Sayang sekali, kedua orang tua Mao tidak menyetujuhi hubungan mereka. Dan menggunakan masa lalu Mao sebagai alasan.
Mao hilang ingatan, begitu kata kedua orang tuanya. Dia mengidap Retrograde amnesia. Karena itu, orang tua Mao tidak ingin Kosuke repot akan masalah itu. Dan juga, Mao bukan anak kandung orang tuanya. Tapi, Kosuke tidak ambil pusing.
“Tidak bisa dibayangkan bagaimana dia bisa sampai kehilangan ingatan. Tetapi hal itu tidak membuat saya takut atau sampai mengubah perasaan. Seperti yang Bapak katakan, bagi saya Mao adalah Mao.” – Kosuke – hlm. 66

Pernikahan mereka berjalan dengan cukup baik. Meskipun ada beberapa masalah yang timbul tenggelam. Namun, Kosuke merasa ada sesuatu yang aneh dengan istrinya. Dia seperti sedang mengidap sebuah penyakit. Tapi, saat di bawa ke dokter, tak ada yang aneh dengan tubuh Mao. Lalu, Mao juga senang sekali mengatakan sesuatu seperti dia akan tiba-tiba pergi.
Sebenarnya ada apa dengan Mao? Kemunculannya dulu saat ditemukan orang tuanya dan akhirnya diadopsi juga cukup aneh. Siapa Mao sebenarnya? Apa yang dia sembunyikan sejak dulu?
“Aku tidak mengira kalau Kosuke begitu menyayangiku. Sungguh bahagia bisa bersamamu. Mungkin Kosuke akan marah, tapi aku sudah puas. Maaf, memang ini keterlaluan, tapi sebenarnya aku ingin bisa melakukan banyak hal bersama lebih lama lagi.” – Mao – hlm. 193

Her Sunny Side, pada awalnya novel ini tampak seperti novel romance pada umumnya, bertemu, jatuh cinta, cinta mulai diuji, dan seterusnya. Kamu akan menemukan hal yang berbeda saat memasuki setengah dari novel ini. Ada sesuatu yang tidak beres dengan sosok Mao, sesuatu yang membuat ending-nya sangat tidak bisa ditebak, dan jauh dari pikiranku.
Meskipun di atas aku menyebutkan sebuah penyakit - Retrograde amnesia – tapi, novel ini tak ada hubungannya sama hal-hal berbau penyakit berbahaya yang membuat tokohnya mati di akhir cerita. Pokoknya, sosok Mao benar-benar bikin orang bertanya-tanya, dan tercengang saat ketemu jawabannya.
Mao sendiri digambarkan sebagai gadis ceria entah saat masih SMP maupun setelah bertemu kembali dengan Kosuke. Dia bukan tipe gadis yang gampang menyerah, dan punya tekat sangat kuat. Namun, Mao ini lumayan parah plin-plannya. Tapi, kalau masalah cinta, berbeda. Mao tak pernah berubah pikiran saat mencintai Kosuke. Dia punya tekat sangat kuat untuk bertemu kembali dengan Kosuke.
Kalau ada seorang pria yang sampai dikejar seperti Mao mengejar Kosuke bertahun-tahun, mungkin pria itu akan besar kepala dan merasa terlalu dicintai. Untung, Kosuke bukan pria seperti itu saat akhirnya dia tahu seperti apa Mao mengejarnya. Ada nggak ya, orang seperti Mao yang mengejar cinta pertamanya seperti itu?
“Aku sangat menyukai Kosuke, makanya aku ingin selalu bersamamu. Tapi kelihatannya orang normal tidak akan sampai berbuat sejauh ini ya?” – Mao – hlm. 139

Di novel ini, aku jadi sedikit percaya tentang cinta pertama yang tak pernah mati. Yap, Kosuke adalah cinta pertama Mao, begitu juga sebaliknya.
Hubungan Mao dan Kosuke cukup manis, namun tidak dibuat sangat-sangat-sangat manis. Ada bagian-bagian yang bikin ngiri, dan jadi pengin cepat-cepat menikah (ini salah satu hal positif dari novel ini, lho).
Kosuke pada dasarnya memang bukan orang yang romantis. Dia kadang terasa kayak pria dengan minim ekspresi. Tapi, karena novel ini diceritakan dari sudut pandang Kosuke, jadi nggak mengganggu dan nggak bikin alur ceritanya jadi datar.
Meskipun, jujur di bagian awal novel ini, aku merasa jenuh. Yah, kenapa jadi standart banget begini? Yah, kenapa nggak ada gebrakan yang bikin semangat baca? Tunggu, itu hanya aku rasakan sekitar setengah buku (banyak juga, sih). Setelah itu, setelah mereka menikah, ceritanya jadi lebih enak.
Aku juga kurang nyaman sama Line Spacing-nya. Kalau lebih diperlebar, akan lebih enak untuk dibaca lama-lama. Untuk ukuran font dan jenisnya sudah mantap. Hanya tinggal itu.
Ngomongin ending lagi, aku kasih 4,7 dari 5 bintang khusus untuk ending-nya.
Kalau keseluruhan cerita, aku kasih 2,3 dari 5 bintang.

Tuesday, August 11, 2015

Resensi – AKU TAHU KAMU HANTU "Kisah dibalik tembok sekolah"



Penulis : Eve Shi
Penerbit : Gagasmedia
Genre : Horror, Thriller, Romance
Kategori : Young Adult, Family Drama, Bullying
Terbit : 2013
Tebal : iii + 269 hlm
ISBN : 979 – 780 – 652 – 9
Harga : Rp. 39.000
“Nggak usah nonton film horror juga kita tahu, muka makhluk halus nggak ada yang cakep. Gila banget kalau gue mesti tunggu kuntilanak atau apa pun itu di kamar mandi sekolah menunjukkan mukanya. Gimana kalau tulang hidungnya bolong? Pipinya sobek sampai kelihatan gigi? Atau kulit mukanya terkelupas? – Olivia – hlm. 32

Olivia – Liv –  mendapatkan kemampuan melihat makhluk lain setelah berulang tahun ke tujuh belas. Baginya, ini bukan kado yang patut dia syukuri, ini mimpi buruk.
Awalnya, saat dia menyadari sosok putih berambut panjang di kamar mandi sekolah, Liv menganggap itu hanya salah lihat, tak nyata, hanya halusinasi. Seperti saat melihat Chandra, anak tetangganya. Liv merasa aneh saja, kenapa anak itu bisa jalan-jalan sendirian di jalan, padahal saat itu sudah malam. Chandra melihat ke arah Liv, namun Liv tidak tahu, bahwa yang dilihatnya bukan Chandra seperti biasanya, itu hantu Chandra.
Namun, saat dia melihat Frans, temannya yang hilang dan belum ditemukan, Liv menyadari bahwa Frans sudah meninggal, dan ada sesuatu yang terjadi padanya, sampai-sampai arwah Frans tidak bisa keluar dari area sekolah. Untuk Frans, Liv tidak bisa tinggal diam, dia akan membantu Frans untuk menguak apa yang sebenarnya terjadi padanya. Liv yakin, ada sesuatu yang tak beres.
Mereka sudah meninggal, nggak bisa melukai kita. Kitalah yang bisa mempengaruhi kondisi mereka. Berdoa bagi mereka, memelihara tempat istirahat mereka.” – Olivia – hlm. 193

Hidup Liv makin kacau saat dia harus menghadapi beberapa temannya yang mencoba menjatuhkannya karena mereka tahu, Liv menyukai salah satu Terrific Trio – tiga cowok populer di sekolahnya.
Belum lagi masalah Daniel yang menjauh setelah Liv menceritakan bahwa dia melihat Frans, dan mengatakan Frans dibunuh. Kemudian, Terrific Trio yang mencoba membuatnya ketakutan. Juga masalah Saras, cewek yang mengalami bullying di sekolah.
“Berbuat kekeliruan dan ingin dimaafkan, itu lumrah. Tapi apa guna pemberian maaf? Agar bisa mengulangi kekeliruan itu lagi, atau sekedar menyamankan perasaan?” – hlm. 174

Mampukah Liv menguak kasus Frans? Kenapa Daniel tiba-tiba menjauh? Benarkah hanya karena takut dengan kemampuan Liv? Dan, siapa sebenarnya Terrific Trio? Benarkah sifat mereka sama baiknya dengan reputasi mereka di muka umum?

Aku Tahu Kamu Hantu, novel bergenre Horror yang emang disetting bernuansa horror, bukan bertokoh hantu namun nggak ada ngeri-ngeriannya kayak beberapa novel yang aku baca. Sebenarnya, aku ini penakut. Baca novel ini aja aku nggak berani malam-malam. Paling pol sebelum magrib, abis itu ganti baca novel lain.
Liv yang terganggu sekali dengan kemampuannya, aku bisa memahami perasaannya, karena dulu, aku pernah hampir punya kemampuan seperti itu. Alhamdulillah, bukan langsung bisa lihat, tapi aku bisa merasakannya. Namun, karena aku nggak mau, jadi kemampuan itu meluruh dengan sendirinya.
Aku suka cara berceritanya Eve Shi. Makanya, aku berani-beraniin baca novel ini. Padahal, beberapa rumor tentang novel ini bikin merinding.
Dulu, pas novel ini baru terbit, ada yang cerita saat baca novel ini ada yang ngetokin jendela, kayak yang dialami Liv sama Chandra. Trus, ada yang anaknya ngelihat sesuatu, dll. Nah lho, jiper deh aku. Cuma, penasaran aja, sih. Akhirnya setelah beberapa hari kelar juga bacanya.
Konfliknya juga nggak melulu tentang hantu dan pemecahan kasus pembunuhan saja. Ada konflik keluarga Liv yang orang tuanya bercerai, kemudian mamanya menikah lagi. Ada juga kisah bullying di sekolah, juga masalah kenakalan remaja lainnya. Ah, dan nggak ketinggalan konflik cinta juga.
Aku suka karakter Liv yang berani banget. Secara, dia anak klub karate, pasti nyalinya nggak perlu ditanya. Cara menghadapi konflik keluarganya pun aku suka.
Penyelesaiannya juga cukup masuk akal, memang beberapa ada yang nggak, tapi kalau balik lagi – ingat – novel ini novel horror, beberapa kejadian janggal tetap masuk akal, kayak pisau yang tiba-tiba terbang dan mendarat melukai penjahatnya. Ini, malah bikin lebih masuk akal. Karena kalau Liv bisa melawan sendirian tanpa bantuan, itu terlalu khayal.
Ending-nya bisa dibilang ngasih kejutan. Aku suka itu, karena sejak seperempat bagian, aku sudah bisa nebak siapa pelaku pembunuhan Frans. Tapi, fakta lain di ending, tak terpikirkan kalau ternyata seperti itu.
Rating 3,3 dari 5 bintang

Saturday, August 8, 2015

Resensi – YOU ARE THE APPLE OF MY EYE “Kisah-Kasih di Sekolah”



Penulis : Giddens Ko
Penerjemah : Stella Angelina & Fei
Genre : Romance
Kategori : Young Adult, Terjemahan, Mandarin
Terbit : Februari 2014
Tebal : 350 hlm
ISBN : 978 – 602 – 7742 – 28 – 4
Harga : Rp. 63.000
“Nilai Bahasa Inggrismu bagus, Mandarin dan Sejarah lumayan, Geografi buruk, Matematika dan Fisika sangat buruk. Kalau bukan karena kau bodoh, pasti karena kau tidak belajar, atau mungkin karena cara belajar yang salah. Apakah kau merasa bodoh?” – Shen Jiayi – hlm. 42

Itulah Ke Jingteng, anak laki-laki yang sangat suka membuat lelucon dan keonaran di kelas. Dia tak peduli sama sekali dengan nilainya yang tak karu-karuan.
Suatu ketika, gurunya meminta siswi paling pandai di kelas Ke Jingteng, Shen Jiayi untuk mengawasi anak nakal ini. Dan itulah awal dimana mereka menjadi teman belajar. Shen Jiayi selalu menemaninya mengerjakan soal setiap istirahat. Atau, Ke Jingteng akan meletakkan buku matematika di atas meja Shen Jiayi, lalu mereka akan mengerjakan bersama.
Shen Jiayi punya kebiasaan menusuk Ke Jingteng dengan bulpoin saat mengetahui Ke Jingteng tertidur di kelas, hingga di kemeja seragam Ke Jingteng yang berwarna putih tampak dihiasi titik-titik biru tinta bulpoin. Shen Jiayi juga suka sekali menyebut Ke Jingteng kekanak-kanakan.
“Namun sekarang, kalau aku terus diikuti oleh rasa tidak percaya diri ini, aku tidak bisa menggunakan seluruh diriku untuk menyukai Shen Jiayi. Rasa suka seperti itu, yang bisa membuat orang tertunduk malu, benar-benar tidak nyaman.” – Ke Jingteng – hlm. 127

Ke Jingteng sadar sekali, dia menyukai Shen Jiayi. Tapi, dia tak percaya diri karena kecerdasannya yang biasa saja. Itulah kenapa Ke Jingteng semakin termotivasi untuk memperbaiki nilai-nilainya, untuk menyejajarkan dirinya dengan Shen Jiayi.
Namun, banyaknya pesaing yang juga menyukai Shen Jiayi membuat Ke Jingteng terancam. Mereka bukan orang-orang yang pantas dia remehkan. Karena itu, dia menyerah, dan munculah Li Xiaohua.
“Meskipun kalian saling menyukai, tapi tidak mungkin pacaran terus menerus. Kalau tahu dari awal akan putus, mengapa masih mau pacaran sejak dini? Bukankah seperti ini menjadi tidak berarti?” – Shen Jiayi – hlm. 83

Perubahan Ke Jingteng rupanya menarik perhatian Li Xiaohua. Dia mendekati Ke Jingteng dengan alasan menanyakan cara memecahkan sebuah soal. Ke Jingteng tentu saja membantu dengan senang hati. Dan, dia semakin termotivasi untuk belajar semakin giat karena tidak mau mengecewakan Li Xiaohua.
“Dua gadis di masa mudaku, keduanya membuatku menyadari satu hal ini… hanya dengan ketekunan, seseorang baru bisa menikmati hasil yang indah. Hanya dengan terus tekun berusaha, seseorang baru bisa melihat dunia yang tidak terbayang sebelumnya.” – Ke Jingteng – hlm. 64

Namun, saat dia patah hati karena Li Xiaohua, Ke Jingteng menyadari bahwa hatinya masih menyukai Shen Jiayi. Dia memutuskan untuk kembali mengejarnya.
Dari masa-masa remajanya sampai masa tahun kedua kuliahnya, Shen Jiayi-lah sosok yang selalu mewarnai hidup Ke Jingteng. Masalahnya, apakah Shen Jiayi juga menyukai Ke Jingteng?
“Namun, bukankah kalau ada seratus macam cara untuk kehilangan cinta, maka berarti ada juga seratus cara untuk mendapatkan cinta?” – Ke Jingteng – hlm. 201
 
 You are the Apple of my Eye, novel yang lebih cocok disebut semi autobiografi ini ditulis dari kisah nyata penulisnya. Kita akan disuguhi kenangan-kenangan masa remaja yang begitu berwarna, dan juga seru banget. Banyak hal konyol yang membuat tertawa terpingkal karena ulang mereka, Ke Jingteng and the gank.
Aku cukup geregetan pada Ke Jingteng yang tak pernah bisa percaya diri untuk menyatakan perasaannya pada Shen Jiayi. Oke, kalau saat mereka masih di bangku sekolah menengah pertama sih bisa dipahami, tapi selanjutnya kan sudah beda. Sikap Shen Jiayi saja sudah jelas begitu, kok ya tetap nggak berani, ya?
“Saat menyukai seseorang, tidak ada waktu yang bisa dikatakan paling tepat untuk menunjukkannya. Kapan harus mengungkapkannya sehingga orang yang kita sukai tahu tentang perasaan kita, juga tidak aa kesempatan yang bisa dibilang paling tepat untuk melakukannya.” – Ke Jingteng – hlm. 207

Trus tentang Ke Jingteng dengan Li Xiaohua, mereka punya hubungan yang tampak pasti. Saat di bagian ini, kita akan merasakan seperti apa kisah cinta monyet di masa ABG yang kelihatan malu-malu tapi mau. Sayang, mereka berpisah dengan alasan yang menurut aku absurd banget.
Yang makin absurd lagi, apa sih alasan Li Xiaohua tiba-tiba berganti nama saat sekolah menengah atas? Masak hanya gara-gara Ke Jingteng trus ganti nama, gitu?
Aku kurang suka dengan narasinya. Duh, panjang banget dan kurang efesien. Ini bagian yang bikin mudah bosan. Alurnya juga lambat banget. Dan, ada beberapa kali penulis menyisipkan kisah di masa sekarang saat dia sudah menjadi seorang penulis, saat dia mengenang kembali kisahnya dengan Shen Jiayi – kalau yang ini aku suka. Dia juga menceritakan kenapa dia menggunakan nama Giddens Ko, lho.
Aku jadi teringat Pamanku yang juga punya teman karib seorang penulis. Mereka sering bertemu dan menghabiskan waktu bersama, persis seperti Ke Jingteng alias Giddens Ko dan teman-temannya. Mereka juga senang sekali mengenang masa muda. Teman pamanku itu juga menulis novel semi autobiografi, ada kisah Pamanku juga di sana.
Entah kenapa, sejak bab pertama aku sudah kesulitan menelaah isi novel ini. Aku nggak tahu ini karena memang bawaan novelnya, atau terjemahannya yang kurang sempurna, atau memang akunya yang nggak cocok baca novel dengan jenis semi autobiografi seperti ini.
Namun, dari novel ini aku belajar banyak tentang manfaat lain cinta di masa sekolah. Ternyata, nggak selamanya cinta punya dampak buruk, lho. Andaikan saja semua anak seperti Ke Jingteng, mungkin sejak SD mereka sudah boleh pacaran.
Aku sudah menonton fimnya. Sebelum membacanya, malah. Dan, ternyata novel dan film nggak sama. Di film nggak ada Li Xiaohua, dan kisah mereka bukan dimulai dari sekolah menengah pertama, tapi sekolah menengah atas dan berlanjut ke dunia kuliah. Dan, aku lebih suka nonton filmnya saja. Karena saking sukanya, film itu masih juga ada di folder laptopku sampai sekarang. Pengin nonton lagi kalau sudah senggang.
Endingnya, untuk film dan novel sama-sama bikin aku menghela napas. Ya ampun, setelah seperti itu, kenapa begini?
Oke, langsung ratingnya, aku kasih 1,3 dari 5 bintang. Maaf, jujur aku kurang – mungkin lebih tepat, sangat kurang menikmati novel ini.

Tuesday, August 4, 2015

Resensi – ONE LAST CHANCE “Dibalik sebuah kisah novel roman”



Penulis : Stephanie Zen
Penerbit : Gramedia
Genre : Romance
Kategori : Young Adult, Metropop
Terbit : Juli 2012
Tebal : 288 hlm
ISBN : 978 – 979 – 22 – 8255 – 9
Harga : Rp. 45.000

“Tak boleh ada patah hati yang tak menghasilkan royalty, Kayla sayang. Tak boleh ada.” – Adrienne – hlm. 12

Itulah motto Adrienne Hanjaya, penulis novel romance best seller yang selalu menuliskan kisah nyatanya di dalam novel-novelnya. Tidak hanya kisahnya yang nyata, nama tokoh cowoknya pun adalah nama yang sebenarnya.
Buat Adrienne, dia melakukan itu semua sekaligus untuk membalas dendam pada cowok-cowok yang sudah menyakitinya, dengan membuat ending mengenaskan untuk para tokoh cowoknya, dan happy ending untuk tokoh ceweknya, yaitu dirinya sendiri.
“Balas dendam, no matter how sweet it is, nggak akan pernah membuatmu bahagia, Dri. Just forgive. Let go, and let God do the rest. You’ll be much happier.” – Aidan – hlm. 79

Kayla, sahabat baiknya, mencoba mengingatkan Adrienne bahwa tindakannya itu bukan hal yang bijaksana. Tapi, Adrienne tak menggubrisnya.
Adrienne boleh saja tenang saat ini. Namun, salah satu tokoh di novelnya merasa tidak terima. Dia siap melakukan pembalasan dendam lewat seseorang yang sangat berarti buat Adrienne.
“Sempurna. Kamu membohongi aku, Jaden, Dirga, serta Gerry. Tiga-kosong. Tiga untuk Adrienne Hanjaya, kosong untuk Danny Husein yang bodoh dan lugu, yang mudah saja percaya  dan tertipu pada topeng Adrienne yang manis.” – Danny – hlm. 182

Danny, calon dokter, yang ditemui Adrienne saat bakti sosial di Tosari, daerah yang letaknya sekitar 10 kilometer dari Gunung Bromo. Tanpa dia rencana, perasaan tertarik itu muncul, membuat keduanya semakin sering berintraksi lewat facebook, sms dan akhirnya sering jalan bersama.
Bertemu Danny, membuat Adrienne berharap banyak untuk menulis kisah cinta yang manis dan happy ending dimana kedua tokohnya bisa bersama. Tapi ternyata, ada seseorang yang tidak senang jika mereka bersama. Dia memberitahu Danny tentang kebiasaan Adrienne dalam menulis novel-novelnya.
“Dan dia mungkin…. menuliskan semua kisah menyakitkan itu karena dia belum punya cerita indah untuk dituliskan. Kalau dia sudah punya cerita indah, pasti dia lebih memilih untuk menulis cerita indah itu, dibanding menulis kisah menyakitkan, betul nggak?” – Irina – hlm. 249

One Last Chance, novel kehidupan seorang penulis best seller yang terlalu angkuh menggunakan kemampuan menulisnya untuk balas dendam. Ini tema yang cukup unik.
Aku – yang lumayan suka menulis roman juga – bisa belajar banyak untuk bijak dalam memilih segala hal untuk tulisanku. Ternyata, memilih nama juga bisa bikin masalah. Tapi, aku memang nggak suka menulis kisah nyataku, sih. Kalaupun menuliskannya, aku nggak menjadikan itu sebagai fokus cerita, cuma sekedar bumbu-bumbu saja.
Adrienne, tindakan konyolnya memang bikin orang tercengang – kalau saja ini terjadi di dunia nyata. Tapi, alasan kenapa dia menggunakan nama cowok-cowok yang sudah menyakitinya, tampak bisa diterima. Motto yang dia terapkan juga bikin novel ini lebih terasa ada tantangan.
Meskipun Adrienne tampak gegabah, tapi Adrienne punya karakter yang menyenangkan, baik hati, pekerja keras, tulus, juga bukan tipe orang yang keras kepala. Dia bisa dengan lapang dada meminta maaf, itu contoh yang sangat baik.
Karakter Danny yang humble, dengan caranya berpikir yang begitu prinsipil, juga beberapa kelemahan dia yang sulit move on kalau sudah terluka, serta terlalu tertutup, dan erg… dia terasa seperti cowok yang agak lugu – mungkin – membuat Danny lebih manusiawi dan cocok sekali kalau dia berasal di Tosari.
Yang membuat aku kurang greget saat membacanya adalah narasi penulis. Juga kurangnya kadar konflik di beberapa bagian, ini membuat semangat membaca menurun.
Narasi penulis terkadang terasa bertele-tele, kurang to the point. Tapi, setiap percakapannya cukup enak untuk dinikmati. Alurnya agak lambat. Namun, aku suka sekali dengan penyelesaian masalahnya, brilliant!
Poin positif di novel ini adalah selain belajar untuk bijak dalam menulis, aku juga belajar tentang dampak dari balas dendam, dan manfaat dari ‘meminta maaf, dan memaafkan’.
Memang, setiap novel Stephanie Zen selalu mengajarkan banyak hal tentang nilai-nilai kehidupan. Nggak banyak, lho, penulis yang bisa menggugah hati pembacanya untuk belajar hidup lebih baik seperti ini.
Rating novel ini 2,4 dari 5 bintang.
 

Jejak Langkahku Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos