Tuesday, September 24, 2013

SUNTIKAN NYAWA UNTUK BLOG YANG MERANA




Kayaknya, hidup cuma buat ngelamun dan nonton tivi tuh pembuangan waktu banget ya? Jadi, aku mencoba untuk mencari jalan lain biar lebih eksis. Salah satu caranya lewat blog.
Kegiatan ini baru aku mulai sejak Maret 2013 karena sebuah Giveaway. Yap, alasan di atas adalah alasan point kedua. Point kesatunya karena banyaknya giveaway yang mengharuskan menggunakan blog. Akhirnya, aku belajar blog sedikit demi sedikit. Setelah itu, aku keterusan untuk main blog.
Memang semua orang bisa bikin blog, namun nggak semua orang bisa bikin blognya eksis dan hidup. Kasih acungan jempol dua, deh buat para blogger yang bisa mengupdate blognya secara berkala. Buat yang bikin blognya eksis dan banyak pengunjungnya kasih teriakan ‘suit…suit’ pake suara toa dan standing uplous. Buat yang bisa ngasilin uang dari ngeblog kasih peluk dan cium dariku deh. Hehehehe
Tapi, semua itu perlu perjuangan, perlu pengorbanan, dan tentunya perlu kreativitas. Tanpa 3 hal itu, yakin banget, blog cuma buat isi daftar identitas doang di giveaway. Huhuhu…kasihan banget blognya.
 Emang sih ada aja alasan buat nggak sempat ngeupdate blog. Dari numpuknya tugas kuliah atau kerjaan kantor, sampai karena malas. Huft, sebenarnya itu cuma bagaimana kita pinter-pinternya mengatur waktu saja, kok!
Contoh ngatur waktu yang kumaksud itu kayak gini, 24 jam 1 hari. Setidaknya sisihkan 1 jam saja buat nulis bisa ‘kan? Kalau masih kesulitan, ada 7 hari dalam 1 minggu, sisakan 4 jam dalam 1 minggu itu untuk menulis. Dari beberapa jam itu, kita sudah bisa memberi nyawa untuk blog kita. Kalau nggak bisa juga, mending hapus tuh akun blog kamu, lupain main blog, dan cari aja kegiatan lain.
Cara lain adalah membuat sebuah tulisan dari apapun yang kita suka. Seperti, kalau kita suka nonton film, kita bisa bikin komentar tentang film itu di blog kita. Kalau suka baca, bikin reviewnya. Kalau suka nulis, bikin karya yang bisa di tampilkan. Pokoknya, sesuaikan saja blog itu dengan diri kita. Seperti aku, aku sangat suka baca buku, jadi hampir sebagian besar postingan aku tentang resensi buku. Aku juga suka nulis, makanya ada beberapa flash fiction juga.
Oh, ada satu lagi cara yang bisa dibilang “menyelam sambil minum air”, bikin blog terupdate dan menghasilkan. Caranya adalah ikut giveaway yang mengharuskan kita bikin tulisan di blog. Nah, ikuti tema dari giveaway itu, dan menangkan hadiahnya. Itu cara paling seru, lho! Nantinya, kalau nggak menang, setidaknya ‘kan kita bisa bikin blog kita sedikit punya nyawa. Bener…bener…atau bener?
Oke, pesan buat blogger yang baca tulisanku.
Menulis itu seperti bicara, nggak ada yang sulit dalam menulis. Jadi, luangkan waktumu untuk berbicara dalam tulisan. Sematkan dia dalam blogmu, maka dari itu apa yang kau bicarakan mungkin bisa bermanfaat bagi pembacanya. Tetap semangat ngeblog. Happy Blogging!!!

“Cerita ini diikutsertakan dalam 2nd Give Away Ikakoentjoro’s Blog >> http://ikakoentjoro.com/my-2nd-giveaway/ “

PEWUJUD MIMPI, AURA 85% KEBERUNTUNGAN



Kalau boleh berkhayal, aku ingin jadi orang yang beraura 85% keberuntungan. Kenapa 85%? Karena kalau aku terus-terusan beruntung, nanti aku jadi orang yang nggak bersyukur sama pemberian Allah. Benar bukan?
Trus kalau aku udah jadi orang beraura 85% keberuntungan, so pasti 85% apa yang aku inginkan akan tercapai. Salah satunya, bisa menang diberbagai kuis dan Giveaway. Dapat hadiah keren, barang-barang impian, kesempatan-kesempatan menarik dari giveaway itu tanpa keluar uang. Huaaahhhh…itu pasti jadi kado indah di hidupku. Atau bisa menang lomba-lomba cerpen dan novel. Hem, ini tuh asik banget. Dapat hadiah, dapat kesempatan menerbitkan buku. Dan dari situ keinginan terbesarku akan terkabul, menjadi penulis novel.
Yap, impian terbesarku adalah menjadi penulis terkenal sepanjang masa, nggak perlu sampai go Internasional, cukup karya-karyaku bestseller dengan komen-komen memuaskan dari pembaca, dan aku bisa jadi penulis produktif yang menghasilkan karya minimal 5 dalam satu tahun. Kalau sudah seperti itu, jelas aku bisa buktikan sama semua orang, aku bisa hidup dari hobiku.
Jadi penulis hebat seperti itu, pastinya juga bikin aku yang gila travelling bisa mewujudkan destinasi impianku, nggak cuma yang di Indonesia, di luar negeri juga pasti bisa. Mau umroh dan naik haji sama keluarga bolak balik pasti kesampaian. Mau beli mobil bagusan pasti mampu. Mau punya rumah bagus pasti dapat. Mau buku ini buku itu, barang ini barang itu, gadget ini gadget itu semua bisa aku miliki. Huuuhhhhh….senengnya!!!!!
Hoooohhhh…Indahnya hidup!!!!
Dan, aura 85% keberuntungan itu pastinya juga berpengaruh besar dalam kehidupan sosialku. Dengan aura 85%, aku bisa mengenal banyak orang, sekarangpun sudah, namun aku ingin lebih punya kehidupan sosial yang sedikit berbeda dari sekarang.
Alasannya, ya kembali lagi sama impian terbesarku, menjadi penulis. Saat ini, hidupku yang tinggal di desa, dengan kehidupan sosial seadanya, aku sangat kesulitan untuk membangun cerita yang masuk kategori Metropop atau cerita yang agak metropolis gitu. Memang sih, membangun cerita bisa dengan riset saja. Namun, bagi aku pengalaman langsung lebih memiliki rasa yang pekat.
Oke, berhenti mememikirkan tentang jadi penulis.
Sekarang ini, aku sedang mengikuti seleski sebagai CPNS. Yah, setidaknya aku ini lulusan S1, dan sudah punya ijazah. So, aku nggak mau bikin usahaku yang bertahun-tahun itu nggak kepakai. Jadi, aku sedang berusaha memanfaatkannya.
Daaaan…. Aku juga berkhayal. Aku ingin aura 85% keberuntungan itu juga menaungi keberhasilanku menjadi seorang CPNS. Setidaknya, mimpiku yang ini juga bisa berhasil, itu termasuk barokah terbesar dari Allah. Setidaknya dengan begitu, aku bisa membuat orang tuaku bangga dan merasa nggak menyesal membiayai kuliahku yang ngabisin banyak duit. Setidaknya, aku bisa hidup semakin lebih baik, agar aku bisa bebas melangkah ke tujuan hidupku selanjutnya.

Aura 85% keberuntungan. Please, semoga dia juga menaungi kehidupan asmaraku. Membuat aku bertemu dengan the one yang – yah, agak-agak mirip di novel gitu, deh – yang yah bisa bikin cewek luluh lantah hanya sekedar kena tatapannya, yang bisa mencintai sampai aku nggak bisa berubah pikiran mencintai orang lain, yang memberiku hidup indah lebih indah jika aku hidup dengan orang lain. Yang bisa menuntunku ke surga juga tentunya.
Waooo…. Hidup seperti itu, hidup yang MAHA SEMPURNA pastinya. Jadi, dimana aku harus mencari aura 85% itu ? Kayaknya, hanya Allah yang bisa memberiku.
“Ya, Allah, berikanlah hambamu aura 85% itu. Kalau nggak 85%, 50% aja deh. Amiiinnnn!!!!”

Monday, September 23, 2013

Pesona Hitam Putih sebuah Novel




Bagiku, buku sudah menjadi bagian yang tak bisa di tinggalkan dalam hidupku. Hampir setiap hari aku selalu menyisikan waktuku untuk membaca buku, dan hampir kemanapun aku pergi, di dalam tasku selalu ada satu novel yang menemaniku. Sekalipun aku lupa membawa novel,aku tetap bisa membaca, karena di ponselku ada lebih dari sepuluh ebook yang siap aku buka saat aku jenuh menunggu waktu.
Namun, sejujurnya aku adalah pembaca yang cerewet dan pemilih. Sepertinya ini disebabkan karena mutu novel yang aku baca semakin hari semakin bagus, dan pilihan buku yang bisa aku baca semakin bervariasi. Kalau dulu aku pasrah-pasrah saja mau membaca novel dengan gaya penulisan atau jalan cerita seperti apapun, karena dulu novel yang aku baca hanya sebatas buku di perpustakaan sekolah atau pinjam dari teman.
Menurutku, novel yang bagus bisa di lihat dari kulit luarnya, alias covernya baru deh inti ceritanya. Semakin menarik covernya, semakin membuat penasaran dan akhirnya mau nggak mau kita membaca blurd di belakang buku. Tapi, kadang aku masih kurang yakin dengan cover dan blurdnya yang sudah bikin penasaran. Dan jalan selanjutnya adalah mengecek review dari beberapa blog dan melihat ratingnya serta komentar pembaca di goodreads. Semua itu aku lakukan karena aku nggak mau kecewa sama apa yang aku beli.
Dan, akhir-akhir ini aku mulai jatuh cinta sama satu penerbit yang bisa dibilang baru, dia adalah Penerbit Haru. Alasannya, penerbit satu ini sering menerbitkan buku-buku terjemahan dari pengarang Korea/Jepang. Penulisnyapun bukan sembarangan penulis. Mereka biasanya memilih penulis yang punya standart tinggi seperti penulis novel Personal Taste Lee Sae In yang novelnya saja sukses dijadikan Drama Korea. Dan, aku menyukai pilihan kalimat para penerjemahnya. Karena meski novel-novel itu novel terjemahan, namun aku merasa tetap nyaman membacanya. Berbeda saat aku membaca buku terjemahan lain yang pilihan kalimatnya agak sulit dipahami. Selain itu, Penerbit Haru juga punya standar yang bagus dalam memilih karya penulis lokal. Buktinya banyak novelnya yang memiliki rating di atas 3 dan mendapat komentar positif dari pembacanya.
Novel Haru Koleksiku
Aku sudah membaca 4 novel terbitan Haru, dan masih ada 4 buku lagi yang sedang antri untuk dibaca. Dari 4 novel Haru yang sudah aku baca, aku memberi nilai tertinggi pada novel The Chronicles of Audy yang reviewnya bisa dibaca disini. Aku juga sangat menyukai kisah di Novel So, I Married the Anti-fan yang menurutku penuh nilai-nilai positif yang menginspirasi, reviewnya bisa di baca disini. Dan novel terakhir yang aku baca adalah Explicit Love Story, sebuah novel dewasa yang punya cerita konyol namun sangat menarik dan unik, reviewnya bisa dibaca disini.
Karakter novel-novel Penerbit Haru yang punya rasa berbeda di setiap cerita dan desain cover yang sangat menarik inilah yang akhirnya membuat aku terkena Haru syndrome. Wabah ini membuat aku harus merubah daftar wishlist novel yang aku dambakan. Dan, beberapa novel Penerbit Haru selalu ada dijajaran teratas. Seperti saat ini, wishlist teratasku adalah Sweet Melody 1 dan 2, yang mulanya ditempati Explicit Love Story. Novel ini sudah terkabul beberapa minggu yang lalu karena aku berhasil menang lomba cerpen #terHARU yang diadakan @fiksimetropop yang bekerja sama dengan Penerbit Haru.
Nah tulisan di atas inilah yang menjadi alasan aku kenapa aku ‘sok yakin’ mengajukan diri untuk mengikuti Haru Syndrome’s Waiting Room. Dan, merasa ‘sok pede’ untuk mengatakan “Haru, yuk wawancarai aku aja!” Hehehehe
Nah, semoga dengan ikutsertanya aku dalam Haru Syndrome’s Waiting Room ini aku bisa sedikit memberi masukan pada Penerbit Haru dan bisa membuat aku semakin mengenalnya.

Sunday, September 15, 2013

Resensi - PAPER ROMANCE “Kisah dalam kertas yang menjadi nyata”



Penulis : Lia Indra Andriana
Penerbit : Penerbit Haru
Terbit : April 2013
Halaman : 376 hlm
ISBN : 978 – 602 – 7742 – 13 – 0
Harga : Rp. 52.000
Seperti sebuah garis takdir yang tak bisa dihindari, Eli akhirnya bertemu Kev Mirrow dan terpaksa bekerja sebagai asistennya. Lalu, takdir menariknya semakin erat dalam rumitnya hidup seorang Kev. Perlahan, takdir itu semakin menyakitinya, sekaligus membawakannya cinta yang penuh dengan warna abu-abu.
Eli, gadis pendiam yang lebih suka mengakatan ‘iya’ dan ‘maaf’ harus menghadapi Kev Mirrow yang ketus, pemarah dan egois. Kesabaran Eli benar-benar diuji. Apalagi saat dia harus merelakan namanya menjadi nama pemeran utama dalam novel terbaru Kev hanya karena dia salah mengirim Email.
“…..Semoga dia kecelakaan saja deh jadi aku nggak perlu ketemu dia beberapa lama.”   -Eliana Candra-  hal. 22

Celetukan Eli yang keluar karena sebuah kejengkelan benar-benar terjadi. Kev mengalami kecelakaan dan mengharuskan dia menjalani operasi otak. Dia memang selamat, namun setelah itu dia berubah. Kev hilang ingatan, namun hanya sementara. Dan, saat dia hilang ingatan, dia mengira Eli adalah kekasihnya, sama seperti cerita yang sedang ditulisnya.
Paper Romance, sebuah novel besutan Lia Indra Andriana menyajikannya dengan penuturan yang mengalir, dan kata-kata yang sangat mudah dinikmati.
“Jangan nilai orang dari tulisannya. Penulis itu penipu paling ulung yang bisa menggunakan kelihaian untuk menjual angan-angan, terutama pada wanita.” -Eliana Candra-     Hal. 21

Sejak awal, kita sudah diperkenalkan dengan Kev Mirrow yang menggebu-gebu dan Eli yang pendiam dan mengalir tenang. Kedua tokoh ini seperti saling melengkapi, namun membuat penasaran.
Bagian dari novel ini yang paling keren adalah saat Kev Mirrow mengganti nama tokoh novelnya dari nama Nadia menjadi Eli hanya karena Eli salah mengirim Email. Lalu, bagian Kev di rumah sakit dan menganggap Eli kekasihnya –Ini bagian saat Kev benar-benar masih menggap Eli kekasihnya, bukan saat pura-pura.
Awalnya, aku mengira Lia membuat setting novel ini di luar negeri, mungkin di Korea. Tapi, ternyata tidak, dia membuatkan sebuah setting apik khas Indonesia. Jujur, aku lebih suka seperti itu, karena beberapa kali membaca karya penulis Indonesia yang membuat cerita di luar negeri dengan tokoh-tokoh dari sana juga, sedikit membuat aku kecewa dengan hasilnya.
Setting yang paling aku suka adalah setting Two Cup, sayang detail interior dan suasananya kurang di eksplor. Dan ada beberapa setting lain yang menurutku kurang sekali penggambarannya.
Sayangnya lagi, saat membacanya aku beberapa kali merasakan kurangnya jurus-jurus yang membuat terkejut. Sekalinya terkejut, aku malah merasakan sedikit nggak nyaman dengan itu semua. Kesannya, kesalahan Kev Mirrow itu terlalu ditanggapi dengan berlebihan oleh Nadia.
"Karena dia enggak protes kalau gue apa-apain, enggak kayak lo...," -Kev Mirrow- Hal. 361
"Jadi begitu? Karena aku penurut makanya kamu...". -Eliana Candra- hal. 362

Bagusnya, novel ini ‘kan menceritakan Kev yang sedang sakit, namun di akhir cerita dia nggak mati. Nah, menurutku itu benar-benar resolusi yang bagus. Namun, aku nggak setuju adanya perubahan karakter Eli, Kev, dan Nadia. Meskipun penulis tetap menuturkan kenapa mereka beruban, tetap saja cerita jadi berbeda. Apalagi di karakter Eli, perubahannya benar-benar signifikan.
Aku sudah mengincar novel ini sejak lama, karena aku terlalu penasaran dengan latar belakang pekerjaan Kev, dan covernya yang menurutku benar-benar unik. Warnanya yang hijau terlihat lebih segar dan gigitan –maksudku potongan melengkung– di ujung cover juga membuatnya berbeda dengan novel-novel di toko buku lainnya.
Akhirnya, aku menyematkan 2,3 dari 5 bintang untuk novel ini. Maaf, ya! Semoga lain kali ada kesempatan membaca karya Lia Indra Andriana lagi.
 

Jejak Langkahku Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos