Friday, June 19, 2015

Resensi – DILAN, DIA ADALAH DILANKU TAHUN 1990



Penulis : Pidi Baiq
Penerbit : DAR ! Mizan
Genre : Romance
Kategori : Young Adult
Terbit : 2014
Tebal : 332 hlm
ISBN : 978 – 602 – 7870 – 41 – 3
Harga : Rp. 59.000
Cinta, meskipun sudah berlalu sekian lama, tetap saja, saat dikenang begitu manis.
Milea, dia kembali ke tahun 1990 untuk menceritakan seorang cowok yang pernah sangat dia cintai, Dilan. Cowok yang mendekatinya bukan dengan seikat bunga atau kata-kata manis untuk menarik peratiannya. Tapi, melalui ramalan.
“Aku ramal, nanti kita bertemu di kantin.” – Dilan – hlm. 20

Sayang sekali, ramalannya salah. Hari itu, Milea tidak ke kantin karena harus membicarakan urusan kelas dengan teman-temannya.
Sebuah trik sederhana tapi bikin senyum dipilih Dilan untuk kembali menarik perhatian Milea. Dia mengirim Piyan untuk menyampaikan suratnya yang berisi :
“Milea, ramalanku, kita akan bertemu di kantin, ternyata salah. Maaf. Tapi aku mau meramal lagi : Besok, kita akan ketemu.” – Dilan – hlm. 22
Tunggu, besok yang dimaksud Dilan itu hari minggu. Nggak mungkin, kan mereka bertemu? Tapi, ternyata kali ini benar. Dilan datang ke rumah Milea untuk menyampaikan surat undangan yang berisi :
Bismillahirrahmanirrahim. Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Dengan ini, dengan penuh perasaan, mengundang Milea Adnan untuk sekolah pada : Hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, dan Sabtu.” – Dilan – hlm. 27

Hal-hal iseng yang sederhana itu nyatanya bisa membuat Milea tersenyum, dan perlahan mulai menaruh perhatiannya pada Dilan. Sampai-sampai, sejenak dia lupa, ada Beni – pacarnya – di Jakarta.
Milea tak ingin kehilangan Dilan. Baginya, Dilan seperti sesuatu yang bisa membuat hari-harinya berwarna. Namun, dia tampak sangat jahat pada Dilan, karena dia mau menerima perhatian Dilan, padahal dia sudah ada yang punya.

Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1990, sebuah novel yang diceritakan seperti seseorang yang mengisahkan masa lalunya pada sahabat.
Novel ini menyajikan romantisme sederhana tapi begitu menyentuh. Dilan, cowok gank motor yang punya otak cerdas untuk menciptakan penemuan baru cara flirting yang nggak biasa. Ulahnya sering kali membuat aku terpingkal-pingkal sambil geleng-geleng kepala, lalu istiqfar. Ya Allah… Si Dilan, gendeng pisan!
Kalau aku jadi Milea, jelaslah aku melintir nggak karu-karuan. Ini aja, aku yang cuma di kasih cerita Milea aja bisa kesengsem sama Dilan, apalagi Milea yang jadi tokohnya.
Dari semua kutipan yang aku sampaikan di atas, ada satu lagi nih yang manis banget. Waktu Milea ulang tahun. Mau tahu apa yang dikasih Dilan untuk Milea? TTS yang depannya ada gambar cewek jepangnnya. Trus di wajah cewek itu dikasih kumis dan jenggot. Di atasnya di kasih balon kata kayak di komik. Yang tulisannya : “Milea, ada titipan ucapan ulang tahun, nih, dari Dilan. Panjang umur katanya, dia sayang.”
Lucunya lagi, TTS itu sudah selesai diisi. Dan ada sebuah kertas yang tulisannya :
“Selamat ulang tahun Milea. Ini hadiah untukmu, cuma TTS. Tapi sudah kuisi semua. Aku sayang kamu. Aku tidak mau kamu pusing karena harus mengisinya. Dilan!” – Dilan – hlm 72

Aduh, mantap, dah! Sekaligus ngakak!
Aku juga suka baca percakapan antara Milea dan Dilan. Memang, lagi-lagi isinya nggak penting, ngawur pula. Cuman, kengawuran dan keabstrakan Dilan itu sesuatu banget! Jadi, kalau ketemu satu halaman pul isinya cuma percakapan mereka berdua, aku kayak ketemu kucing, gemes! Pengin aku uyel-uyel.
Di novel ini banyak sekali tokoh pendampingnya. Serunya, ada ilustrasi para tokoh di halaman depan. Juga ada ilustrasi adegan di beberapa halamannya, bikin novel ini berasa berbeda dari novel roman pada umumnya.
Yang agak menganggu itu beberapa kalimatnya terasa aneh. Kadang malah kayak nggak nyambung. Apa ini karena latar waktunya tahun 1990? Karena pas narasi Milea di saat sekarang, kalimatnya bagus, kok.
Eksekusi dari novel ini nggak bikin bosan. Dari awal sampai akhir pun oke punya. Dan, Dilan… ya ampun, aku pengin ketemu cowok kayak begini, dong! Sekelebat, karakter Dilan agak mirip Ari di Jingga dan Senja karya Esti Kinasih. Tapi, aku lebih suka Dilan, kok. Dilan ini lebut banget sih kalau sama Milea.
Baca novel ini terasa cepet banget. Berasa kuraaaangggg!!!! Pengin banget ada sekuelnya. (Padahal, aku sebel kalau ada novel bersekuel-sekuel). Untuk novel ini, aku malah menantikannya. Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1991. Katanya, ini seri Dilan kedua.
Rating novel ini 4,5 dari 5 bintang. Ntar, di Goodreads bisa jadi 5 bintang nih, biar sempurna.

13 comments:

  1. Gue baru denger ini novel, tapi sunggu lucunya bikin penasaran.
    masuk list most wanted nih haha

    ReplyDelete
  2. Gue baru denger ini novel, tapi sunggu lucunya bikin penasaran.
    masuk list most wanted nih haha

    ReplyDelete
  3. Nama: Wika Agustina

    Hanya baru baca resensi saya sudah berhasil senyim-senyum sendiri sambil mengimajinasikan piliran saya mengenai Dilan. Novel ini sukses buat penasaran. Dilan, adakah dia dikehidupan nyata?^^

    ReplyDelete
  4. Ahh, baca reviewnya jadi pengin baca buku ini segera + buku sebelumnya. Romantisme khas anak SMA, tema yg aku sukai banget x)

    ReplyDelete
  5. dari resensinya keliatan ceritanya menarik dan memberi kesan yang berbeda, apalagi mengenai anak sekolahan tahun 90an, dan karakter dilan yang bikin penasaran jadi pengen baca bukunya...

    ReplyDelete
  6. Dilan menjadi salah satu novel favoritnya aku! Dibikin melting sendiri sama Dilan hahaha. Pengen jadi Milea nya deh

    ReplyDelete
  7. Awalnya agak skeptis sama buku ini. Lihat, sampulnya aja udah majang cowok abege berseragam abu-abu, pasti teenlit banget (genre yang sejak lebih dari lima tahun lalu kutinggalin) dan sekarang, kuberanikan diri baca review ini...
    dan ngakak setelah baca kalimat ini:
    “Selamat ulang tahun Milea. Ini hadiah untukmu, cuma TTS. Tapi sudah kuisi semua. Aku sayang kamu. Aku tidak mau kamu pusing karena harus mengisinya. Dilan!” – Dilan – hlm 72

    Pengen deh punya pacar kaya Dilan. <3
    Masukin wishlist dulu deh...

    ReplyDelete
  8. Novel ini, Bahasanya anak muda banget. Mantap resensinya

    ReplyDelete
  9. Aaak! Kenapa bikin resensinya? Ntar makin banyak orang yg jatuh cinta pada Dilan, terus Milea jadi banyak saingan kak!

    ReplyDelete
  10. Keren nih novel udah baca tapi blom tamat hehe

    ReplyDelete
  11. Gara-gara baca Novel Dilan adalah dilanku tahun 1990 jadi pengen kayak milea dan pengen ketemu cowok yang kyak dilan <3 <3

    ReplyDelete
  12. Baca resensi nya bikin senyum senyum sendiri,,,, Ingat jaman masih muda,,,

    ReplyDelete

 

Jejak Langkahku Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos