Thursday, January 2, 2014

PESONA DIENG “Liburan Akhir Tahun”



Berkelana di desa paling tinggi di Pulau Jawa, menyapa mentari pagi di gunung Sikunir. Menatap hamparan awan bak naik pesawat terbang. Semua yang menakjubkan itu sudah kusapa di Bulan Desember 2013, tepanya tanggal 22 Desember 2013.
Dieng terletak di antara Wonosobo dan Banjarnegara. Butuh waktu 7 sampai 8 jam dari kotaku, Ngawi untuk sampai di sana.
Bersama rombongan, aku berangkat pukul 22.00 dari rumah. Berharap bisa tepat waktu melihat sunrise. Sayang sekali cuaca tak memungkinkan. Belum sampai lokasi saja kita sudah disapa gerimis dan kabut tebal, juga udara dingin sekitar 15 derajat celcius. Namun, kita tetap saja semangat mendaki Sikunir yang tapakan tanahnya cukup licin dengan jurang tepat di bawah kami, padahal jelas kami tahu, kita tak akan di sapa indahnya mentari pagi. Namun, pemandangan kabut dari atas gunung cukup memuaskan kami.
Berpose di Puncak Sikunir
 Setelah berfoto ria, kita kembali menuruni gunung. Sebenarnya, Sikunir bukan gunung sih, tepatnya bukit. Jadi, medan nggak seheboh gunung yang sebenarnya ‘kok. Aku lebih ngos-ngosan saat naik Bromo, yang disini enteng-enteng aja. Yang penting siapin sepatu atau sandal yang enak buat naik gunung dengan medan cukup licin, dan jangan lupa bawa air secukupnya. Ibuku aja oke-oke saja, bahkan saat turun, Ibuku sudah tancap gas duluan karena tak sabar menunggu kami yang gemar berfoto.
Para seniman gunung yang musiknya keren banget
 Sambil terus mengambil foto dan melangkah pelan, sayup-sayup terdengar lagu dangdut yang sedang booming “Oplosan”. Semangat untuk sampai di bawah semakin menggelora. Dan sampai di bawah, ternyata ada para pengamen dengan alat musik tradisional berdendang, bahkan beberapa cewek sesama pendaki berjoget ria mengikuti irama. Yang bikin tertawa, ternyata lagu itu yang minta ibu ku, pakai acara disawer 4 ribu perak lagi. Ada-ada saja!
Pemandangan menuju parkiran Sikunir
Perjalanan berlanjut ke Danau Warna. Dengan membayar enam ribu perak per orang, kami disuguhi danau indah dengan warna hijau. Suasana semakin asri karena pemandangan pepohonan yang terawat dan tanaman bunga yang bikin metik dan dibawa pulang.
Spot andalan
Jelas, kami sibuk berfoto di beberapa spot yang terdapat batang pohon yang roboh ke tengah danau. Lalu, perjalanan mengelilingi danau menuju beberapa goa juga satu danau lagi yang tak cukup menarik untukku, dan hanya di lewati saja.
Candi Arjuna yang super ramai
 Berlanjut ke Candi Arjuna yang sangat indah dan terawat. Lagi-lagi kami dimanjakan dengan hamparan bunga-bunga yang bikin mupeng. Akhirnya, disini ibuku tak kuat menahan godaan. Dengan iseng, ibu menjabut satu anak tanamanan bunga terompet. Seorang bapak menyarankan untuk memotong batangnya saja, karena hanya dengan di tancapkan, bunga terompet bisa tumbuh.
Pose narsis bersama Teletabies, mirip ya? :D
 Oke, lanjut cerita tentang Candi Arjuna. Disini banyak para badut, salah satu yang mengundang perhatian kami adalah badut Teletabies yang unyu banget. Dengan uang sekedarnya, kami berpose bersama mereka. Setelah mengeksplor Candi Arjuna yang cukup ramai, kami melanjutkan ke Kawah Sikidang.
Bau belerang langsung tercium, meski baru pintu mobil yang dibuka. Terpaksa beli masker harga dua ribu rupiah dari penjual di sana. Eh, ternyata saat sudah berada di lokasi, baunya tidak terasa mengganggu. Tapi, buat jaga-jaga tetap bawa saja.
Kawah Sikidang
Lokasi ini yang menurutku paling eksotis, nomor duanya Danau Warna.
Disini seperti dunia berbeda, di kelilingi bukit hijau, tanah berwarna merah, dan uap tebal dari Kawah Sikidang yang cukup luas, membuat kami tak henti mengambil pose di sana-sini. Keren banget!
Terakhir, kami menyinggahi Teater Dieng Plateau. Namun karena tidak terlalu tertarik dan kecapean, kami memutuskan putar balik dan pulang.
Sebenarnya ada satu lokasi yang sangat ingin aku datangi, Gunung Prau, melihat savana yang keren abis. Sayang, kesana butuh tenaga ekstra dan waktu cukup lama, tiga jam untuk sampai di sana. Nggak mungkin banget. Jadi, see goodbye aja deh!
Oh iya! Jadi ingat cerita tentang carica. Ada berdebatan sengit di dalam mobil. Aku sangat ingin membeli carica, tapi ada yang bilang kayak pepaya gitu, apa enak. Tapi, aku ngotot dan akhirnya cuma beli beberapa. Sampai rumah, ngomel tuh ibu, bilang kenapa nggak beli banyak buat teman-teman kantornya, karena ternyata rasanya enak banget, nggak pahit kayak bayangan semua orang. Aku cuma bisa bilang, siapa tadi yang nggak percaya omonganku. Dan, tiap kali ingat Dieng, kami masih sibuk salah-salahan gara-gara carica yang cuma beli sedikit.
Foto-foto eksotis lain :






No comments:

Post a Comment

 

Jejak Langkahku Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos