Wednesday, October 1, 2014

Resensi – “The Chronicles of Audy : 21”



Penulis : Orizuka
Penerbit : Haru
Terbit : Juli 2014
Tebal : 308 hlm
Genre : Young Adult
ISBN : 602-774-237-2
Harga : Rp. 57.000
“Setelah Audy pergi, kami langsung sadar kalau kehadiran Audy sangat penting bagi kami. Bukan sebagai pembantu ataupun babysitter, tapi sebagai …bagian dari keluarga.” – Regan – Hlm. 9

“Bagian dari Keluarga,” kalimat itu begitu berarti untuk seorang Audy Nagisa. Meskipun, sampai saat ini dia masih saja merasa diperlakukan seperti babysitter sekaligus pembantu di rumah 4R.
Ah, masih ingat siapa saja 4R? 4R adalah nama 4 cowok bersaudara yang tinggal dalam satu rumah.
Kakak pertama bernama Regan atau R1, Pengacara ganteng yang membuat Audy terpesona dan mengangguk saja waktu diminta tanda tangan perjanjian saat melamar pekerjaan di rumah ini. Regan adalah tulang punggung sekaligus kepala rumah tangga karena kedua orang tuanya kecelakaan dan meninggal.
Kakak kedua bernama Romeo atau R2, seorang gamer sekaligus hacker dan cowok paling jorok di rumah ini. Bagi Audy, Romeo cocok sebagai idola kalangan tunawisma karena keadaannya yang kumal seperti gembel. Padahal, jika dia mau mandi dia pasti tak kalah mempesona dari Regan
Kakak ketiga bernama Rex atau R3, cowok SMA yang selalu memakai masker sekali pakai dan selalu menatap datar dari balik poni ikalnya. Dia ini menyidap asma akut, namun punya otak jenius. Mungkin, karena terlalu jenius itu akhirnya dia kayak orang anti sosial.
Yang terakhir, Rafael, anak umur lima tahun yang otaknya jauh dari anak umur lima tahun. Rafael punya pemikiran seperti orang dewasa. Rafael tumbuh bersama kakak-kakak cowok yang tak bisa menciptakan dunia anak seperti seharusnya untuk dia, ini yang membuat Rafael tumbuh lebih cepat. Rafael juga tak kalah jenius dari Rex. Dan Audy mencoba untuk membentuk kembali jiwa Rafael menjadi jiwa anak-anak seperti seharusnya.
Meskipun Audy masih melakukan hal-hal seperti dulu, menyapu, memasak, mencuci, tapi Audy mulai merasakan kalau dia memang dianggap sebagai keluarga di rumah ini. Contohnya, saat hujan Rafael tampak sedikit kaget, lalu cemas.
Perlahan, Audy sadar, Rafael mencemaskan tulisan 1A yang ditulis di kotak surat saat Audy kembali ke rumah ini sebagai bukti kalau Audy diterima menjadi bagian dari keluarga. Tulisan itu ditulis dengan kapur, dan kalau kena hujan pasti bakalan terhapus.
“Berharap bikin kita lebih bersemangat hidup, kan? Tentunya, sambil disertai usaha yang konkret.”  - Rex – hlm. 144

Namun, hidup Audy yang mulai menemukan titik kenyamanan mulai terusik karena Rex yang mengakui perasaannya. Dia menyukai Audy. Lucunya, Rex tampak tak seperti benar-benar jatuh cinta. Yang berubah hanya senyumnya, ada rasa hangat di bibir itu. Lainnya, dia tetap saja Rex, datar tanpa ekspresi. Audy merasa terbebani karena perasan itu. Dia menjadi canggung dan tak nyaman di dekat Rex.
Kalau kamu nggak suka aku, nggak apa-apa. Nggak usah merasa nggak enak atau bertanggung jawab dengan bantuin skripsiku. Bahkan kalau kamu mau, kita bisa anggap hari ini nggak pernah ada. Tapi kalau kamu masih… itu jadi beban untukku.” – Audy – hlm. 228

Masalah dengan Rex belum usai, kabar baru muncul. Maura tunangan Regan yang koma selama dua tahun akhirnya sadar. Kabar ini tampak menggembirakan awalnya, namun perlahan hal ini malah menambah masalah. Ada sesuatu yang tak sengaja Audy tahu tentang Rex, tentang dia dan tunangan kakaknya itu. Dan, kesembuhan Maura juga berpengaruh pada kelangsungan hidup Audy di rumah ini.
Lalu, bagaimana ini? Apakah Audy bisa mengatasi situasi antara dia dan Rex? Sebenarnya ada hubungan apa antara Rex dan Maura? Lalu, Romeo, apakah dia juga menyukai Audy? Dan berhasilkan Audy membentuk jiwa Rafael seperti seharusnya seorang anak umur lima tahun?
Aku yang berterima kasih. Aku senang kamu sudah main di sinetron ini, walaupun endingnya nggak sesuai harapan.” – Romeo – hlm. 247

The Chronicles of Audy : 21 adalah lanjutan dari The Chronicles of Audy : 4R [Baca resensi Seri Pertama disini] yang diterbitkan Penerbit Haru tahun 2013.  Sepertinya, banyak sekali fans Orizuka maupun booklovers yang menantikan seri ini. Aku juga, sih.
Kalau ditanya mana yang lebih seru, seri pertama atau kedua, aku nggak bisa jawab. Karena aku sudah lupa euphoria setelah membaca seri pertamanya. Tapi, ada beberapa bagian yang lebih aku suka di seri yang ini. Seperti karakter Rafael yang tampak lebih mengena.
Aku sangat suka Rafael, dengan ketidaksopanannya, dengan keterusterangannya, dengan keluguannya, semuanya. Rafael membuatku pengin punya anak seperti dia. Bukan lagi pengin adik seperti dia, tapi anak… hehehehe…ketahuan deh udah cocok punya anak meskipun belum ada yang ngajakin nikah. Eh, malah OOT.
Setiap tokoh di novel ini semakin menunjukkan karakter khasnya, sekaligus memperlihatkan rahasia-rahasia yang membuat tersenyum, tapi entah kenapa aku malah merasa tersentuh. Sayangnya, karakter Regan kurang tereskpos deh. Dia jarang keluar di seri ini.
Chemistry antara Audy dan 3R – minus Regan – terbentuk alamiah dan membuat cerita mengalir ringan, juga memikat. Jadi nggak membosankan.
Yang paling aku suka hubungan Audy dengan Rafael. Suka sekali disaat adegan awal-awal novel ini, saat Rafael mempersiapkan pertunjukan untuk ulang tahun sekolahnya.
Waktu disuruh menyanyi di depan kelas, si Rafael malah menyanyi lagu Call Me Maybe-nya Carly Rae Jepsen. Semua orang yang menonton mengong. Ibu-ibu dan anak seumuran Rafael mana ada yang ngerti lagu itu. Ini gara-gara Romeo. Tapi, karena itulah akhirnya Rafael mau belajar lagu anak-anak seperti Bintang Kecil, Pemandangan, Naik delman, dan banyak sekali lagu anak yang dia pelajari dari YouTube.
Trus Romeo, dia akhirnya mengatakan apa phobia yang dia derita. Serius, phobianya emang nggak keren. Tapi, saat tahu apa yang menyebabkan phobianya, aku bisa mengerti kok. Trus kebiasaan Romeo pakai kaos kaki setiap hari, itu juga bikin trenyuh.
Dalam The Chronicles of Audy : 21, Audy digambarkan semakin terlihat konyol. Contohnya saat adegan di sekolah Rex. Bisa-bisanya dia minta Rex untuk… ah, sudahlah!
Namun, inilah kelebihannya, Penulis menciptakan tokoh utama yang manusiawi. Dia tidak membuat Audy terlihat mulia, tapi dia memperlihatkan sisi antagonisnya juga.
Peran antagonis nggak selalu jelek kok, Au.” – Romeo – hlm. 225

Sebenarnya, sadar atau tidak, setiap manusia punya sisi antagonis, lho. Cara pandang kita juga mempengaruhi apakah yang dilakukan itu termasuk jahat atau baik. Dan, penulis berhasil menciptakan tokoh utama yang sesuai dunia nyata.
Novel ini benar-benar menghibur sekali. Dan seperti di seri pertamanya, aku nggak butuh banyak waktu untuk menyelesaikannya. Ingatkan, sekarang ini aku paling lelet kalau disuruh baca. Karena tahu sendiri, 24 jam buat aku kurang banyak. Yah, dunia kerja membuat semua tampak singkat, termasuk waktu.
“Setelah sekian lama bertanya-tanya, akhirnya aku tahu arti “bagian dari keluarga”. Dia adalah ilusi, tempat kapal 4R1A mengambang.” – Audy – hlm. 258

Endingnya, em…kayaknya masih bakalan keluar saudaranya lagi, deh. Hem… berapa seri, sih rencananya novel ini? Jangan banyak-banyak, ya? Aku sering geregetan kalau ketemu novel seri yang nggak kelar-kelar.
Untuk ratingnya aku kasih 3,2 dari 5 bintang.



No comments:

Post a Comment

 

Jejak Langkahku Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos