Thursday, February 27, 2014

Cerpen - At The End of Dream

Cerita pendek ini terpilih sebagai Juara 3 yang terfavorit versi juri @fiksimetropop dalam event #terHARU Juli 2013 yang merupakan event kerja sama blog metropop lover dengan Penerbit Haru. Cerpen juga bisa di baca di sini> http://menulismetropop.wordpress.com/2013/09/04/juara-3-at-the-end-of-dream-karya-dian-putu-s-amijaya/ 


Saat kau melangkah, kadang apa yang ada di depanmu tak akan bisa kau lihat, karena dia terlalu dekat.
Mungkin sama seperti ini. Dia di depanku adalah manusia yang paling ingin aku musnahkan secepatnya, atau setidaknya ingin kuhindari sejauh-jauhnya. Tapi, kenyataannya aku selalu harus ada di dekatnya. Hal itulah yang membuatku yakin aku tahu segalanya tentang dirinya. Bahkan, sampai detail kesehariannya.
Ternyata, aku salah! Aku memang selalu berada di dekatnya. Namun, aku tak tahu banyak tentangnya. Tentang hatinya, keluarganya, dan terutama alasan mengapa ia menjadi orang yang paling ingin aku musnahkan.
***
“Idih, gila ya! Ada gitu cowok nyebelin kayak dia!”
Kuhempaskan tubuhku di belakang kemudi mobil. Kucengkeram erat setir untuk meluapkan emosiku. “Bisa nggak, sih, nyuruhnya pake bahasa manusia, jangan pake bahasa iblis kayak gitu!”
Emosiku pun belum reda saat suara ringtone ponselku menyeruak dari dalam tas selempangku.
“Ya, halo!” nada bicaraku masih sarat emosi.
“Duh…duh…duh….” Suara di seberang telepon menyadarkanku, membuatku menurunkan volume suaraku.
“Ah, Mas Roy!”
“Iya, Vania, it’s me! Dengar ya, Jemy minta kamu buat beliin nasi padang langganannya, tahu kan tempatnya?”
Mendengar sebaris kalimat itu, mukaku makin keruh.
“Itu kan jauh Mas Roy, entar bajunya gimana? Ini bukannya udah ditungguin di lokasi pemotretran?”
“Udah deh! Nurut aja, dia lagi nggak mood. Dia nggak mau kerja kalau makanannya belum datang. Pokoknya cepet, ya, beib!“ Telepon langsung ditutup dan aku hanya bisa menghela napas sembari mengelus dada.
Oh, ngomong-ngomong namaku Vania. Aku bekerja sebagai asisten artis Jeremia Ronald, si bintang film dan model yang sedang di puncak popularitas. Aku memanggilnya Jemy, hanya untuk obrolan di kalangan manajemennya. Di depannya, aku tetap memanggilnya Jeremy, seperti publik mengenalnya begitu. Asal tahu saja, jangan percaya sama tampang cute-nya, senyum ramahnya, dan sikap sopannya di depan publik. Itu bohong, dia manusia paling menyebalkan dan kejam sedunia.
Contohnya hari ini. Kemarin, dia menyuruhku untuk memilih baju untuk pemotretan, katanya baju apa saja boleh. Nyatanya, dia tak mau memakainya. Ia bilang, bajunya norak, kurang ketat, warnanya kusam, bla…blaa…bla. Lalu aku disuruh, oh bukan, diperintahkannya untuk mengambil bajunya yang lain. Oke, aku laksanakan! Tapi, belum juga aku sampai di tempatnya, ia sudah memerintahkan –lewat manajernya, mas Roy– utuk membelikan nasi padang kesukaannya yang tempatnya melencong dan berputar-putar tidak keruan dari jalur yang kuambil sekarang. Hah… nanti, kalau aku telat, yakin, pasti kena omel.
Akhirnya, kuarahkan mobilku ─mobil manajemen Jemy, maksudnya─ ke tempat nasi padang langganannya, setelah itu aku langsung ngebut ke tempat pemotretan. Tapi, dasar aku yang sial atau bagaimana, jalanan Jakarta makin padat saja di jam makan siang begini. Sial! Ponsel di tasku sejak tadi tak mau berhenti berdering, membuat aku makin senewen. Selintas pikir, ingin kubanting saja ponsel itu. Untung saja, otak warasku masih bekerja. Jika ponsel itu kubanting, sudah pasti besok aku jadi pengangguran. Jemy akan meneriakiku, “YOU’RE FIRED” dengan intonasi yang persis sama dengan intonasi Donald Trump.
Satu setengah jam kemudian, aku sampai. Dengan kedua tangan yang repot membawa satu set pakaian Jemy, dan satu tangan membawa sekeresek nasi padang, aku bergegas membuka pintu studio tempat pemotretan Jemy siang ini. Oh, Tuhan…. Kenapa Kau memberiku cobaan hidup seberat ini!
Sorry telat!”
Kuserahkan baju yang kubawa kepada Mas Roy dan kuletakkan nasi padang di depan Jemy sebelum aku langsung rubuh di atas kursi. Lemas.
“Lelet banget, sih! Nggak bisa cepet dikit, ya?! Kebiasaan banget! Sampai aku hafal kalau kamu bakalan datang lima tahun kemudian setelah perintah diturunkan.”
Suara Jemy membuat kupingku panas, tapi aku diam saja, tak punya tenaga lagi untuk sekadar merasa kesal. Dan, saat kulirik, dia masih menatapku tajam. Dua mata elangnya seolah hendak menerkamku bulat-bulat.
“Lo pikir gue ayam, makan nggak pakai piring?”
Hufft, aku lupa. Dengan sisa tenaga yang tinggal beberapa kalori saja aku melesat ke pantry dan mengambilkan peralatan makan untuk Jemy, termasuk satu botol Avian.
Dan, Jemy mungkin memang sudah kelaparan karena begitu nasi padang kusajikan di atas piring, dan sendok dan botol Avian kuletakkan di hadapannya ia langsung melahapnya. Oke, puji syukur karena dia tak meneruskan omelannya.
Pemotretannya sendiri berjalan sangat lancar setelah Jemy kenyang, membuat satu pekerjaan hari ini selesai dengan baik. Dan kami mesti bersiap-siap ke tempat berikutnya untuk shooting salah satu episode FTV yang dibintangi Jemy. Tapi, sialnya, di luar studio sudah banyak wartawan yang menunggu kami. Oh, salah, maksudku menunggu Jemy. Aduh, ini pasti gara-gara kabar si Bos sedang dekat dengan model itu, Sanita Agatha, janda cantik beranak dua.
“Yuk,” Jemy sudah beranjak dari kursinya.
“Tapi, Jer. Di luar kayak gitu, tuh!” Mas Roy tampak cemas.
“Mau ditunggu sampai kapan? Minta pihak keamanan gedung dong, atau siapa kek. Gue dah di-BBM Rasya dari lokasi shooting.”
“Iya, tapi…” Mas Roy tetap tak yakin.
Sayang, si Jemy sudah tak bisa dihentikan. Tanpa ragu, ia berjalan mendahului kami, membuat kami terpaksa mengikutinya.
Dan ternyata, waw…wartawan-wartawan itu banyak banget, sih? Sepertinya semua wartawan infotainment kompak berkumpul di sini. Mereka semakin ganas ketika melihat Jemy keluar dari pintu studio.
“Jeremy, apakah benar kamu punya hubungan dengan Sanita Agatha?”
Itu satu-satunya pertanyaan yang terdengar jelas di telingaku. Lainnya hanya terdengar seperti dengungan lebah.
“Van…ayo…kamu ikut buka jalan!” Mas Roy menyuruhku maju. Mau tak mau aku melangkah dan mencoba mendorong kerumunan itu. Ah, gila ya! Masih berat dorong ini daripada dorong mobil. Tapi, aku tetap berusaha sampai akhirnya aku terpental ke belakang, terjatuh dengan bodohnya.
“Lo nggak papa?” Jemy berbisik di telingaku. Tanpa mendengar jawabanku, dia langsung membantuku berdiri.
“Cepetan deh!” kali ini perintah untuk Mas Roy, sepertinya dia mulai tak sabar.
Jalan mulai terbuka, dan mobil kami sudah menanti di ujung sana. Sekarang, Jemy merangkulku dan memaksaku agak menunduk untuk menembus kerumunan.
Sepertinya ini terbalik. Harusnya aku yang melindunginya, bukan dia yang melindungiku. Ternyata, ada sisi baiknya juga kamu, Jemy. Oke, kalau begitu minus kamu aku kurangi, sekarang jadi minus 8,5 dari sebelumnya minus 9,9.
Karena aku masih linglung ─gara-gara dia tiba-tiba baik begitu─ terpaksa dia menyuruhku naik duluan dengan gerakan dagunya, baru kemudian dia mengikutiku dari belakang, dan seorang petugas keamanan menutup pintu mobil, dan akhirnya kami berlalu.
Suasana hening sesaat, sampai suara desahan Jemy membuat Mas Roy bersuara.
“Kamu nggak papa kan, Jem?” Mas Roy yang duduk di samping kemudi menengok ke belakang. Jemy hanya menunduk terdiam, kacamata dan topi hitamnya masih belum dilepas, tangannya memegangi tengkuknya.
“Vania!” tatapan Mas Roy berpindah ke arahku yang duduk di sebelah Jemy. “Lain kali, kamu hati-hati. Masak kena dorong dikit aja udah ambruk!”
“Maaf, mas,” jawabku sekenanya.
***
Kuceritakan kejadian hari ini pada Rani, teman satu indekosku yang kerja freelance sebagai editor di sebuah penerbitan besar. Ia hanya menanggapi ceritaku dengan desahan atau sekadar mengedikkan bahu atau mengangkat alisnya bergantian. Ia baru berpaling dari sebuah buku yang sejak tadi membuatnya tampak sibuk, saat aku selesai bercerita.
Ia langsung menatapku dengan pandangan prihatin. “Kenapa ya aku ngerasa Si Jeremy itu nggak semenakutkan yang kamu ceritakan, Van!” ucapnya padaku. “Dia sebenarnya baik, tapi karena kondisilah jadinya dia sering begitu.” Kata-kata itu sering kudengar dari mulutnya.
“Entahlah, yang jelas dia selalu membuat hidupku susah!” Dan aku selalu menjawab dengan hal yang sama.
Rani tersenyum, “Baca nih!” Dia menyodorkan sebuah buku tebal beraksen pink. Di cover-nya sebuah judul tercetak jelas. So, I Married the Anti-fan. “Itu buku yang nyeritain tentang artis sama anti-fan-nya gitu, deh.”
“Trus?”
“Ya, kamu baca aja, biar tahu kenapa sih artis kadang jadi jutek, sadis, dan nyebelin kayak Jeremy itu. Mungkin aja itu karena tuntutan keadaan? Udah, deh, mending baca sendiri biar paham.”
“Setebal ini? Mana aku punya waktu, Ran?”
“Ya, masukin aja ke tas, sempatkan baca ketika kamu ada waktu.” Rani beranjak dari duduknya menuju dapur, dan aku mencoba membaca halaman pertamanya. Ternyata, buku ini cukup asyik, membuatku melupakan jam tidur dan terus membaca, hingga akhirnya aku tertidur memeluk buku itu.
***
Suara ponsel membuatku terjaga.
“Halo!” Serak suaraku menggambarkan dengan jelas bahwa aku baru bangun tidur.
“Vaniaaaa….!!!!” Teriakan Mas Roy benar-benar membuatku terbangun seratus persen.
Oh, God! Jam berapa sekarang? Aku telat! Aduh, yakin nih bakal diomeli sama si Jemy lagi!
Tanpa memedulikan ponsel yang masih memperdengarkan omelan Mas Roy, aku langsung menuju kamar mandi, mencuci muka, dan menggosok gigi sekadarnya. Secepat kilat mengganti baju, tak teringat menyisir rambut, hanya sempat menyambar topi biru di atas nakas samping tempat tidur, lalu secepatnya aku kabur ke ujung gang, berdoa semoga segera ada taksi yang bisa membawaku ke hadapan si Jeremia Ronald dalam tempo sesingkat-singkatnya.
Dan, sial tujuh turunan! Tak ada satu taksi pun yang lewat. Mas Roy sudah menelepon berkali-kali lagi, mengamuk karena aku telat. Akhirnya, aku diminta langsung menuju lokasi shooting hari ini, tapi harus mengambil beberapa naskah di apartemen Jemy terlebih dahulu. Hah, sudah marah-marah ujung-ujungnya tetep saja menyuruh. Mereka berdua itu sama saja!
Satu jam lebih aku baru sampai dan langsung berlari masuk apartemen Jemy. Tak perlu heran, aku punya kunci cadangan apartemen mewah ini. Tanpa membuang waktu, aku segera memindai seluruh tempat untuk mencari naskah itu, dan syukurlah, aku melihatnya tergeletak di atas meja dekat tempat tidur Jemy yang masih berantakan. Naskah itu ditumpuki beberapa foto.
Ternyata itu foto lama keluarga Jemy. Sesosok anak kecil berumur 11 tahunan sedang nyengir ke arah kamera. Sudah jelas itu Jemy cilik. Garis-garis wajah bocah dalam foto itu sama persis dengan garis wajah Jemy dewasa. Menggemaskan. Tanpa sadar aku tersenyum melihatnya, membuatku sejenak melupakan tugasku. Sesaat kemudian, aku tergagap, karena aku harus segera meluncur ke tempat Jemy berada, atau aku akan dicekik olehnya.
***
“Lama, ya?” Mas Roy menyambutku dengan tatapan ibu tiri dan langsung merebut benda di tanganku dengan kesal. Hal itu membuat foto-foto yang tak sengaja terselip di antara naskah yang terbawa olehku jatuh berserakan di lantai.
Jemy memungut foto itu, dan tatapan sengitnya langsung ditujukan kepadaku, membuatku langsung tertunduk dan tak berani meliriknya. “Kenapa foto ini ada di sini?”
“Nggak sengaja kebawa,” jawabku lirih masih tak berani menatap matanya.
“Kamu lihat, ya?”
Aku mengangguk. Aku masih merasakan tatapannya belum berpindah dariku, “Break!” teriaknya pada semua kru. Lalu, dia pergi tanpa peduli dengan teriakan Mas Roy yang menghalanginya. Dan, shooting benar-benar berhenti total karena tiba-tiba Jemy menghilang. Selanjutnya, aku kena damprat habis-habisan dari Mas Roy dan tatapan sinis para kru film. Sempurna!
Ternyata dia benar-benar ngambek padaku, bahkan sampai hari ini, saat kami shooting ke Yogyakarta, tempat orangtuaku tinggal, tempat aku dilahirkan. Ah, Yogyakarta….
Di sela-sela menunggu proses shooting, saat tak ada perintah apa pun, aku membaca buku yang dipinjamkan Rani. Ternyata benar apa yang dibilngnya. Banyak hal yang aku pahami tentang kenapa artis begini, kenapa artis begitu, juga arti sebenarnya seorang anti-fan jika dilihat dari sudut pandang positif, dari buku itu.
Karena buku itu juga, aku mulai bisa berpikir positif tentang Jemy. Sama seperti Hu Joon yang kenyataannya tak seperti dugaan Geun Yong.
Shooting masih dilakukan di sekitaran Malioboro, dan ibuku ─yang memang kukabari bahwa aku sedang ada di Yogyakarta tapi tak bisa mampir─ memilih menemuiku di lokasi shooting dengan membawa banyak makanan khas Yogyakarta. Mulai dari gudeg, bakpia, hingga geplak. Aduh, senangnya. Itu semua makanan kesukaanku.
“Ibu tahu aja kalau aku lagi kangen gudeg!” kusambut tas besar yang dibawa ibu. “Sama siapa, Bu?”
“Sama masmu. Tapi, dia harus balik ke tempat kerja, jadi nggak bisa nemuin kamu. Tadi, katanya titip salam aja buat kamu.” Kami bercakap-cakap sambil berjalan menuju ke tempat teduh di bawah pohon beringin besar.
Aku dan ibu menggelar tikar yang dibawa ibuku dan mendudukinya.
“Itu, ya Jeremi?” Ibu menatap takjub cowok yang masih sibuk berakting di bawah arahan sutradara yang berulang kali berteriak CUT jika ada yang kurang pas. Aku hanya mengangguk sambil menikmati bakpia dan geplak.
“Enak, Bu!”
Sepertinya Ibu tak mendengarku, karena tiba-tiba Ibu berdiri dan berjalan ke arah tempat shooting yang tampak sudah masuk jadwal break makan siang. “Ibu mau ngapain?” teriakku. Dan, mulutku menganga saat tahu ternyata Ibu mendatangi Jemy.
Dengan wajah ramah, Jemy menyambut ibuku. Lalu, ibuku menunjuk tempat kami duduk. Sesaat kemudian, Ibu mengajak Jemy ke tempat lesehan dadakan kami. Sendirian, tanpa Mas Roy.
“Ayo duduk, Nak Jemy. Ibu bawakan banyak makanan. Tapi, kalau untuk semua orang kayaknya nggak cukup,” ibuku mempersilakan Jemy duduk, dan aku hanya bisa bengong.
“Memang cuma begini makanannya. Ya, niat Ibu sih cuma mau bawain Vania yang kangen masakan Jogja. Ayo dicicipin!” Begitulah awal cerita Jemy makan bersamaku dan Ibu.
Di sela-sela makan siang itu, Ibu terus bercerita tentang aku, tentang masa kecilku, tentang konyolnya aku, kejelekan-kejelekanku, tetang keluargaku, termasuk cerita tentang Mas Alan dan Ayah. Ternyata, semua itu mampu membuat Jemy terkadang tertawa lebar. Padahal ceritanya tidak benar-benar lucu. Ada apa sih sama dia yang biasanya susah dibikin ketawa?
Setelah itu, tahu apa kejadian yang lebih aneh lagi? Jemy malah mampir ke rumahku. Bahkan, dia tak canggung menerima tantangan bermain kartu remi bersama Mas Alan dan Ayah. Yang makin membuatku syok, dia memutuskan untuk menghinap di sini semalam. Padahal, dia harusnya sudah pulang ke Jakarta karena besok ada jadwal shooting acara lain. Sebagai ganti mengurus beberapa jadwal yang tertunda, Mas Roy diperintahkan pulang.
Entah sampai pukul berapa mereka baru selesai bermain kartu, aku tak terlalu memperhatikannya, karena aku lebih asyik tiduran di balai-balai belakang rumah, di dekat kolam lele ayahku. Dan, saat sedang asyik menatap taburan bintang di langit sana, tiba-tiba Jemy sudah duduk di dekatku.
“Kamu beruntung punya keluarga seperti mereka.” Kutatap dia yang sedang melihat langit. “Aku selalu bermimpi memiliki keluarga sepertimu.” Lalu dia tersenyum, senyum samar yang seolah menyembunyikan luka. “Keluargaku terlalu sibuk hanya untuk satu hari kebersamaan. Keluarga bagi kami hanya…” dia terdiam sesaat lalu menghela nafas. “Hanya sebuah identitas.” Dia melihatku, membuatku terpaksa berpaling. “Kenapa? Kau terkejut melihatku seperti itu? Bisa akrab dengan keluargamu?”
Aku mengangguk, dan dia tertawa.
“Aku juga!” jawabannya membuatku kembali menatapnya hingga mata kami bertemu. Di sanalah untuk pertama kalinya aku menemukan pancaran ketulusan yang tak pernah kudapati sebelumnya. “Mungkin aku akan sering ke sini. Boleh, kan?”
“Apa?”
Dia menghela napas, “Gimana caranya agar mereka menjadi keluargaku, ya?” aku mengernyitkan kening, bingung menebak arah pembicaraan ini. Lalu, lagi-lagi dia melihatku, dan tersenyum sama seperti tadi, “Gimana kalau kita menikah?”
“Apa?” kali ini aku hampir terjungkal dari balai-balai. Dia tertawa, bahunya terguncang dan sudut matanya mulai berair. “Apanya yang lucu?” Aku benar-benar kesal saat aku tahu aku dipermainkannya.
“Maaf-maaf!” dia masih juga tertawa. “Terima kasih,” ucapnya pelan hampir berbisik.
“Untuk?”
“Untuk semuanya. Untuk kesabaranmu menghadapiku, untuk tak pernah pergi sekalipun aku sangat menyebalkan. Dan, untuk keluargamu yang menyenangkan.” Dia menatapku dengan tatapan yang tak mampu kujelaskan. Yang pasti, Jemy yang selama ini kukenal bukanlah Jemy yang seperti ada di hadapanku saat ini. Inikah Jemy yang sebenarnya?
“Van,” dia memanggil namaku. “Kalau aku terlalu letih sama duniaku, maukah kau menemaniku melarikan diri?” Ada sinar keseriusan di sana, dan itu membuatku mengangguk tanpa sadar. “Van… aku…” Kata-kata Jemy selanjutnya terputus, berganti suara dering ponselku yang menjerit-jerit.
h, sial! Ternyata… ini mimpi? Hufft… kuraih ponselku di atas nakas. Nama Mas Roy berkedip di layarnya.
“Iya, mas?” aku menjawab dengan suara serak.
“Vaniaaaa…..!” teriakan Mas Roy benar-benar membawaku ke dunia nyata. “Kamu baru bangun?” kujauhkan ponsel dari telingaku.
“Iya, mas,” jawabku.
“Kau becanda, ya? Ayo cepat bangun!”
Oh, realita. Mengapa tak kau saja yang menjadi mimpiku, dan mimpi manis yang tadi menjadi realitaku?
Belum sempat aku mendapat taksi, Mas Roy sudah mengintruksikanku untuk mengambil naskah di apartemen Jemy. Lalu aku bertemu foto-foto itu, dan aku sadar, ini seperti déjà vu.
Karena mengingat dengan jelas kemarahan Jemy di mimpi, aku perlahan memeriksa tumpukan naskah di tanganku agar tak ada satu foto pun yang terbawa olehku.
Aku datang ke tempat shooting yang berada di kawasan salah satu jalan protokol di bilangan Jakarta Selatan dengan selamat. Ya, walaupun tatapan ibu tiri dari Mas Roy tetap aku dapatkan. Setidaknya, aku tak jadi diberi tatapan sinis semua orang gara-gara membuat Jemy kabur dari shooting seperti di mimpiku.
“Van!” suara Jemy membangunkanku dari lamunan, dan tiba-tiba sebuah mobil melaju kencang ke arahku, sebelum sesaat kemudian kurasakan tubuhku ditubruk, didekap sepasang lengan kokoh yang kutahu adalah milik Jemy. “Kau mau bunuh diri, ya?!” teriaknya padaku saat kami sudah terjatuh di pinggir jalan.
Ternyata karena terlalu sibuk mengingat mimpi tadi malam, aku jadi melamun saat menyeberangi jalan ketika mengikuti Jemy yang pindah lokasi shooting.
“Vania!” dia menatapku cemas karena aku masih membisu. “Van, lo nggak papa, kan?”
Kutatap matanya, “Itu…”
“Apa?”
“Mimpiku semalam kenapa bisa terulang, ya?”
“Mimpi apaan?” dia belum melepaskan pelukannya. Posisi kami masih sama seperti saat pertama terjatuh ke tanah.
Sayang, sebelum aku sempat bercerita, Mas Roy dan orang-orang sudah panik menghampiri kami.
“Kalian nggak papa, kan?” suara Mas Roy tampak ketakutan.
Kami berusaha berdiri. Tampak Jemy sedikit kesakitan dan mengelus lengannya.
“Nggak papa, kan?” tanyaku merasa bersalah padanya.
Dia menatapku sinis, “Menurutmu?” tak meneruskan kata-katanya dia langsung melangkah meninggalkanku, diikuti Mas Roy dan kru yang lain.
Aku hanya bisa menghela napas dan berjalan cepat menuju tempat di mana aku bisa menemukan sebotol air. Aku perlu minum untuk menenangkan diriku, dan mengingat-ingat lagi apakah ada adegan hampir ditabrak mobil di mimpiku semalam.
Tunggu, bukannya tiga hari lagi kami akan shooting ke Yogyakarta? Aduh, apa mungkin mimpiku akan terulang juga di sana? Aku menggeleng keras untuk mengenyahkan pikiranku.
Pokoknya, kalau aku jadi ke Yogyakarta aku tak akan menelepon ibuku. Aku tak akan membiarkan mereka bertemu. Aku tak mau mimpiku menjadi nyata di sana. Tidak!
Tapi, bukankah kalau Jemy bertemu keluargaku dia akan menikahiku? Tidak! Waktu dia bilang ingin menikah, itu kan hanya bercanda. Wajahku yang sesaat tadi tampak berseri kembali muram.
“Vania!!!!” teriakan Mas Roy membuatku tergagap.
“Iya, Mas Roy!” Kutaruh botol air sembarangan dan langsung berlari ke arahnya.
Mimpi sialan itu membuatku gagal fokus. Alhasil, seharian aku kena semprot Jemy dantMas Roy. Tapi, walaupun begitu, tetap saja aku melamunkan mimpiku. Aku tak sabar ingin segera ke Yogyakarta dan membuktikan mimpiku. Aku agak penasaran juga pada kata-kata terakhir Jemy di mimpi itu. Mungkinkah dia bilang I Love You padaku? Atau dia benar-benar mengajakku menikah agar bisa menjadi bagian dari keluargaku?
Ah…sudah…sudah! Aku bisa gila kalau memikirkannya terus! Yang jelas, karena mimpi itu aku tahu Jemy tak seperti kelihatannya. Dia bisa baik. Koreksi, dia memang baik, baik sekali mau menyelamatkanku, walaupun mulutnya sering mengomel pedas. Mungkin juga itu karena salahku, atau dia memang perlu tempat mencurahkan omelan karena hidupnya yang terlalu melelahkan.
Lebih baik kulanjutkan saja membaca So, I Married the Anti-fan ini dan segera menamatkannya. Sepertinya kisah Hu Joon dan Geun Yong lebih menarik daripada kisah mimpiku yang semu ini.
***

4 comments:

  1. keren cerpennya. tapi masih penasaran sih. kira2 mereka bakal nikah gak ya?

    ReplyDelete
  2. Hahaha... cerpen ini aku bikin novel, tapi belum kelar karena ada tantangan lain. Jadi, aku pindah fokus dan ninggalin draf novelnya. Hahaha...semoga aja bisa selesai, jadi kita bisa tahu akhirnya.

    ReplyDelete

 

Jejak Langkahku Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos