Thursday, February 13, 2014

Resensi – MONTASE “Sakura dalam bingkai lensa kamera”


"Selalu ada impian yang lebih besar dari impian lain, kan? Bagimu, impian itu adalah menjadi pembuat film dokumenter... Kita tidak hidup selamanya, Rayyi. Karena itu, jangan buang-buang waktu untuk sesuatu yang tidak kita inginkan." – Haru Enomoto – hlm. 250

Rayyi, mahasiswa di Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta. Dia terlalu kecewa saat film dokumentasinya dikalahkan si liliput, mahasiswa dari Jepang, Haru Enomoto dalam festival film dokumenter berskala nasional yang diadakan Greenpeace.
Saat melihat film buatan Haru, Rayyi terlalu enggan mengakui bahwa film sakura itu menyentuhnya. Baginya, filmnya lebih bermutu. Karena kekalahannya itu juga dia selalu memandang Haru dengan sebal. Tapi, ternyata kehadiran Haru Enomoto merubah hidupnya.
“Hai, Haru.”
“Hem?”
“Apa arti sakura dalam filmmu?”
Suteki da ne? Kono raifu.” – Rayyi dan Haru – hlm. 251

Dari film dokumenter dengan tokoh Haru yang dia serahkan untuk tugas mata kuliah Samuel Hardi, si sutradara film dokumenter terbaik Asia, Rayyi mendapatkan tawaran untuk bekerja di rumah produksi Samuel Hardi.
Sayang, Rayyi tak bisa meski dia sangat ingin. Dia tahu diri siapa dia, dan harus jadi apa dia nanti. Karena dia adalah anak Irianto Karnaya, seorang sineas terkenal Indonesia yang telah memproduksi banyak film dan sinetron. Ya, Rayyi tidak akan menjadi pembuat film dokumenter, tapi dia harus membuat film box office dan meneruskan Rumah Produksi Karya Karnaya.
“…, tapi kita tidak bisa menikmati hidup kalau tidak mengambil resiko, kan?” – Samuel Hardi – hlm. 150

Namun, Haru Enomoto membuat Rayyi goyah. Haru mendorong Rayyi untuk jujur pada dirinya sendiri dan memperjuangkan mimpinya. Dibantu oleh Samuel Hardi, Rayyi mengambil sebuah keputusan terbesar dalam hidupnya.
 
Windry Ramadhina, penulis lama yang baru saja aku kenal. Dan ternyata, dia juga seorang editor novel-novel keren. Pertama membaca tulisannya bukan dari karyanya, tapi dari tanya jawab di blog Mbak Yuska.
Lalu, dari tanya jawab itu, aku terpesona dengan cara dia menjawab. Simpel tapi meninggalkan kesan. Intuisiku mengatakan, aku pasti menyukai gaya menulisnya. Dan saat itulah aku tertarik pada novel terbarunya, London. Sayang, waktu itu aku tak memenangkan kuis dari posting tanya jawab itu. Tenang, beberapa bulan kemudian aku membeli London.
Tapi, bukan London yang kubaca lebih dulu. Beberapa bulan setelah London terbeli, aku menemukan novel Montase karya dia juga di forum jual beli novel second secara online. Bersama beberapa novel lain, novel Montase menjadi penghuni di rak bukuku. Dia harus bersabar menunggu giliran di baca. Namun, karena sebuah posting review, entah dulu itu blog siapa, aku memutuskan mengambil Montase dan melupakan novel yang sebenarnya ingin aku baca.
Hasilnya, sangat tidak mengecewakan. Windry Ramadhina menciptakan sebuah kehidupan seorang Rayyi dengan sederhana, mengalir namun menyentuh.
Penulis satu ini sangat detail menempatkan staretegi konfliknya. Membuat cerita tak terasa datar. Hidup Rayyipun tampak sangat normal dan tak berlebihan untuk seorang anak dari ayah yang sangat ambisius. Kesannya, hidup Rayyi benar-benar ada dan tidak cuma fiksi belaka.
Detail setting yang diambil Windry sangat detail. Aku suka café di Batavia, aku suka detail studio Samuel Hardi. Aku juga suka cara dia menyisipkan surat-surat Haru. Ah, aku suka cara Rayyi mencintai gadis berkepala anginnya. Tunggu, aku juga suka cara dia menilai dan menggambarkan sosok Haru Enomoto. Aduh, ternyata banyak yang aku suka dari novel ini, termasuk cara dia menggambarkan film yang mereka buat. Juga bagaimana penggambaran detail dunia perfilman dokumenter. Semuanya membuatku jatuh cinta karena memberiku ilmu baru.
Jika bicara tentang karakter dalam novel ini, bukan Haru atau Rayyi yang punya karakter kuat. Bagiku, Samuel Hardi ‘lah tokoh menarik di novel ini. Dia hadir menjadi tokoh badboy, angkuh dan menyebalkan.  Tapi, entah kenapa dia malah sangat menarik. Mungkin karena sisi kepeduliannya yang tersembunyi itulah yang membuat dia lebih bikin penasaran. Pantas si Bev tergila-gila padanya. Mungkin kalau dia di dunia nyata, aku akan menjadi salah satu penggemarnya juga.  
Sedangkan, Rayyi dan Haru punya peringkat yang sama. Dua-duanya memiliki karakter yang berkebalikan. Rayyi lebih terkesan pendiam, tampak tenang, dan lebih banyak menyembunyikan perasaannya. Berbeda dengan Haru, gadis ini begitu ceria, heboh dan sangat ekspresif.
Menurutku, novel ini tidak menjadikan cinta sebagai fokus utama. Dia lebih banyak bercerita tentang mimpi Rayyi, dan mimpi Haru. Namun, kesan cinta mereka tetap melekat dengan alami. Langkah-langkah menuju pengakuan cinta merekapun tak hingar bingar, tapi sempurna tersampaikan di hati pembaca. Serius, ini sangat mengharukan!
Covernya. Sepertinya, cover Montase tidak digambar dengan aplikasi komputer. Tapi, keseluruhan cover digambar dengan tangan. Termasuk logo Gagasmedia dan tulisannya. Benar nggak, sih? Bagian ini aku cuma menebak saja! Hehehehe Tapi, Ini manis sekali, lho! Serius!
Sekarang sampai juga di bagian akhir. Untuk ratingnya aku beri 4,3 bintang dari 5 bintang.
I Love you mbak Windry Ramadhina! Aku benar-benar jatuh cinta dengan gaya menulismu!

Tulisan ini diikutkan dalam Indonesian Romance Reading Challenge 2014

3 comments:

  1. jadi pensaran sama bukunya :D

    ReplyDelete
  2. Halo Ina dan Deta, iya novel ini memang rekom banget buat semua penyuka novel

    ReplyDelete

 

Jejak Langkahku Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos