Saturday, July 12, 2014

Resensi – Orange “Sebait kisah bercita rasa Jeruk Super”



Penulis : Windry Ramadhina
Penerbit : Gagas Media
Terbit : 2008
Tebal : vi + 290 hlm
Genre : Young adult
ISBN : 979 – 780 – 249 – 3
Harga : Rp. 35.000

Sebuah ikatan dipaksakan untuk tujuan-tujuan tertentu. Sayangnya, ikatan yang terjalin, ternyata masih dicampuri masa lalu yang belum tertuntaskan di salah satu pihak. Keadaan ini membuat seorang cowok harus memilih di antara dua cewek yang datang dari masa sekarang, atau masa lalunya.
Diyan Adnan nama cowok itu. Dia seorang pembisnis sukses dan masuk dalam jajaran eligible bachelor paling diidamkan banyak wanita.
Sebuah perjodohan mempertemukannya dengan Fayrani Muid, cewek mungil yang menggemari fotografi dan buah jeruk. Putri semata wayang keluarga Muid yang aset perusahaannya setara dengan aset perusahaan Adnan.
Faye, biasa cewek ini disapa, sama sekali tak berminat dengan dunia bisnis. Maka, dari itu, Mama Faye menyetujui usulan Mama Diyan untuk mewujudkan perjodohan ini. Kenapa? Agar Diyan bisa meneruskan mengurus perusahan keluarga Muid. Alasan yang sangat sederhana menurutku, namun efeknya ternyata sangat besar untuk kedua belah pihak.
“Justru bagus, bukan? Diyan bisa meneruskan bisnis kita, Mei.” –Hlm. 31

Faye yang awalnya enggan dengan perjodohan ini, namun tak juga mengatakan penolakan, malah jatuh cinta pada Diyan. Sedangkan Diyan, dia menikmati kebersamaannya dengan Faye. Diyan lebih memilih mengikuti saja arus yang membawanya tanpa mau berpikir apakah dia mencintai Faye atau tidak.
“Konyol rasanya, bercinta dengan Diyan di dalam kamar yang penuh kenangan mengenai Rera – siapa pun dia.” – Hlm. 166

Kemudian, masa lalunya, Rera, wanita blesteran Perancis kembali lagi dalam putaran hidup Diyan. Dia menyusup lewat satu-satunya kenangan yang masih mereka pertahankan meskipun sudah satu tahun berlalu sejak pembatalan pertunangan mereka.
Sebuah ponsel dengan nomor telepon yang tetap sama seperti satu tahun yang lalu, yang sama-sama masih disimpan oleh Rera dan Diyan. Panggilan dari Rera menggunakan ponsel itu, membuat Diyan meninggalkan pesta pertunangannya untuk menemui wanita yang memenuhi hatinya. Dia lupa pada Feya, dia lupa pada segalanya.
Ternyata, saat Rera menyebut pertunangannya, Diyan memilih berbalik, dan kembali pada Faye yang masih menunggunya. Tidak sampai disini, kehadiran Rera adalah ancaman besar untuk hubungan mereka yang mereka pikir tanpa cinta.
“Jika kita sudah dewasa, Diyan, saat ambisi dan harga diri tidak ada lagi di antara kita, apakah kita bisa kembali bersama?” – Hlm. 238

Kemudian muncul Zaki, adik Diyan. Pria yang lebih memilih hengkang dari rumahnya demi mimpi ini, ternyata menyimpan perasaan untuk Faye.
Bagaimana ini? Haruskah Diyan menuruti hatinya untuk kembali pada Rera dan membiarkan merger dengan perusahaan Muid berantakan? Jika seperti itu, mungkin Zaki bisa bersama dengan Faye.
Atau dia harus tetap bersama Faye dan membiarkan Rera pergi karena memang sejak dulu Diyan tahu, hubungannya dengan Rera tak akan pernah berhasil? Dan, apakah Diyan benar-benar tak mempunyai perasaan apapun dengan Faye? Jika dia melihat Faye bersama Zaki, benarkah dia akan baik-baik saja?
 Orange, akhirnya aku medapatkanmu.
Ya, bisa dibilang, Orange Karya Windry Ramadhina ini sudah masuk dalam jajaran novel langka karena sudah tidak dicetak ulang. Artinya, jika kamu menginginkannya, kemungkinan kamu sudah tak bisa mendapatkannya di toko buku.
Cerita sedikit, aku medapatkan novel ini dari olshop online. Asal kalian tahu, ada olshop yang menjual Orange dengan kondisi segel seharga 35-45 ribu. Sedangkan yang second bisa sekitar 20 - 35 ribu, persis seharga dengan novel baru, kan?
Tapi, aku tak perlu membeli dengan harga seperti itu. Aku mendapatkannya dengan harga 20 – 25 ribu. Aku lupa tepatnya berapa. Namun, mengejar novel langka itu ternyata mengasyikkan. Ada kepuasan tersendiri saat membacanya. Ah… jadi nggak sabar buat baca novel Simple Lie.
Oke, kembali ke topik. Orange dibuka dengan Intro yang memperkenalkan empat tokohnya, Faye, Diyan, Zaki, dan Rera. Dan karena belum mengetahui hubungan di antara mereka, aku sedikit terganggu dengan intro-nya. Aku lebih senang, tokoh-tokoh dalam novel diceritakan dalam kisahnya saja.

Namun, aku menyukai tagline-nya, “Bagian tersulit saat mencintaimu adalah melihatmu mencintai orang lain.” Ada rasa pahit saat membacanya.
Untuk pemilihan nama, aku juga kurang suka. Diyan, nama yang sama denganku, hanya berbeda ejaannya saja. Mungkin, karena itu, kalau ada nama Diyan atau Dian yang dipakai seorang cowok, aku sering tak menyukainya.
Nama Faye cukup cantik, sesuai dengan karakter Fayrani yang terkesan cuek pada penampilan, mungkin malah menyiratkan cewek tomboy, dan cocok juga dengan hobi dia, fotografi. Kalau yang ini tidak ada masalah.

Ah, nama Mama Diyan, Indra Adnan. Bukannya Indra itu nama cowok? Jadi, saat membaca novel ini, awalnya aku mengira mama Diyan adalah ayahnya.
Ada lagi, Rei, nama sekretaris Diyan sekaligus sepupunya. Nama panjangnya adalah Reina Adnan. Tapi, mereka lebih sering memanggilnya Rei. Karena itu, aku mengira dia juga seorang cowok, di awal cerita pastinya.
Diyan bukan seorang playboy, meskipun dia hampir – hampir – melakukan affair dengan Rera. Hubungan mereka lebih terasa on-off karena cinta yang masih ada di hati mereka, dan ternyata belum ada yang benar-benar rela untuk berpisah. Hubungan inilah yang bikin aku gemas minta ampun.
Sedangkan Faye, menurutku dia tipe cewek naïf. Meskipun dia tahu, dia mencintai Diyan dan tak rela jika dia bersama Rera, Faye tetap saja memberi tahu Diyan tentang kepergian Rera. Meskipun begitu, Rera adalah cewek menyenangkan dengan kemampuan memotret yang sangat menganggumkan. Dia juga bukan tipe cewek emosional. Terlihat sekali dari cara dia menghadapi Diyan.
Sedangkan Rera, jangan pikirkan dia cewek yang kalau terobsesi dengan seorang cowok, akan berubah menjadi srigala betina. Dia jauh dari itu. Rera sangat elegan. Namun, di dalam dirinya ada ambisi besar untuk mewujudkan mimpinya. Karena itu, dia memilih mencampakkan Diyan untuk mengejar kariernya.
“Tidak ada akhir yang bisa ia dan Rera miliki. Cinta mereka bukan jaminan. Bagi Rera, karier gadis itu di dunia mode adalah segalanya dan ia sendiri tidak mungkin meninggalkan bisnis keluarga.” – Hlm. 203

Untuk keseluruhan cerita, aku cukup menyukainya. Konflik yang dihadirkan meskipun tidak seperti ledakan boom, namun menarik. Detail setting, maupun seperti apa dunia fotografi dan bisnis juga tidak sekedar tempelan.
Unsur fotografi di sini, mengingatkanku pada Novel Montase karya Windry Ramadhina juga. Meskipun unsur di Montase adalah film dokumenter, namun kedua novel ini sama-sama menggunakan kamera.
Dalam Orange ada tokoh bernama Erod, juga mengingatkanku pada sosok Samuel Hardi. Dia tokoh favoritku dalam Novel Montase.
Ending-nya manis, ya? Seperti jeruk mandarin kualitas super. Namun, aku tidak menemukan unsur orange dalam ceritanya. Orange memang begitu lekat dengan Faye karena cewek ini menyukai jeruk. Itu saja.
“Tidak ada yang diuntungkan oleh keadaan ini. Tidak dirinya, Faye, Diyan, ataupun Rera. Semua berakhir tanpa ada pemenang.” – Hlm. 238

Oh, ya. Meskipun ada beberapa adegan intim, namun penulis menyembunyikannya. Dia tak mengijinkan adegan hot dalam novel ini. Berarti, remaja usia tujuh belas tahun bebas membacanya.
Ratting dari novel ini 3,3 dari 5 bintang.

4 comments:

  1. Aaaaha belum baca yang ini, nih! Panasaraaaaan! Visit back ya, kak, salam kenal ^^

    ReplyDelete
  2. Penamaan tokohnya menurutku tidak sesuai. Seperti mamanya Diyan, namanya cenderung seperti cowok.
    Ini nanti sebenarnya juga berpengaruh saat kita membaca novelnya, yang terbayang di pikiran kita pasti bayang2 cowok. Hanya penggambaran karakter menurutku yang bisa menyelamatkan :)

    ReplyDelete

 

Jejak Langkahku Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos