Thursday, December 4, 2014

Resensi – TOMODACHI “Manisnya sebuah persahabatan”



Penulis : Winna Efendi
Penerbit : Gagasmedia
Genre : Teenlit
Seri : School
Terbit : 2014
Tebal : xiv + 362 hlm
ISBN : 979 – 780 – 732 – 0
Harga : Rp. 57.000
“Segala sesuatu itu tidak selalu seperti apa yang kau kira. Bahkan, apa yang ada di depan mata tidak selalu seperti apa yang terlihat.” – Tabitha – hlm. 190

Tomomi, di hari pertamanya masuk sekolah, dia sudah sangat sebal pada Tomoki. Dan, dia semakin sebal karena Tomoki adalah teman sebelah bangkunya. Tapi apa mau dikata, itu takdir mereka untuk satu tahun yang akan mereka lewati.
“Mengakhiri rasa suka untuk seseorang tidak sesederhana mengucapkan selamat tinggal; apapun yang kau katakan, perasaan yang ada tidak akan pergi hanya karena kau menginginkannya.” – Tomomi – hlm. 123

Tomomi masuk ke Katakura Gakuen karena ingin mengejar cinta pertamanya, Hasegawa senpai. Dia memilih menjadi manajer klub sepak bola juga karena Hasegawa senpai. Sayang sekali, Tabitha, teman sekelas Tomomi, yang selalu terlihat tidak ramah itu, sudah lebih dulu menyambar posisi yang diincarnya. Dan ternyata, gadis itu juga menyukai Hasegawa senpai.
“Orang yang kau sukai tidak selalu membalas perasaanmu. Kadang kau jatuh cinta pada orang yang salah. Dan kadang, kau bahkan tak sadar ada orang yang selama ini dengan tulus menyukaimu.” – Tabitha – hlm. 119

Dengan terpaksa Tomomi beralih ke klub atletis karena tempat latihan kedua klub itu berdekatan. Sehingga, Tomomi tetap bisa melihat Hasegawa senpai berlatih, meskipun di klub tersebut dia harus menghadapi Tomoki yang menyebalkan. Ya, Tomoki juga berada di klub atletis.
Namun, ternyata klub atletis membuat Tomoki dan Tomomi yang seperti anjing dan kucing akhirnya berteman. Di klub itu juga, Tomomi menyadari, dia suka berlari. Bahkan, Tomomi bercita-cita bisa memenangi berbagai kejuaraan lari nasional dan internasional, mimpi yang sama seperti mimpi Tomoki. Tomoki si Ace, yang tampak seperti punya sayap saat berlari.
“Mimpi adalah sebuah destinasi, Tomomi. Yang harus dilakukan selanjutnya adalah mengambil langkah pertama untuk bergerak menuju mimpi tersebut.” – Akiyama sensei – hlm. 166

Persahabatan mulai terbentuk antara Tomomi, Tomoki, Ryu, dan Chiyo. Kemudian, Tabitha bergabung dengan mereka setelah sebuah kejadian yang menyadarkan Tabi, mereka memang benar-benar teman untuknya.
Oto-san pernah bilang, kesedihan ada untuk dilepaskan, bukan untuk disimpan. Untuk setiap kesedihan, akan ada kebahagiaan baru yang dapat menggantikannya.” – Tomomi – hlm. 109

Kedekatan mereka perlahan dicampuri perasaan lain selain perasaan persahabatan. Dan beberapa pertengkaran membuat mereka semakin dekat. Namun, ada sebuah pertengkaran yang membuat Tomoki dan Tomomi tak lagi bicara untuk beberapa saat.
“Serumit apapun keadaannya, kau tak seharusnya menyerah begitu saja. Perasaan bisa memudar seiring waktu, tapi ada beberapa hal yang tak pernah hilang, perasaan yang pantas untuk diperjuangkan. Pertanyaannya adalah, perasaanmu untuknya jatuh pada kategori yang mana?” – Tabitha – hlm. 329

Lalu, sebuah cidera hampir merenggut mimpi Tomoki. Padahal, kejuaraan The All Japan High School Ekiden, yaitu pertandingan lari estafet jarak jauh berskala nasional sebentar lagi akan digelar.
“Setiap kali ingin menyerah, aku selalu mengingat satu hal. Garis akhir terbentang di hadapanku, dan satu langkah lagi akan membawaku sedikit lebih dekat dengan tujuan.” – Tomomi – hlm. 149

Bisakah Tomoki bangkit? Mampukah Tomomi melupakan cinta pertamanya? Apakah dia akan mulai rela menerima berbagai hal yang mulai berubah di hidupnya? Tentang hatinya, tentang kehadiran orang lain di hidup ibunya setelah ayahnya meninggal?
“Beranilah, Tomomi. Jangan sampai suatu hari  nanti, kau berbalik dan berharap, segala sesuatunya berakhir dengan cara yang berbeda.” – Tabitha – hlm. 340
 
Tomodachi, sebuah novel karya Winna Effendi – yang lagi-lagi bertema pertemanan – namun selalu punya rasa yang berbeda. Di seri School #2 ini, Winna mencampurkan tema persahabatan dengan impian dan cinta diam-diam.
Sebenarnya, setiap novel Winna Efendi, meski bertema sama, selalu ada bagian yang membuat karyanya tetap berbeda. Dan itu membuat pembacanya tetap menunggu karya-karyanya.
Di novel ini, sama seperti di novel Unforgettable yang aku baca beberapa waktu lalu, aku mulai menyukainya sejak bagian pertama. Dan harus aku katakan lagi, biasanya, di beberapa novel Winna seperti Ai, aku dibuat mati bosan di bab pertamanya, namun menggila di bagian hampir klimaks sampai ending-nya.
Karakter Tomoki yang menyenangkan, humoris dan seru juga sering kali jahil membuat novel ini hidup. Sedangkan Tomomi yang kadang melankolis jadi bagian yang menimbulkan sentuhan dramatis tersendiri.
Perjuangan mereka meraih impian dan kisah kehidupan tokoh-tokohnya seperti bagian yang dirangkai indah untuk membentuk sebuah cerita yang membuat pembaca tidak sekedar mendapatkan kisah, tapi belajar banyak darinya.
Biasanya, aku selalu kurang sreg sama penulis Indonesia yang mencoba menulis novel dengan setting dan tokoh luar negeri. Untuk kali ini, aku menyukainya. Winna Efendi seperti sudah sangat mengenal kehidupan di Jepang. Hingga rasanya, yang dia tulis begitu nyata, bukan sekedar tempelan.
Bisa dibilang, membaca Tomodachi semakin membuat aku mengenal kehidupan orang-orang di Jepang. Termasuk berbagai tradisinya, bahkan termasuk tentang Anime.
Bagian favoritku di novel ini adalah saat Tomoki sampai digaris akhir perlombaan lari dan menghampiri Tomomi. Lalu, dia mengalungkan tasuki kuning di leher Tomomi. Itu manis sekali.
Pada dasarnya, aku menyukai novel ini. Termasuk ending-nya, dan memang aku hampir selalu menyukai ending yang dibuat Winna Efendi, sih.
Ratingnya, 3,7 dari 5 bintang.

No comments:

Post a Comment

 

Jejak Langkahku Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos