Showing posts with label Chefs VS Authors Reading Challenge 2015. Show all posts
Showing posts with label Chefs VS Authors Reading Challenge 2015. Show all posts

Tuesday, December 8, 2015

Resensi – OPERATION : BREAK THE CASANOVA’S HEART



Penulis : Aly Almario
Penerjemah : Airien Kusumawardani
Penerbit :  Haru
Genre : Romance
Kategori : Terjemahan
Terbit : Oktober 2015
Tebal : 224 halaman
ISBN : 978 – 602 – 7742 – 64 – 2
Harga : 57.000

Ada saat-saat kita salah memilih cinta, kemudian memutuskan untuk mengakhirnya. Lalu, kita bertemu lagi cinta lainnya, dan ternyata tak ada kecocokan, akhirya putus kembali.
Kita boleh bergonta-ganti pacar, karena kita dalam tahap ingin mencari yang terbaik, bukan karena ingin mempermainkan cinta.
“Kau bermain dengan mereka. Kau tidak boleh menganggap mereka serius, atau mereka akan mempermainkanmu dan menyakitimu kemudian menghancurkan hatimu.” – Steve – hlm. 105

Stephen Cruz, dia bergonta-ganti pacar bukan untuk mencari yang terbaik. Tapi, hanya sekedar untuk bermain saja. Ini tidak benar, semua tahu itu. Namun, cewek-cewek yang masuk dalam pesona Stephen tak peduli dengan fakta tersebut. Mereka rela mengantri untuk menjadi pacar Stephen walaupun hanya empat hari.
Buat Naomi Mikhail Perez, Stephen itu cowok yang menjijikkan. Dia tak akan sudi menjadi cewek-cewek yang mengejar Stephen. Tidak akan pernah!
Namun, Naomi harus membungkus keyakinannya itu ke dalam plastik kedap udara dan menyimpannya untuk sementara. Karena Naomi bertekat akan mengejar Stephen hingga akhirnya cowok itu bertekuk lutut padanya.
“Saat kau mencintai seseorang, kau mencintainya begitu saja. Hanya itu yang penting, kan? Kau jatuh cinta begitu saja. Walaupun hubungan terlama yang pernah mereka jalani adalah empat hari…” – Naomi – hlm. 116

Ini bukan tanpa sebab. Teman baik Naomi, Kryzel akhirnya terperangkap pada pesona Stephen dan akhirnya dia patah hati. Naomi ingin membalas dendam. Karena itu, dia menyetujui sebuah kontrak yang ditawarkan KPSC (Koalisi Pembenci Stephen Cruz).
Misi kontrak tersebut adalah menghancurkan hati Sang Casanova. Dan, aturan yang tak boleh dilanggar Naomi hanya ada satu, yaitu tidak boleh jatuh cinta pada Sang Casanova.
“Aku tahu aku tidak boleh mempercayainya, tapi janjinya membuat perasaanku lebih baik dan lebih buruk pada saat bersamaan. Dia berjanji untuk tidak pernah lagi menyakitiku, tapi aku tahu pasti bahwa aku akan menyakitinya. Bahwa itulah rencanaku sejak awal.” – Naomi – hlm. 121

Operation : Break Casanova’s Heart, novel asal Filipina pertama yang aku baca. Sebenarnya, bukan masalah dari mana asal novel ini, tapi bagaimana penulis memaparkan ceritanya, dan aku menilai, penulis berhasil membangun cerita dengan apik, lincah, dan renyah walaupun tema yang diusung sudah sangat umum.
Karakter Naomi yang agak tomboy, tetap terasa tomboy meskipun dia sudah bertransformasi menjadi cewek feminim, karena yang berubah dari Naomi memang hanya penampilannya saja.
Stephen memang playboy banget. Tapi, aku nggak bisa membenci playboy satu ini. Dia manis banget, sih. Lagian, salah cewek-cewek yang pengin jadi pacarnya. Masak, ditawari mau jadi pacarnya pada mau, padahal kan pada tahu, kalau akhirnya tetep bakal kecewa.
Sikap Stephen ke Naomi kadang menyebalkan, tapi kadang manis. Meskipun menyebalkan, jatuhnya tetep manis. Aduh, susah deh menghadapi Casanova yang sudah berpengalaman ini. Menurutku, Stephen jadi playboy bukan karena sebab. Dia hanya takut disakiti, makanya dia memilih tak mau benar-benar mencintai.
“Aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan pernah terluka seperti Dad. Aku tidak akan pernah membiarkan wanita punya kekuatan sebesar itu terhadap diriku.” – Stephen – hlm. 30

Seru tidaknya sebuah novel terjemahan, sangat dipengaruhi oleh cara menerjemahkannya. Dan, Penerbit Haru berhasil menerjemahkan novel ini ke dalam bahasa Indonesia dengan baik sekali. Sehingga, aku merasa seperti membaca novel lokal namun berlatar tempat dan tokoh berasal dari Filipina – saking enaknya dibaca.
Aku suka konflik yang muncul di novel ini, termasuk penyelesaiannya. Bagaimana Naomi harus mengatasi hatinya yang mulai masuk dalam pesona Stephen, namun otaknya terus menstimulasinya bahwa Naomi mencintai Drew. Lalu, misi ini akhirnya diselesaikan dengan cara yang tak terpikir olehku.
Yang kurang pas buat aku adalah adanya tragedi kecelakaan. Menurutku, ini sedikit terlalu dramatis. Juga konflik ibu dan anak yang terasa kebetulan sekali. Ada satu lagi, kisah Stephen yang berpisah jarak dengan Naomi karena Stephen harus menjadi Koki di kapal pesiar itu juga ingin sekali aku hilangkan.
Akan jadi sempurna kalau penulis fokus pada konflik kehidupan Stephen, kisah cinta mereka berdua – Stephen dan Naomi, lalu bagaimana akhirnya Naomi bisa membuat Stephen kembali padanya lagi. Sudah, itu saja menurutku malah terasa pas sekali.
Rating untuk novel ini 3,4 dari 5 bintang.


Thursday, November 26, 2015

Resensi – SINGLE VILLE “Rahasia di balik hutan birch putih”




Penulis : Choi Yun Kyo
Penerjemah : Krisnadiari
Penerbit : Haru
Genre : Romance
Kategori : Adult, Terjemahan
Terbit : Desember 2014
Tebal : 300 halaman
ISBN : 978 – 602 – 7742 – 43 – 7
Harga : Rp. 65.000

Beberapa di antara begitu banyak manusia di bumi ini memilih untuk hidup sendiri, sampai matipun sendiri bukan sebuah masalah, itu hanya pilihan hidup, dengan berbagai alasan yang mendasarinya. Entah karena terlalu patah hati, masa lalu yang membuat trauma, atau terlalu mencintai pasangannya yang telah pergi, sehingga memilih terus setia dengan hidup single selamanya.
“Aku hanya tidak ingin menikah, jadi aku tidak perlu mengikuti apa yang dilakukan orang lain. Mau bagaimanapun hidup berdua agar tidak kesepian dan hidup dengan meminta pertolongan dari orang lain itu sama saja, kan? Apalagi suatu saat kita akan menjadi tua. Pengakuan secara finansial cukup untuk diri kita sendiri. Toh, pengalaman melahirkan dan membesarkan anak bukanlah hal yang harus disyukuri.” – Im So Young – hlm. 84

Jeong Mi In, putri konglomerat kelas atas – Pendiri Single Ville sekaligus penghuni rumah nomor satu – mempunyai alasan sendiri kenapa dia memilih mendirikan Single Ville, dimana penghuninya harus mematuhi peraturan yang dia buat, tidak boleh ada percintaan di kawasan Single Ville.
Awalnya, para penghuni menyetujui syarat tersebut, karena beberapa diantara mereka memang berniat bersembunyi dari apapun di luaran sana, termasuk bersembunyi dari cinta.
Apakah itu akan berhasil?
Choi Yun Seong – seorang penulis yang menempati rumah nomor dua – berharap dia benar-benar aman dari para penganggu. Dia yang terlalu penyendiri harus menghadapi Im Seong Yeong – penghuni rumah nomor tiga – yang sering mengetuk pintunya untuk berbagai masalah yang menimpanya.
Im Seong Young merasa dikuntit dan di terror seseorang. Karena tak tahu lagi minta tolong ke siapa, dia selalu berpura-pura datang ke rumah Yun Seong dengan alasan yang dia buat-buat.
“Cinta yang spesial biasanya memang seperti itu. Dimulai dari kebetulan sepele yang terjadi berkali-kali, hingga akhirnya semua berubah menjadi kebetulan yang dinamakan lingkaran takdir raksasa. Inilah yang nantinya akan menimbulkan benih-benih cinta antara seorang laki-laki dan wanita.” – Hlm. 190

Jeong Geon Woo – Penghuni rumah nomor empat – dia merasa curiga pada Im Seong Young. Dia menduga, Im Seong Young, bukan dia yang sebenarnya. Memang benar, yang menempati rumah nomor tiga memang bukan Im Seong Young, tapi seorang illustrator yang baru saja patah hati karena tunangannya tiba-tiba pergi – Kang Hyeon Ah.
“Kita harus berterima kasih kepaa mantan kita untuk hubungan cinta yang kita miliki sekarang. Sebab, berkat putus dengannyalah kita bisa bertemu dengan orang yang baik, seperti kekasih kita sekarang.” – Kang Hyeon Ah – hlm. 271

Go Seong Min – penghuni rumah nomor lima – adalah seorang mantan detektif yang masing mengejar buronannya. Dia mencurigai salah satu penghuni Single Ville sebagai buronannya tersebut.
Lee Jeong Hyeok – penghuni rumah nomor enam– dia mencoba menghasut penghuni lain untuk memprotes aturan tidak boleh jatuh cinta di kawasan Single Ville. Jeong Hyeok datang ke Single Ville bukan karena dia mau hidup sendiri selamanya. Tapi, untuk menyembunyikan kisah cintanya yang tidak wajar.
“Mereka yang berpacaran adalah orang-orang yang menimbulkan gangguan kepada manusia lainnya hanya dengan bernapas saja. Apa kau tahu? Itulah yang dipikirkan orang lain terhadap mereka yang memiliki sesuatu yang begitu hebat, yang disebut cinta.” – Choi Yun Seong – hlm. 137

Para penghuni Single Ville memang orang-orang penuh masalah. Namun, masalah itulah yang menghubungkan mereka dan mendekatkan mereka. Ada sebuah hungungan tak kasat mata di antara mereka. Dan, pada akhirnya, saat hubungan itu terungkap, banyak sekali yang terkejut.
Mampukah mereka tetap mematuhi aturan Single Ville, atau mereka harus rela menanggung konsekuensi karena melanggarnya?
“Pikirkanlah apa yang tidak dapat kau lepaskan, serta apa yang bisa kau korbankan. Sebab untuk memperoleh apa yang kau inginkan, kau harus segera melepaskan yang lainnya. Dan hal itu berlaku untuk semua orang, baik untuk yang masih lajang maupun yang sudah menikah.” – Lee Jeong Hyeok – hlm 147

Single Ville, sebuah novel terjemahan Korea Pemenang Kyobo Purple Romance Competition 2013. Novel ini menyajikan setting sebuah cottage yang sangat indah. Membuat aku merasa ingin ke sana untuk jalan-jalan di atas salju, dan menikmati hamparan hutan pohon birch putih yang memagari tempat tersebut. Pas sekali tempat ini jika disebut tempat persembunyian.
Di novel ini memang sangat banyak tokohnya. Awalnya, aku sedikit merasa kesulitan untuk fokus pada cerita karena dipusingkan dengan nama tokohnya. Tapi, Penerbit Haru sudah menyiapkan sketsa dan keterangan masing-masing tokoh di halaman depan. Sehingga, saat aku mulai bingung karena lupa, siapa tokoh ini? Aku bisa langsung melihat ke depan, dan langsung paham.
Di dunia ini selalu ada kebetulan, namun dalam novel Single Ville ini sangat banyak sekali kebetulan. Mereka seperti ditakdirkan di kumpulkan dalam satu lingkungan untuk mengetahui kenyataan yang menjadi awal mereka memutuskan untuk tinggal di Single Ville.
Seperti Kang Hyeon Ah, dia sangat membenci penulis dongeng yang ilustrasinya dia buat. Karena dia, Hyeon Ah perpisah dari tunangannya. Di sini juga Hyeon Ah mengetahui alasan sebenarnya kenapa tunangannya memutuskan pergi meninggalkannya.
Lalu, hubungan Im Seo Young yang asli dengan dua pria penghuni Single Ville cukup menarik juga. Kenyataan yang muncul di akhir cerita sedikit membuat aku bilang ‘lho’. Aku nggak menyangka Seo Young mempunyai hubungan dengan pria tersebut.
Kalau masalah kekasih Lee Jeong Hyek, aku sedikit bisa menebak siapa dia, dan ternyata benar.
Jujur, aku agak nggak suka dengan banyaknya kebetulan di novel ini. Namun, karena cerita yang dibawakan cukup enak, dengan kisah yang penuh teka-teki, aku cukup menikmatinya. Meskipun, ada beberapa hal yang belum terpecahkan, seperti masalah buronan yang di kejar Go Seong Min, juga beberapa hubungan asmara yang aku juga belum tahu bagaimana akhirnya.
Endingnya, sedikit menggantung. Memang dibuat begitu, karena novel ini ada sekuelnya, Single Ville II.
Rating novel ini 2,8 dari 5 bintang.

Sunday, November 1, 2015

Resensi – MY NIME IS KIM SAM SOON “Sepotong Kue untuk Cinta”



Penulis : Ji Su Hyun
Penerjemah : Lastin Darmokusumo
Penerbit : Penerbit Haru
Genre : Romance
Kategori : Adult, Pastry, Family Drama, Terjemahan
Terbit : Juni 2012
Tebal : 384 halaman
ISBN : 978 – 603 – 98335 – 9 – 8
Harga : Rp. 55.000
Kim Sam Soon yang berprofesi sebagai patissier merasa, namanya ‘Kim Sam Soon’ sangat kampungan, dan itu membuat dia selalu sial dalam hal percintaan.
Dalam beberapa kesempatan kencan buta, Sam Soon akan mengganti namanya dengan nama Kim Hye Jin. Namun, ternyata nama Sam Soon membuatnya bertemu dengan Jang Do Young, seorang pemilik restoran bintang lima.
“Bila memiliki nama yang memuaskan hati, segala hal yang terjadi pasti akan selalu terasa menyenangkan. Dibandingkan Kim Sam Soon, kue dengan nama Kim Hye Jin bukannya lebih bagus?” – Kim Sam Soon – hlm. 81

Ini bermula Karena kue milik Sam Soon yang tertukar dengan milik Do Young, membuat Do Young menginginkan Sam Soon – yang sudah dipecat dari tempat kerjanya akibat mencampur bubuk cabai dalam kue pertunangan mantan kekasihnya – untuk bekerja di restorannya.
Bagi Sam Soon, Jang Do Young sangat menyebalkan. Apalagi saat Do Young merusak kencan butanya. Dia menarik Sam Soon dalam sebuah drama untuk membuat teman kencan buta Do Young sebal padanya, sekaligus membuat teman kencan buta Sam Soon pergi meninggalkannya juga.
Do Young memang selalu menolak wanita-wanita yang disodorkan padanya. Dia selalu berusaha menghancurkan kencan buta yang diatur ibunya.
Jang Do Young berpikir, sepertinya menjadikan Kim Sam Soon sebagai kekasih pura-puranya dapat menghentikan usaha ibu Do Young untuk terus menjodohkannya. Tentu saja Kim Sam Soon menolak tawaran itu.
“Kau akan bertemu dengan orang yang ditakdirkan untukmu, kau akan mendengar suara lonceng berdentang dalam hatimu. Ini dia orangnya, ini dia orangnya, ini dia orangnya, suara lonceng yang berdentum seperti itu.” – Hyun Woo – hlm. 163

Namun, sebuah insiden membuat Kim Sam Soon berubah pikiran. Dia datang kehadapan Do Young dan mengiyakan tawarannya dengan imbalan uang lima puluh juta won. Dan, kontrak itu kemudian dibuat.
“Di poin kedua, sebagai ganti uang sebesar lima puluh juta won yang diberikan Jang Do Young pada Kim Sam Soon, Kim Sam Soon berjanji untuk membantu semua masalah Jang Do Young, bukan?” – Jang Do Young” – hlm. 175


My Name is Kim Sam Soon, novel yang sudah dibuat Drama Korea-nya dan dibintangi oleh Hyun Bin ini ternyata cukup asyik juga saat dinikmati sebagai sebuah novel.
Beberap tahun yang lalu – aku lupa tahun berapa – aku sangat menyukai Drama Korea ini. Apalagi pemerannya Hyun Bin, dan latar belakang pekerjaan Sam Soon sebagai Patissier membuat kisahnya sangat manis.
Kim Sam Soon dikisahkan sebagai wanita usia 29 tahun yang patah hati dan galau karena dia belum juga menikah di umurnya yang mendekati tiga puluh tahun. Dia benar-benar kekanak-kanakan karena begitu ingin mengganti namanya. Oke, aku nggak tahu seberapa jelek nama itu, karena yang paham, kan, hanya orang Korea.
Sam Soon kadang juga sangat konyol. Bagaimana bisa dia berpikir untuk menabur bubuk cabai di kue pertunangan mantan kekasihnya. Akhirnya, kekonyolannyalah yang membuat dia jadi pengangguran.
Jang Do Young, dia pria usia 32 tahun yang sukses dan tampan. Menurutku dia tak kalah konyol dari Kim Sam Soon. Dengan berbagai cara, dia akan merusak kencan butanya. Dan, di kencan buta terakhir, dia menjadikan Sam Soon sebagai kekasih pura-puranya. Pantaslah kalau Sam Soon kesal sekali pada Do Young. Padahal, kan, Sam Soon sudah melihat sedikit potensi pada teman kencan butanya itu.
Do Young memang menyebalkan. Dia dulu tidak seperti itu. Karena kematian kakaknya dan ditinggal pergi kekasihnya, sikap Do Young jadi berubah. Dia merasa, dia tidak berhak bahagia.
Alur dalam novel ini cukup cepat. Meskipun, beberapa kali aku merasa kalimat terjemahannya terlalu rumit hingga aku harus membacanya beberapa kali.
Dan, mungkin karena aku sudah menonton drama Korea-nya, aku merasa melihat kembali drama itu dalam imajinasiku. Tapi, aku tidak bisa mengingat mana yang sama dan mana yang berbeda antara di drama Koreanya dengan di novelnya.
Novel ini mengajarkan pada kita bahwa syukurilah apa yang ada pada kita. Kim Sam Soon yang punya nama kampungan dan gemukpun bisa mendapatkan lelaki sekeren dan kaya seperti Jang Do Young. Hanya dengan menjadi diri sendiri dan selalu percaya diri, kita bisa memunculkan sinar dalam diri kita.
Rating untuk novel ini 3,2 dari 5 bintang.




Tuesday, September 29, 2015

Resensi – BY YOUR SIDE “Cinta terkalahkan oleh ambis”



Penulis : Bulan Nosarios
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Genre : Romance
Kategori : Adult, Amore, Friendzone
Terbit : Mei 2014
Tebal : 296 hlm
ISBN : 978 – 602 – 03 – 0451 – 9
Harga : Rp. 60.000

Kania, dia bercita-cita menjadi seorang dokter jantung. Kenangan akan ayahnya yang meninggal karena penyakit jantung menjadi salah satu pemicunya.
Selama ini, bisa dibilang, Kania tak pernah memikirkan dirinya sendiri, dia terlalu sibuk. Sampai-sampai dia merasa tak punya waktu untuk mengurus masalah cinta, dan menikah.
Semua orang tahu, Kania pun mungkin juga tahu, meskipun tak ada kata-kata lisan yang mengatakan, Erga – sahabat baik Kania – sangat mencintai dokter muda yang penuh ambisi ini. Orang-orang di sekitar merekapun lebih senang menganggap mereka sepasang kekasih. Padahal, status mereka hanya sahabat sangat baik. Dan, orang-orang itu tak peduli dengan status mereka yang sebenarnya. Mungkin, karena mereka berharap Kania dan Erga bisa bersatu.
“Kalian ultracomplicated. Apa? Bukannya begitu status kalian? Terlalu panjang dan berbelit untuk dijelaskan?” – Evan – hlm. 23

Sering kali, Kania memang tampak menghindar. Kania tahu dirinya. Jika dia membiarkan Erga masuk sebagai cinta di hidupnya, dia takut Erga akan terluka.
Erga sangat mengenal Kania. Dia takut, jika dia memaksa mengatakan perasaannya, Kania akan menjauh, dan dia tidak siap untuk itu. Erga memilih memendam perasaannya. Menjadi bagian dari hidup Kania, dan selalu ada untuknya, sudah cukup untuk Erga.
“Kita terbiasa merencanakan banyak hal yang mudah kita jalani, Kan. Tapi Tuhan membuat rencana supaya kita menjadi kuat. Sedikit hal yang tidak pasti, sedikit kepedihan, sedikit kebimbangan, begitulah hidup.” – Oma Kania – hlm. 226

Perlahan, muncul pihak-pihak yang membuat hubungan mereka menjadi tak nyaman. Erga kedatangan mantan kekasihnya, Nina. Dan, Kania bertemu dengan kakak kelasnya, seorang dokter kandungan yang cukup memikat, Dr. Bian.
Perasaan cemburu mulai muncul. Kehadiran masing-masing yang dulu terasa nyaman, berubah jadi tak mengenakkan. Rumah Oma Kania yang merangkap sebagai Restoran keluarga, sekaligus tempat Erga bekerja terasa menyesakkan buat keduanya.
“Dulu rasanya menjadi sahabat saja cukup. Sekarang jadi sahabat rasanya tidak lagi tepat, terasa kurang, namun untuk lebih… ia tidak berani mengambil resiko itu. Ia terlalu pelit berbagi hati, atau terlalu tamak tak mau menghentikan sebagian mimpinya sebagai manusia bebas.” – hlm. 233

Mereka butuh ruang yang lebih luas. Mereka butuh bernapas lebih bebas. Tapi, cinta di antara mereka tidak akan bisa begitu mudah membuat mereka baik-baik saja meskipun banyak ruang di antara mereka, banyak udara segar yang bisa mereka hirup. Karena, mereka bisa nyaman hanya jika mereka bisa saling jujur. Sayang, kejujuran itu terlalu mahal untuk mereka.
“Waktu akan mengubah mereka. Waktu akan membuat mereka bosan. Waktu akan menghadirkan orang lain dalam hidup mereka, menuntut cinta yang lain. Dan apakah ia bisa bertahan dengan semua kerumitan itu?” – hlm. 184
 
By Your Side, jujur saja aku meragukan novel ini, karena rating di goodread yang menurutku kurang memuaskan. Maaf, aku bukan tipe pembaca blurd. Aku lebih suka melihat rating goadreads dan membaca sekilas komentar para pembaca.
Saat membaca bagian awal novel ini, dan mulai memahami apa inti masalah di dalamnya, aku semakin ragu, friendzone. Sebenarnya, keduanya saling cinta, tapi di satu pihak cinta itu terhalang ambisi, dan dipihak lainnya terhalang rasa takut untuk mengakui cinta tersebut.
Apa ya bahasanya, terlalu biasa, mungkin.
Tapi tunggu dulu, ternyata aku begitu menikmati novel ini.
Menurutku, cara berceritanya yang luwes dan ringan, dengan konflik yang biasa-biasa saja, namun bisa membuat aku terikat pada kisahnya, dan sesekali berhasil menyentuh hatiku – sudah cukup membuat aku menyukai novel ini. Bisa jadi, cerita dengan konflik sederhana, jika bisa dibawakan dengan baik oleh penulisnya, akan jadi sesuatu yang lebih indah.
Karakter-karakter di novel ini cukup banyak. Namun, aku lebih menyoroti tokoh utamanya, Erga, Kania, Nina – mantan kekasih Erga. Mereka punya karakter kuat dan tidak gampang goyah.
Erga cowok yang hidupnya – kayaknya – santai-santai saja memang terkesan tak terlalu mau ambil pusing pada masa depannya. Buatnya, selalu berada di sekitar Kania, itu sudah cukup.
Rasanya, cara berpikir cowok seperti ini kok nggak menjanjikan masa depan, ya? Oke, Erga memang sudah berhasil dengan Kedai Oma, termasuk dengan Erga’s – sebuah kafe yang dikelola Erga. Erga menikmati menjadi fotografer amatir yang fotonya hanya dipajang di Kedai Oma. Dia juga sesekali menjadi barista.
Hidup Erga memang terasa nyaman. Tapi, apakah cukup? Jika dibandingkan dengan Kania, rasanya mereka punya tingkat yang berbeda. Kania jauh di atas Erga.
Kania menjalani profesinya sebagai dokter dengan sepenuh hati. Mimpinya menjadi dokter jantung membuat Kania tak pernah cukup punya waktu untuk dirinya. Kania terlampau sibuk. Sangat berkebalikan dengan Erga, kan?
Tunggu, bukannya cinta itu saling melengkapi? Sepertinya jika mereka bersama akan lebih baik. Erga punya banyak waktu untuk Kania yang sibuk. Jadwal mereka akan lebih mudah diatur, pasti.
Sayangnya, cara berpikir mereka, terutama Kania, jauh berbeda dari cara berpikirku. Munculnya sosok Nina yang cantik dan sangat memikat membuat Kania gusar. Kehadiran janda beranak satu inilah yang perlahan menyadarkan Kania, dia ternyata menginginkan Erga lebih dari sahabat. Tapi, lagi-lagi Kania teringat ambisinya.
Tokoh dengan karakter unik di novel ini membuat suasana cerita makin semarak. Munculnya Evan si koki yang hobi membuat Erga gerah dengan komentarnya. Evan ini kekasih adik Kania, Vidya. Vidya ini memang cocok jika bersanding dengan Evan. Mereka sama-sama punya keahlian menyindir tajam.
Dan, masih ada Dr. Bian yang bikin Erga cemburu, lalu Oma yang bikin adem, trus keluarga Erga yang begitu gerah dengan sikap Erga yang nggak jelas pada Kania.
Novel ini keren. Yang lagi capek baca novel terlalu serius dengan konflik njlimet, monggo nyoba novel ini. Aku bisa langsung fresh setelah membacanya, lho. Duh, kayak jualan aja. Jujur, aku nggak pakai sogokan apapun, lho, muji-muji novel ini.
Oh, tapi ada satu yang nggak terlalu aku suka. Saat penyelesaian masalahnya. Kenapa harus hidjrah, sih? Masih banyak cara lain, selain pergi, kan?
Kalau kamu gapang tersentuh, seperti aku, kamu akan menemukan banyak hal yang bikin hati dicubit, atau kamu akan senyum sendiri membayangkan beberapa hal yang terjadi antara Kania dan Erga yang sebenarnya nggak pernah jelas. Dan, so pasti kamu akan dibuat geregetan setengah mati.
Rating untuk novel ini 3,4 dari 5 bintang.
 

Jejak Langkahku Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos