Showing posts with label Project Baca Buku Cetak 2015. Show all posts
Showing posts with label Project Baca Buku Cetak 2015. Show all posts

Friday, December 18, 2015

Resensi – GLOOMY GIFT “Bertualang untuk mengenalmu”



Penulis : Rhein Fathia
Penerbit : Bentang Pustaka
Genre : Roman, Fiksi
Kategori : Adult, Action
Terbit : 2015
Tebal : iv + 284 hlm
ISBN : 978 – 602 – 291 – 089 – 3
Harga : Rp. 54.000

“Boleh aku tahu kenapa kamu tidak mengajakku pulang dan malah membawaku dalam petualangan ini?” – Kara
“Karena aku tidak yakin bisa bertemu denganmu lagi setelah ini.” – Zeno – hlm. 113

Kara Arkana, tidak pernah bermimpi, pertunangannya bisa menjadi sekacau ini. Dia harus melakoni peran sebagai gadis yang dikejar-kejar preman bersama tunangannya, bahkan hampir kehilangan nyawanya.
Kara benar-benar berharap ini hanya mimpi. Tapi, ini memang bukan mimpi. Ada yang disembunyikan Zeno darinya. Kara merasa tidak lagi mengenal tunangannya itu.
“Benar kata ayah, cinta bisa membuatmu melakukan apa pun, termasuk melukai sosok yang kau cintai.” – Zeno – hlm. 129

Zeno yang dia kenal adalah seorang arsitek, bukan seseorang dengan pekerjaan penuh bahaya dan sangat fasih menggunakan senjata bahkan begitu lihai berkelahi dan menyamar.
Sejak dulu, setelah ayahnya meninggal dalam tugas sebagai seorang Polisi, Kara bertekat tidak akan menjalin hubungan, apalagi menikah dengan seseorang yang mempunyai profesi berbahaya. Kenyataan seperti apa pekerjaan Zeno, membuat Kara ragu untuk meneruskan hubungan mereka. Tapi, Kara sadar betul, dia sangat mencintai Zeno. Dia tidak yakin bisa dengan mudah melupakannya.
“Menikah sekaligus menghabiskan seluruh hidupmu bersama sosok yang kamu cintai dan balas mencintaimu sama besarnya. Apa yang lebih indah dari itu?” – hlm. 41
Gloomy Gift, novel romance berbau action. Lumayan, nih ketemu novel bernuansa beda begini. Berasa kayak nemu spaghetti setelah setiap hari makan nasi pecel.
Sejak bab awal, novel ini sudah menyajikan ketegangan. Berjalan terus ke belakang, aku kayak nonton film action yang biasa diperankan Jet Li. Meskipun, aku merasa kurang banget bagian action-nya. Kurang adegan perang-perangannya. Dan kurang detail penggambaran baku hantamnya.
Novel ini menurutku juga kekurangan adegan romantis, bahkan hampir nggak ada. Mungkin, karena situasi yang mereka hadapi nggak memungkinkan untuk sayang-sayangan kali, ya? Lagian, besok masih bisa hidup apa nggak aja, mereka nggak tahu, masak masih mau pasang adegan romantis, sih? Cuma, kurang romantis itu berasa minum teh yang perlu ditambah gula, setengah sedok aja deh, nggak apa-apa.
Karakter Zeno tanpa digambarkan detail, aku sudah bisa membayangkan bagaimana tegap tubuhnya, sigap sikapnya. Cowok kayak begini, kalau sudah cinta…waduh, matipun dia rela. Dan, itu terbukti banget. Aduh, Zeno top dah.
Sedangkan karakter Kara, awalnya aku menganggap dia cewek manja. Ternyata, dia ini cewek kuat, mandiri, dan dia jauh dari kata manja. Aku berasa pengin ketawa pas bayangin Kara yang pakai kebaya tapi bawahannya pake celana babydoll (bener, kan, ya?) Itu bayangin aja udah norak banget.
Ngomongin SYL, aku suka nama-nama para anggotanya, maksudku nama samarannya, Pollux, Auriga, Naos, dll. Meskipun, mereka punya dua nama, aku tidak merasa bingung.
Alur, dan ceritanya sangat rapi, bikin pembaca merasa nyaman dan nggak perlu banyak mikir. Konflik dengan Lintang Samudra terasa pas dijadikan konflik utama yang memicu semua masalah. Masa lalu Kara, tentang kematian Ayahnya, membuat kondisi dan situasi di dalam cerita semakin semarak.
Untuk ending, aku sebal sama endingnya. Tapi, nggak jadi sebal saat tahu ada lanjutan novel ini, maklum deh akhirnya.
Rating untuk novel ini 2,8 dari 5 bintang.

Saturday, November 28, 2015

Resensi – WHAT IF “Dimana ujung perbedaan itu?”

Tulisan ini diikutkan dalam

Penulis : Morra Quatro
Penerbit : Gagasmedia
Genre : Romance, Fiksi
Kategori : Adult, Family Drama, Perbedaan Agama
Terbit : 2015
Tebal : viii + 280 halaman
ISBN : 979 – 780 – 833 – 5
Harga : Rp. 56.000

Andaikan bisa menentukan, manusia pasti akan menentukan apapun yang terbaik untuknya, apapun yang tidak akan mempersulit hidupnya, sebuah pilihan yang tampak menyenangkan dan hadir begitu pas untuk dirinya.
Sayang sekali, manusia tidak berhak menentukan jalan hidupnya, tapi manusia bisa memilih, menggeser sedikit takdir meskipun takdir itupun sebenarnya sudah ditentukan sejak sebelum dia ada.
Kamila, dia tidak memilih menjadi seorang dengan sebutan Anal, dia tidak memilih menjadi seseorang yang harus berjuang sendiri tanpa ibunya yang sudah meninggal, tanpa ayahnya yang entah ke mana. Dan, Kamila juga tidak memilih untuk bertemu Jupiter, kemudian jatuh cinta pada seorang laki-laki yang berbeda agama dengannya.
“Anal itu istilah psikoanalisis Freud, artinya orang yang sangat detail. Ingat segala hal, menganalisis segala hal. Orang umumnya nggak suka sama orang dengan kebiasaan ini. Annoying. Aku selalu dijuluki begitu sejak ospek gara-gara selalu tunjuk tangan tiap ada pertanyaan.” – Kamila – hlm. 27

 Jupiter – Piter, tidak menganggap perbedaan mereka sebagai halangan. Piter mencintai Kamila, sangat mencintainya, hingga perbedaan itu menjadi begitu indah di matanya. Dia akan berusaha menyeberangi perbedaan itu sampai ujung.
“Berdoalah dulu kepada Tuhan-mu. Aku akan menunggu di sini. Aku tak tahu, apa aku diizinkan masuk. Jadi aku akan menunggu. Di sini.” – Jupiter – hlm. 86
  
Kamila berhasil merubah Jupiter dari Jupiter yang lebih sering membolos di jam kuliah, lebih senang berpenampilan serampangan, tak benar-benar memikirkan nilainya. Menjadi Jupiter yang sibuk membaca berbagai buku, bahkan bertekat mendapat nilai yang baik. Semua demi Kamila, si asisten dosen di kelas ilmu sosialnya.
“Keluar jalur, dan berbalik arah sekalipun, mungkin sebenarnya tak apa-apa. Bukankah lebih baik menyesal karena melakukan sesuatu dari pada menyesal karena tidak melakukannya? Setidaknya, kelak ia tak perlu bertanya-tanya, andai saja ia berani menghubungi. Setidaknya, pada kemudian hari , tak akan ada keinginan yang penuh sesal untuk memutar balik waktu dan kembali ke malam ini.” – hlm. 73

Jupiter mencintai Kamila, sangat mencintainya. Tapi, perbedaan agama selalu menjadi bagian yang terlalu sulit untuk ditemukan solusi terbaiknya, sejak dulu, sejak masalah ini ada. Lalu, bagaimana cara mereka menyelesaikannya? Finn dan Anjani – sepasang kekasih berbeda agama – banyak sekali memberi mereka pandangan. Dan, mereka ternyata punya ujung yang tak bisa diharapkan.
Bagaimana dengan Kamila dan Jupiter? Akankah ujung kisah mereka berbeda dari Finn dan Anjani? Mereka selalu berharap begitu.
“Apa yang berbeda itu memang tidak pantas bersama? Kalau begitu, mengapa Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda? Padahal, sesungguhnya – sesungguhnya, bila Aku kehendaki, maka Aku jadikan kalian satu kaum. –hlm. 167

What If, satu lagi karya Morra Quatro yang tidak sekedar bertutur tentang cinta. Dia selalu menuliskan kisah yang agak berbeda dari novel roman pada umumnya. Kali ini, Morra Quatro mencampurkan unsur agama dan sosial politik yang sangat kental dalam ceritanya.
Kamila, cewek bertubuh mungil, yang punya otak encer, kritis, dan sangat detail. Dia tak banyak punya teman karena kebiasaannya yang disebut ‘anal’. Bukan anal dalam dunia seks, ini istilah lain dari psikoanalisis Freud, artinya orang yang sangat detail.
Sedangkan Jupiter, dia hadir sebagai cowok penuh pesona namun tak pernah serius dengan hidupnya. Bisa dibilang, Jupiter ini bad boy.
“Mengenal orang itu seperti mengupas bawang. Selapis demi selapis, dan kadang-kadang membuat kita menangis. Saat itu mungkin akan tiba, bagi Piter tak mengapa.” – hlm. 101

Bagian yang paling aku suka adalah saat pertemuan pertama kali Jupiter dan Kamila di lapangan basket siang itu. Kamila berseru, “Oh, God.” Kemudian Jupiter menimpali dengan cueknya, “Father, Son, and the Holy Ghost.” Jupiter menyambung kata-kata Kamila menjadi sebuah lirik lagu berjudul American Pie yang dinyanyikan Don McLean. Percakapan ringan mereka mengalir begitu saja. Sampai pada akhirnya, Jupiter memancing Kamila dengan meminta nomor teleponnya.
Satu lagi bagian yang aku suka, saat Jupiter mengantar Kamila ke rumahnya. Kamila memilih menggeser kursi ke samping, hanya karena dia tak ingin bertatapan langsung dengan Jupiter.
“Nggak mau duduk di situ.” – Kamila
“Kenapa? Ada pakunya?” – Jupiter
“Nggak.”
“Kamila. Kenapa, sih?”
“Kalau duduk di situ, aku mesti– ”
“Mesti apa?”
“Aku mesti berhadapan langsung sama kamu, oke? Aku nggak mau.”
“Duduk di situ. Kalau harus lihat-lihatan sama aku, memangnya kenapa?” – hlm. 93

Meskipun Jupiter itu kristiani, dia tahu sebuah kisah tentang Mikail yang mengekang laju matahari agar Ali bin Abi Thalib bisa ikut sholat berjemaah. Ali bin Abi Thalib telat menuju ke Masjid karena tidak berani menyalip orang tua yang berjalan di depannya. Dan tahukah kamu, orang tua itu beragama Nasrani. Meski begitu, Ali bin Abi Thalib tetap menghormatinya tanpa mau tahu siapa orang tersebut.
Cerita dari Jupiter kepada Kamila ini, seperti mengajari kita untuk selalu menghormati dan menghargai semua orang, entah itu yang berbeda agama dengan kita, atau yang lebih lebih kurang mampu dari kita. Sekarang ini, rasa saling menghormati dan menghargai sudah mulai menipis. Hendaknya, dari kisah ini penulis mengharapkan kita untuk mau kembali memupuk rasa persaudaraan antar sesama manusia, tanpa melihat siapa mereka.
Jangan melihat sebuah kisah cinta berbeda agama hanya dari sisi negatif saja. Kisah ini memang tampak sia-sia. Tapi, menurutku tidak. Karena Jupiter yang jatuh cinta pada Kamila, dia jadi banyak berubah. Jupiter jadi rajin kuliah, bahkan ada peningkatan dalam nilai dan jumlah kehadiran di kelas. Bukankah ini terbukti, selalu ada maksud Tuhan dalam setiap kehendak-Nya?
“Mengapa Tuhan bahkan memiringkan matahari, menegakkan langit, menurunkan hujan? Mengapa Tuhan membuat daun jatuh? Mengapa Tuhan membuat hati jatuh? Tuhan pasti sengaja. Memangnya Tuhan pernah tidak sengaja? Menurut Piter, semua ini tak mungkin kebetulan, dengan maksud apa pun itu.” – hlm. 99

Lalu tentang Pemilwa, dan esai Jupiter yang dulu direbut Ali Akbar karena esai itu datang terlambat. Ternyata, isi esai Jupiter bukan esai ecek-ecek. Kamila menyadari itu saat-saat Pemilwa berlangsung. Ada sesuatu yang membuat Kamila harus berjuang untuk membuktikan kalau esai itu menarik, dan Kamila ingin Ibu Miranda – Dosen Sospol Jupiter – membacanya.
Perjuangan Kamila dan Finn untuk membuktikan esai Jupiter menarik, benar-benar menegangkan. Termasuk, suasana Pemilwa itu juga sangat terasa menegangkan, meskipun Kamila dan Jupiter tidak terlibat langsung di dalamnya.
Kalau mau menelisih makna dari konflik ini, kita bisa belajar bahwa, jangan menyepelekan apapun dari seseorang yang tampak tidak kompeten. Mungkin, orang tersebut mempunyai kejutan manis untuk kita.
“Manusia tak terbuat dari angka-angka, tetapi kebanyakan mereka lupa. Itu sebabnya hidup kita melelahkan dan kita begitu mudah merasa miskin.” – Finn – hlm. 247

Banyak hal menarik di novel ini, termasuk bagaimana penulis memulai kisahnya. Bukan dari perkenalan tokoh-tokohnya, tapi dari klimaks konfliknya. Setelah itu, baru masuk ke perkenalan.
Memang novel ini menggunakan POV 3, namun penulis mengenalkan Kamila dengan cara yang lain, dari sudut pandang Finn dan Steven, dua sahabat baik Jupiter.
Alur ceritanya juga cukup cepat, jadi nggak membosankan. Ada saja konflik yang diutarakan, nggak melulu membahas kisah cinta Jupiter dan Kamila yang beda agama, ada konflik lain tentang dunia perkuliahan, tentang Pemilwa, juga tentang kisah cinta beda agama yang dilakoni orang lain.
Pilihan diksinya menarik, berasa yang menulis mahasiswa jurusan Sospol. Infomasi tentang sospol, BEM, dan lainnya tak sekedar ada, tapi menambah pengetahuan pembaca juga.
Tulisan Morra Quatro memang selalu menarik, padat, dan nggak membosankan. Meskipun, jenis ending yang dipilihnya, bukan jenis yang aku suka. Namun, entah kenapa aku selalu bisa memberi pengecualian pada ending yang dia buat. Menurutku, kisah-kisah dalam novel Morra Quatro itu seperti kopi, aku sudah tahu akan bertemu kisah yang pahit, pilu, untung selalu ada manisnya walaupun sedikit. Namun, aku tetap saja membukanya, dan sangat menikmatinya. Seperti, pahit yang adiktif.
Nama-nama yang dipilihnya juga sangat indah. Rasanya, sesekali bisa memilih satu nama yang dibuat Morra Quatro untuk dijadikan nama keponakan, atau anakku kelak.
Sayangnya, konflik keluarga Kamila dan Jupiter tidak dibahas secara rinci. Padahal, memunculkan sebuah konflik, berarti berkewajiban untuk menjelaskan dan kalau bisa menyelesaikan di akhir cerita.
Rating untuk novel ini 3,8 dari 5 bintang.
Oh iya, desain covernya cantik.

Thursday, November 26, 2015

Resensi – SINGLE VILLE “Rahasia di balik hutan birch putih”




Penulis : Choi Yun Kyo
Penerjemah : Krisnadiari
Penerbit : Haru
Genre : Romance
Kategori : Adult, Terjemahan
Terbit : Desember 2014
Tebal : 300 halaman
ISBN : 978 – 602 – 7742 – 43 – 7
Harga : Rp. 65.000

Beberapa di antara begitu banyak manusia di bumi ini memilih untuk hidup sendiri, sampai matipun sendiri bukan sebuah masalah, itu hanya pilihan hidup, dengan berbagai alasan yang mendasarinya. Entah karena terlalu patah hati, masa lalu yang membuat trauma, atau terlalu mencintai pasangannya yang telah pergi, sehingga memilih terus setia dengan hidup single selamanya.
“Aku hanya tidak ingin menikah, jadi aku tidak perlu mengikuti apa yang dilakukan orang lain. Mau bagaimanapun hidup berdua agar tidak kesepian dan hidup dengan meminta pertolongan dari orang lain itu sama saja, kan? Apalagi suatu saat kita akan menjadi tua. Pengakuan secara finansial cukup untuk diri kita sendiri. Toh, pengalaman melahirkan dan membesarkan anak bukanlah hal yang harus disyukuri.” – Im So Young – hlm. 84

Jeong Mi In, putri konglomerat kelas atas – Pendiri Single Ville sekaligus penghuni rumah nomor satu – mempunyai alasan sendiri kenapa dia memilih mendirikan Single Ville, dimana penghuninya harus mematuhi peraturan yang dia buat, tidak boleh ada percintaan di kawasan Single Ville.
Awalnya, para penghuni menyetujui syarat tersebut, karena beberapa diantara mereka memang berniat bersembunyi dari apapun di luaran sana, termasuk bersembunyi dari cinta.
Apakah itu akan berhasil?
Choi Yun Seong – seorang penulis yang menempati rumah nomor dua – berharap dia benar-benar aman dari para penganggu. Dia yang terlalu penyendiri harus menghadapi Im Seong Yeong – penghuni rumah nomor tiga – yang sering mengetuk pintunya untuk berbagai masalah yang menimpanya.
Im Seong Young merasa dikuntit dan di terror seseorang. Karena tak tahu lagi minta tolong ke siapa, dia selalu berpura-pura datang ke rumah Yun Seong dengan alasan yang dia buat-buat.
“Cinta yang spesial biasanya memang seperti itu. Dimulai dari kebetulan sepele yang terjadi berkali-kali, hingga akhirnya semua berubah menjadi kebetulan yang dinamakan lingkaran takdir raksasa. Inilah yang nantinya akan menimbulkan benih-benih cinta antara seorang laki-laki dan wanita.” – Hlm. 190

Jeong Geon Woo – Penghuni rumah nomor empat – dia merasa curiga pada Im Seong Young. Dia menduga, Im Seong Young, bukan dia yang sebenarnya. Memang benar, yang menempati rumah nomor tiga memang bukan Im Seong Young, tapi seorang illustrator yang baru saja patah hati karena tunangannya tiba-tiba pergi – Kang Hyeon Ah.
“Kita harus berterima kasih kepaa mantan kita untuk hubungan cinta yang kita miliki sekarang. Sebab, berkat putus dengannyalah kita bisa bertemu dengan orang yang baik, seperti kekasih kita sekarang.” – Kang Hyeon Ah – hlm. 271

Go Seong Min – penghuni rumah nomor lima – adalah seorang mantan detektif yang masing mengejar buronannya. Dia mencurigai salah satu penghuni Single Ville sebagai buronannya tersebut.
Lee Jeong Hyeok – penghuni rumah nomor enam– dia mencoba menghasut penghuni lain untuk memprotes aturan tidak boleh jatuh cinta di kawasan Single Ville. Jeong Hyeok datang ke Single Ville bukan karena dia mau hidup sendiri selamanya. Tapi, untuk menyembunyikan kisah cintanya yang tidak wajar.
“Mereka yang berpacaran adalah orang-orang yang menimbulkan gangguan kepada manusia lainnya hanya dengan bernapas saja. Apa kau tahu? Itulah yang dipikirkan orang lain terhadap mereka yang memiliki sesuatu yang begitu hebat, yang disebut cinta.” – Choi Yun Seong – hlm. 137

Para penghuni Single Ville memang orang-orang penuh masalah. Namun, masalah itulah yang menghubungkan mereka dan mendekatkan mereka. Ada sebuah hungungan tak kasat mata di antara mereka. Dan, pada akhirnya, saat hubungan itu terungkap, banyak sekali yang terkejut.
Mampukah mereka tetap mematuhi aturan Single Ville, atau mereka harus rela menanggung konsekuensi karena melanggarnya?
“Pikirkanlah apa yang tidak dapat kau lepaskan, serta apa yang bisa kau korbankan. Sebab untuk memperoleh apa yang kau inginkan, kau harus segera melepaskan yang lainnya. Dan hal itu berlaku untuk semua orang, baik untuk yang masih lajang maupun yang sudah menikah.” – Lee Jeong Hyeok – hlm 147

Single Ville, sebuah novel terjemahan Korea Pemenang Kyobo Purple Romance Competition 2013. Novel ini menyajikan setting sebuah cottage yang sangat indah. Membuat aku merasa ingin ke sana untuk jalan-jalan di atas salju, dan menikmati hamparan hutan pohon birch putih yang memagari tempat tersebut. Pas sekali tempat ini jika disebut tempat persembunyian.
Di novel ini memang sangat banyak tokohnya. Awalnya, aku sedikit merasa kesulitan untuk fokus pada cerita karena dipusingkan dengan nama tokohnya. Tapi, Penerbit Haru sudah menyiapkan sketsa dan keterangan masing-masing tokoh di halaman depan. Sehingga, saat aku mulai bingung karena lupa, siapa tokoh ini? Aku bisa langsung melihat ke depan, dan langsung paham.
Di dunia ini selalu ada kebetulan, namun dalam novel Single Ville ini sangat banyak sekali kebetulan. Mereka seperti ditakdirkan di kumpulkan dalam satu lingkungan untuk mengetahui kenyataan yang menjadi awal mereka memutuskan untuk tinggal di Single Ville.
Seperti Kang Hyeon Ah, dia sangat membenci penulis dongeng yang ilustrasinya dia buat. Karena dia, Hyeon Ah perpisah dari tunangannya. Di sini juga Hyeon Ah mengetahui alasan sebenarnya kenapa tunangannya memutuskan pergi meninggalkannya.
Lalu, hubungan Im Seo Young yang asli dengan dua pria penghuni Single Ville cukup menarik juga. Kenyataan yang muncul di akhir cerita sedikit membuat aku bilang ‘lho’. Aku nggak menyangka Seo Young mempunyai hubungan dengan pria tersebut.
Kalau masalah kekasih Lee Jeong Hyek, aku sedikit bisa menebak siapa dia, dan ternyata benar.
Jujur, aku agak nggak suka dengan banyaknya kebetulan di novel ini. Namun, karena cerita yang dibawakan cukup enak, dengan kisah yang penuh teka-teki, aku cukup menikmatinya. Meskipun, ada beberapa hal yang belum terpecahkan, seperti masalah buronan yang di kejar Go Seong Min, juga beberapa hubungan asmara yang aku juga belum tahu bagaimana akhirnya.
Endingnya, sedikit menggantung. Memang dibuat begitu, karena novel ini ada sekuelnya, Single Ville II.
Rating novel ini 2,8 dari 5 bintang.

Friday, November 6, 2015

Resensi – MARRIED BY MORNING "Mari memaafkan masa lalu"



Penulis : Lisa Kleypas
Penerjemah : Anggraini Novitasari
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Genre : Romance
Kategori : Adult, Historical Romance, Family Drama, Terjemahan, The Hathaways #4
Terbit : November 2010
Tebal : 440 halaman
ISBN : 978 – 979 – 22 – 6466 – 1
Harga : Rp. 55.000

Catherine Marks – wanita pendamping gadis-gadis Hathaway – sangat membenci Leo Hathaway – Lord Ramsay – yang sebenarnya adalah tuannya, majikannya. Dia membenci Leo karena masa lalu pria ini.
Cath tak pernah bisa membiarkan Leo menang dalam perdebatan. Mereka sudah dikenal sebagai musuh bebuyutan sepanjang masa. Namun, siapa yang sangka, perdebatan mendekatkan hati masing-masing, meskipun dikedua belah pihak memilih menentang rasa yang mereka rasakan.
“Aku tidak ingin membutuhkanmu, Leo, aku berjuang sangat keras agar tetap berdiri di tepi hidupku sendiri… saat seharusnya punya keberanian untuk berjalan masuk ke dalam hidupmu.” – Catherine Marks – hlm. 388

Suatu hari, muncul sebuah masalah, ternyata rumah beserta estet Ramsay bukan sepenuhnya diwariskan pada Leo, namun beberapa diwariskan pada Janda Ramsay terdahulu, termasuk rumah yang sekarang mereka tempati, rumah yang dibangun susah payah oleh Merippen – adik ipar Leo. Rumah itu juga mempunyai banyak kenangan untuk keluarga Hathaway. Rasanya, sayang sekali jika menyerahkan rumah itu pada Janda Ramsay sebelumnya.
Satu-satunya hal yang bisa Leo lakukan untuk menyelamatkan rumah itu adalah menikah dan mempunyai seorang anak laki-laki sebelum melewati usia 30 tahun. Namun, dengan siapa dia harus menikah? Leo sama sekali tidak punya cita-cita untuk menikahi siapapun, meskipun dia memiliki hasrat terpendam pada Catherine.
“Saya menyangkal kehendak rasional seseorang bia dikalahkan oleh sensasi fisik. Otak selalu memegang kendali.” – Catherine Marks – hlm. 145

Sama seperti Leo, Cath lebih memilih menyembunyikan perasaannya pada Leo karena masa lalunya yang kelam. Dia tidak bisa percaya pada pria yang mempunyai pengalaman mengerikan tentang petualangannya dengan banyak wanita dan hal-hal kriminal di masanya yang sudah berlalu.
Apalagi, hubungan Leo dan Cath tak pernah bisa dibilang baik. Rasanya, hubungan cinta di antara mereka sangat konyol. Apalagi untuk menikah, itu sebuah ide gila.
“Kita semua punya penyesalan. Itu sebabnya aku bertahan melakukan kebiasaan burukku. Orang tidak perlu mulai menyesali sesuatu kecuali orang itu berhenti melakukannya” – Leo Hathaway – hlm. 34

Namun, Leo sadar, dia sangat menginginkan Cath. Wanita manapun tampak tak bisa mengalihkan perasaannya, dan Leo tak tahan. Dia berusaha membuat Cath takluk. Namun, Cath terlalu takut pada apa yang membayanginya.
Bagaimana ini? Apakah Cath tak akan pernah bisa menyerah pada cinta Leo? Benarkah dia akan memilih menjauh dan tersiksa karena merindukan Leo?
“Kadang-kadang kau harus membuat kesalahan untuk menghindari membuat kesalahan lain yang lebih buruk.” – Cam Rohan – hlm. 163

Married by Morning, novel kedua Lisa Kleypas yang aku baca setelah menyelesaikan Seduce Me at Sunrise – Seri Hathaway #2. Aku memang membaca seri ini tak berurutan, karena novel seri ini belum lengkap, sekarang aku sedang mencari Mine Till Midnight – Seri Hathaway #1.
Novel ini dimulai dengan konflik saling benci, lalu berubah saling cinta – sedikit pasaran, memang. Namun, hubungan Leo dan Cath sangat seru.
Leo punya karakter badboy yang suka-suka dia, namun dia selalu tahu apa yang harus dia lakukan untuk keluarganya. Dia tipe orang yang tidak serius, padahal dia punya cara sendiri untuk menunjukkan keseriusan itu. Bersama Leo, segala hal sulit rasanya bisa dibuat sedikit ringan.
Sedangkan Cath, dia sangat sibuk menyembunyikan dirinya yang sebenarnya untuk menghindar dari masa lalunya, dari orang-orang yang akan menemukannya dan mengatakan siapa sebenarnya dirinya. Karena itu, Cath tampak terkurung dan tidak bisa menjadi dirinya sendiri.
Sebenarnya, Cath wanita yang cerdas, dengan pemikiran luas, dan sangat rasional. Dia juga penyayang, meskipun Cath lebih cenderung pendiam.
Aku suka permainan test logika antara Cath dan Leo, ini agak konyol. Kalau mau tahu seperti apa permainan ini, baca saja. Aku nggak mau cerita.
Masa lalu Cath memang bisa dibilang sangat kelam, sebelas-dua belas dengan masa lalu Merripen. Namun, Cath cukup beruntung karena tidak sampai harus melakoni perbuatan kotor itu.
Aku selalu menikmati awal dan tengah cerita, tapi setiap sampai hampir akhir, aku malah merasa sedikit bosan dan ingin segera selesai. Itu yang aku rasakan dengan dua buku seri ini. Jika dibandingkan, secara keseluhan, aku lebih suka Seduce Me at Sunrice.
Rating 3,0 dari 5 bintang
 

Jejak Langkahku Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos