Wednesday, October 9, 2013

Cerpen - Guesses In Heart

 Baginya, nggak ada hidup yang paling menyedihkan selain hidupnya sendiri. Dia memang gendut, memang kenapa? Dia dipaksa untuk diet, itu menyiksa! Dia selalu dihina Cinderella gembrot kenapa mereka yang sewot, itu tubuh dia ‘kok! Dia ingin orang di sekitarnya menerimanya apa adanya, bukan berusaha menghinanya dan memaksa untuk berubah.
Dan hidup Cinderella alias Cindy makin sengsara karena satu cowok bernama Romeo. Cowok paling ganteng dan populer di sekolah, tapi neyebelinnya amit-amit, apalagi kalau sama Cindy. Romeo sering mengganggunya, sampai Cindy stress dan akhirnya Cindy gagal diet karena dia selalu melampiaskan kekesalannya pada makanan.
“ROMEO!!!!” teriak Cindy saat baru saja membuka kotak bekalnya. Dia sama sekali tak tahu kalau cowok itu sudah memasukkan kecoa ke dalamnya.
Romeo tertawa terpingkal-pingkal di depan pintu. “Itu terapi biar lo kurusan. Bilang makasih, dong!” ucapnya dengan wajah puas karena berhasil membuat Cindy megap-megap saking sebalnya.
Cindy bangun dari duduknya dan menghampiri Romeo. “Lo tahu ‘kan, Tuhan nggak pernah tidur?” Romeo mengernyit menengar kalimat Cindy. “Jadi, gue mau bilang sama Tuhan, semoga lo punya cewek gendut kayak gue!”
Romeo tampak terkejut, namun sekejap kemudian dia terbahak-bahak sambil memegang perutnya. “Lo ngutuk gue?” tanyanya disela tawa yang masih berderai. “Emang mempan?”
Cindy meremas kedua tangannya, “Lihat saja!” jawabnya.
***
Cindy masih meneruskan langkahnya ke belakang sekolah untuk menghindari Romeo. Rasanya nggak aman menikmati makan siangnya di kelas. Cindy takut tiba-tiba Romeo muncul di depannya dan merusak selera makannya seperti kemarin.
Tapi, tiba-tiba dia berhenti karena telinganya menangkap sebuah bunyi ganjil dari dalam gudang. Bunyinya seperti seseorang yang mengetok pintu, namun terdengar sangat lemah.
“Hai…siapa di situ?” Cindy mulai mendekati pintu gudang.  “Ada ‘kah orang di dalam?”
“To…tolong!”
Cindy terperanjak mendengar suara lirih di balik pintu.
“To…tolong gue! Apapun yang lo minta bakalan gue kabulkan kalau lo nolongin gue!” suara di dalam terdengar terbata-bata namun cukup jelas. “Gue nggak bisa di ruangan sempit, gue mengidap Claustrophobia. Please, tolong gue!” Cindy seperti kenal suara itu.
 “Tungguin gue!” Cindy langsung lari ke ruang penjaga untuk mencari pertolongan. Dia nggak ngerti kenapa cowok menyebalkan itu bisa terkurung di sana.
Sepuluh menit kemudian, Pak Gunawan penjaga sekolah dan Cindy sudah kembali ke gudang dan membukakan pintu untuk Romeo yang sudah pingsan. Dan mereka langsung membawa Romeo ke UKS secepat yang mereka bisa.
***
Romeo sudah kembali masuk sekolah setelah ijin sakit karena kejadian itu. Dan, satu hal yang dia cari setelah sampai di sekolah adalah Cindy. Dia harus menemukan cewek itu, mengucapkan terima kasih, dan menepati janjinya untuk mengabulkan permintaannya.
Cindy sedang sarapan dan ada di pojok kantin saat Romeo menemukannya.
Morning!” Romeo sudah duduk di depannya saat Cindy menyadarinya. “Enak ya?”
Cindy menghentikan kegiatannya dan menatap Romeo curiga. “Apa?”
Romeo berdehem, “Gue cuma mau bilang makasih dan mau tanya apa permintaan lo ke gue.”
“Ha?” Cindy tampak bingung.
Romeo menghela nafas dan menatap cewek di depannya. “Kemarin gue inget, gue bakalan ngabulin apapun permintaan lo kalau lo nolong gue. Sekarang, gilirian gue menepati janji. Lo minta apa?”
Cindy melupakan sarapannya. “Aku minta apa?” Romeo mengangguk yakin. “Gue minta….” Cindy teringat kutukannya untuk Romeo, dan dia langsung menjawab, “Gue mau lo jadi pacar gue!”
Romeo seperti tersengat strum ribuan volt, “Pacar lo?”
“Kalau nggak mau, nggak papa!”
“Gue mau!” jawab Romeo terpaksa.
***
Romeo melakukan apa yang harus dia lakukan sebagai pacar Cindy. Mulai dari nemenin Cindy jalan-jalan, makan siang di kantin, sampai nganter jemput ke sekolah. Dan hari ini mereka sedang lunch di sebuah kafe.
Sebenarnya beberapa hari ini Cindy merasa keterlaluan. Dia teringat kata-katanya sendiri, Tuhan nggak tidur, dan Tuhan pasti tahu apa yang sudah dia lakukan.
“Romeo!” Cindy membuat Romeo menoleh dari ponselnya.
“Apa?” tanyanya.
“Kita putus aja,” jawab Cindy pelan.
Romeo mengerutkan alisnya dan menatap serius pacarnya. “Kenapa?”
“Masih tanya kenapa?” tanya Cindy kesal. “Karena ini cuma main-main!”
“Gue nggak pernah nganggep ini main-main!”
“Bohong!”
“Serius!”
“Kita pacaran cuma karena lo nepatin janji lo sama gue.”
“Iya! Dulu!” Senyum Romeo membuat Cindy membuang muka. “Tapi, gue udah kena kutukan dari lo!”
Cindy tertawa jengah, “Bullshit?!”
Romeo menggeleng, “Nggak! Gue serius!” Dia mengangkat tangannya membentuk huruf V dengan jarinya. “Gue beneran suka sama lo!”
“Tapi lo, kan…” Cindy tak bisa berkata-kata karena jantungnya berdetak terlalu cepat.
“Gue kenapa? Suka nyela lo? Iya memang! Itu sebelum gue ketagihan ngerasain asiknya jalan sama lo. Lo beda sama cewek-cewek yang biasa jadi pacar gue. Lo special edition.”
“Emang gue barang apa?!” Cindy langsung manyun.
Tawa Romeo mulai terdengar, “Sorry…sorry! Bukan gitu, intinya gue serius! Terserah, deh lo percaya apa nggak!”
Cindy masih menatap Romeo tak percaya, tapi dia menutup mulutnya. Dia memilih melihat kenyataannya, dan Romeo memang tak bohong, mereka tetap menjadi sepasang kekasih sekalipun badan Cindy  tetap gendut, dan setiap kali mereka jalan, mereka seperti angka 10. Romeo tetap cinta sama Cindy apa adanya.

4 comments:

  1. Saya suka ceritanya. Ringan, sederhana, dan mengalir.

    ReplyDelete
  2. Budhi, Tanti, Lia : Terima kasih sudah suka. Terima kasih juga sudah mau mampir :D

    ReplyDelete

 

Jejak Langkahku Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos