Monday, March 31, 2014

Letter to My Ex


Tulisan ini diikutsertakan
untuk lomba #suratuntukruth
novel Bernard Batubara

Antara Madiun dan Jogja, 29  Maret 2014

Dear, Faiz.
Waktu berjalan tak terasa. Dia sering kali menyelipkan kangen pada lubang-lubang hatiku. Seperti saat mendengar Pan bernyanyi dengan suara kencangnya, aku jadi teringat kebiasanmu menggumamkan lagu. Kamu tak suka bernyanyi keras-keras sepertinya, dan aku lebih suka caramu. Serius, itu lebih manis!
Atau, saat mendengar Bud tertawa terbahak. Aku juga teringat cara tertawamu yang berderai ringan. Lalu, saat melihat Ren menangis tersedu karena film mellow, aku jadi teringat wajah gelimu saat melihatku menangisi sebuah adegan sedih.
Manis, ya kenangan kita?
Ah, sudah berapa lama kita tak lagi bisa memotret memori bersama seperti itu? Satu tahun? Sepertinya lebih!
Mungkin, kamu tahu apa yang sekarang lebih sering aku kemas dalam hidupku. Iya, benar, tentunya semua hal yang berkaitan dengan mimpiku dan passionku, menulis dan traveling.
Dan saat inipun aku sedang melakukan perjalanan. Surat ini juga aku tulis di dalam gerbong Kereta Api Madiun Jaya yang bertolak ke Jogja. Sudah lama rencana ini digagas para sahabatku, kamu tahulah siapa yang aku maksud! Ya tentu si Pan, Bud, dan Ren.
Aku masih mencintai dua hal itu, Faiz. Bukan karena aku tak pernah mau berubah. Ini karena aku menemukan tujuan hidupku pada mereka. Pasti kamu masih ingat jawabanku ini, kan? Jawaban yang sama saat kamu menegurku, ‘Sampai kapan kamu cuma mau main-main sama hidupmu? Sampai kapan kamu mau berkeliaran ke berbagai tempat tanpa ada manfaat yang jelas untukmu? Sampai kapan kamu mau menulis cerita-ceritamu yang sering kali membuatmu kecewa karena kalah atau ditolak? Cobalah dunia yang baru, yang lebih menjanjikan dalam hidupmu!
Hahaha… Kira-kira seperti itu, kan kata-katamu dulu? Maaf, aku tak bermaksud mengungkit luka lama. Walaupun dulu, kata-katamu itu seperti jarum yang menusuk hatiku. Tapi aku tahu, mungkin yang kamu ucapkan bisa jadi benar.
Sejujurnya, dibalik rasa pedih, aku senang kamu mengomeliku. Karena saat itu, aku tahu kamu peduli padaku.
Lalu kenapa aku memutuskan berpisah darimu? Ini alasan yang lain, Faiz. Ini karena aku tak ingin membuatmu terpaksa menerima apa yang aku cintai dan apa yang menurutmu nggak pantas untuk dicintai. Perbedaan padangan hidup, mungkin itu lebih tepatnya.
Ah, sudahlah! Anggap bagian paling kelam dalam perjalanan kita sebagai warna yang membuatnya makin indah. Aku tak akan menghapus satupun memori itu dalam ingatanku. Karena bagiku, kehadiranmu dalam hidupku adalah bingkisan termanis Tuhan untukku.
Faiz, terima kasih untuk semua yang sudah kamu berikan padaku. Maaf atas pilihanku. Maaf atas egoku. Tak selamanya yang ada di dunia ini bisa berjalan satu arah dengan jalur yang sama. Meskipun, jalur mana yang ingin dilalui adalah sebuah pilihan dari masing-masing hati.
Namun, nyatanya aku tak kuasa membendung apa yang aku inginkan. Aku ingin mencoba jalur yang menurutku menyenangkan. Dan ternyata, jalur itu berbeda dari jalur yang kamu pilih.
Tapi, jika Tuhan mempertemukan kita dalam satu jalur yang sama lagi, aku akan menebus apapun yang harus aku tebus padamu. Saat itu, akan kubayar lunas semua cinta dan kekosongan hati yang telah kubuat.
Dariku yang tak pernah menjadi apa yang kamu mau…
D

1 comment:

  1. Hi,
    Mau CD Original One Direction? Atau pulsa cuma-cuma? Yuk ikuti giveaway perdana saya di http://gebrokenruit.blogspot.com/2014/04/giveaway-take-me-home.html
    Ajak teman-temanmu sebanyaknya dan menangkan hadiahnya! Jangan sampai kelewatan ya.... #GATakeMeHome

    ReplyDelete

 

Jejak Langkahku Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos