Saturday, August 23, 2014

Yogyakarta Trip Modal Ala Kadarnya



Tanggal 16 Agustus 2014 kemarin, akhirnya kita berhasil berangkat ke Yogyakarta juga.
Sebenarnya, sudah lama rencana ini dibikin. Sekitar sebelum Ramadan kemarin. Ya, karena setiap orang punya kepentingan, mau nggak mau, rencana ini terus mundur.
Kemarin itu, bisa dibilang program dadakan. Karena setelah makan di Warung makan Cak Wot yang buka gerai di Food Republic Matahari Madiun, kita iseng cek harga tiket Kereta Madiun Jaya. Ternyata, harganya masih belum naik, Rp. 50.000 satu kali jalan. Akhirnya, kita memutuskan langsung reservasi tiket PP Madiun – Yogya hari itu juga.
Dengan dana minimalis, dan persiapan bekal seadanya, jam empat lebih seperempat, kita meluncur ke Madiun. Karena kita mengambil jam keberangkatan paling pagi.
Nunggu Kereta Madiun Jaya
Jam enam kurang seperempat, kereta berangkat dari Stasiun Madiun, dan sampai di Stasiun Tugu, Yogya sekitar jam 9.
Sebelum sampai, Pop Mie dan setengah bungkus nasi jadi sarapan kita di kereta. Nggak ada acara beli di kereta, kita bawa sendiri dari rumah. Air panas pun bawa. Biar ngirit sih niatnya.
Sarapan di Kereta
Keluar dari stasiun, panasnya Yogya sudah merambati kepala. Tapi, semangat mencari tempat sewa motor murah di sekitar Malioboro pantang surut.
Sebenarnya, kita sudah googling dan menelepon beberapa agen sewa motor. Kebanyakan bilang, stok motor habis. Padahal ini bukan hari libur. Dan saat kita mendatangi beberapa agen sewa motor di daerah Jalan Pasar Kembang, memang beberapa bilang stoknya habis.
Panasnya Jogja. Padahal belum ada jam sepuluh
Kita terus berjalan ke arah Malioboro, lalu ketemu tempat penyewaan motor, tapi pemiliknya lagi keluar. Yang ada hanya pelanggan yang mau menyewa juga. Aku tanya, sewa di sana 70 ribu. Mahal juga. Karena saat googling, harganya 40 ribu sampai 50 ribu untuk 24 jam.
Kita pindah lagi, aku mendapatkan tempat sewa yang mau ngasih aku harga spesial, 60 ribu untuk 24 jam. Asal aku diam saja, jangan bilang-bilang pelanggan yang udah deal dengannya. Tapi, kita memutuskan cari lagi.
Sampai di jalan Sastrowijaya, stok motor beneran udah nggak ada. Dan di sana harganya lebih mahal. Lebih mahal lagi di daerah Dagen. Trus, di daerah Sosrowijayan dan Dagen, sewa motor nggak cuma ninggal Kartu ID, tapi juga uang 750 ribu – 1 juta. Idih, duit siapa?
Tempat makan sarapan kedua
Karena di kereta cuma sarapan Pop Mie dan sedikit nasi, perut pun protes. Jadilah kita memilih makan soto di daerah Dagen. Seperti kebiasaan di tempat asing, aku selalu tanya harganya dulu sebelum makan. Satu porsi soto ayam disini 8 ribu, dan es teh manis 2 ribu. Harga standar, lah kalau di tempat seperti ini.
Aku coba tanya ibu-ibu penjualnya sambil makan, disini yang sewa motor murah dimana? Ibu itu bilang di Sosrowijayan. Katanya, harga hotel atau sewa mobil/motor memang lebih murah di Sosrowijayan. Daerah Dagen itu mahal-mahal. Nah, catet yang ini.
Setelah makan, kita memutuskan balik lagi ke Jalan Pasar Kembang. Dan kita ketemu tempat sewa bernama MHJ Rental.
Akhirnya, perjuangan panjang kita membuahkan hasil. Dengan harga motor per unit 55 ribu, kita mendapatkan jatah Mio Soul dan Honda 125. Ini, nih yang bikin murah. Karena motor Honda 125-nya harus distater manual pakai kaki, pemiliknya mau nurunin harga dari 70 ribu ke 60 ribu, jadi 55 ribu saja.

Tempat ini rekom banget. Nih nomor teleponnya 081903718280. Nama pemiliknya Pak Muhaji. Alamatnya di Jl. Pasar Kembang, persis depannya Hotel Batik.
Meluncurlah kita ke Museum Benteng Vredeburg. Sialnya, di traffic light Jalan Mataram, kita yang asing sama suasana jalannya, meleng nggak memperhatikan lampu lalu lintas, asal jalan saja karena mobil depan jalan. Ternyata, kata Pak Polisi – aku nggak tahu benar apa salah – kita melanggar lampu merah. Karena males debat, saat Pak Polisi minta 100 ribu, kasih saja tanpa babibu.
Sampai di parkiran Museum Benteng Vredeburg, kita ngobrol sama tukang parkirnya. Ternyata, di situ memang tempat jebakan para Polisi – maaf buat yang berlabel Polisi, ya? Di sana memang sering seperti itu. Kalau tadi kita mau nego, mereka mau tuh di kasih 50 ribu. Tapi, nasi sudah jadi bubur, makan sajalah, nggak usah dipikirin.
Sebelum masuk Benteng, kita bayar retribusi dulu. Harga perorang 2 ribu rupiah.
Tempat ini sangat-sangat terawat. Beda banget sama Benteng Pendem di Ngawi. Namun, kesan jadulnya malah hilang. Eksotismenya nggak terasa pekat kayak di Benteng Pendem (Bukan karena aku orang Ngawi, tapi emang begitu).
Kita keliling benteng, memasuki diorama-diorama yang memperlihatkan kejadian-kejadian dan bukti-bukti sejarah di masa lalu. Memang nggak banyak yang dipamerkan, namun aku cukup terkesan dengan perawatan dan pengaturannya.
Tempat yang paling menarik di tempat ini adalah diorama peperangan antara Belanda dan Rakyat Indonesia. Ada beberapa patung yang menunjukkan adegan itu. Si Pan dan Si Bud yang memang hobi nonton Film perang langsung pasang aksi sok jagoan. Hem…hem…hem…!

Tempat kedua yang kita tuju adalah Taman Sari. Nggak seperti saat pertama aku kesini. Kali ini, kita memarkir motor di Pasar. Pasar apa itu, ya? Nggak tahu namanya. Parkir di sini bayar dua ribu rupiah. Dan kita harus jalan agak jauh untuk menuju Taman Sari.
Ini saat balik dari Taman Sari ke Pasar tempat parkir motor
Tips yang mau ke sini. Ingat-ingat betul, kalau ada orang sana yang berbaik hati ingin mengantarkanmu keliling Taman Sari, langsung kabur saja dari dia. Kenapa? Karena mereka itu guide yang SKSD, sotoy, dan ganggu banget. Wong, kita nggak minta dipandu, tetep aja ngeyel mau mandu. Iiih…
Setelah berhasil kabur dari seorang guide, kita masuk ke lokasi kolam pemandian. Kelihatan tuh, dasar kolamnya lama nggak dikuras. Tapi, adem juga ngelihatnya.
Taman Sari Sabtu itu cukup ramai. Agak susah ambil foto di sini. Sambil mencari kesempatan ambil gambar oke, kita menyusuri setiap ruangan di tempat ini.
Beberapa tempat sudah dipugar. Lagi-lagi, kesan kuno mulai hilang. Contohnya saja, lantai ruangan dipasang ubin.
Kita masih keliling tempat ini, karena aku penasaran sekali dengan sebuah ruangan yang awalnya aku tak tahu apa namanya. Saat menyebutkan ciri-cirinya pada seorang penjual es (Mereka lebih aman untuk ditanyai, dari pada tanya orang sini asli) bapak itu bilang, tempat yang aku maksud ada di Masjid bawah tanah. Nah lho, dimana itu?
Seorang kakek yang menggunakan tongkat mulai mengikuti kami. Dia menyebutkan arah ke mana kami harus belok. Kita tahu, apa maksud si kakek. Dan, saat si kakek belok duluan, dia pikir kita akan mengikutinya, tapi kita kabur. Malas, dong kalau akhirnya suruh bayar, uang dari hongkong!
Kita masih nggak mau nyerah mencari Masjid itu. Dengan beberapa perhitungan, meskipun ujung-ujungnya balik ke tempat semula–karena di Taman Sari nggak ada petunjuk jalan, kita menemukannya. Aku happy banget menemukan tempat yang aku maksud. Tapi, lagi-lagi susah buat ambil foto di sini, banyak banget yang punya tujuan sama. Hikz.
Setelah mengelilingi Masjid, kita keluar dan bingunglah kita mau kemana lagi. Padahal, itu baru jam satu atau jam duaan. Kita baru mau balik ke Stasiun jam lima-an.
Akhirnya, kita memilih alun-alun. Ketemu alun-alunnya, tapi nggak tahu mau ngapain. Terpaksa kita balik arah ke Malioboro lagi, sekalian cari makan.
BM dek Dinda dulu ^^
Hanya untuk nyari parkir di Malioboro saja, kita harus keliling kota sampai tiga kali. Soalnya, semua tempat parkir ramai banget. Akhirnya, motor kita taruh di ujung Malioboro arah ke Benteng.
Lalu, kita jalan sambil nyari gelang buat Dek Dinda-nya Bang Zafran (Erg…Embud!)
Dapat? Pasti!
Harganya sepuluh ribu dapat empat. Habis ditawar jadi, sepuluh ribu dapat lima. Yuhhuuu….!!!
Sebenarnya, mau beli kain pantai. Nggak mahal, sih, menurutku standar kalau harganya 20 ribu. Tapi, nyoba keliling, nggak ada yang jual selain di daerah situ. Dan aku malah dapat celana all size yang bawahnya berkerut itu, harga yang ditawarkan 45 ribu kalau nggak salah, aku dapat 20 ribu, tapi kainnya agak tipis.
Karena tergiur bau lumpia Semarang, kita balik lagi ke tempat itu. Tapi, bukan lumpia yang dipesan. Gila saja makan lumpia sebuahnya 9 ribu. Mending makan bakso komplit harga 14 ribu yang isinya bakso kecil empat buah dengan mihun dan dua potong sawi hijau. Rasanya enak, sih. Tapi, porsinya nggak sesuai harga.
Habis makan, balik lagi menuju tempat parkir tadi sekalian mau nyamperin penjual korek. Alamak, si perokok Panjul, dia galau jadi apa nggak beli koreknya. Sambil nungguin dia bergalau, aku iseng beli kaca mata sama Mbak Reny. Katanya di sini murah. Harga yang ditawarkan 45 ribu. Kena 20 ribu. Niatnya, nanti mau aku ganti lensanya sesuai minus mataku. Buat cadangan kalau kaca mata yang aku pakai bermasalah.
Sambil jalan, kita lihat-lihat kaos, buat oleh-oleh sekedarnya. Ada tuh yang jual. Harga kaos ukuran XL 20 ribu, kalau ukuran lainnya 15 ribu. Nggak bisa ditawar. Tapi, aku dikasih diskon 5 ribu. Lumayan. Akhirnya ambil kaos 1 ukuran XL, 2 ukuran L, dan Bud ambil 2 ukuran S buat adiknya.
Oke, belanja sudah, kita langsung ambil motor, dan cuz balik ke tempat penyewaan motor. Ternyata, sampai sana masih tutup. Orangnya memang bilang, kalau mau kembalikan motor suruh sms, karena dia sibuk ngurus 17-an.
Melihat bensin masih cukup untuk keliling, kita balik lagi iseng keliling Yogya sampai gempor. Tapi, waktu balik ke tempat penyewaan, lagi-lagi masih tutup. Kita nunggu sampai yang punya datang.
Minuman Lemun.
Transaksi pengembalian motor berjalan lancar. Bahkan sama pemiliknya, kita dikasih minuman. Namanya Lemun, atau biasa disebut Sarsaparila. Minuman bersoda yang cukup segar,  tapi nggak berani minum banyak.
Di tempat sewa ini, sekalian kita mandi, cuma mbak Reny yang nggak mandi.
Oh, iya. Waktu sewa motor tadi pagi, aku pikir bensin udah gratis, ternyata harus bayar lagi. Dua motor berarti 2 liter plus uang mandi, jadi tambah 20 ribu. Nggak papa, sudah murah tuh.
Jam lima lebih seperempat kita jalan ke Stasiun Tugu, berharap kereta nggak telat kayak setahun yang lalu. Tapi, tetap saja telat, meskipun hanya seperempat jam.
Sambil nungguin kereta datang, kita beli nasi dan lauk di sana. Bisa dibilang sedikit mahal, tapi masakannya emang lumayan enak. Buktinya, kita menikmati makan malam di atas kereta menuju Stasiun Madiun.
Kita sampai di Madiun jam sepuluh malam, dan tiba di rumah hampir jam sebelas malam.
Hem… cukup seru dan banyak sekali pengalaman yang kita dapat. Pergi secara backpacker-an seperti ini memang lebih menarik meskipun harus punya tenaga ekstra.
Lain kali kita kemana lagi, guys?!
Dan ini foto-foto seru kita di Yogyakarta.
















8 comments:


  1. Di tempat sewa ini,
    sekalian kita mandi, cuma mbak
    Reny yang nggak mandi.

    (hadewww......)

    ReplyDelete
  2. bisa dijadikan referensi nih kalo liburn ke jogja bawa uang pas-pasan.. :v
    yang perlu dicatet itu "traffic light Jalan Mataram" biar gak kehilangan banyak uang :)

    ReplyDelete
  3. MBak Reny (Maybe) : Hahaha...peace, My Sista!!!

    Windu : Hahaha...selamat mencoba tipsnya. Ini sudah teruji, kok

    ReplyDelete
  4. Wah seru rame-rame. Aku juga sering ke Jogja dan ketagihan.

    Pasar Ngasem tuh namanya. Sampai tgl 9 September nanti banyak acara FKY26 di situ. Ada panggung hiburannya juga :)

    ReplyDelete
  5. Nhe! : Oh, pasar ngasem. Hehehe... seru, ya? Iya, kadang Jogja emang ngangenin :D

    ReplyDelete
  6. Hahaha... Iya, mantap sekali. Tak terlupakan. :D

    ReplyDelete
  7. Wah lengkap banget infonya mas. Backpackeran ke jogja memang mantap, tapi kalau 4 hari juga kayanya masih kurang untuk keliling jogja. hehehe. 1 tahun belakangan ini memang banyak obyek wisata di Jogja bermunculan. Next time kalau ke jogja lagi cobain wisata barunya yah.

    PAMITRAN RENTAL MOTOR JOGJA

    WA 085878686610
    Tel : 0274520545
    Jalan mrican baru blok 1 D Yogyakarta
    twitter : @sewamotor20rb

    www.pamitranrentalmotor.com

    ReplyDelete

 

Jejak Langkahku Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos