Wednesday, November 5, 2014

Flash Fiction – SHADOW BACK IN VIENNA



Tulisan ini diikutkan dalam
Giveaway #PestaFF yang diselenggarakan
“HAI, COME BACK…!!!” John mencoba mengejar bus dan berteriak sekencang mungkin. Sayangnya, bus tetap berlalu.
Tadi–setelah berbelanja di Kärntner Strasse, dan John belum kembali dari toilet–aku membisikan sesuatu pada pemandu kami. Aku memintanya meninggalkan kami di sini. Dan, dia tersenyum sambil mengangguk.
Tapi, ini rahasia. John tak boleh tahu.
“Kita ke mana sekarang?” tanyanya sambil berjalan mendekatiku.
Aku mengangkat bahu, “Entahlah! Aku baru pertama kali ke sini.” Senyumku melebar. “Aku mengandalkanmu, John!”
John mendesah. “Kau mengandalkan orang yang salah!”  Dia balik badan dan mulai berjalan ke arah yang sama dengan laju bus tadi.
Sambil mengikutinya dari belakang, aku tersenyum lagi. Maaf John, aku hanya ingin menciptakan secuil kenangan di Wina dengan orang yang bisa kucintai sebatas punggungnya saja.
“John, itu State Opera House, kan?” Aku mencoba menarik perhatiannya.
“Hmm,” jawabnya.
“Bagaimana kalau kita nonton.” Sekarang kuraih tangannya dan kutarik ke arah seorang pria berpakaian tradisional yang  ternyata menawarkan tiket konser Mozart untuk nanti malam.
“Aku nggak suka Mozart.” Dia menarikku menjauh dari pria penjual tiket.
Tangan kami masih bertaut, “Benarkah?”           
Dia berpaling menghindariku. Tapi, tetap membiarkan tangannya kugenggam. Ada getaran halus yang merambat naik, memacu jantungku untuk bergerak semakin cepat.
“Aku sudah berhenti menyukai Mozart,” jawabnya dengan suara sendu.
Perlahan, aku mendekat ke arahnya. Kupeluk John, dan kutepuk lembut punggungnya. “Ya, berhentilah menyukai Mozart, John,” bisikku. Juga berhentilah mencintai Karisa, si penggila Mozart. Lalu, cobalah menatap ke arahku. Di sini aku menjanjikan apa yang dulu pernah diberikan Karisa. Mungkin, akan lebih besar dari yang pernah diberikannya untukmu.

NB : Tulisan ini terdiri dari 249 kata diluar judul, dan keterangan tulisan.

2 comments:

 

Jejak Langkahku Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos