Thursday, August 11, 2016

[Review] ImpLOVEssible –Viera Fitani


Penerbit : Elexmedia
Genre : Romance, Fiksi
Kategori : Adult, Le Mariage, Wattpad
Terbit : Juni 2016
Tebal : 245 hlm
ISBN : 978 – 602 – 02 – 8502 – 3
Harga : Rp. 45.000

Mai Nina Aswari, hidupnya yang bebas dan begitu indah tiba-tiba berantakan saat dia bertemu dengan Rivay Arsjad. Duda anak satu ini langsung melamarnya di depan Abah dan Ibunya.
Mai jelas menolak, dia baru berumur 18 tahun dan masih ingin kuliah. Namun, Abah mengancam tidak akan mengijinkan dia kuliah di Jakarta jika Mai menolak menikah dengan Rivay.
Mai tidak ingin kehilangan kesempatan kuliah. Jadi, tidak ada cara lain, dia akan menerima pernikahan ini. Mai pikir, pernikahan yang akan dia jalani ini sekedar pernikahan pura-pura. Rivay hanya butuh pengasuh anak dan mengurus rumahnya. Dia tidak mungkin suka dengannya, tidak mungkin.
Apakah isi otak Rivay persis seperti Mai Nina? Masihkah Rivay diam saja saat Dodi dosen Mai mencoba mendekatinya? Dan, bisakah Rivay menerima Mai sebagai istrinya, padahal wanita yang dulu pernah dia suka tiba-tiba muncul kembali di hidupnya?
“Mai, hal yang kita pikir mustahil, justru akan menemukan cara dan menunjukkan pada dunia kalau itu bisa terjadi. Karena memang begitulah alam semesta ini bekerja.” – Abah Mai – hlm. 234
ImpLOVEsible, novel ini membawa aura segar sejak pertama membacanya. Karakter Mai Nina benar-benar menarik perhatianku. Tingkah polahnya yang ajaib sering mengundang tawa. Apalagi saat dia bersama Rivay, wih...aku terbayang si Mai di film Get Merried Menurutku, Mai Nina ini sebelas dua belas sama si Nirina Zubir.
Mai nggak cuma tomboy, tapi juga agak kampungan. Aku tertawa sendiri pas baca bagian Mai di kebun binatang. Dia begitu takjub melihat hewan-hewan di sana. Trus, pas naik gajah dia ngompol, makin ngakak parah.
Lalu, pas Mai menangisi si Zeyn Malik, personil One Direction – tahu kan? – Nah, aku makin nggak tahan nggak ketawa. Pas bagian itu, aku pikir dia habis berantem sama Rivay. Tapi, tumben si Mai bisa dibikin nangis sama Rivay. Eh, ternyata dia nangisin si Zeyn yang keluar dari One Direction. Aduh... ada-ada saja. Ngefans sih ngefans, tapi sampai begitu. Geleng-geleng aja, deh.
Yang aku kagumi dari Mai, dia yang mengaku nggak suka anak kecil, bisa begitu sayang pada Raisa. Mai juga cukup tahan banting, dan apa adanya. Jika sudah punya keinginan, dia akan sangat berusaha. Meski dia terbiasa hidup diurus ibunya, namun dia bisa menjadi ibu Raisa yang baik, dan berhasil mengurus Raisa dan Rivay tanpa kesulitan, meskipun dia kuliah juga. Pokoknya, karakter Mai ini jempol, deh.
Karakter Rivay yang kesannya cool, bisa juga mengundang tawa. Ada saja cara dia untuk membuat Mai kesel, sampai marah mencak-mencak. Makin ke belakang, si Rivay ini makin memikat hati saja. Memang nggak banyak hal manis yang dia lakukan. Namun, yang begini ini yang menggoda iman.
Kayaknya, penulis satu ini cukup sukses membuat karakternya terasa hidup. Nggak cuma karakter utamanya, hampir semuanya menarik, baik Ray keponakan Rivay, Raisa, sampai Abah dan Ibu, juga Dodi.
Saat membaca novel ini, aku punya pertanyaan besar, kenapa Rivay yang adalah cowok ganteng, dan kaya malah memilih Mai Nina sebagai istrinya. Padahal, Mai itu cewek dengan tingkat absurd parah. Dia juga bukan cewek yang kelihatan bisa mengurus putrinya dan rumah tangganya – ini penilaian awalku. Rivay bisa memilih cewek manapun yang memiliki kemampuan jauh lebih baik dari pada Mai Nina. Anehnya,  Rivay malah memaksa Mai untuk mau menikah dengannya, bagaimana pun caranya – kesannya seperti itu.
Alhamdulillah, penulis tidak mengecewakanku. Pertanyaan itu terjawab dengan masuk akal. Penyelesaian masalahnyapun diselesaikan dengan mulus dan sangat manis. Endingnya oke. Cara berceritanya ini nih yang top markotop, nggak bikin bosen sama sekali. Mengalir, dan menjerat hingga aku nggak bisa berhenti baca. Kalau nggak inget besok bangun pagi, langsung aku kelarin, deh.
Ada sisi positif yang aku temukan dari dalamnya, seperti quote di bawah ini :
“Mai, cinta datang karena terbiasa. Terbiasa ngurusin, terbiasa bertemu, terbiasa masakin, dan sebagainya. Orang yang jatuh cinta tapi nggak pernah melakukan hal bersama, lama-lama rasa itu hilang.” – Ibu Mai – hlm. 127
“Abah bilang, dua orang yang menikah akan menggantungkan kebahagiaan dan harapan satu sama lain. Jika salah satu memutus talinya, maka yang lain akan merasakan akibatnya.” – Mai Nina – hlm. 214

Seperti janjiku, kalau aku puas sama jawaban dari pertanyaan besarku, aku kasih bintang 4 di goodreads. Dan aku akan memenuhinya. Rating untuk novel ini 3,8 dari 5 bintang. 4 nih kalau di Goodread.


No comments:

Post a Comment

 

Jejak Langkahku Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos