Monday, August 8, 2016

[Review] LOVE, LETTER AND LEUSER karya Nonier



Penerbit : Gramedia
Genre : Romance, Fiksi
Kategori : Young Adult, Amore
Terbit : 2015
Tebal : 264 hlm
ISBN : 978 – 601 – 03 – 2057 – 1
Harga : Rp. 54.000

Setia, sebenarnya seperti apa setia itu?
Radit tidak bisa membohongi dirinya sendiri saat hatinya bergejolak ketika bertemu Laras. Dia tahu, ini tidak pantas. Radit sudah bersama Linda. Dan, dia tidak ingin mendua, seperti apa yang dilakukan ayahnya dulu.
Untuk Laras, cinta bukanlah hal yang dia pikirkan. Saat ini, dia butuh pekerjaan agar bisa membiayai kebutuhan keluarganya. Apa yang menimpanya saat ini adalah pukulan besar untuknya. Ayah Laras bunuh diri, semua harta keluarga Laras sudah habis untuk menanggung hutang ayahnya. Sekarang, hanya Laras yang menjadi andalan keluarganya.
Pertemuan Laras dengan Radit menimbulkan sesuatu yang lain di hatinya. Tapi Laras sadar, tak ada kesempatan untuknya karena dia tahu Radit sudah memiliki kekasih.
Namun, siapa sangka, Gunung Leuser mempertemukan dua orang yang sama-sama ingin menghindari rasa itu. Lalu, muncul orang-orang yang menguji hati mereka. Zay dan Denny yang terang-terangan mengejar cinta Laras.
Zay cukup memenuhi kriteria seorang laki-laki yang di cari Laras. Perlahan, Laras membuka hatinya, berharap dia berhasil menghapus Radit.
Jadi, siapa yang akhirnya bersama Laras? Mampukah Radit mempertahankan kesetiaannya?
Love, Letter and Leuser, novel ketiga kalau tidak keempat dari Nonier yang aku baca. Novel-novel Nonier yang dulu selalu bisa menghanyutkan, dan saat membaca Sempurna, jujur aku dibuat jatuh cinta dengan Awang. Aku juga suka dengan setting tempat yang dipilih sang penulis. Mungkin, karena beberapa tempat yang dipilihnya cukup aku kenal, seperti setting Blora di novel Sempurna.
Mendengar Nonier melahirkan karyanya lagi, aku cukup senang. Sudah sejak lama tidak bersua dengannya lagi. Jadi, aku cukup excited saat bertemu novel ini. Berharap bisa menemukan citarasa yang sering aku kangenin.
Novel ini punya alur yang enak untuk diikuti, cara bercerita Nonier pun masih selalu bikin nyaman. Narasinya tidak membuat jenuh, dan aku suka setting tempatnya Taman Nasional Gunung Leuser. Namun, aku merasa karakter di novel ini kurang kuat, terutama pada tokoh utamanya, Laras dan Radit. Malah, aku merasa karakter Zay dan Denny-lah yang lebih kuat.
Untuk konflik di awal, aku sudah berharap akan bertemu keseruan. Sayang sekali, cerita masih terasa datar. Aku rasa, cerita kurang ada gencatan senjata dan boom atom yang mengajak pembaca bertemu klimaks.
Menurutku, kehadiran Denny yang pantang menyerah mengejar Laras, juga adegan pertengkaran Dini dan Denny yang memberi warna di novel ini. Aku suka dengan cara Zay mengejar Laras.
Sebenarnya, secara logika aku bisa menerima sikap Radit. Harusnya, aku menghargai cowok seperti ini. Dia tahu posisi, saat itu dia adalah kekasih Linda, dan dia bertahan untuk tetap setia meskipun dia tahu, hatinya mulai terisi oleh Laras. Tapi, sikap cool Radit malah nggak ada tantangannya.
Laras juga, dia memang tegas pada Denny. Tapi, kenapa dia nggak bisa bersikap sama pada Zay? Aku sedikit kecewa dengan cara Laras akhirnya menerima Radit *ups…spoiler*. Kenapa karena sesuatu itu berhasil dikembalikan Radit, Laras bisa dengan mudah menyerah. Kesannya, yang sebelumnya dilakukan Laras hanya sekedar mempersulit keadaan saja.
Tentang Linda dan Radit, harusnya ada konflik yang memacu adrenalin di antara mereka. Tapi, konflik mereka juga tak banyak membantu. Konflik itu punya penyelesaian yang sekedarnya saja. Oh iya, untuk Ardan dan Linda, konfliknya juga sekedar diselesaikan, yang penting sudah ada jawabannya – kesannya seperti itu.
Walaupun banyak yang aku kritik, namun aku cukup menikmatinya. Apalagi saat Laras dan kawan-kawannya bertualang di TN Gunung Leuser. Aku jadi tahu tempat penelitian di sana seperti apa. Sepertinya seru sehari atau dua hari di sana. Tapi, kalau enam bulan, kayaknya enggak deh.
Untuk rating 2,5 dari 5 bintang.


No comments:

Post a Comment

 

Jejak Langkahku Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos