Sunday, July 14, 2013

Catatan Kecil "LET'S SAY NO TO BULLYING!!!!"

Tulisan ini diikutsertakan
Yang diselenggarakan oleh 
Dyah Rinni (@deetopia)
Don’t Touch Me!!!
(Sebuah Kisah tentang Bullying)
“Kisha!” teriakan Vera menghentikan langkah cepatnya. “Loe mau kemana? Kabur dari gue?” wajah Kisha makin tertunduk, dia hanya berani menggeleng saja. “Beneran, loe nggak lagi kabur dari gue?” Vera mencengkram rahang Kesha, lalu menjajarkan dengan wajahnya. “Jawab, dong!” bentaknya.
“E…eng…enggak!” jawabnya lirih.
Good, deh! Soalnya gue dan teman-teman gue lagi butuh hiburan.” Senyum Vera tampak bengis. Perlahan Vera melepas cengkramannya, dan berbalik anggun ke arah teman-temannya, “Hai, guys! Kalian tahu ‘kan apa yang harus kalian lakukan?”
“Oke!” sahut tiga cewek lainnya yang mulai beranjak mendekati mangsa.
Kisha mulai panik, dia berusaha ingin pergi, namun tangan dan bahunya sudah dicengkram erat para algojo, “Mau kemana, sih?! Udah nurut aja!”
Kisha menggeleng, “Jangan Ver, ampun!”
“Bawa, guys!” Vera tak peduli dengan wajah memelas Kisha.
Di gudang sekolah, akhirnya Kesha dilepaskan. Tapi, dia malah merasa terancam.
“Gue selalu bilang, gue nggak suka lihat cewek cupu di sini. Yah, walaupun gue tahu lo itu pinter banget.” Vera mendengus. “Pinter loe buat gue nggak penting, yang penting kehadiran loe nggak merusak pemandangan mata gue. So, jangan salahin gue karena selalu buat loe menderita. Salahin tuh, nyokap bokap loe yang udah ngelahirin loe pakek tampang cupu!” Kisha memejamkan matanya, menahan sakit hati karena orang tuanya ikut dihina. “Dan, hari ini gue bakalan make over loe, biar cantik, biar loe nggak cupu lagi,” lanjut Vera.
“Ayo, dong cupu bilang makasih sama Vera!” bentak seorang cewek.
“Ma…makasih!”
“Sama-sama,” sahut Vera riang. “Oke, guys, kita lakukan tahap pertama! Dan, elo cupu, elo diem aja, dan jangan bergerak!” Vera mulai mendekat dengan lipstik warna merah merekah yang siap dipoles di bibir Kisha.
“Jangan, Ver!” mohon Kisha, namun percuma, mereka tak peduli.
“Diem!” perintah Vera.
Vera mulai beraksi,  dia memoleskan lipstik di bibir korbannya dengan sembarangan, dilanjut dengan memoles eyeshadow dan blush on juga sembarangan. Sementara, satu cewek lainnya mulai menali rambut kisha dengan banyak ikatan, dan dua cewek lainnya tetap siaga mencengkram lengan Kisha.
“Selesai! Sekarang, tinggal pakaikan bajunya, guys!”
Seorang cewek memaksa lepas seragam Kisha, “Jangan! Jangan lepas bajuku!” Kisha mulai melawan, tapi sebuah tamparan membuatnya pasrah kembali.
Ternyata, mereka memasangkan sebuah gaun minim yang seksi di tubuh mungil Kisha.
“Wao…  loe kelihatan sangat berbeda!” Vera tersenyum puas. “Oke, selamat menikmati penampilan baru, gue cabut dulu, ya! Bye!” keempat cewek itu melambai dan pergi meninggalkan Kisha yang terisak. Salah satu dari mereka masih menyempatkan diri memungut seragam gadis itu dan membawanya pergi.
***
Satu bulan kemudian.
“Aku cantikkan? Aku lebih cantik dari Vera ‘kan?” Kisha bertanya ramah dengan dirinya sendiri. Dia tampak mengagumi wajahnya yang penuh make up berantakan pada bayangan kaca di hadapannya. “Kata siapa aku cupu? Aku nggak cupu! Vera dan teman-temannya itu yang cupu!” teriaknya marah.
“Vera kamu cupu! Cewek paling cupu sedunia!” dia kembali teriak makin kencang.
“Wahahahaha…” tawanya menggema, “Vera cupu…Vera…cupu…Vera cupu!!!!” kata-katanya, dia torehkan di permukaan kaca dengan lipstik yang sebentar lagi hampir patah.
Sang ibu hanya bisa memandang anaknya dengan tangis dukanya. Anak yang dulu pintar dan baik, kini berubah seperti itu setelah kejadian dia pulang dengan gaun merah dan wajah berantakan. Setelah itu, Kisha tak mau sekolah, dan sejak dua minggu yang lalu, Kisha benar-benar berubah.
***
Cerita di atas adalah contoh gambaran mengerikan sebuah aksi bullying. Tapi, entah kenapa hal itu malah menjadi trend di kalangan pelajar. Aku jadi curiga, apa memang mereka tak punya perasaan, ya? Menganggap hal paling kejam, menjadi hal paling menyenangkan dan lucu.
Atau memang mereka nggak sadar, aksi ‘iseng’ mereka adalah tindakan kriminal yang berakibat fatal bagi korbannya. Contohnya, bisa membuat korban bullying membenci kenangannya sendiri, dendam seumur hidup pada pelaku bullying, mengalami gangguan jiwa seperti cerita di atas, atau bunuh diri karena tak kuat lagi menjadi objek bullying.
Atau, sebenarnya mereka sadar, tapi tak peduli? Mereka menganggap sakit hati adalah hal yang remeh. Padahal, sakit hati tak akan bisa disembuhkan, walaupun waktu telah membawanya jauh ke ujung masa. Orang-orang seperti itu, apakah KAMU?!
Entah itu kamu atau bukan, inilah yang harus kita lakukan, menghapus peradaban bullying dari muka bumi. Tapi, bagaimana cara kita menghapusnya?
Tentu yang pertama harus kita lakukan adalah menghapus kebiasaan tak beradab ini dari diri kita sendiri dulu. Baru setelah itu, kita dekati sedikit demi sedikit para pelakunya, kita bicara perlahan untuk menyampaikan pesan “STOP BULLYING!!!” Jika perlu, kita harus berpartisipasi dalam duta anti bullying. Tak perlu dengan hal yang besar, kita bisa melakukan kampanye-kampanye lewat poster-poster atau media sosial. Dan, sebisanya kita menjadi teman baik para korban bullying, karena mereka perlu tempat mencurahkan hatinya. Dengan begitu, kita akan sedikit meringankan beban mereka.
Tapi, jika kita yang menjadi korbannya, apa yang bisa kita lakukan?
Untuk perbuatan bullying yang masih dalam tahab verbal, kita dianjurkan untuk tenang dan sabar, biarkan mereka mencaci maki kita sepuasnya. Anggap saja mereka peduli pada kita, sehingga kita ditegur dan diberi tahu kelemahan kita. Jangan melawan! Karena saat kau melawan, maka mereka akan berkali-kali lipat membalasmu lebih kejam.
Jika hatimu sudah tak kuat, menangis bukan hal yang memalukan. Menangislah dan mengadulah pada siapa saja yang kau percaya, bisa teman, atau saudara. Tapi jika tak ada tempat untuk bercurah, lakukan di buku diary atau media lain, setidaknya dengan begitu beban hatimu akan berkurang.
Namun, jika perbuatan itu mulai mengarah kekerasan, jangan hanya diam. Bicaralah pada orang yang berwenang, yang bisa mengambil tindakan untuk menghentikannya. Kenapa kamu harus melapor? Karena mungkin saja  bukan hanya kamu yang menjadi korban, bisa juga ada korban yang lain. Dan, jika ini didiamkan kamu bisa bayangkan apa yang akan terjadi. Korban akan semakin banyak, dan pelaku bullying akan semakin meraja lela.
Dan, terakhir. Ini pesan untuk korban bullying. “Hidup ini sekali, apapun yang terjadi hidup terus berjalan. Memang saat ini jalan yang kau lalui bagai gunung batu yang terjal. Tapi, jangan lupa, saat kau sampai di atas sana, kau akan melihat indahnya dunia. Jadi, tetaplah hidup dengan senyum, biarkan sakit itu terasa, namun jangan kau pendam selamanya.”
Dan untuk para pelaku bullying, ini pesan untuk kalian, “Ingatlah pada yang namanya karma. Dia berlaku pada siapa saja. Jadi, saat kau teteskan setitik noda di hati orang lain, maka suatu saat noda yang sama akan diteteskan sama banyaknya di hatimu. Kau hanya perlu menunggu waktu!”
SO, STOP BULLYING FROM NOW, AND FOREVER!!!

3 comments:

  1. Amin-amin!!! Makasih Intan. Berharapnya sih begitu :D

    ReplyDelete
  2. Sudah aku baca. Ditunggu saja pengumumannya besok di twitter, fb dan comment blog ya :)

    ReplyDelete

 

Jejak Langkahku Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos